LOVE YOU MORE PART 6

Published December 26, 2012 by kangyuuri

Love you more (publish)

Author : Kangyuuri
Cast : Key SHINee, Kang Yuuri (OC).
Other Cast : Jung Il Woo, Jung Iseul, Choi Minho, Choi Sooyoung, Kim Myungsoo, Lee Gikwang, Jung Jinyoung, Im Yoona, Jung Nicole, Kang Minhyuk, dan masih banyak lagi. Sengaja pake other cast banyak-banyak supaya readers pada bingung (lha….)
Genre : Romance, Sad, dan… ntahlah, gue gak banyak punya referensi!
Length : Chapter (malah hampir jadi sinetron)

Aigo… jeongmal mianhamnida… kali ini gak ngilang hampir 2 bulan lagi, hampir 3 bulan malah. Mianhae… mianhae… gue sibukkkkk banget (alasan). Akhirnya ditengah kesibukan gue yang menggunung, gue bisa ngepublish ff yang gak jelas banget ini alur ceritanya gimana. Sebenarnya udah dari kemarin-kemarin pengen gue publish, tapi… modem gue ngumpet ntah kemana. Hahahaa… sekali lagi, maafff… Gue harap ada aja readers yang nunggu-nunggu ff ini…

Author POV
“Kakimu kenapa?” tanya Iseul saat melihat Yuuri berjalan tertatih-tatih di kelas.
“Anniyo, hanya sedikit lecet dan mungkin juga sedikit terkilir.” jawab Yuuri sekenanya. Ia langsung duduk di kursinya tanpa menghiraukan tatapan khawatir Iseul.
“Memangnya apa yang kau lakukan sampai membuat kakimu begini?” tanya Iseul lagi ketika matanya menangkap luka-luka di kaki Yuuri bekas kejadian tadi malam.
“Aku hanya jatuh. Iseul-ah, kenapa kau secerewet ini?” kata Yuuri seraya menatapi Iseul jengah.
“Yaa! Akukan hanya khawatir.” kata Iseul.
“Arraseo, aku baik-baik saja. Ok?” kata Yuuri meyakinkan. Melihat itu Iseul langsung memicingkan matanya.
“Yuuri-ya, apa Key Oppa tahu kalau kakimu terluka?” tanya Iseul.
“Tentu saja. Mana mungkin dia tidak tahu kalau dia sendiri yang membuatku terluka.” jawab Yuuri sekenanya (lagi).
“Mwoya? Key Oppa yang membuatmu begini? Jinjja? Jinjjayo?!” kata Iseul antusias. Ia langsung menarik kursi dan duduk di hadapan Yuuri.
“Ne, ntah setan apa yang merasukinya. Tiba-tiba saja ia menarik tanganku lalu menyeretku tanpa melihat keadaanku. Isshhh… namja itu benar-benar sudah gila!” omel Yuuri. “Waeyo?” tanyanya lagi saat melihat Iseul tampak diam sambil memikirkan sesuatu.
“Anniyo… Aku hanya berpikir kenapa Key Oppa bisa bersikap seperti itu.”
“Mwolla, sepertinya dia memang gila, keundae… Oppa, Oppa… isshh, aku bosan mendengarmu memanggilnya ‘Oppa’. Dia itu tidak pantas dipanggil Oppa! Lihat, dia membuat kakiku jadi seperti ini, aku jadi kerepotan gara-garanya!” omel Yuuri lagi.
“Yaa! Dia lebih tua daripada kita, wajar kalau dipanggil Oppa.” kata Iseul.
“Shireo! Sampai kapanpun aku tidak akan pernah memanggilnya Oppa.” kata Yuuri juga, tapi setelahnya tiba-tiba ia diam.
“Kalau memang ingin berterima kasih, seharusnya kau memanggilku Oppa, bocah.”
“Arraseo… Gumawoyo Oppa… Key Oppa…”
“Waeyo?” tanya Iseul yang langsung membuyarkan lamunan Yuuri.
“Anniyo. Hanya memikirkan bagaimana nanti aku pulang ke rumah.” jawab Yuuri asal yang kemudian kembali diam.
Baiklah… untuk yang satu itu pengecualian, lagipula tidak ada yang tahu-pikir Yuuri dalam hati.
***
Yuuri POV
“Kau yakin baik-baik saja?” Langsung kuputar bola mataku dengan ekspresi jengah. Iseul memang benar-benar cerewet. Aku sampai bosan mendengarkan pertanyaan yang sama sejak tadi pagi.
“Yaa! Sudah berapa kali aku mengatakan, nan gwaencahana, jeongmal gwaencahanayo! Jadi kumohon berhentilah bertanya pertanyaan yang sama, ini sudah ke 20 kalinya kau bertanya.” kataku yang sebisa mungkin menahan kesal.
“Ne, Arraseo. Kajja kita pulang! Tapi sebelumnya, kau sungguh tidak apa-apa?” tanya Iseul lagi.
“Yaa!! Jung Iseul!” teriakku akhirnya, sementara Iseul hanya menyengir saat kuteriaki begitu.
“Heheheee… Arra-arra, Kajja!” katanya seraya menggamit lenganku lalu membawaku bersamanya. Kami berjalan berdua sambil terus bercanda sampai ke depan gerbang sekolah.
“Yuuri-ya, hari ini Il Woo Oppa akan menjemputku, kau pulang bersamaku saja.” kata Iseul.
“Anniyo, aku bisa pulang sendiri.” tolakku.
“Andwae, bukankah kakimu sedang sakit? Jangan membantah!” kata Iseul bersikeras.
“Iseul-ah, habis dari sini aku…” kataku menggantung karena tiba-tiba suasana di sekitarku mendadak berisik. Spontan akupun menoleh, begitupula Iseul. Tidak seberapa jauh dari tempatku berdiri, terparkir sebuah mobil yang ‘sedikit’ familiar. Dari mobil itu keluarlah seorang namja yang juga ‘sedikit’ familiar dimataku.
“Omo, bukankah dia…” kata Iseul yang spontan menutup mulutnya yang terbuka karena takjub.
“Aku sengaja menjemputmu, Kajja!” kata namja itu.
“Key Oppa…” kata Iseul yang tampak masih takjub, begitu pula orang-orang di sekitarku yang sama takjubnya saat melihat namja ini. Ok, baiklah… Aku mengakui kalau namja ini memang-benar-benar-sangat-tampan. Tapi kalian juga tidak perlu seberisik inikan??
“Ada apa ini?” tanyaku seraya bersikap waspada. Firasatku selalu tidak enak kalau namja bodoh ini bersikap baik padaku.
“Wae? Ada yang salah kalau aku menjemputmu?” tanyanya seraya melepas kacamatanya.
“Tentu saja! Aku merasakan firasat buruk setiap kali kau bertingkah aNeh seperti ini.” jawabku. Key sontak melotot mendengar penuturanku, kentara sekali kalau ia mulai kesal.
“Yaa, Kang Yuuri si ‘yeoja biasa’! Aku menjemputmu karena aku khawatir denganmu. Kakimu itu terluka karena aku dan aku sungguh merasa bersalah karena itu. Tadi pagi aku tidak bisa mengantarmu ke sekolah karena aku harus terburu-buru ke kampus dan gara-gara itu sepanjang hari ini aku terus merasa cemas. Sekarang kau malah berfirasat buruk atas perhatianku ini? Hah? Wae???” katanya panjang lebar. Ukhh… sungguh, namja ini benar-benar cerewet sekali.
“Oppa, jadi benar kau yang membuat kaki Yuuri terluka.” gumam Iseul.
“Aaa… jadi karena itu kau kemari. Baiklah, kuhargai penyesalanmu.” kataku dengan ‘sedikit’ angkuh. Kulihat Key tampak memicingkan matanya padaku pertanda kekesalannya mulai tersulut.
“Iseul-ah, aku tidak jadi pulang bersamamu karena ‘namja’ ini sudah menjemputku. Aku pergi dulu, annyeong!”kataku pada Iseul. Lalu tanpa menunggu jawaban Iseul, aku langsung melengos di hadapan Key dan berjalan menuju mobilnya.
***
“Kau itu benar-benar tidak sopan, bocah!” gerutu Key saat di dalam mobil. Aku spontan memutar kedua bola mataku, bosan dengan omelannya yang tidak berhenti sejak ia mendudukkan pantatnya di dalam mobil.
“Issh, Neo yeoja imnika? Kenapa cerewet sekali? Sejak tadi kau terus saja mengomel.” omelku juga.
“Yaa! Aku sedang mengomelimu, Yuuri-ya! Apa kau sadar betapa menjengkelkannya tingkahmu di sekolah tadi? Begitukah sikapmu pada orang yang lebih tua?”
“Apa kau lupa? Bukankah sudah kukatakan, aku selalu bersikap sopan pada orang yang lebih tua dariku, kecuali denganmu, namja pabbo!”
“Neo… Issshhh…” desis Key seraya melirikku kesal. “Tidak bisakah kau berhenti menyebutku ‘namja pabbo’ dan memanggilku ‘Oppa’ seper…” katanya menggantung. Aku terdiam sambil menatapnya yang juga menatapku. Tiba-tiba saja air mukanya berubah dan Key langsung mengalihkan pandangannya kembali ke depan.
“Lupakan.” katanya pendek. Setelah itu mendadak suasana di dalam mobil itu menjadi hening. Key tiba-tiba saja berhenti mengomel dan bahkan sekarang aku merasa kalau perlahan mobil ini melaju semakin cepat. Kutatap namja di sampingku ini yang sekarang memasang ekspresi yang sama yang pernah kulihat saat di jembatan itu. Ia terlihat marah, bahkan matanya-pun tampak berkilat.
Ada apa? Kenapa ia jadi semarah ini? Sebenarnya apa yang terjadi antara dia dan Nicole?
“Key…” kataku yang ntah mengapa tiba-tiba merasa takut. “Key!!” panggilku lebih keras seraya mengguncang bahunya. Masih dengan ekspresi marahnya tadi, ia menoleh.
“… Aku… lapar.”
Ckkiitttttttt…
Duk!!
“Aarrgghhh…” ringisku seraya memegangi kepalaku yang terbentur dashboard karena tiba-tiba saja Key mengerem mobilnya secara mendadak.
“YAAAA!! APA KAU GILA?!!” teriakku seraya menatapnya garang.
***
Author POV
“Apa Key masih belum mau menjawab teleponmu?” tanya Sooyoung. Mendengar itu Nicole langsung menoleh dan mengangguk.
“Ne. Aku sudah meNeleponnya ratusan kali dan tidak ada satu panggilanpun yang diresponnya.” jawab Nicole.
“Aisshhh… ada apa dengan namja itu? Kenapa tiba-tiba ia begini?” gerutu Sooyoung. “Apa kalian bertengkar?”
“Sepertinya Key salah paham padaku.” kata Nicole.
“Salah paham bagaimana?” tanya Sooyoung. Untuk beberapa saat Nicole tampak diam lalu yeoja itu menghela napas panjang.
“Beberapa hari yang lalu aku diantar ke kampus oleh sepupuku yang datang dari New York. Kami berdua sangat dekat dan sudah lama tidak bertemu. Key melihatku dan sejak saat itu ia menjauhiku. Aku harus bagaimana menjelaskan ini padanya?” kata Nicole.
“Cih… sepupu dari New York? Bukankah itu kekasihnya?” cibir Minho yang berdiri tidak jauh dari Sooyoung dan Nicole. Sooyoung yang mendengar cibiran Minho langsung mendelikkan matanya ganas ke arah Minho yang sontak meresponnya dengan mengendikkan kedua bahunya lalu melengos pergi.
“Tenanglah, aku akan membantu menjelaskan pada Key nanti.” kata Sooyoung.
“Anni, biar aku saja. Aku tidak ingin merepotkanmu dengan hubungan asmaraku. Hubungan asmaramu dengan Jinyoung saja masih belum jelas.” kata Nicole. Sooyoung langsung memicingkan kedua matanya ke arah Nicole.
“Mwo-ra-go??”
***
Dua orang tampak menikmati makanan di hadapannya dengan tenangnya. Tidak ada satupun diantara mereka yang bersuara atau memulai percakapan terlebih dahulu. Hanya terdengar suara dentingan sendok dan sumpit yang beradu dengan piring. Suasana kali ini berbeda sekali dengan suasana makan sebelum-sebelumnya yang selalu didominasi oleh perdebatan atau omelan dari keduanya.
“Yuuri-ya…” panggil Key lirih tanpa menatap yeoja di hadapannya itu, berbeda dengan Yuuri yang langsung menatap Key. “Apakah… tidak ada yang ingin kau tanyakan padaku?” kata Key lirih seraya mengangkat kepalanya menatap Yuuri.
“Tentang… apa?” tanya Yuuri.
“Tentangku, Nicole, hubunganku dengannya, kejadian tadi malam, atau mungkin… kejadian di depan kampusku.” kata Key.
Tuk!
Sendok yang ada ditangan Yuuri mendadak jatuh tanpa sengaja. Yeoja itu terdiam, ia benar-benar bingung harus bereaksi seperti apa saat ini. Akhirnya ia hanya bisa diam sambil terus menatapi Key yang juga menatapinya lurus.
“Kau… melihatnya?” tanya Yuuri setelah beberapa detik diam. Key sontak mengangguk. “Apa kejadian di restoran itu kau juga melihatnya?” tanya Yuuri lagi yang langsung dianggukkan oleh Key.
“Apa kau tahu kalau Nicole Unnie berselingkuh di belakangmu?” tanya Yuuri yang kali ini dengan nada yang sedikit meninggi.
“…Ne, arra.” jawab Key pelan. Mendadak Yuuri merasa tertohok. Ia menatap Key dengan ekspresi tidak percaya. “Tapi dia bukan berselingkuh di belakangku, melainkan justru akulah selingkuhannya.”
Yuuri menatap nanar namja di hadapannya itu. Mendadak ia tidak tahu harus berbuat atau mengatakan apa. Pikirannya kacau saat ini. Yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah menatap Key tanpa tahu harus berbuat apa. Sedangkan Key juga hanya diam dengan wajah dinginnya yang belum pernah ditunjukkannya pada Yuuri.
“Apa aku terlihat menyedihkan?” tanyanya dengan nada dingin.
“……”
“……”
“… Ne, kau sangat menyedihkan. Perlukah aku mengasianimu saat ini?” kata Yuuri.
“Anni, itu hanya akan semakin menjatuhkan harga diriku. Saat ini saja aku merasa tidak memiliki harga diri lagi di hadapanmu.” kata Key seraya tertawa miris.
“Kau… sungguh mencintai Nicole Unnie?” tanya Yuuri. Key kembali mengangkat kepalanya untuk menatap Yuuri.
“Cih… aku benar-benar merasa tidak berguna lagi, sekarang aku bahkan mengekspos kisah asmaraku pada siswi SMA.” kata Key.
“Kalau kau tidak bersedia memberitahunya, aku juga tidak keberatan!” kata Yuuri dengan nada setengah kesal.
“Anniyo, justru hanya denganmulah aku bisa bercerita lepas tanpa beban.” kata Key yang sedikit membuat hati Yuuri mencelos. “Yuuri-ya, tugasmu hari ini… mendengarkan curhatku dan… hiburlah aku! Kau bisa?” kata Key seraya menatap Yuuri dalam.
***
“Ukh, bosannya…” gerutu seorang yeoja yang saat ini masih saja memakai seragam sekolahnya padahal jam sekolah sudah usai sejak tadi. “Kenapa Oppa lama sekali?” gerutunya seraya menatap jalan dengan ekspresi kesal.
“Isshh… Il Woo Oppa benar-benar keterlaluan! Kalau memang tidak bisa menjemputku, tidak perlu berjanji untuk menjemput!” gerutu yeoja itu-Iseul. Ia tampak sangat kesal, terlihat jelas dari wajahnya yang terus ditekuk.
“Yaa, Kang Yuuri si ‘yeoja biasa’! Aku menjemputmu karena aku khawatir denganmu. Kakimu itu terluka karena aku dan aku sungguh merasa bersalah karena itu. Tadi pagi aku tidak bisa mengantarmu ke sekolah karena aku harus terburu-buru ke kampus dan gara-gara itu sepanjang hari ini aku terus merasa cemas. Sekarang kau malah berfirasat buruk atas perhatianku ini? Hah?”
“Isshhh… bisa-bisanya Key Oppa mengacuhkanku. Anniyo, dia bahkan tidak menyapaku. Kenapa Key Oppa hanya bisa melihat Yuuri?” gumam Iseul.
“Ottokhae? Saat ini aku merasa sangat iri dengan Yuuri yang bisa bersama dengan Key Oppa.” gumam Iseul. “Oppa, apa aku juga harus jadi pembantumu agar bisa bersamamu lebih lama?” gumamnya lagi. Perhatian Iseul langsung teralih pada bus yang berhenti tepat di hadapannya. Yeoja itu tampak menengok ke kanan dan ke kiri. Setelah memastikan kalau orang yang ditunggunya tidak ada, yeoja itu langsung bangkit dan berjalan memasuki bus.
“Gikwang Oppa…” kata Iseul saat melihat seorang namja duduk sambil menyandarkan kepalanya ke kaca bus. Mendengar namanya disebut oleh Iseul, namja itu langsung menoleh.
“Nuguya?” tanya namja itu bingung yang sukses membuat Iseul sedikit membulatkan mulutnya tidak percaya. Tidak biasanya ada namja yang lupa dengannya, biasanya justru namja-namjalah yang bersikap seakan kenal dengannya.
“Oppa lupa denganku?” kata Iseul seraya duduk di samping Gikwang.
“Yaa, bocah! Aku tidak mengenalmu, jadi jangan bersikap sok akrab denganku.” kata Gikwang seraya menatap Iseul dengan ekspresi terganggu.
“Isshh, Oppa benar-benar lupa denganku. Naega, Jung Iseul, dongsaeng-nya Jung Il Woo. Oppa kenal dengan Oppa-ku bukan? Kita pernah bertemu sekali waktu Oppa ke rumahku.” kata Iseul. Gikwang menatapi Iseul lekat, dari wajahnya ia tampak berpikir.
“Neo… dongsaeng-nya Il Woo hyung?” kata Gikwang ragu yang langsung dianggukkan oleh Iseul mantap.
“Oppa sudah ingat?” tanya Iseul dengan mata berbinar. Ditanyai seperti itu Gikwang langsung tertawa garing.
“Heheee… belum.”
Gubrak!!!
***
Minho POV
“Dia bilang namja itu sepupunya dari New York.” kataku. Mendengar itu spontan yeoja di sampingku ini langsung menoleh dengan cepatnya.
“Mwoya?! Sepupu dari New York?! Siapa yang akan percaya?!” serunya dengan nada tinggi.
“Yoona-ya… tenanglah.” kataku.
“Andwae, bagaimana bisa tenang?! Yeoja itu jelas-jelas membohongi Key! Dia terang-terangan mengkhianati Key, bagaimana caranya aku bisa tenang?!!” jeritnya dengan mata melotot, sementara aku hanya bisa menatapnya dengan tatapan kasian. Benar, aku sungguh sangat prihatin terhadap yeoja di hadapanku ini. Key, tidak bisakah kau melihat yeoja lain selain Nicole?
“Ottokhae? Ottokhachi?” gumam Yoona seraya meremas kedua tangannya dengan perasaan cemas. “Minho-ya, apa tidak ada yang bisa kita lakukan untuk Key?” tanyanya seraya menatapku lurus yang masih dengan ekspresi cemasnya tadi.
“Yoona-ya, bisakah kau berhenti memikirkan Key?” tanyaku. Yoona terdiam, ia tampak menatapiku dalam. “Maksudku… Key tahu apa yang terbaik untuknya. Percayalah, suatu saat nanti ia akan mengetahui kalau Nicole bukan yeoja yang tepat untuknya.”
“Tapi itu kapan, Minho-ya? Key itu sudah tahu kalau Nicole mengkhianatinya, hanya saja ia tidak bisa melepaskan diri dari yeoja itu.” kata Yoona. Aku sontak membelalakkan mata mendengar penuturan itu.
“Mworago?!!!”
***
Key POV
“Duduklah…” kataku seraya menepuk bangku panjang yang saat ini juga kududuki. Yuuri hanya menatapiku dengan diam. Sejak aku mengajaknya pergi, yeoja itu hanya diam. Ntah apa yang dipikirkannya. Tapi satu hal yang bisa kupastikan, saat ini… ia pasti memikirkanku.
“Key…”
“Bisakah kau memanggilku ‘Oppa’ lagi untuk hari ini saja?” kataku yang langsung memotong ucapannya. Yuuri menatapku lurus dan dapat kubaca dari ekspresinya kalau ia sedikit terkejut dengan permintaanku yang terkesan aneh itu.
“Baiklah… hanya untuk hari ini.” katanya. Aku langsung tersenyum mendengarnya, jarang-jarang yeoja ini mau menurutiku dengan mudah seperti ini. “Kau tidak perlu memaksakan untuk tersenyum kalau memang kau tidak mau.” sambungnya seraya terus menatapku lekat. Aku sedikit membulatkan mataku mendengar ucapannya. Kenapa ia bisa tahu kalau saat ini aku sedang memaksakan diri?
“Yaa, namja pabbo! Kau belum menjawab pertanyaanku.” katanya.
“Isshh… kenapa memanggilku namja pabbo lagi? Sudah kubilang kau harus memanggilku Oppa untuk hari ini!” kataku kesal. Isshh… yeoja ini mulai lagi!
“Oo… haha, aku lupa. Mianhae, Oppa…” katanya seraya menyengir lebar. Aku sedikit mengerjabkan kedua mataku beberapa kali saat melihat tingkahnya tadi yang menurutku… sedikit manja. “Oppa, kau belum menjawab pertanyaanku.”
“Pertanyaan apa?” tanyaku.
“Kau sungguh mencintai yeoja itu? Anni, apa kau sungguh mencintai Nicole Unnie?” tanyanya yang seketika membuatku terpaku. Baru saja aku merasa suasana hatiku mulai membaik dan melupakan masalahku. Tapi tiba-tiba yeoja ini langsung bertanya ke inti masalahnya dan membuat suasana hatiku buruk lagi.
“Wae?” tanyaku juga. “Apa begitu terlihat kalau aku begitu mencintainya?”
“Emm, sangat terlihat sekali. Saat kau bersamanya, kau bahkan tidak bisa melihat yeoja lain lagi. Terlihat jelas di matamu kalau hanya ada bayangan Nicole Unnie disana. Sesaat aku berpikir apa yang membuatmu sampai begitu menggilai Nicole Unnie. Tapi saat melihat Nicole Unnie, aku menyadari sesuatu. Nicole Unnie begitu cantik dan begitu sempurna, hanya namja bodoh yang tidak menggilainya.” kata Yuuri. Aku langsung tersenyum miris mendengar penuturannya.
“Geurae, itulah yang terjadi padaku saat pertama mengenal Nicole, aku begitu menggilainya. Bahkan sampai saat ini aku masih saja menggilainya, begitu mencintai seorang Jung Nicole. Setiap tingkahnya, senyumnya, pandangan matanya, bahkan sifat angkuhnya, mampu membuatku tergila-gila. Semakin hari aku semakin mencintainya, more… and more… Sebegitu inginnya aku memiliki yeoja itu, aku bahkan menutup mata dan telingaku dari kenyataan bahwa Nicole sudah memiliki namja lain. Dia sudah dijodohkan oleh orang tuanya dengan namja yang kaya, tampan, berpendidikan, dan juga sama sempurnanya dengan Nicole.” tuturku.
“Jadi… namja itu… namja dengan mobil mewah itu…” kata Yuuri. Aku tertawa mendengus mendengarnya, bahkan Yuuri juga menyebut namja itu dengan sebutan ‘namja dengan mobil mewah’ seperti yang orang-orang bilang. Apa status begitu penting dalam urusan cinta?
“Ne, ‘namja dengan mobil mewah’ itu adalah tunangan Nicole. Dia adalah namja yang dipilihkan oleh orang tuanya dan sepertinya Nicole sama sekali tidak keberatan dengan perjodohan itu. Geurae, hanya yeoja bodoh yang akan menolak namja sesempurna itu hanya demi namja sepertiku.” kataku seraya tersenyum miris.
“Yaa! Apa maksud dari perkataanmu itu, Oppa?! Aku justru merasa kau jauh lebih baik dari namja itu, eerrr… walaupun aku tidak mengenalnya.” kata Yuuri dengan nada ragu diakhir kalimatnya. Kali ini aku hanya tersenyum kecil mendengar ucapannya, aku tahu dia pasti hanya ingin menghiburku. Gumawo Yuuri-ya…
“Kau sudah tahu kalau Nicole Unnie sudah ditunangkan, tapi kau tetap mengejarnya, Oppa. Apa karena kau tahu kalau Nicole Unnie juga menyukaimu?” tanyanya. Kuangkat kepalaku untuk menatap Yuuri dalam. Butuh beberapa detik untukku mengumpulkan keberanian menjawab pertanyaan Yuuri, karena inilah hal yang paling menyakitkan. Kenyataan… yang terus kuhindari…
“Anniyo, sejak dulu… sekarang… bahkan mungkin nanti… Nicole tidak akan pernah menyukaiku. Aku yang terus mengejarnya tanpa peduli dengan statusnya yang sudah bertunangan. Aku mengikutinya kemana-mana. Hah, mungkin karena dia sudah lelah karena selalu diganggu olehku, makanya dia terpaksa menerimaku.” kataku seraya tertawa kecil. “Saat itu aku senang sekali bisa mendapatkan Nicole walaupun berstatus sebagai ‘selingkuhan’ dan aku sama sekali tidak mempermasalahkan itu. Bagiku, selama Nicole ada di sampingku, tidak peduli apapun status yang kusandang. Aku juga menutup mata dan telingaku dari orang-orang sekitarku yang berbicara macam-macam. Asal Nicole ada di dekatku, aku sudah bahagia.”
“……”
“Tapi akhir-akhir ini… ntah mengapa aku merasa kalau aku… sudah tidak lagi memiliki kepercayaan diri untuk yakin pada pemikiranku selama ini. Aku merasa benar-benar bodoh dan hatiku selalu sakit saat melihat Nicole bersama dengan namja-nya itu walaupun aku sudah berkali-kali meyakinkan diriku kalau apapun yang terjadi Nicole akan tetap ada di sampingku.”
“Oppa…” kata Yuuri seraya meraih tanganku dan menggenggamnya erat. Satu hal yang kurasa saat Yuuri menggenggam tanganku, seluruh tubuhku terasa hangat terutama hatiku. “Ini salah, Oppa. Selama ini kau meyakini hal yang salah. Tidak salah kalau kau sangat mencintai Nicole Unnie, juga tidak salah kalau kau sebegitu inginnya bersama dengan Nicole Unnie. Tapi Oppa, kau salah kalau kau menyerahkan dirimu begitu saja pada Nicole Unnie padahal jelas-jelas Nicole Unnie sudah memiliki tunangan. Ok, mungkin ini bisa membuatmu bahagia. Tapi Oppa, kebahagiaan yang kau rasakan itu hanya fiksi, bukan kenyataan. Kenyataannya, disini kaulah yang selalu tersakiti. Kau akan sakit saat melihat Nicole Unnie bersama dengan tunangannya, dan kau akan lebih tersakiti lagi kalau-kalau suatu hari nanti mereka akan menikah.” kata Yuuri seraya menatapku dalam dan membuatku merasa terenyuh.
“Hentikan ini semua, Oppa… Jangan menyiksa diri lebih jauh lagi… Banyak yeoja yang lebih baik dari Nicole Unnie yang tentunya bisa mencintai Oppa dengan setulus hati. Oppa hanya perlu membuka mata dan telinga Oppa, tentunya juga membuka hati Oppa. Dengan begitu Oppa bisa melihat yeoja-yeoja lain yang bisa memberikan cinta terbaik untuk Oppa.” katanya lembut dan dari matanya aku bisa melihat ketulusan seorang Kang Yuuri.
Aku terpaku. Pikiranku mendadak kosong. Yang ada dipikiranku hanyalah yeoja yang saat ini ada di hadapanku dan menggenggam tanganku dengan eratnya. Yeoja yang mampu membuat hati dan perasaanku hangat. Wae? Aku benar-benar merasa asing dengan perasaan ini… Aku harus bereaksi bagaimana?
***
Iseul POV
“Ck, pabbo! Pabbo! Apa dia pikir dia hebat?! Kenapa dia bisa sebegitu menyebalkannya?!!” omelku seraya meninju-ninju boneka beruangku dengan perasaan kesal. Ne, aku sangat kesal saat ini, bahkan sejak beberapa hari yang lalu! Kenapa? Ini karena namja sombong bernama Lee Gikwang! Isshh… aku bahkan ingat nama lengkapnya, sedangkan ia dengan gampangnya melupakanku! Ok, kami memang baru sekali bertemu dan mungkin wajar kalau ia tidak ingat denganku. Tapi ntah mengapa ini jadi terasa begitu menyebalkan?!!
“Gikwang Oppa…”
“Nuguya?”
“Oppa lupa denganku?”
“Yaa, bocah! Aku tidak mengenalmu, jadi jangan bersikap sok akrab denganku.”
“Isshh, Oppa benar-benar lupa denganku. Naega, Jung Iseul, dongsaeng-nya Jung Il Woo. Oppa kenal dengan Oppa-ku bukan? Kita pernah bertemu sekali waktu Oppa ke rumahku.”
“Neo… dongsaeng-nya Il Woo hyung?”
“Oppa sudah ingat?”
“Heheee… belum.”
“Oppa, kau sungguh tidak ingat denganku? Oppa kenal dengan Il Woo Oppa-kan?”
“Isshhh… kau ini cerewet sekali! Banyak yeoja yang ingin jadi dongsaeng Il Woo hyung, jadi kau jangan sok-sok kenal denganku. Minggir!”
“Yaa!!”
“Aarggghhh… kepalaku rasanya hampir pecah!!!” jeritku lalu melemparkan bonekaku dengan kasarnya. “Tunggulah namja sombong, akan kubuktikan kalau aku tidak berbohong!”
“Iseul-ah… Jung Iseul!!” seru seseorang dari lantai bawah, itu pasti Il Woo Oppa. Tumben dia sudah pulang. Bukankah ini masih sore?
“Iseul-ah!” seru Il Woo Oppa lagi.
“Ne, Oppa… Chamkkamanyo!” seruku juga lalu beranjak dari tempat tidurku.
“Oppa, tumben sekali kau…” kataku menggantung saat melihat Oppa-ku tidak datang sendiri melainkan bersama dengan temannya yang… Omo! Bukankah namja itu…
“Dimana meletakkan ini, hyung?” kata namja itu yang tampak asyik membongkar sesuatu yang tidak kuketahui.
“Disana saja. Gikwang-ah, sekalian saja kau pasang peralatannya.” kata Il Woo Oppa.
“Ne, hyung.” katanya lagi lalu berbalik dan saat ia melihatku, ia tampak sedikit membulatkan matanya. “O… Neo…” katanya menggantung.
“Waeyo? Apa kita pernah bertemu?” kataku angkuh seraya melipat tangan di dada.
“Aa… jadi kau benar-benar dongsaeng Il Woo hyung.” kata namja itu-Lee Gikwang-namja yang membuatku terus merasa kesal selama beberapa hari ini.
“Huh, tentu saja! Jadi kau sudah percaya kalau aku dongsaeng-nya Il Woo Oppa dan bukan yeoja yang ‘sok’ kenal seperti yang kau bilang beberapa hari yang lalu!” kataku dengan nada yang sengaja kubuat se-angkuh mungkin. Mati kau namja sombong! Setelah ini kau pasti akan salah tingkah dan meminta maaf padaku karena sikap sombongmu semalam.
“Oh.” katanya pendek lalu melengos pergi dari hadapanku. Aku terdiam dan sukses melongo. Apa dia bilang? Oh? Hanya ‘Oh’? Hanya itu saja?
“Yaa!!” seruku seraya berbalik.
“Iseul-ah, tolong bantu Oppa!” kata Il Woo Oppa yang tampaknya baru saja muncul dari kamarnya.
“Oppa, kenapa Oppa membawa teman Oppa yang menyebalkan itu kesini?!” teriakku pada Il Woo Oppa dengan nada tinggi. Oppa-ku yang waktu itu baru saja muncul dan sama sekali tidak tahu permasalahannya hanya bisa memandangiku dengan wajah bingungnya. Isshhh… kenapa namja sombong itu jadi semakin sombong saja?!!!!
***
Kang Yuuri POV
“Saat itu aku senang sekali bisa mendapatkan Nicole walaupun berstatus sebagai ‘selingkuhan’ dan aku sama sekali tidak mempermasalahkan itu. Bagiku, selama Nicole ada di sampingku, tidak peduli apapun status yang kusandang. Aku juga menutup mata dan telingaku dari orang-orang sekitarku yang berbicara macam-macam. Asal Nicole ada di dekatku, aku sudah bahagia.”
“Tapi akhir-akhir ini… ntah mengapa aku merasa kalau aku… sudah tidak lagi memiliki kepercayaan diri untuk yakin pada pemikiranku selama ini. Aku merasa benar-benar bodoh dan hatiku selalu sakit saat melihat Nicole bersama dengan namja-nya itu walaupun aku sudah berkali-kali meyakinkan diriku kalau apapun yang terjadi Nicole akan tetap ada di sampingku.”
“Haaahhh…” Lagi-lagi aku mendesah. Malam ini aku merasa sangat dilema, benar-benar dilema. Pikiranku tidak jelas sedang berada dimana, dan satu hal yang kutahu, aku… terus menerus memikirkan namja yang untuk saat ini tinggal satu atap denganku. Kulangkahkan kakiku keluar kamar hanya untuk mengecek apakah namja itu sudah pulang atau masih berada di luar rumah.
“Dia belum pulang.” gumamku saat melihat sepatu yang sering digunakan Key tidak ada di tempatnya. “Kemana dia?” gumamku lagi seraya menghela napas panjang. Perhatianku langsung tertuju pada telepon rumah yang berbunyi dan secepatnya kusambar benda itu dengan harapan kalau sipenelepon adalah orang yang kutunggu.
“Yoboseo…” sapaku yang terdengar sedikit bersemangat.
“Yuuri-ya!” Mendadak aku merasa sedikit kecewa karena sipenelepon ternyata bukan orang yang kupikirkan, tetapi chingu-ku.
“Iseul-ah, Waeyo?” tanyaku dengan nada lemah.
“Yuuri-ya, kau tahu, saat ini aku sungguh kesal!! Ntah kenapa saat ini aku sungguh ingin membunuh seseorang!!” maki Iseul di telepon. Langsung kutatap ganggang telepon itu dengan dahi berkerut. Ingin membunuh seseorang? Apa chingu-ku ini sudah gila?
“Waegeuraeyo?” tanyaku bingung. Ada apa dengan Iseul?
“Yuuri-ya, kau ingat dengan namja teman Key Oppa yang namanya Lee Gikwang?” kata Iseul. Lee Gikwang? Yang mana? Teman Key yang paling kuingat hanya Minho Oppa.
“Anniyo, aku lupa. Ada apa dengannya?”
“Namja itu yang saat ini sangat ingin kubunuh!”
“Yaa!! Apa kau bercanda? Kau membuatku takut, Iseul-ah.” kataku. Jujur, aku langsung merinding saat mendengar perkataan Iseul tadi.
“Pabbo, tentu saja aku bercanda! Mana mungkin aku benar-benar membunuhnya. Itu hanya perumpamaan kalau saat ini aku benar-benar kesal. Namja sombong bernama Lee Gikwang itu sungguh sangat menjengkelkan!”
“Memangnya kenapa dengannya? Kalian bertengkar?” tanyaku heran.
“Tentu saja! Dia yang mengibarkan bendera peperangan di hadapanku!” kata Iseul menggebu-gegu. Aku bisa membayangkan ekspresinya saat bercerita walaupun tidak berhadapan langsung dengan Iseul dan hal itu membuatku sedikit menahan senyum.
“Museul malhaeya?”
“Yaa, coba kau bayangkan! Bagaimana perasaanmu saat ada orang yang kau kenali tetapi dia sama sekali tidak mengingatmu dan bahkan orang itu mengatakan kalau kau itu sok kenal dengannya. Bagaimana reaksimu?”
“Aku… mungkin merasa kesal.” jawabku ragu.
“Begitulah aku! Aku bertemu dengan namja sombong itu di dalam bus sewaktu akan pulang. Aku menyapanya karena dia adalah teman Il Woo Oppa, tapi dia tidak ingat denganku. Aku berusaha mengingatkannya dengan memberitahunya kalau aku adalah adik Il Woo Oppa, tapi apa yang dia katakan? Dia malah mengatakan kalau banyak yang mengaku-ngaku sebagai dongsaeng Il Woo Oppa dan…” kata Iseul menggantung.
“Yaa, dan apa? Kenapa kau tiba-tiba diam? Cepat lanjutkan ceritamu!” kataku saat tiba-tiba Iseul diam.
“Omo! Key Oppa!” kata Iseul tiba-tiba. Aku diam mematung saat mendengar ucapan Iseul tadi. Ia menyebut… Key…
“Iseul-ah, wae irae?” tanyaku.
“Yuuri-ya… Ntah apa yang terjadi, tapi… Key Oppa datang kesini bersama dengan temannya. Dia… mabuk!”
Trakkk!!!
Ganggang telepon yang ada ditanganku langsung terlepas begitu saja. Pikiranku… kacau seketika. Ada apa? Ada apa dengan namja itu?
***
Beberapa jam sebelumnya…
Key POV
Aku mendesah berat seraya memandangi sesuatu yang berada dekat denganku tetapi juga jauh dariku (?). Aku-Key, saat ini sedang menatapi seseorang dari dalam mobilku. Orang itu adalah seseorang yang sampai saat ini masih berstatus sebagai yeoja-ku, Jung Nicole. Beberapa jam yang lalu dia memintaku (lagi) untuk bertemu, setelah selama beberapa hari ini aku terus-dengan sengaja-menghindarinya. Ntahlah, aku juga tidak mengerti mengapa aku merasa-sangat-tidak-ingin-melihat wajahnya yang selama ini selalu menjadi candu bagiku.
Untuk beberapa waktu lamanya aku terus berdiam diri di dalam mobil sambil terus menatapi Nicole. Jarak kami lumayan dekat sehingga aku bisa melihat dengan jelas ekspresi gelisah Nicole yang saat ini terus menungguku. Akupun masih enggan untuk beranjak dari tempatku. Saat ini kulihat Nicole tampak memenceti layar ponselnya dan tidak berapa lama kemudian aku merasa ponselku bergetar.
“Yoboseyo?” sapaku dengan nada enggan.
“Chagiya, eodiseoyo?” tanyanya. Darahku sedikit berdesir saat mendengarnya memanggilku ‘Chagiya’ yang selama ini sangat jarang dilakukannya.
“… Di apartemenku, wae?”
“Mwo? Key-ah, apa kau benar-benar tidak ingin datang? Aku sudah menunggumu selama 2 jam lebih disini.” kata Nicole dengan nada setengah putus asa. Geurae Nicole-ah, kau hanya menungguku 2 jam, sedangkan aku sudah menunggumu lebih dari 2 tahun. Apakah ini bisa dikatakan bahwa kita impas?
“……….”
“Key-ah, kau masih mendengarku?”
“Ne, aku selalu mendengarmu.” jawabku.
“Kumohon, datanglah… Aku ingin membicarakan masalah kita. Aku ingin mengatakan sesuatu yang selama ini belum bisa kukatakan. Jebal, Key…” katanya dengan nada yang melunak.
“Aku tidak bisa memastikan bahwa aku akan datang, jadi jangan menungguku lagi.” kataku dingin.
“Shireo, aku akan tetap menunggu disini sampai kau datang dan mendengarkan ucapakanku!”
Aku spontan memejamkan mataku. Ntah mengapa ini terasa berat sekali. Sampai saat ini aku masih belum berani menghadapi kenyataan di hadapanku. Kenyataan bahwa kebahagiaan yang kurasakan selama ini hanyalah… sebuah fiksi.
“Ok, mungkin ini bisa membuatmu bahagia. Tapi Oppa, kebahagiaan yang kau rasakan itu hanya fiksi, bukan kenyataan. Kenyataannya, disini kaulah yang selalu tersakiti. Kau akan sakit saat melihat Nicole Unnie bersama dengan tunangannya, dan kau akan lebih tersakiti lagi kalau-kalau suatu hari nanti mereka akan menikah. Hentikan ini semua, Oppa… Jangan menyiksa diri lebih jauh lagi… Banyak yeoja yang lebih baik dari Nicole Unnie yang tentunya bisa mencintai Oppa dengan setulus hati. Oppa hanya perlu membuka mata dan telinga Oppa, tentunya juga membuka hati Oppa. Dengan begitu Oppa bisa melihat yeoja-yeoja lain yang bisa memberikan cinta terbaik untuk Oppa.”
Kubuka mataku bersamaan dengan keberanian yang ntah datang dari mana, yang kutahu adalah sesaat tadi aku serasa mendengar suara lembut Yuuri. Suara yang memberiku sedikit kekuatan untuk meyakinkan hatiku. Ne, sekarang aku yakin pada keputusanku dan aku yakin kalau ini adalah keputusan yang tepat.
Langsung kubuka pintu mobil di sebelahku dan berjalan pasti menuju Nicole. Saat melihat sosokku, yeoja itu langsung bangkit dan tersenyum lalu spontan memelukku erat. Bahkan saat ini-pun, jantungku masih berdetak dengan tidak normal saat Nicole memelukku seperti ini. Aku… masih sangat-sangat-sangat mencintainya, walaupun dalam hatiku tercetus keyakinan untuk menyerah!
***
Author POV
“Aku tahu kau pasti akan datang, karena kau tidak akan membiarkanku menunggu begitu lama.” kata Nicole seraya memeluk Key erat. Key masih diam bergeming tanpa membalas pelukan Nicole padanya. Sesaat wajahnya terlihat gamang, lalu beberapa saat kemudian wajah gamang itu berubah menjadi datar dan dingin.
“Key…” kata Nicole seraya mendogak menatapi wajah Key. Ia heran karena namja itu diam saja tanpa membalas pelukannya. Begitu melihat wajah dingin Key, perlahan ia melepaskan pelukannya.
“Kau… masih saja marah padaku?” tanyanya seraya menatapi Key lekat. Key menatap Nicole di hadapannya, tatapannya dingin, sedingin ekspresi wajahnya.
“Kau ingin mengatakan apa?” tanya Key dingin. Nicole menatapnya lekat. Ekspresi wajah yeoja itu nampak jelas sebuah ketidak-percayaan. Benar, Nicole tidak percaya kalau Key bisa bersikap dingin seperti ini padanya. Selama ini, tidak pernah sekalipun Key memperlakukannya sedingin ini.
“Key… namja itu…” kata Nicole menggantung.
“Namja ‘dengan mobil mewah itu’ tunanganmu, bukan. Arraseo, aku sudah tahu sejak lama. Kau sendiri yang memberitahukannya dan aku tidak pernah mempermasalahkannya.” potong Key.
“Jinjja? Jeongmalyo?” kata Nicole yang tampak sedikit senang waktu mendengar ucapan Key tadi.
“Ne, aku mencintaimu. Sangat-amat mencintaimu. Saking cintanya, aku tidak pernah mempermasalahkan keberadaan tunanganmu dan bahkan rela menjadi selingkuhanmu. Namja itu… tidak mengetahui hubungan kitakan?” tanya Key. Nicole tersenyum, lalu meraih lengan Key dan memeluknya erat.
“Anni, kau tenang saja. Kyuhyun Oppa tidak tahu tentang hubungan kita, dia hanya tahu kalau kau adalah teman sekampusku seperti Minho dan lainnya.” kata Nicole santai karena ia merasa kalau Key sudah tidak marah lagi.
“Heh, baguslah. Artinya aku tidak perlu khawatir untuk meninggalkanmu kapan saja karena namja itu tidak mungkin meninggalkan tunangannya ini.” kata Key seraya tertawa hambar. Mendengar itu Nicole langsung menatapi Key dengan tatapan bingung.
“… Museun… malhaeya?” tanya Nicole. Ia semakin bingung saat Key kembali menatapnya dengan tatapan dingin dan juga perlahan-lahan namja itu melepaskan pelukan Nicole pada lengannya. “Key…”
“Hubungan sia-sia ini, kita akhiri saja sampai disini. Aku lelah… benar-benar lelah. Batinku serasa tidak sanggup lagi menjalaninya. Aku mencintaimu, Nicole… Sangat mencintaimu. Aku ingin memilikimu seutuhnya sebagai yeoja-ku, tapi itu semua tidak bisa kulakukan karena posisiku hanya sebagai ‘simpanan’. Walaupun semua orang tahu kalau kau adalah yeoja-ku, tapi kenyataannya mereka tidak mengetahui keberadaan ‘namja dengan mobil mewah’ itu yang sudah terlebih dahulu memilikimu.”
“……”
“Aku tidak bisa meneruskannya lagi. Aku tidak tahan melihatmu saat bersamanya walaupun aku terus meyakinkan diriku kalau kau juga milikku dan tidak akan terjadi apa-apa selama kau masih di sampingku. Tapi… semakin lama aku semakin kehilangan keyakinan itu. Aku tidak bisa puas hanya menjadi selingkuhanmu, aku ingin memilikimu seutuhnya. Setiap kali melihat kau bersama namja itu, emosiku melonjak dan bahkan aku ingin memotong kedua tangannya saat namja itu menyentuhmu. Aku bisa gila kalau terus-terusan seperti ini.” kata Key panjang lebar. Ia terlihat begitu tertekan saat mengatakan semua isi hatinya yang selalu disimpannya selama ini.
“Key… bukankah kau bilang kau tidak mempermasalahkan keberadaan Kyuhyun Oppa sebagai tunanganku. Kau juga tahu bukan kalau pertunangan itu terjadi atas dasar kehendak kedua orangtua kami.” kata Nicole.
“Arraseo, Arraseo… Oleh karenanya aku selalu meyakinkan diriku bahwa tidak akan terjadi apa-apa selama kau ada di sampingku. Tapi Nicole, sampai kapan keyakinan itu bisa bertahan? Suatu saat nanti kau pasti akan menikah dengan namja itu. Lalu aku? Apa kau bisa membayangkan apa yang akan terjadi padaku setelahnya?” kata Key seraya menatap Nicole dengan tatapan sedihnya. Nicole menatap Key dengan nanar dan untuk beberapa saat lamanya ia hanya bisa diam.
“… Aku akan semakin terpuruk dan menderita. Tinggal menunggu waktu saja sampai akhirnya aku benar-benar kehilanganmu. Sebelum itu semua terjadi, lebih baik kita akhiri saja hubungan sia-sia ini. Hal ini juga akan sedikit mengurangi perasaan berdosaku pada tunanganmu karena sudah diam-diam mengkhianatinya.” kata Key.
“Key… kau yakin dengan ini semua? Kau yakin ingin melepaskanku?” tanya Nicole.
“Tentu saja aku tidak ingin ini terjadi. Siapapun tidak mungkin rela melepaskan orang yang dicintainya. Tapi aku harus melakukannya karena sejak awal hubungan kita ini adalah salah. Tidak pernah ada pembenaran terhadap pengkhianatan, Cole-ah.” kata Key seraya menatap Nicole dalam, begitu juga dengan yeoja itu. Untuk beberapa saat mereka saling tatap dalam diam. Key langsung menelan ludahnya dengan susah payah saat melihat mata Nicole yang mulai berair. Yeoja itu menangis, yeoja yang sangat-amat dicintainya itu menangis di hadapannya. Key sedikit tidak percaya kalau Nicole yang selalu bersikap angkuh dan pandai menyembunyikan perasaannya itu, akan menangisinya.
“Mianhae… Mianhae, Key…” kata Nicole dengan suara seraknya.
“Gwaenchana. Putus bukan berarti kita tidak berhubungan lagi. Kita adalah teman, dan selamanya akan menjadi teman baik.” kata Key seraya memaksakan diri untuk tersenyum padahal ia juga mati-matian menahan air matanya agar tidak keluar.
“Key-ah… sebelum semuanya berakhir, aku ingin mengatakan satu hal yang sejak dulu tidak pernah bisa kukatakan padamu.” kata Nicole seraya menyeka air matanya. Ia menatapi Key dengan dalamnya, seperti Key menatapnya saat ini. “Hubunganku dengan Kyuhyun Oppa hanyalah sebatas ‘perjodohan’, bukan atas cinta. Mati-matian aku berusaha agar bisa mencintai Kyuhyun Oppa, tapi tetap aku tidak bisa merasakan cinta itu.”
“……”
“Tapi denganmu, Key… setiap hal yang kau lakukan selalu bisa membuatku berdebar-debar. Bahkan hal-hal kecil yang tidak sebanding dengan yang selalu dilakukan oleh Kyu Oppa, selalu bisa membuatku berbunga-bunga. Hanya dengan kau menggandeng tanganku, bisa membuat jantungku bekerja dengan tidak normal. Hanya dengan kau memanggilku ‘chagiya’, bisa membuatku sangat bahagia sampai rasanya aku ingin terus tersenyum sepanjang hari. Key, denganmu… aku benar-benar merasakan seperti apa rasanya jatuh cinta. Aku mencintaimu, Key… sama sepertimu, aku sangat-amat mencintaimu.” kata Nicole.
Mata Key sedikit membulat saat mendengar penuturan Nicole yang tidak pernah dibayangkannya sebelumnya. Ia benar-benar tidak menyangka kalau Nicole ternyata juga mencintainya. Selama ini Key hanya berpikir bahwa Nicole hanya menerimanya karena bosan terus-terusan diganggu olehnya. Apalagi selama ini Nicole tidak pernah sekalipun menunjukkan perasaannya pada Key dan selama perpacaran, Nicole baru pertama kali memanggilnya ‘chagiya’ saat di hadapan Yuuri.
“Cole-ah… Neo…” kata Key yang tidak bisa bicara apa-apa lagi.
“Mianhae, Key… aku baru sekarang berani untuk mengatakannya. Butuh banyak keberanian untuk mengakuinya, dan saat keberanian itu datang… keadaan sudah berubah. Kita… terpaksa harus mengakhiri ini semua dan akupun harus rela melepaskan orang yang benar-benar mencintaiku juga kucintai.” kata Nicole.
“Anniyo, kalau kau memang mencintaiku, kenapa kau tidak membatalkan pertunanganmu saja?” kata Key.
“Jeongmal mianhae, Key… aku memang benar-benar mencintaimu. Tapi rasa cintaku itu tidak bisa mengalahkan keinginan orangtuaku. Nasib keluargaku, perusahaan Appa, terlebih lagi nasib ratusan karyawan yang sangat bergantung pada pertunangan ini. Aku mencoba realistis, Key. Aku tidak boleh mengorbankan orang lain hanya karena ke-egoisanku.” kata Nicole. Key menatapinya dengan tatapan nanar.
“Lagipula Kyuhyun Oppa namja yang sangat baik, hanya saja cara kami bertemu dan berhubungan yang ‘sedikit’ salah. Setelah menjadi istrinya, aku akan mulai belajar untuk mencintainya.” kata Nicole lagi.
“……”
Air mata Nicole mengalir lagi tapi yeoja itu berusaha tersenyum. Tidak ada lagi wajah angkuh yang sering diperlihatkannya. “Gumawoyo Key, jeongmal gumawo. Kau namja pertama yang memberiku cinta terindah dan juga namja pertama yang kucintai. Saat-saat bersamamu adalah saat paling indah dalam hidupku. Terima kasih untuk semua cintamu yang mungkin tidak akan bisa kubalas.”
“……”
“… Saranghae…” kata Nicole lalu melayangkan kecupan singkat dibibir Key sebagai tanda perpisahan. Air mata yang sejak tadi ditahan Key jatuh dan membuat sebuah sungai kecil dikedua pipi Key. Ia menatapi Nicole dengan tatapan penuh cinta, begitupula Nicole. Yeoja itu tersenyum, lalu berbalik dan berjalan meninggalkan Key. Melihat punggung Nicole yang terus menjauh, Key mengangkat tangannya berusaha untuk menggapai yeoja itu lagi. Tapi tertahan, karena ia sadar, bahwa ini adalah yang terbaik untuk mereka.
***
Minho berjalan cepat setelah sebelumnya ia membanting pintu mobil. Myungsoo yang saat itu masih di dalam mobil dan baru selesai memarkir mobil tersebut, seketika terlonjak kaget gara-gara ulahnya. Ia langsung mengelus dadanya dan beberapa kali berdecak melihat kelakuan temannya itu. Setelah selesai dengan urusan mobil, iapun keluar dan berjalan dengan cepatnya juga memasuki sebuah bar. Ia celingukan kesana kemari mencari sosok Minho yang ntah berada dimana. Begitu ia menemukan sosok temannya itu, langsung ia berjalan mendekat.
“Key wae irae?” tanyanya saat melihat Minho sedang menggoncang-goncangkan bahu Key yang tampak tertidur di meja.
“Dia mabuk. Isshhh… bocah ini! Yaa, ireonayo!!” seru Minho seraya menggoncang-goncangkan tubuh Key. Mendengar itu Myungsoo langsung mendekatkan kepalanya pada Key.
“Isshhh… berapa banyak alkohol yang diminumnya?” gerutu Myungsoo saat bau alkohol yang sangat kuat menyerang penciumannya. “Apalagi yang terjadi dengannya?”
“Ini semua pasti gara-gara yeoja itu!” kata Minho geram.
“Yeoja?” kata Myungsoo bingung, tapi beberapa detik kemudian barulah ia mengerti. “Aaa… Jung Nicole memang luar biasa. Hanya dia yang bisa membuat Key lepas kontrol seperti ini.” kata Myungsoo lagi.
“Diamlah, aku selalu kesal kalau mendengar nama yeoja itu. Bisa-bisanya ia membuat Key seperti ini.” omel Minho. “Yaa, Key!! Bangun, bodoh!” seru Minho kesal.
“Sudahlah, dia tidak akan sadar. Lebih baik kita membawanya ke rumah Il Woo Hyung, biar Hyung saja yang mengomelinya. Dia tidak akan mendengarkan kalau kita yang mengomel.” kata Myungsoo.
“Heh, geuraeyo! Namja bodoh ini, persiapkan telingamu saat kau sadar nanti!” kata Minho seraya tersenyum remeh. “Kajja!” katanya lagi lalu meraih tubuh Key dan memapahnya bersama Myungsoo.
“Aigo… ternyata tubuh bocah ini berat juga padahal ia kurus sekali.” keluh Myungsoo yang susah payah memapah Key yang tidak sadarkan diri.
***
“Dia ada dimana?” tanya Yoona yang tiba-tiba saja datang lalu langsung duduk di hadapan Minho. Namja itu langsung saja menatapinya.
“Nugu? Key?” tanya Minho. “Dia ada di rumah Il Woo Hyung. Semalam dia mabuk, mungkin karena bertengkar dengan Nicole atau… ntahlah, hanya Nicole yang bisa membuatnya begitu.”
“Kenapa kau membawanya ke rumah Il Woo Oppa?” tanya Yoona.
“Yaa, Im Yoona, siapa lagi yang bisa menasehatinya kalau bukan Il Woo Hyung? Dia tidak akan mendengarkan siapapun selain Hyung.”
“Isshh… apalagi yang dilakukan yeoja itu pada Key? Jung Nicole…” gumam Yoona dengan geramnya.
“Sudahlah, berhenti memikirkan Key secara berlebihan. Tidak ada gunanya kau seperti ini. Kalau kau tidak mengatakannya langsung, selamanya Key tidak akan menyadari perasaanmu.” kata Minho.
“Mworago? Yaa, Choi Minho, apa maksud ucapanmu barusan?! Perasaan apa?” bantah Yoona yang seketika langsung terlihat salah tingkah.
“Aisshh… jinjja, yeoja ini… Apa kau pikir aku tidak mengetahuinya? Perasaanmu pada Key itu bukan hanya sebatas perasaan terhadap sahabat, tapi kau memandang Key sebagai seorang namja. Kau… terlihat jelas menyukainya.” kata Minho langsung pada titik sasaran. Yoona yang mendengar itu spontan membulatkan mulutnya. Speechless, juga bingung ingin mengatakan apa.
“Yoona menyukai siapa?” tanya seseorang yang tiba-tiba saja datang dan membuyarkan suasana hening yang tadi beberapa saat sempat terjadi. “Yaa, Im Yoona, memangnya kau menyukai siapa?” tanya orang itu, Sooyoung. Ia langsung mengambil kursi dan duduk di antara Yoona dan Minho. Mendengar itu sontak Yoona langsung memelototkan matanya pada Minho yang hanya direspon acuh oleh namja itu.
“Anniyo. Memangnya siapa yang mengatakan menyukai siapa?” kata Yoona.
“Tadi Minho bilang, kau terlihat jelas menyukainya. Menyukai siapa?” tanya Sooyoung lagi.
“Membicarakan apa? Kalian terlihat serius.” kata Gikwang juga yang langsung duduk di hadapan Sooyoung.
“Gikwang, mereka sedang membicarakan orang yang disukai Yoona.” kata Sooyoung.
“Anniyo, kau jangan sembarangan bicara.” bantah Yoona langsung. “Yaa, Choi Minho, cepat jelaskan pada mereka!” kata Yoona setengah membentak pada Minho. Namja itu seketika memutar kedua bola matanya dengan ekspresi malas.
“Kalian ini berisik sekali. Tadi itu kami sedang mengobrol tentang boyband yang baru-baru ini sedang naik daun dan Yoona terlihat sangat menyukainya padahal dulu ia yang paling anti dengan boyband.” kata Minho dengan nada malas. Ia lalu menatap Yoona dengan tatapan ‘puas kau, Im Yoona’.
“N…Ne… tadi… kami memang memperdebatkan itu.” kata Yoona.
“Aigo… kukira kalian membicarakan orang yang disukai Yoona.” kata Sooyoung.
“Tentu saja bukan, kan sudah kubilang tadi bukan itu.” kata Yoona lagi seraya tertawa garing dan melirik Minho yang juga menatapnya sambil menyunggingkan senyuman remehnya. Melihat ekspresi wajah Minho itu, Yoona langsung menatapnya dengan tatapan ‘Apa kodok? Ini semua gara-gara kau, pabbo!’
***
Yuuri POV
Hufttt… kemana Iseul? Kenapa hari ini dia tidak masuk sekolah? Aku penasaran sekali dengan kejadian tadi malam. Apa yang terjadi? Iseul bilang Key datang ke rumahnya dan namja itu mabuk?
“Isshhh… kemana bocah itu? Seharusnya saat ini kau ada disini, Jung-ah…” gerutuku. Semua pelajaran hari ini tidak ada yang dapat kucerna atau yang bisa masuk ke otakku. Pikiranku terus melayang pada namja cantik yang selalu merengek minta dipanggil ‘Oppa’ olehku. Aigo… kenapa hari ini rasanya jam berputar lambat sekali?? Issshhh…
“Kang Yuuri!!”
Aku tersentak dari lamunanku dan sontak mengalihkan pandangan mataku yang sejak jam pelajaran pertama terus terarah ke luar jendela. Kutatap wanita paruh baya yang berdiri di depan kelas yang menatapku garang. Seketika kuteguk ludahku dengan susah payah.
“Kalau memang tidak berminat mengikuti pelajaran, silakan meninggalkan kelas ini!”
“Keundae, Saem…”
“Palliya!!” seru wanita itu lagi. Dengan langkah gontai, akupun beranjak meninggalkan kelas. Baiklah, mungkin memang sebaiknya aku berada di luar kelas daripada keberadaanku mengganggu guru yang mengajar.
“Key…” gumamku tanpa sadar seraya terus berjalan gontai tanpa arah.
***
Author POV
Key menghela napasnya panjang, sesaat masih terasa pusing di kepalanya pasca acara mabuk tadi malam. Siang ini ia terbangun dan langsung disambut dengan omelan panjang dari hyung-nya. Dalam hati ia terus menggerutu panjang. Suasana hatinya sedang buruk, malah ditambah dengan omelan hyung-nya. Sambil menggerutu, Key juga masih sempat mengutuki Minho dan Myungsoo yang tega-teganya membawanya pada Il Woo karena mereka tahu hanya Il Woo-lah yang bisa membuat Key tidak berkutik.
Issshh… dua bocah itu… Lihat saja, habis kalian nanti! Bisa-bisanya membawaku pada Il Woo Hyung. Telingaku sampai sakit gara-gara omelannya.
Key memijit-mijit kepalanya yang masih pusing lalu memperhatikan seluruh keadaan kamar Il Woo. Merasa sesuatu yang dibutuhkannya tidak ada disana, iapun beranjak keluar kamar. Baru saja ia membuka mata, langsung mendapatkan ceramah Il Woo selama 3 jam. Key merasa tenggorokannya benar-benar kering dan ia membutuhkan segelas air dingin untuk membasahinya. Untuk itu, iapun berjalan keluar kamar mencari segelas air sambil terus memegangi kepalanya.
“Oo… Key Oppa, kau sudah bangun?” seru seseorang yang sontak membuat Key menoleh. “Oppa, gwaencahanayo?”
“Iseul-ah, kau tidak ke sekolah?” tanya Key saat melihat Iseul berjalan mendekatinya.
“Anniyo, Oppa. Hari ini aku meliburkan diri sendiri.” jawab Iseul.
“Mwo?” kata Key bingung, tapi beberapa detik kemudian barulah ia sadar. “Yaa, kau membolos, eo?” serunya yang hanya dibalas Iseul dengan cengirannya.
“Issshhh, kau ini! Kau gagal sebagai pelajar! Seharusnya kau tiru Yuuri yang…” kata Key menggantung. Tiba-tiba saja pikirannya melayang pada Yuuri.
“Waeyo, Oppa?” tanya Iseul heran saat tiba-tiba Key terdiam.
“Iseul-ah, sekarang sudah jam berapa?” tanya Key yang tiba-tiba terlihat panik.
“Jam… 2 siang, Oppa. Waegeuraeyo?”
“Iseul, sepertinya Oppa harus pergi.” kata Key lalu buru-buru beranjak, tapi secepat itu pula Iseul memegangi lengan Key.
“Oppa, kau akan kemana?” tanya Iseul.
“Aku harus pulang. Sebentar lagi jam sekolah kalian usai dan aku harus menjemput Yuuri.” jawab Key. Mendengar itu ntah mengapa rasanya Iseul langsung dibuat kesal.
“Oppa, memangnya untuk apa Oppa menjemput Yuuri? Diakan bisa pulang sendiri? Biasanya Minhyuk Oppa juga tidak pernah menjemputnya! Lalu kenapa Oppa bersikap berlebihan begini padanya?!” kata Iseul yang terdengar jelas kesalnya.
“Kakinya sedang terluka, Iseul-ah, dan Oppa yang menyebabkannya begitu. Hanya ini yang bisa Oppa lakukan untuk menebus rasa bersalah Oppa padanya juga pada Minhyuk karena tidak bisa menjaga dongsaeng-nya dengan baik. Mianhae, Oppa harus pergi sekarang.” kata Key lalu beranjak pergi. Pegangan Iseul pada Key seketika terlepas bersamaan dengan menjauhnya punggung namja itu. Iseul hanya bisa terdiam sambil menatapi Key dengan perasaan kecewanya.
“Dua kali… Sadarkah Oppa, sudah dua kali kau meninggalkanku hanya karena Yuuri. Apa dimata Oppa hanya ada Yuuri?” gumam Iseul yang matanya sudah mulai berkaca-kaca.
***
“Yuuri-ya!!” seru Key seraya membuka pintu dengan terburu-buru.
Ia terlihat panik soalnya sewaktu ia menjemput Yuuri ke sekolah, yeoja itu tidak muncul-muncul juga. Bahkan saat sekolah sudah hampir sepi, yeoja itu tidak juga muncul. Akibatnya Key jadi panik dan belingsatan tidak jelas. Ia mencari Yuuri kemana-mana bahkan ke kafe-kafe yang eerrr… tidak mungkin didatangi oleh siswa SMA. Putus asa tidak bisa menemukan Yuuri dimana-mana, akhirnya ia memutuskan untuk pulang dan berharap yeoja itu ada di rumah. Harapannya terwujud! Yeoja yang dicari-carinya ternyata saat ini ada di hadapannya, sedang duduk di sofa ruang tamu sambil menonton televisi dengan santainya.
“O… Key-ah…” kata Yuuri yang tampak bingung melihat Key yang terlihat panik.

End

Advertisements

2 comments on “LOVE YOU MORE PART 6

  • lhohh ???
    end ???
    mksudny gmana thor? msak udahan pas kyuri manggil key,? lanjut atuhh thor…
    pamali amat end d bgituan °apanyygbgituan

  • Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s