Love You More (Part 4)

Published August 5, 2012 by kangyuuri

Love You More (Part 4)

Author          : Kangyuuri

Cast                 : Key SHINee, Kang Yuuri (OC).

Other Cast       : Jung Il Woo, Jung Iseul, Choi Minho, Choi Sooyoung, Kim Myungsoo, Lee Gikwang, Jung Jinyoung, Im Yoona, Jung Nicole, Kang Minhyuk, de el el (banyak bener, emang mo bikin sinetron?/plakkk!

Genre              : Romance, Sad, comedy (mungkin) , heheheee… pokoknya campur aduk!

Length             : Chapter

 

Akhirnya gue bisa nge-publis kelanjutannya Love You More juga, ada yang nungguin gak (readers: gak adaaaaa….). Kali ini gue kasih poster amatiran deh, soalnya guekan gak bisa bikin poster… Harap maklum yahhh… Langsung aja deh, simakin cerita gajenya, tapi jangan lupa tinggalin jejak yah (wajib!!)

 

***

-Yuuri POV

“O… Key-ah…”

“Chagi… Kau… disini?”

“Kenapa anak ini ada di apartemenmu?!”

“Nicole… Ini… tidak seperti yang kau pikirkan. Kumohon, dengarkan penjelasanku sebentar…”

Hahhh… Ntah sudah berapa kali aku menghela napas sepanjang ini. Suasana hatiku benar-benar buruk untuk saat ini. Lagi-lagi karena dua orang itu, Nicole dan Key. Tadi sore saat Key memaksa untuk mengantarku pulang, tiba-tiba saja Nicole muncul di depan pintu. Yeoja itu menatapi kami berdua dengan tatapan tajam, seakan menghakimi kami lewat sorot matanya. Kulihat Key yang tampak mati-matian menyanggah kecurigaan Nicole terhadap kami.

“Huh, dasar namja pabbo! Tidak sadarkah dia kalau yeoja yang sangat dicintainya itu justru mengkhianatinya? Sementara dia mati-matian menjaga kepercayaan Nicole kepadanya, yeoja itu justru menginjak-injak dan mengkhianati semuanya.” gerutuku.

“Haha, yeoja itu pasti puas menertawakan kebodohanmu, Key.” sambungku yang dibarengi dengan tawa hambarku. “Geurae, namja itu memang pantas untuk ditertawakan!”

“Ck ck ck ck ckkk…”

Aku tersentak kaget saat sebuah decakan menggema di sekitarku. Mendengar itu aku sontak menoleh dan langsung memutar kedua mataku saat mendapati sesosok namja bodoh lainnya yang sekarang berdiri di depan pintu balkon. Namja bodoh itu-yang tidak lain adalah oppa-ku-tampak menatapiku dengan ekspresi paling menyebalkannya.

“Astaga… Apa kau sehat-sehat saja?” tanyanya yang lebih berkesan sebagai sindiran bagiku.

“Mau apa Oppa kesini? Pergi dari kamarku!” kataku ketus tanpa mau menatapnya. Melihat wajah polos tak berdosanya itu selalu berhasil menyulut emosiku.

“Yaa! Oppa mengkhawatirkanmu, makanya Oppa kesini.” katanya seraya berjalan mendekatiku.

“Cih, berhenti bicara omong kosong! Oppa pikir aku tidak tahu bagaimana sifat Oppa?” kataku seraya menatapnya jengkel dan ia hanya terkekeh geli melihatku kesal.

“Aisshh… kau ini. Asal kau tahu, bagaimanapun sikap Oppa selama ini padamu, itu semua Oppa lakukan karena Oppa menyayangimu. Oppa sangat memperhatikanmu. Misalnya seperti saat ini, Oppa takut kau mengalami gangguan jiwa saat melihat kau terus bicara sendiri. Aigo… apa kau tidak kasian pada Oppa kalau memiliki dongsaeng gila?”

OPPA!! PERGI DARI KAMARKU!!” teriakku kesal. Ishhh… Minhyuk si monyet ini benar-benar menyebalkan! Suasana hatiku benar-benar sangat buruk saat ini dan ia malah memperparah dengan semua kegilaannya.

***

Oppa yakin akan pergi?” tanyaku (lagi untuk kesekian kalinya). Kulihat Minhyuk si monyet ini melirikku sambil tangannya terus memasukkan barang-barang bawaannya ke dalam koper. “Anni. Oppa yakin akan menitipkanku pada teman Oppa itu?” ralatku langsung.

Oppa hanya bisa mempercayakanmu padanya Yuuri-ya, hanya dia teman Oppa yang bisa Oppa percaya.” jawabnya.

Oppa, tapi aku bukan barang yang bisa sembarangan dititip-titipkan! Aku bisa menjaga diriku sendiri, Oppa! Oppa tidak percaya padaku?”  kataku setengah berteriak. Minhyuk Oppa langsung menghentikan kegiatannya lalu menoleh ke arahku.

Oppa percaya, Yuuri-ya. Oppa tahu sekali kalau kau bisa menjaga dirimu sendiri, tapi tetap saja Oppa mengkhawatirkanmu. Kau lupa kalau eomma dan appa menyuruhku untuk menjagamu?”

“Hahhh… Arraseo, keundae bukan berarti Oppa bisa seenaknya menitipkanku pada teman Oppa yang sama sekali tidak kukenal.” kataku lagi yang sudah mulai jengah dengan perdebatan yang akhir-akhir ini terjadi.

“Siapa bilang kau tidak mengenalnya? Kau mengenal teman Oppa itu.”

Jinjja? Nuguya?” tanyaku penasaran. Aigo… siapa teman Minhyuk Oppa yang kukenal selain Il Woo Oppa? Mungkinkah Il Woo Oppa akan menginap disini bersama Iseul untuk menjagaku?

“Lihatlah nanti, sebentar lagi juga dia akan datang.”

“Beritahu aku, Oppa! Teman Oppa yang akan menjagaku itu Il Woo Oppa-kan? Siapa lagi kalau bukan Il Woo Oppa teman Oppa yang aku tahu.”

Anniyo! Yaa, mana mungkin aku menyuruh Il Woo hyung untuk menjagamu, dia itu sangat sibuk dengan pekerjaannya. Mana mungkin Oppa tega merepotkannya.”

“Teman Oppa yang aku kenal hanya Il Woo Oppa, kalau bukan dia lalu siapa?” tanyaku yang semakin penasaran. Kulihat Minhyuk Oppa sudah selesai mengemas barang-barangnya. Ia berdiri seraya menarik tarikan kopernya.

“Kau akan tahu nanti. Sabarlah, sebentar lagi juga dia akan datang. Sebaiknya kau siap-siap untuk berangkat sekolah.”

Oppa, kau lupa atau kau memang bodoh? Ini hari minggu, dan sejak zaman dahulu hingga sekarang sekolah selalu meliburkan siswa kalau hari minggu!” kataku seraya menatapnya remeh. Sepertinya Minhyuk Oppa sudah benar-benar kebal dengan setiap sindiran bahkan hinaan juga kata-kata pedas yang keluar dari mulutku. Buktinya sekarang ia hanya menyengir lebar selebar kuda (?).

Ting tong…

“Aa… sepertinya teman Oppa itu sudah datang. Kajja, bukakan pintu untuknya!”

Shireo! Itukan teman Oppa, kenapa bukan Oppa saja yang membukakan pintu untuknya.” tolakku seraya melipat kedua tangan didepan dada.

“Yaa… Kau bilang ingin melihatnya.”

Andwae, aku sudah tidak berminat lagi. Siapapun teman Oppa itu, aku juga tidak peduli.” kataku lalu melenggang dengan cueknya dari hadapan Minhyuk Oppa dan kembali ke kamarku.

Aishhh… Minhyuk Oppa benar-benar keterlaluan! Bisa-bisanya dia menyuruh temannya untuk menginap di rumah dan menjagaku. Apa dia tidak berpikir apa yang kemungkinan akan terjadi? Aku yang masih siswi SMA saja tahu bahaya apa yang mengancam kalau namja dan yeoja desawa tinggal disatu atap yang sama? Dewasa? Geurae, siswi SMA memang sudah dewasakan?

Sayup-sayup kudengar suara lain selain suara Minhyuk Oppa di bawah. Pasti teman Minhyuk Oppa itu. Mereka berdua terdengar berisik sekali, suaranya bahkan terdengar jelas sampai ke kamarku. Keundae… siapa teman Oppa itu? Oppa bilang aku mengenalnya. Tapi selain Il Woo Oppa, aku tidak mengenal satupun temannya yang lain. Nuguya?

Aigo… aku terlalu penasaran dengan hal ini. Sebelum kepalaku ikut berputar seperti otakku, lebih baik aku turun ke bawah dan melihatnya. Mungkin saja Minhyuk Oppa benar, aku sudah mengenalnya. Semoga saja! Dan kalau aku belum mengenalnya, aku bisa mengadakan demo besar-besaran kepada Oppa sialan itu untuk membatalkan permintaannya kepada temannya itu untuk menjagaku.

Perlahan aku melangkahkan kakiku menuruni anak tangga. Rasa penasaran dihatiku semakin membludak saat melihat sosok namja itu yang saat ini berdiri memunggungiku. Tubuhnya tinggi atletis walaupun tidak setinggi Minhyuk Oppa si menara sutet itu. Kuperhatikan namja itu dengan seksama. Sepertinya aku sedikit familiar dengan tubuh ini-hati kecilku sedikit berbisik.

Aku semakin keras memutar otakku. Tubuh itu… kemeja pink itu, style rambut itu… Andwae, pasti bukan diakan! Mendadak aku merasakan firasat buruk. Benar, sangat-sangat buruk! Rasanya aku ingin sekali berlari kembali ke kamar, tapi rasa penasaran tingkat dewa ini memaksaku untuk tetap berada di tempat itu.

“Ahh… itu dia dongsaeng-ku! Yuuri-ya, kesini! Ini teman Oppa yang akan menjagamu selama Oppa pergi. Key, itu dia dongsaeng-ku, semoga kau belum lupa dengannya.”

Mendadak aku kaku di tempat saat mendengar Minhyuk Oppa menyebutkan nama ‘Key’. Saat itu tiba-tiba saja aku merasakan hawa horror yang luar biasa di sekelilingku seiring dengan punggung namja yang sejak tadi membelakangiku kini berbalik dan menampakkan wajahnya padaku. Mataku sontak membulat lebar bahkan mungkin sebentar lagi akan keluar dari rongganya saat melihat namja itu!

Andwae! Aku benar-benar menolak namja teman Minhyuk Oppa untuk menjagaku, APALAGI NAMJA YANG INI!!!-jeritku keras dalam hati. Tapi hanya bisa kuucapkan di dalam hati saja karena mulutku sudah terlebih dahulu kelu saat melihat namja itu menyeringai penuh makna dan menampilkan senyuman iblisnya.

“Mana mungkin aku lupa, Minhyuk-ahDongsaeng-mu sangat manis jadi aku akan menjaganya dengan saaaangattt baik!” kata namja itu-Key- seraya menarik sebelah sudut bibirnya dan membuat ekspresi wajahnya semakin mengerikan dimataku.

Glek! Aku meneguk ludahku dengan susah payah. Ini akan semakin mengerikan! Hidupku selama 2 minggu ini akan dipenuhi dengan penderitaan. Ottokhae? Siapapun, tolong aku!!

***

Key POV

“YAA… KANG YUURI SI ‘YEOJA BIASA’!!!!”

Tap! Tap! Tap! Tap!

Senyumku mengembang lebar saat mendengar suara hentakan kaki yang beradu dengan lantai mulai terdengar dari lantai atas, tepatnya dari kamar seorang yeoja yang untuk 2 minggu ke depan akan hidup bersamaku (?). Beberapa detik kemudian sesosok yeoja-yang tadi kuteriakkan namanya-muncul di hadapanku dengan napas turun naik.  Aku meliriknya remeh dan saat itu juga ia langsung memasang tampang garangnya kepadaku.

“Yaa! Bisa tidak kau sekali saja tidak berteriak memanggilku?! Kau pikir aku pembantu?!” makinya setengah berteriak.

Binggo! Kaukan memang ‘pembantu’-ku, Kang Yuuri si ‘yeoja biasa’!” kataku santai sesantai saat aku mengangkat sebelah kakiku dan menumpukannya di atas kakiku yang lain. Kulihat Yuuri yang tampak mengepalkan kedua tangannya untuk meredam kekesalannya.

Wae?! Apa kau inginkan?!” tanyanya yang tetap dengan nada ketusnya. “Apa mengambilkanmu makanan kecil dan minuman? Atau mengambilkan remote tv yang berada tidak lebih 2 meter darimu?”

“Aakkhh… bosannya! Sini, temani aku!” kataku seraya menggeliat kecil lalu menepuk sofa di sebelahku bermaksud untuk menyuruhnya duduk.

Shireo! Aku sibuk, pr-ku banyak! Dan kau, namja pabbo, berhenti berteriak-teriak memanggilku, arrachi?!!” katanya tegas lalu melengos pergi begitu saja dan tentunya tidak semudah itu aku membiarkannya pergi meninggalkanku. Aku sontak bangkit dan menarik sweater tipis yang digunakannya.

Eodiggayo, eoh?” kataku.

“Yaa!! Lepaskan bajuku, kau bisa merusaknya!!” serunya seraya memegangi tanganku.

“Kalau kau sayang dengan sweatermu ini, cepat pergi ke kamar dan ambil buku-bukumu lalu kerjakan tugas rumahmu, DISINI!! Arrachi?!”

Arra, arra!” katanya. Akupun langsung melepaskan tanganku dari bajunya. Kulihat Yuuri menatapku tajam penuh emosi sebelum akhirnya ia berjalan ke kamarnya. Akupun hanya tersenyum geli melihat tingkahnya itu, lucu sekali!

Brak!

“Puas? Sekarang apa lagi?!” katanya dengan nada pedas, sepedas tatapannya. Aku hanya meresponnya dengan senyuman simpul lalu kembali menatap televisi yang sedang menyala di hadapanku.

“Yuuri-ssi, eomma dan appa-mu kemana?” tanyaku setelah sekian lama berada dalam suasana yang sepi karena kami berdua sama-sama diam.

Appa dinas ke luar kota ntah sampai berapa lama dan tentu saja eomma ikut menemani appa.” jawabnya sambil terus mengerjakan tugas sekolahnya. “Yaa, namja pabbo! Kenapa kau tidak bilang kalau kau mengenal oppa-ku?” tanyanya lagi seraya menoleh ke arahku.

“Aa… itu… hanya ingin memberikan kejutan untukmu.” kataku lalu menyengir.

“Ahahaaa… kejutan yang bagus sekali, Key-ssi. Gumawo, aku saaangat terkejut!” katanya seraya tertawa garing. Setelah itu perhatiannya kembali terfokus pada kegiatannya tadi, yaitu mengerjakan pr sekolah. Suasana kembali hening dan di tempat itu hanya terdengar suara televisi yang menyala atau suara kertas yang saling bergesekan saat Yuuri membolak-baliknya. Berkali-kali aku melirik yeoja di dekatku ini, ia tampak asyik dengan kegiatannya dan sama sekali tidak memperdulikanku. Aisshh… Kang Yuuri, aku benar-benar tidak tahan dengan suasana hening seperti ini.

“Yuuri-ssi, kau punya film horror?” tanyaku memecah keheningan.

“Emm, ada banyak di kamar Minhyuk Oppa.” jawabnya tanpa menatapku. Tapi beberapa detik kemudian ia terdiam lalu menoleh cepat. “Tapi tidak akan kupinjamkan padamu, namja penakut!”

“Isshh… kau itu pelit sekali!” gerutuku seraya mengerucutkan bibirku sedikit. Setelah itu suasana kembali hening. Kubaringkan tubuhku di atas sofa sambil memainkan ponselku, sementara Yuuri masih saja fokus mengerjakan tugasnya. Kulihat ia sesekali mengacak rambutnya karena kebingungan dengan soal yang ada. Melihat ia seserius itu, akupun berniat untuk tidak mengganggunya lagi.

“Key-ssi…” panggilnya. Aku berhenti memainkan ponselku dan menatapnya.

“Mmm??”

“Kau… sudah berbaikan dengan yeoja chingu-mu?” tanyanya seraya menatapku.

“Kami tidak bertengkar. Waeyo?” tanyaku bingung. Memangnya kapan ia melihatku bertengkar dengan Nicole?

“Syukurlah kalau kalian tidak bertengkar.” katanya lalu kembali menatap buku-buku di hadapannya.

“Memangnya kapan kau melihat kami bertengkar?” tanyaku seraya terus menatapnya. Tiba-tiba saja aku ingat kejadian saat Nicole memergoki kami berdua di apartemenku. “Aa… Apa yang kau maksud adalah saat Nicole memergoki kita berdua di apartemenku?” tanyaku lagi yang langsung dianggukkan oleh Yuuri, walaupun begitu matanya tetap fokus pada bukunya.

Mianhae, aku sangat menyesal atas kejadian itu. Nicole Unnie tidak salah pahamkan?”

Anniyo, tentu saja tidak. Sebelumnya dia sudah tahu bagaimana hubungan kita.” jawabku seraya tersenyum garing, ntah untuk siapa.

“Hubungan kita?” kata Yuuri tiba-tiba dengan suara pelan tapi masih bisa kutangkap dengan indera pendengaranku. Kutatap ia lekat yang kali ini menatapi buku-buku di hadapannya dengan pandangan kosong. “Ne, hubungan kitakan hanya sebatas ‘pambantu dan majikan’, tentu Nicole Unnie tidak perlu salah paham saat melihat kita bersama.” kata yeoja itu lagi yang kali ini menoleh ke arahku dan tersenyum simpul. Aku terdiam, berusaha mencerna kata-kata dari bocah di hadapanku ini. Mendengar kata-katanya tadi, mendadak aku merasa ada perlawanan dari dalam hatiku. Perlawanan yang memaksaku untuk menyanggah kata-katanya tadi tapi tidak mampu kuucapkan. Melihat senyum simpulnya, aku hanya bisa membalasnya dengan senyuman hambar.

***

Yuuri POV

Brak!

“Puas? Sekarang apa lagi?!” kataku ketus seraya menghempaskan semua buku-buku yang kubawa ke atas meja. Namja bodoh bernama kunci ini hanya melirikku sekilas lalu kembali menatap televisi di hadapannya. Isshh… namja ini benar-benar sangat menyebalkan. Sejak ia menginjakkan kaki di rumah ini, tidak henti-hentinya ia meneriakiku. Bersamanya lebih lama lagi, mungkin akan membuatku mengalami tuli permanen.

“Yuuri-ssi, kau punya film horror?” tanyanya. Aigo… Kenapa namja gila ini tidak bisa diam, huh? Apakah aku perlu menyumpal mulutnya dengan bantalan sofa?

“Emm, ada banyak di kamar Minhyuk Oppa.” jawabku tanpa menatapnya karena perhatianku terus terfokus pada soal-soal di hadapanku yang harus kuselesaikan malam ini juga. Tapi tunggu dulu? Dia bilang tadi apa? Film horror? Tidak akan kubiarkan ia menontonnya! Dia bisa mengganggu ketenangan malamku dengan teriakan-teriakan bodohnya. “Tapi tidak akan kupinjamkan padamu, namja penakut!”

“Isshh… kau itu pelit sekali!” gerutunya seraya mengerucutkan bibirnya. Isshh… lihat tingkahnya yang seperti yeoja itu, menggelikan! Setelah itu suasana nampak hening. Sepertinya namja bodoh ini sudah tidak berniat menggangguku lagi. Baguslah, aku jadi bisa berkonsentrasi penuh dengan soal-soalku.

Semenit… dua menit… tiga menit… namja pabbo itu masih tetap diam. Hei… apakah ia tertidur? Kulirik namja itu yang saat ini sedang asyik dengan ponselnya sambil berbaring dan tersenyum-senyum. Isshhh… apakah ia sudah gila? Suasana hening ini justru membuatku tidak bisa berkonsentrasi seperti biasanya. Kehadiran namja ini membuat seluruh pikiranku malah terfokus padanya. Tiba-tiba saja… kejadian beberapa hari lalu kembali melintas dipikiranku.

“Key-ssi…” panggilku yang langsung membuatnya berhenti memainkan ponselnya.

“Mmm??”

“Kau… sudah berbaikan dengan yeoja chingu-mu?” tanyaku penasaran. Inilah yang memenuhi pikiranku sejak beberapa hari lalu.

“Kami tidak bertengkar. Waeyo?” jawabnya yang kembali diakhiri dengan pertanyaan. Aigo… kebiasaan namja pabbo ini kalau menjawab pertanyaan selalu diakhiri dengan pertanyaan juga. Apa tadi dia bilang? Mereka tidak bertengkar? Benarkah? Padahal aku melihat dengan jelas mata Nicole Unnie yang menatapku tajam seakan ingin menebas leherku dengan tatapannya.

“Syukurlah kalau kalian tidak bertengkar.” kataku lalu kembali menatap buku-buku di hadapanku. Baguslah kalau memang mereka tidak bertengkar, jadi aku tidak terlalu merasa bersalah.

“Memangnya kapan kau melihat kami bertengkar? Aa… Apa yang kau maksud adalah saat Nicole memergoki kita berdua di apartemenku?”

Mianhae, aku sangat menyesal atas kejadian itu. Nicole Unnie tidak salah pahamkan?” tanyaku seraya terus menatap buku di hadapanku tapi perhatianku tetap terfokus padanya.

Anniyo, tentu saja tidak. Sebelumnya dia sudah tahu bagaimana hubungan kita.” jawabnya yang membuatku tiba-tiba termenung.

“Hubungan kita?” kataku lirih. Ntah mengapa tiba-tiba saja aku merasa suatu perasaan aneh mulai menyerangku yang aku sendiri bingung untuk mendefinisikannya. Tidak mau berkutat lama dengan perasaan tidak jelas itu, akupun buru-buru menepisnya.

Ne, hubungan kitakan hanya sebatas ‘pambantu dan majikan’, tentu Nicole Unnie tidak perlu salah paham saat melihat kita bersama.” kataku seraya tersenyum simpul. Demi apapun, selama aku hidup itu adalah senyum paling terpaksa yang pernah kuberikan pada orang lain.

“Hooaammm… sudah tengah malam, aku harus tidur karena besok aku harus ke sekolah. Aku tidur dulu namja pabbo!” kataku seraya berpura-pura menguap lalu cepat-cepat membereskan bukuku dan beranjak dari sana.

Cepat-cepat kumasuki kamarku dan menguncinya dari dalam. Kusandarkan tubuhku pada pintu sambil memikirkan pembicaraan konyol di ruang tamu tadi. Mengantuk? Tengah malam? Apanya yang tengah malam? Ini baru jam 9 malam dan ini bukan waktuku untuk tidur. Itu semua hanya alasanku untuk bisa pergi dari tempat itu, tepatnya pergi dari namja bodoh itu. Air mataku luruh seiring dengan rasa sesak yang semakin membludak di dadaku dan tidak bisa kutahan lagi. Kuperosotkan tubuhku perlahan dan menangis dalam diam…

***

Annyeong, Yuuri-ya!” Kutolehkan kepalaku ke samping, tepatnya ke arah Iseul yang saat ini menatapku ceria dengan senyum manis yang mengembang lebar di wajah cantiknya. Berbeda 180o dariku yang pagi-pagi sudah memasang ekspresi lemas tak bertenaga, seakan nyawa di tubuhku sudah tidak utuh lagi.

Omo, waegeuraeyo? Kenapa pagi-pagi sudah lemas begitu? Kau sakit, eo?” tanya Iseul bertubi-tubi seraya menyentuh keningku dengan telapak tangannya.

Gwaenchana.” jawabku seraya menepis tangannya.

“Lalu kenapa tidak bersemangat begini?” tanyanya dengan ekspresi cemas.

Anniyo. Aku hanya mengantuk karena tadi malam mengerjakan pr sampai tengah malam. Aigo… kenapa Jung songsaenim memberikan pr banyak sekali?” keluhku seraya kembali berpura-pura mengantuk. Bohong! Lagi-lagi aku berbohong untuk menutupi kejadian tadi malam. Keadaan sebenarnya adalah aku menangis sampai tengah malam yang sampai saat ini aku bingung dengan apa yang membuatku menangis.

“Yaa! Jangan menggerutu pada Jung songsaenim, diakan pamanku!” kata Iseul.

Arraseo. Sudah hampir bel, kajja ke kelas!” kataku seraya menarik tangan Iseul dan berjalan bersamaan menuju kelas.

***

Yoona POV

“Yaa! Apa yang kalian lakukan disini?” tanyaku saat melihat beberapa teman dekatku sedang asyik duduk-duduk bersantai di sebuah kafe.

“Yoona-ya, kesini!” seru Myungsoo seraya menepuk sebuah bangku kosong di sebelahnya. Aku yang sejak tadi memang sudah sangat kepanasan dan kesana kemari mencari tempat duduk enak, langsung saja menuruti perintah namja itu.

“Apa hanya kau sendiri? Kemana yang lain?” tanya Minho.

“Apa yang kau maksud itu adalah Sooyoung dan Nicole?” tanyaku seraya meliriknya. “Sooyoung seperti biasa, saat ini ia sedang sibuk menindas Jinyoung dan juga Gikwang. Saudaramu itu benar-benar evil.” jawabku yang hanya dibalas Minho dengan kekehannya.

“Lalu Nicole?” tanya Key. Aigonamja feminin ini, bukankah Nicole itu yeoja-nya? Kenapa malah bertanya padaku?

“Key-ah, bukankah dia yeoja chingu-mu? Kenapa kau malah tidak tahu dimana dia sekarang?” kata Minho. Baguslah Minho, untung kau yang menjawabnya. Jujur, aku sungguh malas menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan Nicole. Ntahlah, jangan tanya aku kenapa!

Anniyo, aku hanya ingin tahu sebab dia tidak menghubungiku sejak kemarin.” kata Key. Aku meliriknya yang saat ini tampak sedang asyik mengaduk-aduk minumannya.

“Minho-ya, sudah saatnya kita pergi!” kata Myungsoo tiba-tiba.

Mwo? Kalian mau pergi kemana?” tanyaku bingung saat melihat Minho yang tampak tergesa-gesa menghabiskan minumannya dan Myungsoo yang tampak sibuk membenahi pakaiannya.

“Ada pertandingan bola antara tim favorit kami. Aku dan Myungsoo bertaruh untuk tim jagoan kami masing-masing. Myungsoo-ah, tunggulah. Hari ini aku pasti menang dan kau harus siap-siap kehilangan bola kesayanganmu itu!” kata Minho seraya berdiri.

Andwae, kau yang harus siap-siap kehilangan sepatu kesayanganmu Choi Minho!” kata Myungsoo juga.

“Baiklah, kalau begitu kita buktikan sekarang juga! Kajja!” kata Minho lalu beranjak bersama dengan Myungsoo meninggalkanku. Anniyo, bukan hanya aku, tapi juga namja feminin yang saat ini masih duduk di hadapanku.

“Yaa! Yaa! Yaa! Choi Minho! Kim Myungsoo!! Eodiggayo?!” seruku. “Aku baru saja datang, kenapa kalian sudah pergi?!” seruku lagi yang hanya direspon Myungsoo dengan lambaiannya. Isshhh… dua namja penggila bola itu!!

Aigo… dua bocah itu, selalu saja bertaruh tiap kali ada pertandingan bola! Apa mereka tidak sadar betapa konyolnya mereka?” gerutu Key.

Aku diam seraya menunduk. Dalam hati aku terus mengutuki dua namja penggila bola yang seenaknya saja meninggalkanku bersama dengan namja feminin yang sejak dulu selalu bisa membuat jantungku berdetak dengan tidak normal. Lihatlah, sekarangpun aku hanya bisa terdiam karena berusaha menetralkan aktivitas jantungku yang masih saja membrutal, bahkan semakin menggila.

“Yaa! Sekarang kau mau kemana?” tanya Key yang seketika membuatku terkejut.

“Nn… nde?” Aigo… Im Yoona! Kenapa kau jadi bodoh begini? Jelas-jelas tadi namja itu bertanya kau ingin kemana, kenapa kau malah menjawabnya dengan terbata begitu? Kau bahkan pura-pura tidak mendengarnya! Lihat, sekarang dia menatapmu dengan ekspresi bingungnya yang saaangatttt menggemaskan!

“An… Anniyo, aku tidak kemana-mana.” jawabku setelah mati-matian berusaha menenangkan diriku sendiri.

Neo wae irae? Gwaenchana?” tanyanya lagi.

Ne, nan gwaenchana.” jawabku langsung tanpa menatapnya. Setelah itu suasana mendadak hening karena Key yang biasanya cerewet, tiba-tiba saja berdiam diri. Sementara aku masih saja sibuk menenangkan jantungku yang terus memompa dengan cepatnya. Keundae… kenapa dia diam saja? Tidak biasanya dia seperti ini? Aigo… apa aku yang harus mengajaknya bicara lebih dulu? Tapi apa yang harus kubicarakan?

“Kau sibuk?” tanyanya tiba-tiba yang membuatku menoleh.

Anni, Waeyo?” jawabku.

“Mau menemaniku?”

Eodigga?”

“Hanya jalan-jalan saja.” jawabnya yang membuatku terdiam sambil menatapinya yang juga menatap lurus ke arahku.

***

Gikwang POV

Palliya…!!”

Aku mengeram berusaha menahan kekesalanku. Sejak satu jam yang lalu tidak henti-hentinya yeoja ini berteriak. Aku penasaran, bagaimana cara memutus pita suaranya supaya yeoja itu berhenti untuk berteriak.

Waeyo?” tanya yeoja itu seraya menatapku dengan wajah polos tak berdosanya. Aku berdiri di hadapannya lalu melipat kedua tanganku di dada. “Kenapa menatapiku seperti itu, Gikwang-ah?”

Neo, Choi Sooyoung, bisa tidak berhenti berteriak-teriak? Telingaku sakit mendengar suara teriakanmu sejak tadi.” gerutuku. Benar, telingaku sangat sakit sekarang.

Aigo… kenapa mengomel begitu? Akukan hanya memanggilmu.” katanya seraya tersenyum nakal. Isshh… bagiku itu malah terlihat seperti seringaian setan. “Keundae, kenapa kau kembali sendirian saja?” tanyanya mengangkat kedua alisnya. Aku menatapnya lekat yang tampak celingukan mencari-cari seseorang. Cih, aku tahu siapa yang dicarinya saat ini, siapa lagi kalau bukan namja nyentrik-Jung Jinyoung.

“Cih, kenapa tidak langsung katakan kalau kau mencari Jinyoung, hah? Sok-sok bertanya kenapa aku kembali sendirian saja.” kataku seraya duduk di sampingnya. Sooyoung langsung berdecak seraya melirikku jengkel.

“Sooyoung-ah, katakan padaku yang sejujurnya.” kataku.

Mwoya?” tanyanya dengan nada malas.

“Kau menyukai Jinyoung-kan?” tanyaku blak-blakan. It’s me!

“Yaa! Iptakkheo! Pabbo!” umpatnya kesal. Huh, Choi Sooyoung, ketahuilah… semakin kau kesal, semakin jelas perasaanmu.

“Huh, mengelak. Semuanya tertulis dengan jelas di wajahmu.” Kataku seraya mengetuk keningnya dengan telunjukku dan tentu saja Sooyoung langsung menepisnya.

“Tutup mulutmu, Gikwang-ah! Sudah kubilang, aku tidak menyukainya. Jung Jinyoung itu hanyalah salah satu obyek menarik yang bisa kutindas sesukaku seperti Minho.” katanya seraya melirikku sadis.

Arra-arra. Aku ini temanmu, kau pikir aku tidak tahu? Jung Jinyoung si namja nyentrik itu benar-benar target sempurna yang bisa dijadikan bahan tindasan bagi yeoja evil sepertimu. Dengan mengerjainya seperti ini, kau bisa bersamanya dan menarik perhatiannya.” kataku panjang lebar. Aigo… Lee Gikwang, sejak kapan kau menjadi konsultan cinta begini? Ini semua gara-gara kau Choi Sooyoung!

“Kau itu bicara apa?” katanya malas, tapi aku yakin  ia pasti hanya pura-pura tidak peduli.

“Dengan caramu yang seperti ini, mungkin kau bisa menarik perhatiannya. Tapi ini terlalu lamban, Sooyoung-ah. Tidak menutup kemungkinan ada yeoja lain yang justru sudah terlebih dahulu mendekatinya.” kataku lagi. Kutepuk bahunya dan saat ia menoleh, langsung kutunjuk salah satu arah dengan daguku. Sooyoung ikut menoleh dan dapat kami lihat tidak jauh dari kami tampak Jinyoung yang sedang asyik bercengkrama dengan seorang yeoja. Mereka berdua tampak sangat akrab. Kuperhatikan ekspresi di wajah Sooyoung yang tampak campur aduk antara kesal, kecewa, dan… ntahlah. Tapi satu yang dapat kupastikan, saat ini yeoja itu sedang cemburu!

“Sudahlah, mengaku saja! Semakin kau menyangkalnya, semakin terlihat jelas perasaanmu itu di wajahmu.” kataku yang tampaknya menyadarkannya.

“Sudah kubilang, tutup mulutmu Gikwang, pabbo!” serunya kesal lalu beranjak meninggalkanku sendiri. Aku hanya tersenyum geli melihat tingkahnya itu. Hahaa… lucu sekali! Kudapatkan kartu matimu, Choi Sooyoung!

***

Author POV

Aigo… lamanya tidak bersantai seperti ini!” seru Key seraya merentangkan kedua tangannya lebar-lebar dan menikmati angin yang berhembus kencang.

“Yaa! Hentikan itu, kau seperti tahanan yang sudah lama tidah menikmati dunia luar.” kata Yoona yang saat ini berdiri di samping Key. Saat ini dua orang itu sedang berjalan-jalan di tepi sungai Han. Sore yang teduh dan juga angin yang berhembus kencang, membuat suasana di tempat itu menjadi sangat nyaman.

Ne, anggaplah begitu. Aigo… nyamannya…” seru Key lagi yang sama sekali tidak memperdulikan ucapan Yoona.

“Yaa, hentikan! Kau terlihat konyol!” kata Yoona yang merasa risih karena orang-orang di sekitar mereka mulai memperhatikan tingkah Key. “Isshhh… kau ini!” kata Yoona setengah kesal karena Key hanya terkekeh geli dan bahkan sama sekali tidak peduli dengan keadaan sekitarnya.

Yoona hanya menghela napas lalu berjalan mencari tempat duduk untuk menikmati pemandangan sungai Han di hadapannya. Sementara Key masih asyik dengan kegiatannya tadi, menikmati angin yang berhembus kencang dengan ‘berisik’nya. Tingkah namja itu memang sedikit konyol. Awalnya Yoona mencibir, tapi lama kelamaan kedua bibirnya tertarik dan menampakkan sebuah senyuman yang semakin mempermanis parasnya.

“Hahhh…” Tiba-tiba saja Key datang mendekatinya dan menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi yang saat ini diduduki olehnya dan Yoona. “Kau menyukainya?” tanya Key seraya menoleh ke arah Yoona.

Ne, tentu saja aku menyukainya. Sudah lama sekali aku tidak berjalan-jalan santai seperti ini.” jawab Yoona seraya tersenyum simpul.

Geurae, dulu saat SMA kita sering bermain-main di tepi danau bersama teman-teman yang lain.” kata Key. Mendengar itu mendadak senyum di wajah Yoona menghilang. “Aku juga ingat, danau itu adalah tempat dimana pertama kali kita bertemu.”

“Eerrr… jeongmal?” kata Yoona dengan nada ragu.

“Kau tidak ingat?” tanya Key seraya kembali menatap Yoona dan mendapati yeoja itu yang dengan wajah bingungnya. “Aigo… kau ini, aku saja tidak pernah lupa dengan hari itu. Waktu itu kita berdua masih SMP dan aku baru saja pindah ke Daegu. Aku yang sedang jalan-jalan ke danau tiba-tiba saja terpeleset dan jatuh ke danau. Parahnya saat itu aku tidak bisa berenang dan kau yang menolongku.” kata Key antusias.

“Yoona-ya, kau sungguh-sungguh tidak ingat?” tanya Key yang tampak sedikit kecewa karena Yoona tetap memasang wajah bingung di wajahnya. “Aisshh…” Key berdecak lalu memasang wajah cemberut. Melihat itu Yoona hanya tersenyum.

Anniyo… mana mungkin aku lupa. Tentu saja aku ingat kejadian itu. Bagiku, semua kenangan kita saat di Daegu adalah kenangan paling menyenangkan yang tidak akan pernah kulupakan.” kata Yoona. Mendadak wajah cemberut Key berubah ceria.

Jinjja?” tanya Key yang langsung dianggukkan oleh Yoona. “Aigo… kukira kau sudah lupa. Aku senang kau masih mengingatnya.” kata Key yang hanya direspon Yoona dengan senyuman simpulnya.

Keundae, aku jadi rindu Daegu. Aku merindukan orang tuaku, orang tuamu, Gyuri Noona, teman-teman kita. Aigobogoshippo…” kata Key.

Arraseo, aku juga merindukan Wookie Oppa.” kata Yoona. Mendengar itu mendadak Key mendelikkan matanya tajam ke arah Yoona. “Waeyo? Kenapa kau selalu kesal kalau aku bilang rindu Wookie Oppa?”

“Hentikan Im Yoona, sudah kubilang kau tidak boleh menyukai Wookie Hyung! Dia itu playboy dan dia tidak baik untukmu. Isshhh… kau ini, kenapa terus menyukai Wookie Hyung? Memangnya tidak ada namja lain, huh?” omel Key panjang lebar.

“Yaa! Yaa! Yaa! Siapapun yang kusukai, bukankah itu terserah padaku. Kenapa kau jadi cerewet begini, huh? Lagipula dia itu kakakmu, kenapa kau berkata seperti itu?” protes Yoona.

“Yaa! Im Yoona, aku ini sahabatmu! Sebagai sahabat tentunya aku menginginkan yang terbaik untukmu. Walaupun dia kakakku, kalau memang dia bukan namja yang baik, tentu aku harus mengatakannya!” omel Key lagi. “Issh, kau ini membuat orang kesal saja.” kata Key seraya mengerucutkan bibirnya karena kesal. Melihat itu Yoona tidak bisa menyembunyikan senyumannya.

Arraseo, aku tahu kau mencemaskanku. Sudah kubilangkan, aku tidak menyukai Wookie Oppa. Aku hanya menganggapnya sebagai Oppa-ku, sebagaimana kau menganggap Gyuri Eonni sebagai noona-mu.” kata Yoona. Mendengar itu Key langsung melirik Yoona yang seketika mengendikkan kedua bahunya.

Jeongmal?”

Ne.” jawab Yoona. “Keundae Key, kenapa kau selalu beranggapan kalau aku menyukai Wookie Oppa? Memangnya aku pernah berkata kalau menyukainya?”

Eobseoyo. Hanya saja… kau pernah berkata kalau kau menyukai seorang namja tapi tidak pernah memberitahukan padaku siapa namja itu. Tentu saja aku penasaran sekali, apalagi sejak itu kau selalu dekat dengan Wookie Hyung. Sebagai sahabat dekatmu, tentu aku kesal karena kau tidak memberitahu namja yang kau sukai.” kata Key. Yoona terdiam mendengar penuturan Key. Mendadaknya dadanya terasa sesak dan matanya mulai memanas. Buru-buru Yoona mengalihkan tatapannya ke atas agar sesuatu yang mulai membasahi matanya tidak jatuh keluar.

Aigo… kau ini polos sekali. Waktu itukan aku hanya bercanda, aku hanya ingin menggodamu.” kata Yoona.

Jinjja?! Aigo… Im Yoona! Kau keterlaluan sekali! Kau tahu, aku bahkan sampai tidak bisa tidur semalaman gara-gara memikirkan siapa namja yang kau sukai itu dan besoknya aku dihukum gara-gara tertidur di kelas.” jerit Key seraya memelototkan matanya tidak percaya, sementara Yoona hanya tertawa. Melihat Yoona tertawa lepas di hadapannya , perlahan-lahan kekesalan Key mendadak hilang.

Wae?” tanya Yoona seraya menatap Key yang memasang ekspresi lega.

Anniyo, hanya saja… beberapa waktu ini ada satu hal yang sangat membebaniku.” jawab Key.

“Eo? Kau ada masalah? Apa kau bertengkar dengan Nicole?” tanya Yoona lagi dengan wajah cemasnya.

Anni.”

“Yaa! Wajahmu tidak mengatakan begitu. Di wajahmu tertulis jelas kalau kau sedang memikirkan hal serius. Ada apa, beritahu aku!”

“Sudahlah, bukan apa-apa lagi. Aku sudah sedikit lega sekarang.”

Museun malhaeya? Yaa, Key! Katakan!” paksa Yoona.

“Issh, Im Yoona! Kau memang selalu bisa kalau memaksaku.” kata Key.

“Lalu apa masalahmu?” tanya Yoona seraya menatap Key. Key diam seraya menatapnya juga, mendadak suasana yang tadinya santai berubah serius. “Mwoya? Kenapa menatapku begitu?”

“Yoona-ya, apa kau membenciku?” tanya Key tiba-tiba. Yoona terdiam mendengar pertanyaan Key barusan. Ia bersumpah dalam hati, tidak pernah terbesit dalam hatinya untuk membenci namja di hadapannya ini.

Mworago? Kenapa tiba-tiba bertanya begitu?”

“Apa kau marah padaku? Apa aku tanpa sengaja pernah menyakitimu? Membuatmu menangis? Membuatmu kesal? Benci padaku?” tanya Key bertubi-tubi.

“Yaa! Sebenarnya kau ini bicara apa? Aku sama sekali tidak mengerti.” kata Yoona. Tiba-tiba saja Key meraih kedua tangan Yoona lalu menggenggamnya erat. Orang-orang di sekitar mereka yang tidak mengenal mereka langsung beranggapan kalau mereka adalah sepasang kekasih.

“Yoona-ya, mianhae… jeongmal mianhaeyo. Aku tidak tahu mengapa, tapi beberapa waktu ini aku merasa kau semakin menjauh dariku. Memang kau tidak sepenuhnya menjauh dan tetap berada di sekitarku. Tapi aku merasa kau tidak berada di sisiku lagi seperti dulu. Dulu kita selalu bersama, setiap hari kita lalui bersama, dan aku tidak tahu ntah sejak kapan semua itu menghilang. Aku berpikir kalau tanpa sengaja aku menyakitimu dan itu membuatmu menjauhiku. Aku minta maaf Yoona-ya.” kata Key lembut.

Anniyo, mana mungkin kau menyakitiku. Aku hanya sedikit menjaga jarak denganmu. Aku berpikir kita sudah dewasa, pasti ada hal-hal tertentu yang berubah. Misalnya seperti saat ini kau sudah memiliki Nicole di sisimu, jadi mana mungkin aku terus-terusan berada di sampingmu. Kau tentunya tidak inginkan, Nicole mencakar-cakarku karena terus menerus menempeli namja chingu-nya.” kata Yoona juga seraya tersenyum kecil.

“Aisshh… kau ini. Nicole sangat tahu seperti apa posisimu bagiku, jadi mana mungkin dia mencakar-cakarmu.” kata Key seraya sedikit mengacak rambut Yoona. “GumawoGumawo karena masih berada di sisiku sampai saat ini.” kata Key lagi. Yoona hanya menjawabnya dengan senyumannya.

***

Yuuri POV

Ne, Eomma. Nan gwaenchana.” kataku ditelepon. “Arraseo. Kogjeonghajima Eomma, aku bisa menjaga diriku sendiri.” lanjutku.

Ne, saranghaeyo…” kataku lalu memutus sambungan telepon tadi dan meletakkan ganggangnya kembali ke tempatnya. Sepersekian detik aku hanya bisa terdiam mematung di hadapan telepon rumah yang sudah tergeletak rapi di tempatnya. Kudogakkan kepalaku untuk melihat jam dinding yang terpajang rapi di atas kepalaku.

“Jam 9 malam… kemana perginya namja pabbo itu?Apa ia lupa kalau seharusnya ia menginap disini dan kembali ke apartemen busuknya itu?” pikirku.

Kuperhatikan seluruh area rumah yang tampak sangat rapi padahal sebelum kutinggalkan pagi-pagi buta tadi, rumah ini masih ‘sedikit’ berantakan. Sangat tidak mungkin namja pabbo itu yang membersihkannya kalau mengingat bagaimana ‘rapinya’ apartemen yang ditinggalinya. Aisshhh… kenapa aku memikirkannya?! Hari ini seharian aku tidak bertemu dengannya dan namja pabbo itupun sama sekali tidak menghubungiku.

“Ck, terserahlah! Begini lebih baik!” gerutuku lagi seraya berjalan menuju tangga yang akan mengantarkanku ke kamar. Tapi baru beberapa anak tangga kunaiki, langkahku sontak terhenti saat mendengar suara pintu depan terbuka dan muncullah sosok yang sejak tadi menggangguku (?).

“Eo… kau sudah pulang?” tanyanya dengan ekspresi polos di wajahnya yang hanya kubalas dengan tatapan ‘kau-pikir-sekarang-jam-berapa?’. “Hehe, mian… Aku tadi sedang bersama temanku dan harus mengantarkannya pulang terlebih dahulu.” jawabnya yang padahal aku bertanyapun tidak.

“Kau sudah makan?” tanyanya lagi. Mendengar itu mendadak perutku langsung terasa perih. Aku ingat belum makan apa-apa setelah pulang sekolah tadi karena buru-buru masuk kamar.

“Emmm…” jawabku ragu. Gengsiku kambuh lagi sepertinya.

“Ayo makan, aku baru saja belanja. Tapi kau maukan bersabar menungguku memasak sebentar?” katanya lagi seraya tersenyum kecil lalu berjalan menuju dapur. Sedangkan aku hanya bisa terdiam di tempatku menyaksikan namja pabbo itu seenaknya berkeliaran di rumahku. Aigo… rumah ini sudah seperti apartemennya sendiri.

“Kau masak apa?” tanyaku setelah memangkas habis semua perasaan gengsiku (?). Key yang saat itu sedang asyik memotong-motong sayuran langsung menoleh dan… hei… darimana datangnya apron pink itu? Seingatku eomma tidak memiliki benda itu? Apa namja pabbo ini sengaja membawanya sendiri dari apartemennya?? Ck… Ck… Ck…

“Kau ingin makan apa?” tanyanya yang langsung membuatku mencibir.

“Cih… kau bertanya seperti itu seakan-akan kau bisa memasak semua masakan.” ejekku.

Aigo… bocah ini. Kau meremehkan kemampuan memasakku, eoh? Kuberitahu, aku bisa memasak bermacam-macam makanan enak dengan rasa yang tidak ada bandingannya!” kata Key lantang yang lagi-lagi membuatku tertawa remeh. “Aishh… jinjja… kau benar-benar meremehkanku sepertinya. Tunggulah disana, akan kubuatkan makan malam spesial untukmu. Kujamin setelah ini kau tidak akan meremehkan keahlianku dalam memasak dan seterusnya kau akan merengek ‘Oppa, buatkan aku makanan. Aku ingin makan masakanmu, Oppa’ kepadaku!” katanya yakin seraya mengacung-acungkan pisau dapur padaku. Aigo… lihat tingkahnya saat ini! Dia selalu mengataiku tidak sopan, sekarang lihatlah siapa yang tidak sopan disini.

Geurae, masaklah! Aku ingin tahu bagaimana rasa ‘masakan’ yang kau bangga-banggakan itu.” kataku yang masih dengan nada remeh sambil memberi penekanan pada kata ‘masakan’. Kulihat Key tampak kesal, ia tampak memicingkan mata kucingnya ke arahku. Sedangkan aku hanya mengendikkan bahuku dengan acuhnya.

Namja itu berbalik dan kemudian meneruskan pekerjaannya yang tadi sempat tertunda karena asyik ‘mengobrol’ denganku. Akupun hanya duduk di kursi meja makan keluargaku sambil sesekali memerhatikannya. Key tampak sangat terampil memegang pisau dapur. Ia mampu memotong sayuran dan bahan-bahan lainnya dengan cepat tanpa sedikitpun pisau dapur yang sangat tajam itu melukai jari-jarinya. Aku sedikit terkesima melihat kelihaiannya itu. Kemampuannya memegang pisau bahkan lebih baik dariku yang notabenenya adalah seorang yeoja. Aku saja walaupun sudah berhati-hati setengah mati saat memegang benda itu, masih saja melukai tanganku.

“Yuuri-ssi, bisa tolong ambilkan telur di dalam kulkas?” katanya yang langsung membuyarkan lamunanku.

“Oo… ne…” kataku yang tadi sempat tergeragap. Langsung aku bangkit dan berjalan menuju kulkas untuk mengambil beberapa butir telur. Dalam hati aku terus bertanya-tanya masakan apa yang akan dibuat oleh kunci pabbo ini.

“Apa yang akan kau masak?” tanyaku seraya meletakkan telur-telur yang tadi kuambil di dekat Key.

Wae? Kau penasaran, eo?” katanya yang masih asyik mengaduk-aduk potongan-potongan sayur. Mendengar itu langsung kudelikkan mataku padanya.

Pabbo…”

“Isshhh… Sudahlah, kembali saja ke kursimu! Sebentar lagi juga masakannya jadi.” kata Key seraya mendorong bahuku pelan agar menjauhinya. Ishh… kunci bodoh ini, memangnya siapa yang penasaran? Sambil menggerutu kecil aku kembali ke tempatku tadi dan kembali memperhatikan namja bodoh itu dengan segala kesibukannya. Perlahan-lahan sebuah bau harum masakan menggelitik hidung dan membuat perutku semakin berdisco ria.

“Makanan datang…” seru Key yang membuyarkan kegiatanku tadi saat menikmati sensasi masakan yang dari baunya saja mampu membuatku menitikkan air liurku. “Waeyo?” tanya Key dengan ekspresi menyelidik. Sepertinya ia sudah memergokiku kegiatanku tadi.

Mwoya?” kataku.

“Kau menunggu masakanku? Penasaran? Eo?” tanyanya dengan wajah nakalnya.

Maldo andwae!” sergahku tegas. Mana mungkin aku mengakuinya. Melakukan itu sama saja dengan menggadai harga diriku (?).

Jeongmalyo?” godanya lagi. “Lihat, air liurmu sudah hampir menetes.”

Langsung kusapu bibirku. Kering, tidak ada setetes airpun disana. Melihat itu tiba-tiba saja tawa Key meledak. Oh shitpabboya! Kang Yuuri, kau benar-benar bodoh! Mau-maunya kau dibodohi oleh namja yang selalu kau sebut ‘bodoh’ itu! Lihat, sekarang dia puas menertawakan kekonyolanmu.

“Puas?!” kataku sinis. Key masih tertawa-tawa walaupun tidak sekeras tadi. Iapun meletakkan beberapa masakannya di atas meja lalu duduk di hadapanku.

“Ahahahaaa… kau lucu sekali, Yuuri-ssi.” katanya yang masih tertawa. Ne ne ne… lebih tepatnya konyol, kunci pabbo! “Sudahlah, ayo makan! Kuyakin kau pasti sudah lapar sekali.” kata Key lagi yang langsung mendapat delikan tajam dari mata bulatku.

“Cobalah…” kata Key seraya menyodorkan sepiring nasi goreng buatannya. Kusendokkan nasi itu dengan malasnya. Ukkhh… kalau saja saat ini aku tidak lapar tingkat dewa, aku tidak akan sudi memakan masakan namja pabbo ini. Mungkin saja saat ini dia memasukkan sesuatu dalam masakannya dan aku… Yaa! Masakan apa ini??”

Ottokhae?” tanya Key antusias. Kutatap namja di hadapanku ini tajam, lalu…

Masitha!!” seruku semangat. Ne, masakannya memang benar-benar enak. Aku tidak mungkin menyia-nyiakan makanan seenak ini hanya demi tingginya harga diriku. Kulihat Key tersenyum lebar.

Geurae, kalau begitu lain kali kau harus mengatakan ‘Oppa, buatkan aku makanan. Aku ingin makan masakanmu, Oppa’ tiap kali kau ingin dibuatkan makanan, ne?” katanya dengan ekspresi menjijikan di wajahnya.

Pabbo!” kataku seraya menatapnya tajam yang itu malah membuatnya tergelak.

***

Key POV

Aigo… kemana semua teman-temanku? Apa mereka lupa kalau hari ini ada pertandingan basket dengan kampus sebelah? Kenapa belum datang juga? Dan lagi, kemana perginya Jung Nicole dan Im Yoona? Apa dua yeoja itu lupa juga atau malah tidak berniat datang sama sekali untuk menyemangati sahabat-sahabatnya? Aigo, teganya! Aku tidak perlu mencari Choi Sooyoung-kan? Sebab aku sudah tahu pasti dimana dia dan apa yang sedang dikerjakannya saat ini. Apa lagi kalau bukan mem-bully anak-anak yang di wajahnya terstempeli tulisan ‘bully gue donk’ (?). Huh, dasar yeoja evil!

Kulangkahkan kakiku lagi di taman sekitar gedung olahraga. Kegiatan ini sudah kulakoni sejak setengah jam lalu. Apalagi kalau bukan menunggu sahabat-sahabatku sambil berjalan mondar-mandir tidak jelas. Sementara gedung olahraga sudah mulai berisik karena mulai dipenuhi oleh mahasiswa-mahasiswa lain yang ingin melihat pertandingan kami. KeundaeAigo… kenapa mereka semua tidak datang juga?

“Astaga… Lee Gikwang, Choi Minho, Kim Myungsoo, Jung Jinyoung, mati kalian semua!” Entah berapa kali kalimat umpatan ini terlontar dari mulutku, yang pasti saat ini aku sangat kesal! Kemana semua teman-temanku? Kenapa pula tak ada satupun dari mereka yang bisa dihubungi?!

“Arrggghhh!!” runtukku lagi seraya mengacak-acak rambutku karena saking kesalnya.

“Key-ah!!” Aku menoleh dan saat melihat sekelompok mahasiswa berlari ke arahku, langsung kusambut mereka dengan plototan tajamku yang kuyakin sangat mengerikan.

Mianhae, kami terlambat.” kata Minho dengan napas turun naik yang masih kurespon dengan plototanku.

“Ini semua karena Sooyoung si yeoja evil ini yang terlalu hobi mengerjai orang sampai kami semua karena imbasnya. Orang-orang itu mengejar kami sampai kami harus bersembunyi di atap kampus.” omel Gikwang seraya menatap Sooyoung jengkel. Mendengar itu langsung saja sasaran plototanku beralih pada yeoja jangkung yang saat ini bersembunyi di belakang Jinyoung. Sadar kalau dia sedang kuplototi, yeoja itupun langsung menyengir lebar.

“Eheheee… Annyeong Key…” sapanya seraya tertawa bodoh sambil mengangkat tangannya dan membentuk V sign dengan jarinya.

“Sudahlah, kalian sudah tidak ada waktu untuk berdebat. Palli, masuk ke dalam!” kata Yoona. Setelah itu Gikwang, Minho, Myungsoo, Jinyoung, Sooyoung-yang masih terus bersembunyi di belakang Jinyoung- juga Yoona langsung beranjak. Saat itu kulihat Yoona berjalan tertatih-tatih dengan dibantu Myungsoo.

Waeyo?” tanyaku.

“O… Gwaenchana Key, tadi hanya sedikit terkilir saat berlarian di tangga.” jawab Yoona yang masih tertatih-tatih.

Geuraeyo, kalau begitu kau duduk saja di tribun dan setelah pertandingan berakhir kutemani ke rumah sakit.”

Ne, gumawo.” kata Yoona seraya tersenyum kecil. Akupun hanya mengangguk karena hatiku masih sedikit cemas melihatnya berjalan tertatih-tatih begitu. Dengan langkah pelan kuikuti teman-temanku berjalan menuju gedung olahraga yang terdengar sangat berisik. Akan tetapi, di depan gedung lagi-lagi aku menghentikan langkahku saat menyadari ada sesuatu yang kurang saat kuperhatikan teman-temanku. Benar, yeoja chingu-ku tidak ada diantara mereka. Disana hanya ada Yoona dan Sooyoung. Kemana Nicole? Kenapa tidak bersama 2 yeoja itu? Kembali kuedarkan pandanganku ke seluruh penjuru berharap mendapati sosok yeoja yang berhasil menempati separuh tempat di hatiku. Nihil, yeoja itu tidak ada dimana-mana.

“Yaa! Nicole eodi…” kataku menggantung saat mataku menangkap suatu pemandangan di hadapanku. Walaupun jauh, dari depan gedung olahraga dapat langsung melihat ke arah gerbang Universitas Seoul. Hal itu juga yang membuatku dapat melihat pemandangan itu dengan jelasnya. Nicole… Anniyo, yeoja chingu-ku terlihat turun dari dalam sebuah mobil mewah. Setelah itu dari pintu kemudi sebelah ikut keluar juga seorang namja yang sering kulihat bersama Nicole. Namja itu berjalan menuju Nicole lalu memeluk mesra yeoja-ku. Kedua tanganku mengepal kuat saat melihat mereka berdua berciuman sebelum si namja beranjak pergi. Kulihat Nicole melambai seraya tersenyum manis saat namja itu pergi.

Astaga… kenapa pemandangan ini lagi yang harus kulihat? Sebelumnya aku juga menyaksikan pemandangan ini dan dari tempat ini juga. Parahnya lagi bukan hanya aku yang melihatnya, tapi juga Yuuri. Entah apa yang dikatakan Nicole pada Yuuri hingga yeoja itu berdiam diri saja seakan tidak tahu menahu, atau yeoja itu sengaja tutup mulut untuk menjaga perasaanku?

Kulihat Nicole berjalan menuju gedung olahraga dengan gaya angkuhnya yang anggun. Saat jarak kami hanya bersisa beberapa meter barulah Nicole menyadari keberadaanku. Matanya tampak sedikit membulat saat ia terkejut melihatku.

“K… Key-ah…” katanya gagap.

“………”

“Kau… melihat yang tadi??” tanyanya ragu. Huh, pertanyaan bodoh Nicole! Tanpa kau bertanyapun seharusnya kau sudah tahu jawabannya saat kau melihat bagaimana ekspresiku sekarang.

“……..”

“Key, itu… Aku bisa menjelaskannya. Kumohon, dengarkan aku dulu.” kata Nicole seraya berjalan mendekat dan meraih tanganku. Biasanya aku hanya diam lalu memaksakan tersenyum sambil berkata ‘arratha’. Tapi sekarang tanganku refleks menepis tangan Nicole.

“Aku lelah…” kataku lirih lalu berjalan menjauh meninggalkan Nicole yang masih berteriak-teriak memanggilku. Benar, saat ini aku benar-benar sangat lelah… Aku butuh peredam…

***

Yuuri POV

“Uwaaa… panasnya!” keluh Iseul untuk kesekian kalinya. “Kenapa siang ini benar-benar panas?!” Untuk yang inipun sudah kesekian kalinya kudengar keluar dari mulut Iseul. Kulirik yeoja itu yang tampak terus mengipaskan tangannya berharap dengan begitu ia dapat menghasilkan sedikit angin.

“Puaaanuaaassssss!!” rengeknya lagi. Kuputar kedua bola mataku dengan ekspresi jengah.

“Jung-ah, berhenti merengek… Kau membuat suasana semakin panas.” tegurku dengan nada malas semalas saatku melirik eskrim di hadapanku yang sudah hampir mencair dalam waktu singkat.

“Yaa! Suasana hatiku sedang buruk karena cuaca panas, kau jangan membuatnya semakin parah, Kang Yuuri si ‘yeoja biasa’!” kata Iseul dengan mata memicing tajam ke arahku.  Keundae, tadi dia bilang apa?? Kang Yuuri si ‘yeoja biasa’???

Neo…” kataku menggantung saat aku sudah siap memaki chingu-ku tersebut karena tiba-tiba saja ponselku berbunyi. Langsung kuambil benda itu dan seketika aku berdecak kesal saat melihat si penelepon. Aisshhh jinjja… kenapa disaat suasana buruk begini, orang ini malah meneleponku dan membuat suasana hatiku semakin buruk??

Mwoya??!!” seruku dengan nada setengah kesal saat kujawab panggilannya dan aku yakin setelah ini dia pasti akan memekik histeris lalu mengataiku tidak sopan.

Eodiggayo?” tanyanya dengan suara… lirih. Hei, wae irae? Kenapa suaranya terdengar lemas sekali??

“Yaa! Neo wae irae? Kenapa suaramu lemah sekali?”

“Bisakah kau temui aku di jembatan itu? Aku mempunyai tugas untukmu.” katanya tanpa peduli dengan pertanyaanku yang belum dijawabnya.

Mworago? Yaa, apa kau tidak meli… Yaa! Yaa! Yaa! Namja pabbo!!” teriakku di telepon dan, binggo!! Bagus Key, kau selalu mematikan telepon sesukamu!

“Aisshh… apa namja gila ini tidak sadar seberapa panas cuaca sekarang? Untuk apa minta bertemu di tempat yang sama sekali tidak terlindung dari panas matahari?!” gerutuku kesal.

Waeyo?” tanya Iseul heran.

“Ck, namja pabbo itu benar-benar menyebalkan!”

“Apa Key Oppa memberimu perintah lagi?”

Ne.” kataku seraya mengangguk lemah. “Dia benar-benar gila! Teganya memberikanku perintah dicuaca sepanas ini? Apa dia tidak memiliki rasa kasihan terhadapku?” keluhku.

Aigo… kasihan sekali.” kata Iseul yang hanya kurespon dengan helaan napas panjang dariku.

***

Author POV

Seorang yeoja tampak berlari dengan semangatnya menuju sebuah tempat. Panas terik siang ini membuat semua orang lebih memilih untuk berdiam diri di tempat teduh atau sebisa mungkin untuk berlindung dari teriknya matahari. Akan tetapi berbeda dengan yeoja itu yang saat sama sekali tidak mempedulikan panas matahari yang sangat menyengat. Wajahnya terlihat ceria walaupun tidak bisa dihitung berapa kali sudah ia mengelap keringat yang mengucur deras di wajahnya.

Dalam hati berkali-kali ia mengucapkan ‘Key Oppa, tunggulah sebentar lagi’, dan tiap kali ia mengucapkan itu, sebuah senyuman lebar nan manis kembali bertengger di wajahnya. Kalimat itulah yang menjadi penyemangatnya dan membuatnya tidak mempedulikan sengatan matahari yang luar biasa panasnya. Akan tetapi tiba-tiba saja langit yang tadinya sangat terik mendadak berubah kelam. Awan hitam mulai berkumpul dan membuat langit yang tadinya terang benderang langsung berubah gelap pekat.

Sepertinya ramalan cuaca hari ini meleset-pikir yeoja itu sambil terus berjalan. Ne, ia tidak lagi berlari karena tepat di seberang sana adalah tempat dimana ia akan menemui seseorang yang sejak tadi dicarinya. Sialnya, belum sempat ia menemui orang itu hujan sudah turun dengan derasnya. Yeoja itu sempat kebingungan sebentar karena ia sama sekali tidak membawa payung. Tapi sama seperti saat cuaca panas tadi, hujan deras inipun sama sekali tidak dipedulikannya. Ia terus berjalan dengan semangatnya tanpa peduli dengan tubuhnya yang sudah basah kuyup.

Sesampainya di tempat tujuan yaitu sebuah taman, ia langsung celingukan kesana kemari mencari seseorang dan tatapannya langsung tertuju pada sebuah jembatan yang disana tampak seorang namja sedang berdiri di dalam hujan. Langsung ia berlari menghampiri namja itu.

Oppa!” seru yeoja itu sedikit keras. Mendengar itu, langsung saja namja tadi menoleh cepat dan langsung memasang ekspresi kaget saat melihat si yeoja.

“I… Iseul-ah…” kata namja tadi-Key. Ia menatap Iseul yang basah kuyup kehujanan lalu buru-buru menarik tangan yeoja itu dan membawanya berteduh di bawah tempat duduk yang ada atapnya di taman.

“Yaa! Kenapa kau ada disini? Dan lagi kenapa kau hujan-hujanan? Kau bisa sakit kalau basah kuyup begini?!” omel Key seraya mengusap kedua lengan Iseul berusaha mengeringkan tubuh yeoja itu yang basah. Sadar usahanya itu sia-sia, iapun langsung membuka ranselnya yang sengaja di tinggalkannya di tempat itu lalu mengeluarkan jaket tebalnya.

Aigo… Kau harus segera pulang kalau tidak mau sakit Iseul-ah.” kata Key seraya memakaikan jaketnya itu pada Iseul.

Oppa, apa perintahmu?” tanya Iseul yang seketika membuat Key terdiam. Ia menatap Iseul dengan ekspresi bingung.

“Perintah apa?” tanya Key.

“Perintah yang akan kau berikan pada Yuuri. Saat ini dia sedang ada kegiatan lain jadi tidak bisa menemuimu, makanya aku menawarkan diri untuk menggantikannya. Katakan perintahnya, Oppa. Aku janji akan melakukannya sebaik mungkin.” kata Iseul. Key terdiam untuk beberapa saat, ia tampak menatapi Iseul dengan ekspresi yang sulit untuk diartikan.

“Iseul-ah, mianhae… tapi yang seharusnya menerima perintah dariku adalah Yuuri, bukan kau. Aku bisa menundanya sampai Yuuri tidak sibuk lagi. Mianhae, sudah merepotkanmu.” kata Key.

Oppa…”

“Pulanglah, kau akan sakit kalau tidak segera mengeringkan tubuhmu.” kata Key lagi lalu beranjak dari tempat itu sambil menerobos derasnya hujan, meninggalkan Iseul yang masih terdiam kaku di tempatnya sambil menatapi punggung Key yang semakin menjauh.

 

TBC

Yuhuuuu… Part 4 udah selesai gue buat + poster amatiran yang gue buat setengah hidup!! Heheee… readers-nya masih sepi aja ya… Gak apa-apa dehhh… Biar sepi, gue tetap semangat nge-publis tulisan-tulisan gaje gue (apalagi tulisan yang ini). So… mohon maaf kalo ada banyak typo disini. Ngomong-ngomong ada yang nungguin kelanjutannya gak? Kira-kira bakal gue publis dalam waktu yang lama. Trus, kalo udah mampir, jangan lupa tinggalin jejak kalian yah guys… Gumawo…

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s