LOVE YOU MORE (PART 5)

Published October 6, 2012 by kangyuuri

Love You More (Part 5)

Image

 

Author             : Kangyuuri

Cast                 : Key SHINee, Kang Yuuri (OC).

Other Cast       :Buanyaaakkkk bangetttt… Saking banyaknya, Author sampe lupa/ lhaaa????

Genre              : Romance, Sad, comedy (mungkin), heheheee… pokoknya campur aduk!

Length             : Sinetron…./gubrak!!!

UWAAAAA… JEONGMAL MIANHAE…. Maaf-maaf-maaffffff bangetttt…. Aku ngilang hampir 2 bulan dan gak nge-publish ff gak jelas ini… Ada yang nungguin gak???/heningggg…. Akhir-akhir ini banyak banget yang mesti aku kerjain, dari yang penting sampe yang gak mutu bangeetttt…. Karena publish-nya lama, jadi part ini aku buat agak panjangan, semoga ceritanya gak ngecewain… So, simakin aja Love You More part 5 ini… trus jangan lupa, tinggalin koment-nya….

***

Yuuri POV

Gumawo, Oppa.” kataku seraya sedikit membungkukkan badan ke arah namja yang saat ini duduk di sampingku. Namja itu mematikan mesin mobilnya lalu menoleh yang kemudian langsung tersenyum kepadaku.

Cheonma. Oh ya, Yuuri-ssi…” panggilnya.

Nde?”

“Apa Key ada di dalam?” tanyanya yang seketika membuatku terdiam. Hatiku mencelos. Kutatapi namja di sampingku ini yang lagi-lagi membalas tatapanku dengan senyuman kharismatisnya. “Aku tahu saat ini Key ada bersamamu karena Minhyuk memintanya menjagamu.”

“A… a… itu… Minhyuk Oppa memang selalu merepotkan, mianhae Oppa kalau dia pernah merepotkanmu.” kataku tidak nyaman. Ntah mengapa aku merasa kalau saat ini aku sangat merepotkan orang lain.

Anniyo, Oppa-mu orang yang baik. Aku sangat suka berteman dengannya. Kau tahu, baik aku, Key, ataupun Minhyuk, juga Il Woo Hyung itu sudah seperti saudara. Tentunya kau-pun juga sudah kuanggap sebagai dongsaeng-ku sendiri.” katanya seraya tersenyum lembut dan mengusap rambutku pelan.

Oppa, Minyuk Oppa itu terlalu menyebalkan. Kenapa bukan Oppa saja yang menjadi Oppa-ku? Gumawo Minho Oppa.” kataku.

Arraseo. Keundae, apa Key sudah pulang?” tanya Minho Oppa seraya menatap ke dalam rumah yang tampak gelap.

Mwolla, Oppa. Mungkin saja belum.” jawabku tidak yakin saat mengingat kalau tadi siang dia meneleponku.

“Aisshhh… Namja itu. Tadi saat pertandingan di kampus dia juga menghilang ntah kemana, ponselnya juga tidak bisa dihubungi. Kemana perginya bocah itu?” gerutu Minho Oppa yang seketika membuatku tertawa kecil. “Waeyo?”

Anniyo Oppa, lucu saja saat kau mengatainya bocah. Biasanya dia yang mengataiku bocah, menyebalkan sekali.” kataku yang juga membuat Minho Oppa tertawa. “Oppa mau masuk dulu? Udara dingin sekali, kalau Oppa mau, aku bisa membuatkan Oppa minuman hangat.” tawarku.

Geurae, aku tidak mungkin menolak ajakan dongsaeng-ku yang…” kata Minho Oppa menggantung. Matanya yang besar semakin membesar saat menatap sesuatu di hadapannya. Karena heran melihat perubahan ekspresinya itu, akupun langsung mengikuti arah tatapannya. Di depan mobil Minho Oppa sudah berdiri seorang yeoja yang sangat kukenali.

“Jung Nicole… apa-apaan dia?” desis Minho Oppa sebelum ia beranjak keluar dari mobilnya.

“Choi Minho…” panggilnya dan saat matanya menangkap bayanganku, yeoja itu langsung mencibir. “Cih… bahkan kaupun bisa bersama bocah ini.” sindirnya.

“Dia dongsaeng-ku dan bukan urusanmu aku bisa bersama siapapun.” kata Minho Oppa sinis. “Ada apa? Kenapa kau ada disini?”

“Aku mencari Key, apa kau tahu dimana dia?” tanya Nicole dengan nada angkuhnya.

Nan mwollaseo. Dia sudah menghilang sebelum pertandingan basket tadi. Seharusnya kau yang lebih tahu.” jawab Minho Oppa tak kalah angkuhnya.

“Key juga tidak ada di apartemennya.” kata Nicole lagi yang kali ini matanya menatapku. “Key pernah bercerita kalau dia diminta Minhyuk untuk menjaga dongsaeng-nya dan benar-benar tidak kusangka kalau itu kau.” katanya lagi seraya menatapku tajam sedangkan aku hanya bisa diam sambil membalas tatapannya.

“Apa Key sudah pulang?” tanyanya lagi yang masih dengan nada angkuhnya. Astaga, ingin sekali rasanya aku mengusir yeoja angkuh ini dari rumahku. Aku tidak tahu masalahnya apa, tapi tiap kali melihat Nicole rasanya emosiku selalu tersulut.

“Tidak ada. Aku dan Yuuri sejak tadi sudah ada disini dan Key sama sekali belum pulang. Pergilah ke apartemennya lagi, mungkin dia disana sekarang.” kata Minho Oppa yang lebih terdengar seperti mengusir daripada memberi saran.

Geurae, aku ke apartemennya sekali lagi. Beritahu aku kalau kau bertemu dengan Key.” kata Nicole setelah beberapa saat tampak bertatapan tajam dengan Minho. Dari sudut mata kedua orang itu terlihat jelas kalau hubungan keduanya tidak bisa dibilang baik.

“Isshh… yeoja itu…” gerutu Minho Oppa pelan setelah Nicole menghilang.

Oppa, kau terlihat tidak menyukainya, bukankah kalian teman?” kataku ragu.

“Aku memang tidak menyukainya, Yuuri, sangat-tidak-menyukainya!”kata Minho Oppa tegas yang tidak membuatku bertanya lagi tentang alasannya tidak menyukai Nicole. “Kajja!” katanya lagi seraya beranjak dan akupun mengikuti langkahnya menuju rumahku.

“Yuuri-ah, aku sering kemari, tapi kenapa kita tidak pernah bertemu?” kata Minho Oppa yang kuyakin sedang berusaha mencairkan suasana yang tadi sempat jadi kaku.

Jeongmalyo?” tanyaku juga yang berusaha bersikap biasa.

Ne, aku bahkan tidak tahu kalau Minhyuk punya dongsaeng.”

Oppa-ku memang bodoh, Oppa. Pasti dia lupa menceritakannya pada kalian.” kataku seraya membuka pintu dan saat masuk tatapanku langsung tertuju pada sebuah sepatu yang sudah bertengger manis di rak sepatuku.

“Ada apa?” tanya Minho Oppa.

Oppa… sepertinya… dia sudah pulang.” kataku ragu. Mendengar itu Minho Oppa sempat terdiam beberapa saat, dari wajahnya terlihat kalau ia sedang berpikir. Tapi beberapa detik kemudian ia langsung menerobos masuk lalu kembali lagi ke hadapanku.

“Dimana kamar Key?” tanyanya dengan tergesa-gesa.

“Di kamar Minhyuk Oppa.” jawabku yang kebingungan dengan reaksinya yang berubah tiba-tiba. Setelah itu Minho Oppa kembali berlari menuju kamar Minhyuk Oppa meninggalkanku yang masih kebingungan.

***

Author POV

Tok! Tok! Tok!

“Key, kau di dalam?! Ini aku Minho, buka pintunya, Key!!” seru Minho keras seraya menggedor-gedor pintu kamar di hadapannya. Dari belakang namja itu, tampak Yuuri yang berjalan dengan ekspresi campur aduk antara bingung, heran, dan cemas saat melihat Minho tiba-tiba saja menerobos masuk rumahnya. Yeoja itu langsung berdiri di dekat Minho yang terus sibuk menggedor pintu kamar Minhyuk dengan raut cemas di wajahnya.

Oppa, waegeuraeyo?” tanya Yuuri bingung.

Mwolla, tiba-tiba saja aku merasa sedikit cemas.” jawab Minho cepat. “Key, kau pasti belum tidur. Cepat buka pintunya sebelum aku mendobrak paksa!” seru Minho setengah berteriak.

Cekrek!! Pintu terbuka dan muncullah sesosok namja cantik dengan piyama pink bermotif hati yang sukses membuat Yuuri menggembungkan pipinya karena menahan tawa. Sumpah demi apapun, seumur hidup aku tidak akan pernah sudi memakai piyama dengan warna ataupun motif senorak itu! Sungguh, namja ini memang gila!-batinnya seraya terus menahan tawa.

Mwoya? Kenapa malam-malam kau berteriak di rumah orang, huh, Choi Minho? Apa kau tertular virus evil-nya Sooyoung?”

Gwaenchana?” tanya Minho langsung. Sepertinya namja ini benar-benar khawatir sampai-sampai ia tidak menyadari seberapa ‘uniknya’ kostum tidur yang dipakai Key sekarang.

“Yaa! Neo wae irae? Tentu aku baik-baik saja! Seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu? Gwaenchanayo? Apa otakmu sudah mulai tidak beres sampai kau berteriak malam-malam begini di rumah orang? Untung kau temanku, jika tidak, bisa kupastikan kau sudah diseret paksa oleh satpam komplek ini. Arrachi?” omel Key panjang lebar. Melihat Key yang mengomel panjang lebar seperti itu ntah mengapa Minho merasa jadi sedikit lebih lega. Setidaknya sahabatnya itu memang benar-terlihat-tidak apa-apa.

“Baguslah…” kata Minho seraya menghela napas.

Mworago?” kata Key heran. Tiba-tiba saja matanya menangkap siluet Yuuri yang memang sejak tadi ada disana. “Yaa! Kang Yuuri si ‘yeoja biasa’! Kemana saja kau tadi siang, hah?!” seru Key yang refleks membuat Yuuri langsung menoleh.

“Kau sengaja kabur dan menyuruh temanmu untuk menggantikanmu? Kau pikir itu boleh, eoh?” seru Key seraya berjalan keluar dari kamarnya.

“Oo… Sudah malam, sepertinya aku harus tidur. Minho Oppa, gumawo sudah mengantarku. Aku permisi dulu, annyeong!” kata Yuuri yang tampak buru-buru kabur menaiki tangga menuju kamarnya.

“Yaa! Yaa! Yaa! Kang Yuuri, kau pikir kau bisa kabur, hah? Tunggulah besok yeoja biasa!!” seru Key yang sama sekali tidak dipedulikan Yuuri karena yeoja itu sudah masuk ke kamarnya.

“Iss… bocah sialan itu!” runtuk Key yang tampak kesal. “Yaa, Choi Minho, kenapa kau bisa bersama dengan bocah itu, huh?” tanyanya tanpa menoleh pada Minho. Merasa tidak mendapat respon dari temannya itu, Key-pun sontak menoleh dan mendapati Minho sudah tidak ada di tempatnya.

Aigo… sudah lama sekali aku tidak mengunjungi kamar ini.” kata Minho yang ternyata sudah masuk ke dalam kamar. Namja itu langsung membaringkan tubuhnya ke atas kasur. “Key-ah, kita sering bermain disini, tapi kenapa tidak pernah tahu kalau Minhyuk memiliki dongsaeng?”

Mwolla, Minhyuk bilang dia juga lupa memberitahu.” jawab Key santai seraya duduk di sofa yang ada di kamar itu. Sofa itu menghadap langsung ke arah halaman belakang rumah dan hanya dibatasi dengan dinding kaca transparan. “Oh ya, kenapa Yuuri bisa bersamamu?”

“Sewaktu aku akan ke kafe tidak sengaja melihatnya berteduh di halte, kuajak saja dia bersamaku. Key-ah, dongsaeng-nya Minhyuk ternyata sangat manis, kau harus menjaganya dengan baik.”

“Yaa! Yaa! Yaa! Choi Minho, apa-apaan nada bicaramu itu? Seperti kau menyukai bocah itu saja.” kata Key.

Ne, aku menyukainya.” kata Minho seraya tersenyum simpul.

Mworago? Minho-ya…” kata Key menggantung dengan ekspresi setengah tidak percaya.

“Yaa! Aku menyukainya sebagai dongsaeng. Kau tahukan aku sangat ingin memiliki yeoja dongsaeng dan Sooyoung akan menghajarku kalau aku memanggilnya dongsaeng. Hahhh… aku sangat ingin memiliki adik perempuan seperti Yuuri.” kata Minho yang langsung direspon Key dengan dengusannya.

“Huh, kau belum tahu bagaimana sifat aslinya yang kasar, buas, dan keras kepala. Kalau kau tahu itu, kupastikan kau akan menarik kata-katamu tadi.” kata Key. Minho tidak menjawab lagi, namja itu tampak memperhatikan seluruh area kamar Minhyuk dan suasanapun sempat hening untuk beberapa saat.

“Key-ah,” panggilnya.

“Hmmm?”

“Saat pertandingan basket tadi kau kemana?” tanya Minho yang tampak menatapi langit-langit di atasnya.

“……”

“………”

Keugae… mendadak aku ada urusan yang sangat penting sekali.” jawab Key setelah beberapa saat diam.

Jinjja?” tanya Minho seraya bangkit dan menatapi Key lekat.

Ne. Aku tidak sempat memberitahu kalian karena aku buru-buru sekali. Mianhae, bagaimana hasil pertandingannya? Apa aku mengacaukannya?” kata Key yang langsung mengalihkan pembicaraan.

Anni, kami bisa mengatasinya.” jawab Minho yang terlihat tidak puas dengan jawaban Key. “Keundae Key…” kata Minho menggantung seraya menatapi Key yang juga menatapinya.

Waeyo? Apa terjadi sesuatu?” tanya Key.

Eobseoyo, tidak terjadi apa-apa. Hasil pertandingan tadi luar biasa, kami bisa meraih kemenangan dengan mudah. Kau lihatkan, kami bisa mencetak skor mutlak walaupun kau tidak ada.” kata Minho seraya berdiri dengan angkuhnya.

“Yaa, Choi Minho. Apa maksud dari kata ‘walaupun kau tidak ada’ tadi? Kau meragukan kemampuanku selama ini, huh?” kata Key yang tampak tidak terima. Namja itu langsung berjalan ke hadapan Minho dan berdiri di hadapan Minho dengan posisi menantang.

Aigo… Tentu saja. Kemampuan bermain basketmu tidak lebih baik dariku, Key. Lagipula mana ada pemain basket handal yang memakai piyama pink dengan motif hati seperti ini? Apa jadinya kalau semua fans-mu tahu kalau kau memakai baju tidur semanis ini?” ejek Minho.

Wae? Kau juga mau? Silakan, akan kupinjamkan padamu.” kata Key lalu melepas piyamanya dan memberikannya pada Minho.

Mwo? Kau pikir aku akan memakai piyama seperti ini? Key-ah, apa kau baru mengenalku? Nan, Choi Minho, namja tampan penuh kharisma yang melelehkan, memakai benda ini sama saja dengan menggadai semua reputasiku.” kata Minho yang malah membuat Key menyeringai lebar.

Aigo… Minho-ya… Kau tidak perlu malu seperti itu di depanku. Bukankah sebelumnya kita juga sering ber-cosplay menjadi yeoja bersama Minhyuk? Kau lupa? Aku masih menyimpan fotonya kalau kau tidak ingat.” kata Key dengan nada menggoda seraya berjalan mendekati Minho yang refleks berjalan mundur untuk menghindar.

“Diam Key, jangan mengungkit masalah itu lagi.” kata Minho.

Omo… wajahmu memerah! Kau terlihat manis sekali saat malu-malu seperti itu, Minho-ya…” goda Key.

“Sudah, Key. Cukup…” kata Minho seraya terus berjalan mundur.

“Ayolah, pakai piyama ini sebentar saja… Aku ingin sekali melihat kau terlihat manis seperti saat kita ber-cosplay dulu. Jebal Minho-ya…” paksa Key terus.

“Kau gila, Key… Hentikan! Ini membuatku mual… Yaa! Yaa! Yaa…” kata Minho yang tidak bisa kemana-mana lagi karena terhimpit pinggiran kasur. Saat itu tidak sengaja kaki Minho menginjak pinggiran seprai yang licin dan sukses membuatnya terpeleset. Namja itu langsung oleng ke belakang dan iapun refleks menarik lengan Key yang ada di dekatnya. Akan tetapi Key yang belum sempat mempersiapkan diri untuk menahan tubuh besar Minho juga sukses jatuh ke atas tubuh Minho.

Appoyo…” ringis Key karena kepala terbentur kepala Minho.

“Key-ah, cepat menyingkir… Kau itu berat sekali…” ringis Minho juga seraya mengusap-usap dahinya. Tiba-tiba…

Cekrek!

“Kunci pabbo, Minhyuk Oppa mene…”

Key dan Minho sontak menoleh ke arah suara. Pintu kamar itu terbuka dan disana muncul seorang yeoja yang langsung memasang ekspresi aneh di wajahnya. Mata dan mulutnya membulat lebar sehingga yeoja itu langsung menutupi mulutnya dengan kedua tangannya. Yeoja itu… Yuuri… menatapi mereka dengan ekspresi terkejut dan tidak percaya. Melihat ekspresi Yuuri itu jelas saja Key langsung mengerutkan keningnya dan sontak menatapi dirinya. Berada di atas tempat tidur dan  lebih parahnya di atas tubuh Minho tanpa pakaian. Keadaan seperti ini akan membuat siapa saja berpikiran kalau mereka…

“KYAAAA…. NAMJA MESUM!! APA YANG KALIAN LAKUKAN DI RUMAHKU?!!”

“ARRGGGHHHH!!!”

Well… inilah jeritan-jeritan yang terdengar di malam yang sepi itu. Apa yang terjadi? Haha, silakan berpikir keras…

***

Key POV

Mwoya?!” tanyaku setengah kesal saat melihat ekspresi yeoja yang berseragam SMA di hadapanku ini yang tampak terus-terusan menggembungkan kedua pipinya karena menahan tawa.

Anniyo, abaikan saja aku.” jawabnya yang masih terus menahan tawa. Isshhh… bagaimana mungkin aku bisa mengabaikannya sementara sikapnya begitu menyebalkan.

“Yaa!! Kang Yuuri si ‘yeoja biasa’! Berhenti tertawa! Apa kau masih belum puas menertawakanku sejak tadi malam?!” seruku setengah berteriak. Isshh… mengapa bocah ini begitu menyebalkan?!!

Arraseo, kunci pabbo… Aku sangat ingin berhenti tertawa… tapi… hhhmmmppttt…” Isshhh… lihatlah, ia bahkan kembali terpikal-pikal! Bocah ini sungguh-benar-benar-sangat-menyebalkan-sekali!

“Aisshhh…. Yaa, Kang Yuuri si ‘yeoja biasa’! Berhenti tertawa sekarang juga atau aku yang akan menghentikan tawamu dengan MULUTKU!!” ancamku tegas yang telak langsung membuatnya membungkam mulutnya dengan kedua tangannya. Ia menatapku dengan mata yang membulat lebar. Aigo… mengapa yeoja ini benar-benar aneh? Baru saja beberapa detik lalu ia menjelma menjadi sosok yang sangat menyebalkan, sekarang tiba-tiba saja ia menjadi sosok yang sangat polos. Percaya begitu saja dengan ucapanku.

 “Huh, dasar bocah. Kau itu terlalu polos untuk bocah seusiamu.” kataku dengan nada merendahkan sambil tertawa mendengus.

Neo…” katanya menggantung seraya melepaskan tangan dari mulutnya, kulihat ia tampak mendesis kesal.

“Sudahlah, cepat habiskan sarapanmu dan pergi sekolah. Kau bisa terlambat kalau tidak berangkat sekarang.” kataku santai. Tanpa berkata apa-apa, yeoja itu menghabiskan susunya lalu beranjak dari meja makan. Akan tetapi baru beberapa langkah ia berbalik menatapku.

Wae?” tanyaku.

“Tugas hari ini… apa?” tanyanya. Oo… dia benar sekali! Hampir saja aku lupa untuk memberinya perintah hari ini dan ditambah dengan perintah semalam yang tidak dikerjakannya. Tapi… apa? Apa yang harus dikerjakan oleh yeoja ini?

Mwolla.” jawabku santai seraya mengendikkan bahuku.

“Yaa, kau ini! Disaat aku sedang tidak ada kerjaan, kau malah tidak memberiku perintah. Ketika aku sedang sibuk, kau malah meneleponku dan memberiku perintah ini itu.” omelnya.

“Kang Yuuri si ‘yeoja biasa’, siapa aku?” tanyaku dengan nada santai. Kulihat ia tampak menghela napas panjang yang kutahu adalah usahanya untuk meredam kekesalannya.

“Kau… ma… majikanku.” katanya yang terdengar sangat terpaksa. Kusunggingkan senyum miring merendahkan khas-ku.

Binggo! Karena aku adalah majikanmu, jadi aku bisa memerintahmu sesuka hatiku. Ada masalah?” kataku yang hanya direspon Yuuri dengan delikan tajamnya. Hahaha, aku sangat menyukai ekspresinya yang seperti itu. Yeoja biasa ini terlihat sangat menggemaskan saat ia marah.

“Sudah, pergilah…” kataku lagi seraya mengibaskan tanganku menyuruhnya pergi. Masih dengan tatapan tajamnya, Yuuri berbalik dan berjalan menjauhiku. Aku tidak bisa menahan senyuman geliku saat melihatnya berjalan sambil menghentak-hentakkan kakinya ke lantai karena kesal.

***

“Berhenti disini!” Aku langsung menatap yeoja jangkung yang tadi sengaja mencegat langkahku dengan ekspresi terganggu. Benar, yeoja ini sangat mengganggu!

Waeyo?” tanyaku malas.

“Key-ah, kemana yang lain? Kenapa hanya ada kau sendiri disini?” tanya yeoja itu-Choi Sooyoung.

Mwolla. Kau cari saja sendiri.” jawabku seraya kembali berjalan, tapi ia kembali merentangkan sebelah tangannya untuk menahanku. “Apa lagi?” tanyaku jengah.

“Heemmm… Key-ah, tahukah kau kalau saat ini aku sangat bosan?” katanya dengan wajah polosnya.

Arraseo. Kalau kau bosan, kenapa tidak mencari mangsa seperti biasanya dan biarkan aku pergi.” kataku seraya beranjak tapi Sooyoung lagi-lagi merentangkan tangannya.

Geuraeyo, Key!” katanya dengan ekspresi senang. “Keundae… kenapa kau terlihat bosan juga, eoh? Aa… karena kau bosan, maka aku akan dengan senang hati untuk menemanimu. Kajja, kita pergi bersenang-senang!” kata Sooyoung yang tiba-tiba saja langsung menggamit lenganku lalu membawaku bersamanya (atau lebih tepatnya menyeretku).

“Yaa! Yaa! Yaa! Choi Sooyoung, kau mau membawaku kemana? Lepaskan aku!” seruku sambil berusaha melepaskan diri. Aigo… kenapa semua yeoja di sekitarku selalu bersikap seenaknya begini?

Aigo… bukankah kau sedang bosan, makanya kutemani kau bersenang-senang.” katanya sambil terus menyeretku. Senyuman nakal tersirat jelas di wajah evil-nya. Isshh… yeoja ini benar-benar…

“Key-ah!!” seru seseorang yang seketika membuat langkahku dan Sooyoung berhenti. Kami berduapun refleks menoleh. “Oo… Sooyoung juga ada disini ternyata.” kata orang itu. Aku menatapnya dan… O… o… tidak! Satu masalah lagi datang!

***

Iseul POV

Istirahat siang ini berlangsung sepi. Anniyo, sebenarnya sekolah tidak sepi, bahkan terkesan sangat ramai. Hanya saja aku merasa sangat sepi. Sejak tadi aku hanya berdiam diri saja di tempat ini sambil sesekali menatapi sahabatku yang sejak tadi juga tidak henti-hentinya menatapi ponsel di tangannya. Tiap semenit sekali ia menatapi layar ponselnya lalu berdecak kesal. Ntahlah, ntah apa yang ditunggunya.

“Yuuri-ya, neo wae irae?” tanyaku-untuk kesekian kalinya. Ia mendogak, menatapku dengan ekspresi bingung.

Wae?” katanya yang malah balik bertanya.

“Kenapa sejak tadi kau terus menatapi layar ponselmu? Apakah ada yang kau tunggu?” tanyaku. Mendengar itu refleks Yuuri kembali menatapi ponselnya yang masih sepi sedari tadi lalu menghela napas panjang.

“Hahhh… kenapa sampai saat ini dia tidak menghubungiku juga? Padahal saat ini aku sama sekali tidak ada kerjaan.” keluh Yuuri yang sama sekali tidak kupahami.

Museun malhaeya? Apa kau menunggu telepon dari Key Oppa?” kataku berusaha menebak-nebak, ntah mengapa hati kecilku sangat berharap Yuuri akan menggelengkan kepalanya.

Ne, aku sedang menunggu namja pabbo itu meneleponku untuk memberitahu perintah selanjutnya. Lihatlah namja gila itu, saat aku sedang senggang begini dia sama sekali tidak menghubungiku. Kemudian saat aku sedang sibuk dia akan memerintahku tanpa peduli dengan urusanku. Isshhh… benar-benar namja menyebalkan!” gerutu Yuuri.

Aku menatapnya lekat, tampak jelas bahwa ia sangat tidak menyukai Key Oppa. Tiba-tiba saja bayangan kejadian semalam di taman itu berulang kembali… Kejadian saat aku menemui Key Oppa.

Flashback…

“Perintah yang akan kau berikan pada Yuuri. Saat ini dia sedang ada kegiatan lain jadi tidak bisa menemuimu, makanya aku menawarkan diri untuk menggantikannya. Katakan perintahnya, Oppa. Aku janji akan melakukannya sebaik mungkin.”

 “Iseul-ah, mianhae… tapi yang seharusnya menerima perintah dariku adalah Yuuri, bukan kau. Aku bisa menundanya sampai Yuuri tidak sibuk lagi. Mianhae, sudah merepotkanmu.”

“Oppa…”

“Pulanglah, kau akan sakit kalau tidak segera mengeringkan tubuhmu.”

Flashback end

“Yaa! Jung-ah!” tiba-tiba saja aku terlonjak kaget dan spontan menatapi Yuuri yang tampak kesal. “Kenapa kau melamun, eoh? Apa yang kau pikirkan?”

“Isshhh, kau mengejutkanku, pabbo!” seruku kesal sementara Yuuri malah menyengir. “Yuuri-ya… keugae…” kataku menggantung seraya menatapi Yuuri yang juga menatapku dengan ekspresi bingung diwajahnya. Tuhan, haruskan kukatakan apa yang sedang mengganggu pikiranku saat ini?

Waeyo?” tanya Yuuri.

Anniyo… sudah saatnya kita pulang. Kajja!” kataku lalu segera bangkit tanpa peduli dengan Yuuri yang tampak mengerutkan dahinya heran melihat tingkahku.

***

Key POV.

“Haaahhh…”

Kubanting tubuhku ke atas kasur Minho. Gikwang dan Myungsoo yang saat itu sedang asyik dengan stik PSP Minho langsung mem-pause permainan mereka lalu menolah.

“Ada apa?” tanya Myungsoo.

Anniyo…” jawabku lemas tanpa melihat mereka berdua.

“Yaa! Nada bicaramu sama sekali tidak mengatakan kalau tidak ada apa-apa.” kata Myungsoo lagi.

Jeongmal eobseoyo, mungkin… hanya masalah kecil.” kataku yang jujur… juga kuragukan. Sesaat kutatapi langit-langit di kamar Minho sebelum muncul sosok Gikwang di hadapanku, atau… lebih tepatnya di atas tubuhku. “Wae? Jangan berdiri seperti itu! Aku sangat trauma dengan posisi begitu.” kataku yang buru-buru bangkit lalu menyingkirkan tubuh Gikwang. Isshhh… aku masih trauma dengan kejadian tadi malam saat Minho… Yaa!! Lagi-lagi aku mengingatnya! Isshhh…

“Masalah kecil apa?” tanya Gikwang yang sudah duduk di sampingku.

Anniyo… bukan masalah serius…” tolakku. Haruskan kuberitahu kejadian di kampus tadi? Sepertinya yeoja itu bisa menyelesaikan masalahnya sendiri dengan bantuan teman-teman yeoja-nya tanpa perlu kami ketahui.

“Yaa! Kau membuatku penasaran…” kata Gikwang juga.

“Sungguh…” kataku menggantung saat tiba-tiba Minho masuk dengan terburu-buru dan duduk di dekatku.

“Yaa! Yaa! Yaa! Choi Minho, jangan terlalu dekat seperti ini… Menjauh dariku!” kataku seraya mendorong tubuhnya. Tapi Minho bukannya menjauh, malah kembali mendekatkan tubuhnya.

“Sooyoung kenapa?” tanyanya langsung. Mendengar itu langsung saja aku berdecak seraya membuang mukaku. “Dia uring-uringan dan tidak bersemangat sama sekali. Dia bahkan tidak mempedulikan orang-orang yang mengajaknya bicara. Sooyoung tidak pernah seperti itu sebelumnya, kau tahu kenapa?”

Mwollaseo… Tanyakan langsung padanya, kenapa bertanya padaku?” kataku malas.

“Yaa… sudah kubilangkan dia tidak merespon orang-orang yang bicara dengannya. Kulihat tadi kau datang bersamanya, jadi kau pasti tahu kenapa. Wae?”

“Isshhh… Haruskah kita bergosip seperti ini?” kataku yang langsung dianggukkan mantap oleh Minho dan Gikwang. Ishh… dua namja penggosip ini…

“Di kampus tadi, saat pulang, Jinyoung menemuiku bersama dengan seorang yeoja yang sangat cantik. Mereka kelihatan sangat dekat dan sepertinya Sooyoung cemburu.” kataku akhirnya.

Mwo? Sooyoung cemburu? Cemburu dengan siapa?” tanya Myungsoo tiba-tiba. Ia yang sejak tadi lebih peduli dengan PSP-nya langsung melempar stik PSP tersebut dan beranjak duduk di hadapanku.

***

Yuuri POV…

Gumawo, Oppa. Iseul-ah, gumawo…” kataku. “Kalian mau masuk dulu?” tanyaku seraya akan membuka pintu mobil Il Woo Oppa.

“Apa Key Oppa ada di rumah?” tanya Iseul seraya memperhatikan rumahku.

Nan mwollaseo.” jawabku. Benar, aku memang tidak tahu apakah namja itu ada atau tidak ada di rumah.

“Apa maksud perkataanmu, Iseul?” tanya Il Woo Oppa seraya berbalik menatap kami berdua. “Key… ada di rumahmu?” tanyanya lagi yang kuyakin khusus ditujukan untukku saat mata sipitnya mengarah padaku.

Ne, Key Oppa tinggal di rumah Yuuri selama Minhyuk Oppa pergi untuk menjaganya.” jawab Iseul langsung sebelum aku membuka mulutku untuk menjawab pertanyaan yang seharusnya aku yang menjawabnya.

“Benarkah itu?” tanya Il Woo Oppa lagi yang kali ini sepertinya benar-benar harus aku yang memberikan jawaban.

Ne, Oppa. Teman Minhyuk Oppa yang bernama Key itu memang tinggal bersamaku selama Minhyuk Oppa pergi. Sepertinya Minhyuk Oppa memintanya untuk menjagaku.” jawabku.

“Jadi kalian benar-benar tinggal bersama selama ini?” kata Il Woo Oppa dengan nada setengah tinggi.

“N… ne…” jawabku gagap.

“Aisshhh… kenapa kau tidak memberitahuku?”

Mianhae… kukira Minhyuk Oppa sudah memberitahumu, Oppa.”

“Bocah itu…” desis Il Woo Oppa.

Oppa, memangnya untuk apa Yuuri memberitahumu hal itu? Apa setelah memberitahumu, kau bisa menggantikan Key Oppa untuk menjaganya? Haha, maldo andwae, Oppa… Kau saja sudah sangat disibukkan oleh pekerjaanmu, mana mungkin bisa mengurusi hal lain.” kata Iseul panjang lebar. Kulihat Il Woo Oppa langsung melotot ke arahnya dengan ekspresi kesal.

“Isshh… kau ini!” desisnya kesal, sementara Iseul hanya acuh. “Yuuri-ya, kalau terjadi apa-apa, kau harus memberitahuku, arrachi? Sekarang kau masuklah!”

“A… arraseoGumawo, Oppa…” kataku bingung dengan maksud ucapan Il Woo Oppa. Langsung kubuka pintu mobilnya dan keluar. Beberapa detik kemudian mobil itu pergi dari hadapanku. Dengan langkah lemas kulangkahkan kakiku menuju pintu dan memasukinya.

“Aku pul… OMO!!!” aku menjerit karena terkejut. “Aissshhh… mengejutkan sekali!!” kataku seraya mengelus-elus dadaku. Saat ini, di hadapanku, berdiri seorang namja yang sejak tadi siang terus-terusan mengganggu pikiranku. Padahal aku berharap dia belum pulang karena memang biasanya dia tidak ada di rumah saat aku pulang sekolah.

Annyeong, Yuuri-ssi! Baru pulang sekolah??” sapanya seraya tersenyum… lebar. Isshhh… ntah mengapa aku merasakan firasat buruk saat melihat senyumnya itu.

“Apa maumu, kunci pabbo?” tanyaku waspada seraya mundur beberapa langkah darinya.

“Aku punya tugas spesial untukmu, Yuuri-ssi. Karena kau sudah membuatku kesal kemarin, jadi kau tidak boleh kabur lagi hari ini dan laksanakan tugasmu sebaik mungkin!” katanya yang masih dengan senyum lebarnya.

“Tu… tugas spesial apa?” tanyaku. Sumpah, sebelum-sebelumnya aku belum pernah setakut ini melihat senyum seseorang. Namja itu meraih beberapa kantong yang terletak di samping kakinya lalu menyodorkannya padaku.

“Pakai ini!”

Keugae mwoya?”

“Kau akan tahu saat memakainya. Palli, atau kau mau aku yang memakaikannya untukmu?” katanya lagi. Langsung kurebut kantong-kantong itu lalu buru-buru berjalan menuju kamarku. Akan tetapi, sebuah seringaian yang belum pernah kulihat di wajahnya tertangkap oleh sudut mataku sesaat sebelum aku menutup pintu kamarku.

***

“Kita akan kemana?” tanyaku untuk kesekian kalinya.

“Diamlah, kau sudah bertanya itu 8 kali.”

“Akan kutanya untuk yang ke-9 kalinya, kita akan kemana?” tanyaku lagi.

“Isshhh… kau ini!” desisnya kesal seraya menatapku tajam.

“Makanya beritahu aku kemana kita akan pergi!” omelku.

“Temani aku bertanding basket, lalu latihan musik dengan teman-temanku, tapi sebelumnya temani aku makan dulu.” jawabnya santai seraya menyilangkan kedua tangannya di dada.

Mworago?! Apa kau gila?! Kalau hanya itu untuk apa menyuruhku memakai pakaian seperti ini? Yaa! Ini bukan pakaian untuk siswi SMA, pabbo!” seruku kesal. Benar, namja ini benar-benar menyebalkan! Aku penasaran dengan isi kepalanya. “Isshhh… Lihat, orang-orang menatapku dengan tatapan aneh begitu!” omelku yang hanya diresponnya dengan lirikan acuhnya.

“Mereka menatapmu dengan tatapan aneh karena kau begitu berisik.” ucapnya.

“Yaa! Kenapa kita naik bus seperti ini? Seharusnya kita menggunakan mobil! Yaa!! Kau menyebalkan sekali, kunci pabbo!!” makiku kesal. Aku bersumpah, suatu hari aku benar-benar harus menghajar namja ini!

***

Author POV

“Sudah selesai?” tanya Jinyoung saat seorang yeoja menyerahkan beberapa buku padanya.

Ne, gamsahamnida Sunbae…” kata yeoja itu seraya tersenyum manis. Jinyoung-pun membalas senyuman yeoja itu yang notabene adalah hoobae-nya di kampus seraya menyambut buku-bukunya.

Cheonmanhaeyo, kalau begitu aku pergi dulu…” kata Jinyoung lalu bangkit.

Sunbae…” tahan yeoja itu yang membuat Jinyoung tidak jadi pergi dan menatapnya dengan ekspresi bingung. “Keugae…”

Ne?” tanya Jinyoung heran saat melihat ekspresi ragu di wajah hoobae-nya itu. “Hara-ssi, apa ada lagi yang kau butuhkan?”

Anniyo, Sunbae… hanya saja… aku merasa sedikit tidak enak hati dengan Sooyoung Sunbae.” jawab yeoja itu-Hara.

“Sooyoung? Ada apa dengannya?”

“Saat melihat aku bersamamu, dia langsung menatapiku tajam. Sepertinya dia tidak suka aku dekat-dekat denganmu, Sunbae… Mianhae…” kata Hara.

“Yaa… kau ini bicara apa. Mana mungkin Sooyoung begitu, mungkin itu hanya perasaanmu saja.” kata Jinyoung lembut seraya tersenyum kecil. “Sooyoung memang ketus, jahil, dan suka mengerjai orang. Tapi sebenarnya dia yeoja yang sangat baik.”

Arraseo, Sunbae…” kata Hara yang sepertinya masih belum puas.

“Kalau begitu…”

Chakkamanyo!” tahan Hara sekali lagi. “Oppa… bolehkah aku memanggilmu Oppa?” tanya Hara. Jinyoung menatap yeoja cantik di hadapannya itu dengan tatapan teduh. Ia mengeluarkan sebelah tangannya yang sejak tadi ia simpan di saku celana lalu mengelus lembut puncak kepala Hara seraya tersenyum manis.

“Kau memang harus memanggilku Oppa karena aku lebih tua darimu. Annyeong Hara-ssi…” kata Jinyoung lalu beranjak pergi. Merasa cukup jauh dari Hara, Jinyoung berhenti berjalan dan mulai memikirkan perkataan Hara tadi.

“Isshhh… mana mungkin yeoja itu begitu?” gumam Jinyoung seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.

Oppa…” Jinyoung refleks menoleh ke arah suara yang tiba-tiba muncul di sekitarnya. Di kursi yang tidak jauh darinya berdiri tampak dua orang namja yang seingatnya adalah dua sahabatnya.

Oppa… bolehkah aku memanggilmu Oppa?” kata Myungsoo seraya menirukan gaya bicara Hara tadi.

“Kau memang harus memanggilku Oppa karena aku lebih tua darimu. Annyeong Hara-ssi…” jawab Gikwang yang juga menirukan gaya Jinyoung.

Gumawo, OppaSaranghaeyo...” kata Myungsoo dengan ekspresi berlebihan.

Nado… Hara-ssi…” kata Gikwang dengan ekspresi yang tidak jauh berlebihannya dari Myungsoo.

“Yaa! Barusan kalian mengintipku, huh?” seru Jinyoung. Gikwang dan Myungsoo kompak menoleh lalu…

Oppa, saranghaeyo!!” seru Gikwang dan Myungsoo bersamaan. Melihat tingkah dua sahabatnya itu, Jinyoung sontak memasang ekspresi jijik di wajahnya.

***

Key POV

Palliya…” seruku seraya menoleh ke belakang, tepatnya ke arah yeoja yang saat ini tampak kesulitan berjalan karena highheels-nya. “Apa itu menyulitkanmu?” tanyaku saat ia sudah sampai di hadapanku. Mendengar pertanyaanku tadi, ia langsung mendelikkan matanya setajam mungkin ke arahku.

“Perlukah kujawab pertanyaanmu barusan, kunci pabbo?!” katanya dengan nada sarkastik.

“Hahaaa… arraseo.” kataku seraya tertawa kecil melihatnya cemberut seperti itu. “Kajja!” kataku seraya mengulurkan tangan padanya dan itu membuatnya menatapku bingung.

“Kubantu berjalan sampai tribun.” kataku saat matanya menatapku dengan tatapan ‘untuk apa tanganmu itu, pabbo?’

“Tidak perlu!” katanya lalu melengos pergi meninggalkanku tanpa peduli dengan tanganku yang masih terulur. “Isshhh… bocah sialan ini!!” kataku geram.

“Duduklah disini sampai pertandinganku selesai.” kataku.

“Kau tidak bertanding bersama teman-temanmu? Minho Oppa?” tanyanya.

“Yaa! Bisa-bisanya kau memanggil Minho dengan sebutan Oppa sementara kau selalu memanggilku dengan sebutan ‘kunci pabbo’, ‘namja bodoh’, atau paling sopan ‘namja itu’. Kau harus memanggilku Key Oppa, arrachi?!” kataku tegas yang kuyakin pasti sia-sia.

Shireo! Kau tidak pantas dipanggil Oppa.” katanya. Nahhh… benarkan apa yang kubilang barusan. Yeoja tengil ini tidak akan menuruti kata-kataku dengan mudahnya.

Waeyo?” kataku yang mulai kesal.

“Karena kau lebih pantas dipanggil eonni… Key Eonni… Aaa… Kibum Eonni…” katanya dengan nada mengejek.

“Yaaa!!!” akhirnya kekesalanku meledak dan hanya bisa kuekspresikan dengan teriakanku yang malah membuatnya tergelak.

“Key, palli!!” seru seseorang yang merupakan anggota satu timku.

“Isshhh… Kang Yuuri si ‘yeoja biasa’, kau benar-benar menyebalkan! Diamlah disini sampai pertandingan selesai!” kataku yang masih dengan nada kesal. Kulihat ia hanya tersenyum-senyum mengejek melihat kekesalanku.

Arraseo Eonni…” katanya. Kukepalkan kedua kepalan tanganku menahan kesal yang hanya diresponnya dengan senyuman kemenangannya. “Key Eonni… bermainlah yang bagus… Semangat!!” serunya yang membuatku menghembuskan napas kuat karena kesal. Ishhhh… bocah ini, tunggulah pembalasanku.

***

Author POV

Seorang yeoja tampak berjalan tertatih-tatih di sebuah pusat perbelanjaan. Kaki jenjangnya yang tampak dibalut dengan sepasang heels kuning cantik terlihat sangat tidak bersahabat. Secantik apapun heels yang melekat sempurna dikakinya, tetap tidak akan mampu mengurangi atau bahkan menghilangkan sakit di kaki kanannya yang terkilir dan belum sembuh total. Bulir-bulir keringat sudah mulai membanjiri tubuhnya dan itu semakin membuatnya kewalahan. Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi dan dengan ekspresi kesal langsung dijawabnya panggilan itu.

Mwoya?!” serunya. “Arraseo, akan segera kucarikan dan langsung kukirim saat itu juga padamu, puas?!” katanya lalu mematikan ponsel itu dengan kasar.

“Gyuri Eonni benar-benar menyebalkan!!” gerutunya lalu kembali berjalan. Akan tetapi baru beberapa langkah, kakinya yang terkilir tidak mampu menahan beban tubuhnya dan membuat yeoja itu oleng. Beruntung, namja yang berada tidak jauh darinya refleks menangkap tubuhnya.

“Gu… gumawo…” kata yeoja itu dan saat ia menoleh… “Il Woo Oppa…” serunya.

“Yoona-ya, gwaenchana?” tanya Il Woo seraya membenarkan posisi Yoona.

Gwaenchana, Oppa. Gumawoyo, aku pasti sudah jatuh kalau Oppa tidak menolongku.”

“Kakimu kenapa?” tanya Il Woo yang terlihat cemas karena bagaimanapun, selain Iseul, Key, Minho, dan teman-temannya yang lain, Yoona juga sudah dianggapnya sebagai adiknya sendiri.

“Hanya terkilir, Oppa. Seharusnya aku belum boleh berjalan jauh, tapi ada sesuatu yang sangat penting yang memaksaku untuk kesini.” jawab Yoona seraya tersenyum. “Oppa, kau tidak bekerja? Kenapa ada disini? Atau jangan-jangan kau sedang berkencan?” tanya Yoona seraya celingukan mencari-cari sosok yeoja yang mungkin sedang bersama dengan Il Woo.

Anniyo, aku tidak sedang berkencan. Baru saja Iseul meneleponku dan menyuruhku untuk membelikan komik kesukaannya.”

“Yaa, seharusnya kau ke toko buku bukan ke mall kalau hanya mencari komik, Oppa.”

Aigo… Ya Tuhan, mengapa Engkau harus mentakdirkan semua yeoja itu harus secerewet ini? Apa Kau tahu seberapa bosannya aku mendengarkan perkataan mereka?” kata Il Woo yang membuat Yoona tertawa.

Oppa, jadi kau mengataiku cerewet?” kata Yoona yang berpura-pura merajuk.

“Hahaaa… Ne, kau memang cerewet Yoona-ya, sama seperti Iseul. Keundae, kenapa kau ada disini?”

“Sudah kubilang barusan bahwa ada sesuatu yang sangat penting yang memaksaku kesini walaupun dengan kondisi kaki begini.”

Jinjja? Apa itu?”

“Akan kuberitahu kalau Oppa bersedia membantuku.” kata Yoona seraya mengerling nakal.

Aigo… selain cerewet, ternyata kau juga pintar mencari kesempatan. Baiklah, kalau kau memaksa. Lagipula aku tidak mungkin membiarkan dongsaeng-ku berkeliaran sendirian dengan kondisi kaki begini. Kajja!”

“Kau mau membantuku, Oppa?” kata Yoona girang.

Ne…”

“Kyaaa… Gumawo, Oppa! Kau memang Oppa terbaik!” kata Yoona seraya meraih tangan Il Woo yang terulur padanya dengan senangnya.

“Tentu saja, aku memang Oppa paling baik sedunia.”

“Hahahahaaaa…”

***

Brak!

Sooyoung menatap malas namja imut yang saat ini duduk di hadapannya. Namja itu tampak tersenyum lebar hingga membuat mata sipitnya semakin sipit bahkan hampir tinggal segaris. Yeoja itu berdecak lalu membuang muka.

“Sooyoung-ah, apa kau tahu, hari ini kampus terasa sangat tenang.” kata namja itu.

“………”

“Tidak ada lagi yang mengusili anak-anak sepertimu, kampus terasa sangat sepi.” kata namja itu lagi.

“Benarkah? Bukankah itu yang mereka harapkan. Mereka pasti berharap aku menghilang dari kampus untuk selamanya supaya tidak ada lagi yang mengganggu kehidupan kampus mereka. Kau juga mengharapkan itukan, Jinyoung?” kata Sooyoung yang terdengar ketus. Jinyoung sontak terdiam. Saat Sooyoung mengalihkan wajahnya ke samping, Jinyoung langsung menoleh ke belakang, tepatnya ke arah 3 sahabatnya-Gikwang, Minho, dan Myungsoo-yang tampak mengibas-ibaskan tangannya sebagai isyarat untuk terus melanjutkan percakapan.

Anniyo, tentu saja tidak… Mana mungkin aku berharap sahabatku menghilang. Sooyoung-ah, ada apa denganmu? Kenapa kau terlihat sangat tidak bersemangat? Apa kau sakit?” tanya Jinyoung yang langsung menempelkan telapak tangannya di dahi Sooyoung. Yeoja itu kontan langsung membelalakkan mata dengan wajah yang bersemu merah.

“Yaa! Apa yang kau lakukan, bodoh?!” serunya seraya menepis tangan Jinyoung dan langsung bangkit dari tempatnya duduk. “Kau tidak perlu repot-repot mencemaskanku. Cemaskan saja Goo Hara, dia pasti sangat senang diperhatikan olehmu!!” seru Sooyoung kesal lalu berjalan meninggalkan Jinyoung yang tampak bingung. Setelah sosok Sooyoung menghilang, Jinyoung langsung berbalik dan mengendikkan bahunya ke arah 3 sahabatnya yang kompak menghela napas kecewa.

***

Key POV

“Kau lihat yeoja yang duduk seorang diri di tribun sebelah kanan?”

“Maksudmu yeoja yang datang bersama dengan Key tadi?”

Spontan kuhentikan langkahku saat mendengar obrolan beberapa yeoja yang tidak seberapa jauh jaraknya di depanku tapi suara mereka masih bisa terdengar jelas di telingaku. Dasar yeoja, dimana-mana sama saja. Saat mereka sedang asyik bergosip, mereka tidak peduli dimanapun tempatnya tidak terkecuali di depan ruang ganti pria.

Mwo? Dia datang bersama Key?!”

“Tentu saja, aku melihatnya langsung saat yeoja itu mengabaikan uluran tangan Key saat Key berniat membantunya berjalan. Sepertinya Key sedang berusaha mendekati yeoja yang mengabaikannya itu.”

Mwo? Ada yeoja yang berani mengabaikan seorang ‘Key’?? Wahhh, ini berita bagus…”

Langsung kukepalkan kedua kepalan tanganku untuk menahan kesal saat mendengar obrolan yeojayeoja itu. Isshhhh… harga diriku serasa jatuh terinjak-injak saat tahu ada yang menertawakanku di belakang. Ini semua gara-gara bocah sialan itu, awas kau Kang Yuuri si ‘yeoja biasa’.

Keundae, sepertinya aku pernah melihat yeoja itu.”

Geurae, sepertinya aku juga tidak asing.”

“Yaa! Yaa! Bukankah yeoja itu dulu juga pernah dibawa Key kesini?”

“Kapan? Yang mana?”

Yeoja yang kau bilang berseragam SMA Shinhwa. Aku yakin yeoja itu adalah siswi SMA yang dulu juga datang kesini bersama Key.”

Jinjjayo? Jadi gosip itu benar? Gosip bahwa Key sudah putus dengan Nicole dan berpacaran dengan siswi SMA Shinhwa?”

Ne, sepertinya itu benar. Beberapa hari yang lalu aku melihat Nicole diantar oleh seorang namja dengan mobil mewah.”

Aigo… Aku sudah beberapa kali melihat Nicole diantar oleh namja dengan mobil mewah itu bahkan Key dan yeoja SMA itu juga melihatnya.”

Jeongmal? Jadi selama berpacaran dengan Key, Nicole sudah selingkuh dengan namja lain dan parahnya Key mengetahui kalau Nicole selingkuh tapi tetap menjalin hubungan dengan yeoja busuk itu?!”

Kupejamkan mataku saat sesuatu yang seharusnya tidak kudengar, malah terdengar jelas oleh telingaku. Tidak, bukannya aku tidak mengetahui hal ini. Disini, akulah yang paling mengetahuinya. Saat menjalin hubungan dengan Nicole, aku bukannya tidak tahu kalau ia juga menjalin hubungan dengan namja lain yang disebut oleh yeojayeoja tadi dengan sebutan ‘namja dengan mobil mewah’. Aku bukannya tidak mengetahui kalau Nicole selingkuh dan aku diselingkuhinya. Bukan… bukan aku yang diselingkuhinya, akan tetapi akulah selingkuhannya. Nicole… menjadikanku namjachingu-nya yang kedua, ntahlah… mungkin yang ketiga, keempat, lima, enam… dan tidak menutup kemungkinan untuk yang ke-100. Haha, sungguh namja menyedihkan.

Aku juga tidak menutup mata dan telingaku dari sekelilingku hingga aku tidak mengetahui bahwa tidak sedikit yeoja yang juga menggilaiku. Buktinya lapangan basket ini selalu penuh sesak oleh yeoja saat aku bermain basket, lokerku selalu penuh oleh cokelat, bunga, surat cinta, bahkan hadiah-hadiah lainnya setiap pagi, dan setiap harinya aku selalu mendapatkan tidak kurang dari 2 kali pernyataan cinta dari yeojayeoja berbeda. Bahkan saat hari valentin, selama 24 jam aku pernah mendapatkan 50 pernyataan cinta dan tentunya dari 50 yeoja yang berbeda pula. Sombong? Tentu tidak, sebaliknya aku malah merasa sangat malu! Ditengah-tengah populeritas yang kudapat cuma-cuma ini, aku malah menggadai harga diriku untuk sekedar menjadi seorang selingkuhan!

“Huh, menyedihkan!” gumamku lirih. Kembali kudengarkan yeojayeoja yang sejak tadi asyik bergosip dan membuatku tertahan di tempat ini karena sangat tidak lucu kalau seseorang yang digosipkan tiba-tiba muncul di hadapan mata. Keundae… kenapa mereka tiba-tiba diam? Kuberanikan diri untuk keluar dari ruang ganti karena sudah terlalu lama aku disana dan Yuuri juga sudah terlalu lama menungguku. Khawatir kalau ia diganggu oleh yeojayeoja fans-ku jadi kusuruh saja ia menemuiku di ruang ganti. Sekarang ia pasti sudah berdiri di depan, akan tetapi…

Deg!!!

“Key…” panggilnya lirih. Nicole… tiba-tiba muncul di hadapanku dan membuatku terpaku tanpa tahu harus berbuat apa. “Key, maafkan aku… Kumohon, bicaralah denganku.” katanya dengan nada lirih.

“Aku tidak tahu apalagi yang mungkin bisa kita bicarakan.” kataku seraya melengos pergi, tapi Nicole langsung menggenggam tanganku seerat mungkin.

“Key, aku tahu kau sangat marah, tapi kumohon, dengarkan penjelasanku dulu.” pinta Nicole. Sungguh, walau bagaimanapun yeoja ini adalah yeoja yang sangat kucintai. Seberapa besarpun kemarahanku padanya, aku tetap tidak sanggup melihatnya memohon-mohon seperti ini padaku. Dia kelemahanku!

“Key, jebal… dengarkan aku dulu…” kata Nicole seraya menatapku dalam. Kutatapi yeoja di hadapanku ini dengan perasaan campur aduk. Sekelebat memori-memori indah berputar di otakku dan hampir meruntuhkan pertahananku. Akan tetapi, sebuah hentakan sepatu di lantai menyadarkanku dan membuatku menoleh. Yuuri menyaksikan adegan ‘memilukan’ antara aku dan Nicole dengan tatapan nanar. Melihat sosok Yuuri, ntah mengapa memori indah barusan seketika menghilang dan digantikan oleh bayangan-bayangan pahit yang bahkan mendominasi.

“Key…” kata Nicole yang seakan tidak percaya saat genggaman tangannya di lenganku, kutepis begitu saja. Tidak mau berlama-lama di tempat itu, langsung kuraih lengan Yuuri dan kubawa ia berjalan secepat mungkin.

***

Author POV

Key tampak berjalan cepat di tengah-tengah ramainya malam di Seoul. Ia sama sekali tidak memperdulikan Yuuri yang berjalan terpincang-pincang karena mengikutinya. Key bahkan lupa kalau saat ini dirinya sedang menarik paksa lengan seorang yeoja lalu menyeretnya bersamanya tanpa mempedulikan kaki yeoja itu yang sudah melepuh karena heels yang dipakainya. Yaahhh… benar, saat ini Key sedang didominasi oleh amarahnya, kekesalannya, dan bahkan mungkin kebenciannya.

“Aakkhh…” Yuuri menjerit tertahan. Pegangan tangan Key padanya seketika terlepas saat yeoja itu terjatuh ke tanah karena tidak kuat berjalan lagi. Saat mendengar suara jeritan Yuuri, barulah Key sadar. Namja itu spontan berbalik dan membelalak kaget saat melihat Yuuri yang terduduk di jalan.

“Kau kenapa?” tanyanya cemas saat melihat Yuuri menangis. Yuuri menatap Key dengan tatapan marah berharap namja itu menyadari perbuatannya. “Hei, kenapa kau menangis?” tanya Key lagi.

Yuuri tidak menjawab. Ia menghapus air matanya dengan cepat lalu melepas kedua heels-nya. Yeoja itu bangkit lalu beranjak meninggalkan Key yang tampak bingung.

“Yaa!! Kenapa pergi begitu saja?!” kata Key seraya menjejeri langkah pincang Yuuri.

“………”

“Yaa! Kang Yuuri, katakan padaku! Kenapa kau menangis?!”

“……..”

“Kalau kau tidak mengatakannya, mana mungkin aku bisa tahu!!” seru Key setengah berteriak. Mendengar itu spontan Yuuri berhenti. Masih dengan matanya yang basah, ia menatapi Key dengan tatapan marah.

“Kau ingin tahu aku kenapa? Karena aku benci padamu! Kau itu benar-benar keterlaluan! Hanya karena aku menghilangkan cincinmu, kau membuatku menderita selama berhari-hari! Kau menyuruhku mengerjakan setumpuk tugas kuliahmu setiap harinya, memerintahku mengerjakan hal-hal konyol, menyuruhku memakai pakaian yang bahkan tidak kusukai, dan sekarang kau bahkan menyeretku tanpa peduli denganku yang kesakitan karena heels yang kau paksa untuk kupakai. Apa kau tidak sadar kalau kakiku hampir saja patah gara-garanya? Ini sakit sekali dan kau bahkan masih bertanya kenapa aku menangis?! Kau itu benar-benar namja paling jahat yang pernah kukenal!!” maki Yuuri yang masih disertai dengan tangisnya. Mendengar penuturan panjang penuh kemarahan Yuuri, perlahan amarah Key berkurang. Ia memperhatikan kaki Yuuri yang lecet dan memerah, bahkan lutut yeoja itu luka dan berdarah. Mendadak ia merasa sangat bersalah apalagi saat melihat Yuuri terus menangis sambil menundukkan kepalanya.

Mianhae… jeongmal mianhae…” kata Key lirih yang sama sekali tidak dijawab oleh Yuuri karena yeoja itu terus menangis.

“Aku tahu kau sangat marah, tapi jangan melibatkanku sampai seperti ini…” kata Yuuri disela tangisnya.

Mianhae… jeongmal mianhae… Aku bersalah dan kau pantas menghukumku.” kata Key lirih. Ia menatap Yuuri yang terus sesegukan lalu beralih menatap kaki gadis itu. Angin malam yang dingin berhembus kencang dan seketika membuat Yuuri bersin karena kedinginan. Melihat itu rasa bersalah Key semakin berlipat-lipat karena memaksa yeoja itu memakai pakaian tipis yang tadi ia bilang sangat tidak ia sukai.

“Sepertinya aku benar-benar bersalah dan kau harus memberiku hukuman untuk menebusnya. Apapun itu akan kulakukan.”

“Apapun itu?” tanya Yuuri seraya mengusap air mata di wajahnya.

Ne, kau boleh menghukumku apa saja.” kata Key seraya mengangguk mantap.

Jinjja?” tanyanya lagi.

“N…ne…” mendadak Key merasa sangat menyesal sudah mengatakan kalimat yang baru beberapa detik lalu keluar dari mulutnya saat melihat yeoja di hadapannya yang baru beberapa saat tadi menangis tersedu-sedu, kini menyeringaikan senyuman iblis di wajahnya.

***

Yuuri POV

Palliya! Kau itu namja, tapi kenapa lemah sekali!!”

“Aisshh… bocah ini! Yaa! Apa kau tidak bisa diam?!” maki Key seraya berhenti berjalan.

“Yaa, kunci pabbo! Ini sudah malam dan aku sudah mengantuk karena kau berjalan terlalu pelan! Aku ingin cepat-cepat sampai rumah!” makiku juga.

“Kalau kau ingin cepat sampai rumah, kenapa tidak memanggil taksi saja? Kalau berjalan kaki begini, tentu saja tidak akan cepat sampai. Ditambah lagi aku harus menggendongmu. Tidak sadarkah kau kalau tubuhmu ini berat sekali? Punggungku nyaris patah gara-gara menahan beban tubuhmu!” omel Key.

“Issshhh… inikan hukuman untukmu! Kau sendiri tadi yang bilang kalau aku boleh menghukummu apa saja, kenapa sekarang kau protes, huh kunci pabbo?!!” balasku. Key mendesis menahan kesal.

Palliya! Kenapa malah melamun?!” teriakku lagi.

Arra, arra!” kata Key akhirnya lalu kembali berjalan.

“Lebih cepat!”

“Aisshhh!!”

“Hahahahaaa…” tawaku meledak melihatnya terpaksa menuruti perintahku walaupun sambil menggerutu.

“Jangan tertawa bocah!” umpatnya.

“Hahahahaaa…”

“Yaa! Berhenti tertawa kubilang atau kau kutinggal disini!” ancamnya yang sama sekali tidak berefek padaku.

“Haha, kau itu benar-benar namja bodoh, kunci pabbo!” kataku yang masih disertai dengan tawa. Key langsung berhenti berjalan, akan tetapi beberapa saat kemudian ia kembali melanjutkan langkahnya.

Geuraeyo, sepertinya aku memang benar-benar bodoh.” katanya lirih tapi masih bisa kudengar dengan jelas.

Museun malhaeya, eo?” tanyaku.

Anniyo, lupakan saja.” katanya. “Yaa! Eratkan peganganmu kalau tidak mau jatuh!” lanjutnya lagi.

“Isshhh… kau ini!” desisku seraya mempererat pelukanku pada punggungnya. Setelah itu kami berdua sama-sama diam.

“Key, maafkan aku… Kumohon, bicaralah denganku.”

“Aku tidak tahu apalagi yang mungkin bisa kita bicarakan.”

“Key, aku tahu kau sangat marah, tapi kumohon, dengarkan penjelasanku dulu.”

“……..”

“Key, jebal… dengarkan aku dulu…”

“………”

“Key…”

Suasana hening diantara kami berdua membuat pikiranku terus-terusan terfokus pada kejadian beberapa saat yang lalu. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada pasangan ini. Ntah mereka bertengkar atau apa, yang jelas… Key terlihat sangat marah pada Nicole. Apakah namja ini sudah mengetahui kalau Nicole berselingkuh di belakangnya dan tadi Nicole berusaha memberinya penjelasan?

Kutatapi pundak namja yang saat ini menggendongku. Tubuhnya kurus, bahkan terkesan sangat kurus untuk ukuran namja. Akan tetapi punggungnya yang lebar mampu membuatku merasakan kehangatan yang sangat nyaman. Ntah mengapa aku merasa sangat tenang.

“Key-ssi…” panggilku lirih. “… gumawo…”

“Kalau memang ingin berterima kasih, seharusnya kau memanggilku Oppa, bocah.” katanya. Isshh… namja ini! Mengapa dia selalu membuat segala hal itu menjadi sulit? Walaupun kesal, ntah mengapa hatiku tergerak untuk menuruti perkataannya tadi.

ArraseoGumawoyo Oppa… Key Oppa…” kataku lagi seraya mempererat pelukanku lagi pada punggungnya. Kusandarkan kepalaku pada punggungnya yang hangat. Nyaman… itulah yang kurasakan hingga membuat senyum lebar di wajahku tidak menghilang. Tanpa kuketahui, Key juga menyunggingkan sebuah senyuman di wajahnya.

***

Uwaaaa… part ini selesai juga… Aku bikinnya susah payah lho, pake main curi-curi waktu segala di tengah-tengah kesibukanku… Haha, sok sibuk banget/plakkk!! Tolong, kalo yang udah mampir tinggalin jejaknya yahhh… Gumawo… Part selanjutnya bakal aku publish secepatnya, yahhh… paling cepat bulan depan/gubrak!!!!

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s