LOVE YOU MORE (PART 3)

Published July 27, 2012 by kangyuuri

LOVE YOU MORE (PART 3)

Author             : Kangyuuri

Cast                 : Key SHINee, Kang Yuuri (OC).

Other Cast       : Jung Il Woo, Jung Iseul, Choi Minho, Choi Sooyoung, Kim Myungsoo, Lee Gikwang, Jung Jinyoung, Im Yoona, Jung Nicole, Kang Minhyuk, de el el (banyak bener, emang mo bikin sinetron?/plakkk!

Genre              : Romance, Sad, comedy (mungkin) , heheheee… pokoknya campur aduk!

Length             : Chapter

Uwaaaa… akhirnya, bisa juga gue nge-publis nih ff gaje! Walaupun readers-nya masih belum banyak, gue tetep senang kog bisa ngasih satu karya gue (walaupun abstrak bangettzzz). Oh iya, gue minta maaf banget di part sebelumnya banyak banget typo-nya, apalagi other cast-nya. Nahh… disini gue mau ngelurusin masalah ketidak-jelasan tersebut takut ada readers yang salah paham (readers: emang penting??).

Jinyoung itu ternyata marga-nya ‘Jung’ bukan ‘Kim’ seperti yang gue publis di part 2. Mianhae… gue baru tau (sambil bungkuk badan). Trus masalah Il Woo, setelah gue ngorek-ngorek informasi tentang dia akhirnya nemuin satu fakta yaitu selisih umur dia beda jauh dengan other cast lainnya. Jadi disini gue bikin dia itu namja yang udah bekerja tapi tetap temenan ama cast-cast yang lain walaupun umur mereka beda jauh. So… mohon maaf lagi kalau masih banyak terdapat typo-typo yang lain.

Uppss… kayaknya gue kebanyakan ngebacot deh. Daripada ntar gue ditimpuk ama readers pake Abang Konci (wahh… keenakan donk gue/plakk), mending langsung aja deh baca ceritanya… Ini dia… LOVE YOU MORE PART 3!! CEKIDOTTT!!

LOVE YOU  MORE (PART 3)

Story by: Kang_Yuuri

 

Still Author POV…

Seorang yeoja yang masih menggunakan seragam SMA tampak berlari dengan tergesa-gesa menuju universitas Seoul. Ransel yang digantungkannya di punggungnya tampak bergoyang ke kiri dan ke kanan mengikuti derap langkah yeoja itu. Teriknya matahari dan juga panas yang menyengat sama sekali tidak dipedulikannya. Bahkan keringat yang membanjiri sekujur tubuhnya juga tidak dihiraukannya. Yang ada dipikirannya adalah bagaimana ia bisa sampai di tempat tujuan secepat mungkin agar namja setan yang saat ini sedang menunggunya tidak mengomel panjang walaupun itu mustahil karena ia memang sudah sangat-sangat-sangaaattttt terlambat!

Aisshh… Jinjja… namja setan itu benar-benar menyebalkan!! Runtuk yeoja itu-Yuuri, sepanjang ia berlari. Ia sudah hampir kehabisan napas saat di depannya sudah terlihat sebuah gapura besar yang merupakan pintu masuk utama universitas Seoul. Tinggal sedikit lagi ia bisa sampai pada tujuan utamanya, yaitu namja setan yang mengaku bernama ‘Key’. Akan tetapi sesuatu hal membuatnya sontak menghentikan langkah dan berdiri mematung di tempatnya. Sesuatu yang sama dengan yang dilihatnya semalam.

Sesuatu itu… bukan, tapi Nicole tampak sedang bermesraan di dalam sebuah mobil mewah yang semalam juga dilihatnya. Jaraknya dengan mobil itu sangat dekat hingga ia bisa melihat apa yang tengah dilakukan oleh Nicole di dalam mobil itu. Nicole dan pasangannya tampak sedang beradu ‘scene’ yang setahu Yuuri sering dilakukan oleh orang-orang dewasa. Ok, Nicole memang orang dewasa, tapi yang membuat Yuuri sedikit meradang adalah ia melakukannya dengan orang lain, bukan dengan Key yang juga setahu Yuuri adalah namja chingu-nya.

Dua orang yang sedang asyik melumat bibir satu sama lain itu tampak tidak terganggu sama sekali dengan keberadaan Yuuri yang terus menatap mereka dengan tatapan murka. Hingga untuk 15 menit kemudian saat sang yeoja-Nicole- memutuskan untuk mengakhiri kegiatan mereka yang mungkin karena sama-sama kehabisan napas. Penampilan kedua orang itu tampak sangat berantakan dan Nicole terlihat sibuk merapikannya sebelum ia memutuskan untuk keluar dari dalam mobil itu. Nicole melambaikan tangannya sambil tersenyum manis saat mobil itu mulai bergerak meninggalkannya.

Melihat itu Yuuri berencana untuk ‘melabrak’ Nicole, tapi ntah kenapa nyali lenyap seketika saat mata elang Nicole mendelik tajam ke arahnya. Dengan langkah angkuh yang sama sekali tidak diperlihatkannya semalam saat di rumah Iseul, yeoja itu berjalan mendekati Yuuri. Melihat Nicole berdiri di hadapannya, Yuuri merasa sangat tegang. Ia merasa betapa sempurnanya yeoja di hadapannya ini.

“Kau temannya Iseul, dongsaeng-nya Il Woo Oppa-kan?” tanyanya dingin.

Ne…” jawab Yuuri pelan tanpa berani menatap Nicole. Ntah hilang kemana semua keberaniannya tadi saat menatap murka Nicole yang sedang bercumbu di dalam mobil.

“Kau melihat kejadian tadi?” tanyanya lagi. Yuuri seketika mengangguk lemah dan masih tidak berani menatap Nicole. “Kuperintahkan kau untuk tidak memberitahukannya pada Key!” kata Nicole tegas yang seketika membuat Yuuri mendogakkan kepalanya. Mendengar Nicole menyebutkan nama ‘Key’, Yuuri mendadak mendapat sedikit keberanian untuk menatap yeoja di hadapannya itu.

“Key bercerita padaku kalau kau menjadi ‘budak’nya selama 100 hari karena kau menghilangkan cincin Key. Asal kau tahu, cincin itu adalah simbol hubungan kami. Kau menghilangkannya, sama saja artinya kau menghina kami.” kata Nicole yang masih dengan nada dinginnya.

Mianhae, Eonni… Aku tidak sengaja untuk menghilangkannya.” kata Yuuri pelan.

Arraseo, tidak masalah bagiku cincin itu mau hilang atau tidak.” kata Nicole yang seketika membuat hati Yuuri mencelos. “Tapi sekarang, yang harus kau lakukan adalah menuruti kata-kataku! Jangan pernah mengungkit kejadian tadi di hadapan Key, anggap kau tidak pernah melihatnya! Kau harus menuruti kata-kataku seperti kau menuruti perintah Key! Arrachi?!” kata Nicole tegas. Yuuri menghela napas berat seraya mengepalkan tangannya karena menahan kesal. Setelah mengumpulkan keberanian, ia berusaha menyampaikan apa yang ingin diucapkannya.

Eonni, naega…”

Chagiya…” kata-kata Yuuri menggantung saat mendengar sebuah suara berat dan parau yang sontak membuatnya dan juga Nicole menoleh. Ada Key yang berdiri tak jauh dari mereka. “Apa yang kau lakukan disini?” tanya Key seraya berjalan mendekat.

“Key-ah…” panggil Nicole. Key yang saat itu berjalan mendekati Nicole seketika berhenti berjalan saat matanya menangkap sosok Yuuri.

Neo…” katanya seraya membelalakan matanya. Namja itu kemudian berjalan cepat ke hadapan Yuuri. “Kau terlambat, Kang Yuuri si yeoja biasa!!” seru Key tepat di hadapan Yuuri yang seketika membuat yeoja itu menutup mata.

“Yaa! Aku menunggumu sangat lama, kenapa muncul disini?! Bukannya sudah kubilang temui aku di gedung olahraga! Kau tahu berapa lama aku menunggumu, huh?!” omel Key dengan lengkingan suara ‘merdu’nya.

Arraseo! Apa kau bisa tidak berteriak-teriak ditelingaku?! Apa kau ingin membuatku tuli, huh, namja pabbo?!” omel Yuuri juga.

“Aisshh… bocah ini! Kau itu bersalah, seharusnya kau minta maaf! Lagipula, apa kau bisa berhenti memanggilku namja pabbo?! Aku ini lebih tua darimu, seharusnya kau memanggilku Oppa!!”

“Aku akan berhenti memanggilmu namja pabbo kalau kau juga berhenti memanggilku ‘si yeoja biasa’! Dan kutegaskan sekali lagi, aku tidak akan pernah memanggilmu Oppa SE-LA-MA-NYA!!”

Neo…” kata Key menggantung saat tiba-tiba ia merasa tangannya digenggam oleh seseorang.

Chagiya…” panggil Nicole yang seketika membuat Key menoleh ke arahnya. “Hentikan pertengkaran tidak berguna ini. Lihat, kalian benar-benar terlihat konyol.” kata Nicole lembut. Yuuri langsung mendelik tajam ke arah yeoja itu karena perubahan sikapnya yang 180o berbeda dengan sebelum kedatangan Key. Key menghela napasnya panjang untuk meredam emosinya.

Mianhae, Chagi…” kata Key. “Yaa, mana air yang kuminta belikan tadi?” tanya Key. Yuuri mencibir dan dengan emosi yang masih meledak-ledak ia mengeluarkan sebotol isotonik dari dalam ranselnya lalu menyerahkannya pada Key.

Chagiya, untuk apa kau meminta Yuuri membawakan isotonik ini? Bukankah air ini banyak dijual di mesin-mesin minuman yang ada di kampus?” kata Nicole. Mendengar itu Yuuri langsung menatap Key tajam seakan ingin melumat namja itu sampai habis.

“Aa… itu… waktu 100 hari terus berjalan, sementara hari ini aku sama sekali tidak tahu perintah apa yang harus kuberikan pada bocah ini. Sayang sekali kalau satu hari terbuang sia-sia, jadi kusuruh saja dia membelikanku isotonik di luar.” kata Key santai seraya menyengir lebar. Ia langsung menghentikan cengirannya saat Yuuri memasang wajah murka padanya.

“Ah Chagiya, sepertinya kita harus cepat-cepat ke kelas, sebentar lagi kuliah akan dimulai. Kajja, kajja! Yuuri-ssi, gumawo sudah membawakanku isotonik. Hati-hati di jalan, annyeong!” kata Key yang tampak buru-buru pergi menjauh karena takut melihat wajah murka Yuuri. Yuuri terus menatap dua orang yang sekarang berjalan menjauhinya. Ia mengepalkan tangannya lagi saat melihat sorot tajam Nicole yang terarah padanya sebelum yeoja itu menghilang di balik gapura universitas Seoul.

***

Iseul POV

Huh, bosannya! Saat ini aku benar-benar merasa saaaangaatttt bosan! Sama sekali tidak ada yang bisa kulakukan. Bukannya tidak ada, tapi aku yang bingung ingin melakukan apa. Lagipula sekarang aku sedang sendirian, disini, di halte ini, dan diperburuk dengan hujan deras yang sekarang menjebakku untuk terus meringkuk di halte. Aarrgghhh… sialnya aku! Seharusnya tadi aku mengikuti ajakan Yuuri untuk pulang bersama, bukannya malah berkeliaran di mall.

Pabbo! Jung Iseul neo pabboya! Pabbo! Pabbo! Jeongmal pabboya!!” runtukku seraya memukul-mukul pelan kepalaku.

Huufffttt… Kutatap (lagi) langit di atasku yang masih saja tampak gelap sejak 2 jam yang lalu. Menyadari kalau hujan tidak akan berhenti dalam waktu dekat, untuk kesekian kalinya aku menghela napas panjang dan menghembuskannya kuat-kuat. Ini selalu kulakukan kalau aku sedang bosan, benar-benar bosan!

Kusandarkan kepalaku pada tiang besi yang ada di sampingku. Dalam hati aku terus berharap semoga hujan ini akan segera berhenti atau paling tidak ada bus yang lewat. Akan tetapi, hampir 15 menit aku menunggu tidak ada tanda-tanda untuk kedua harapanku itu terkabul. Akhirnya kupejamkan mataku untuk mencoba tidur selagi menunggu hujan reda. Walaupun kupejamkan mataku, aku tidak benar-benar tertidur. Telingaku masih bisa mendengar dengan jelas suara seorang namja yang tampaknya baru saja berlindung di halte ini. Suara tampak berat, parau, dan terdengar… berisik sekali. Kedengaran dari suaranya kalau saat ini ia sedang mengomel panjang gara-gara kehujanan. Huh, aneh! Hujan sudah sedari tadi, kenapa ia malah mengomel karena kehujanan sekarang? Sudah tahu hujan, kenapa juga harus hujan-hujanan?!

Namja itu terus mengomel, terus dan terus. Aku yang sejak tadi berusaha untuk tidak memperdulikannya, sekarang benar-benar merasa terganggu. Sambil berdecak kesal, kubuka mataku lalu kutatap namja itu. Akan tetapi, saat melihat namja yang sejak tadi menggangguku, mendadak mataku membulat tidak percaya.

OOppa…” kataku terkejut, benar-benar tidak percaya dengan apa yang kulihat sekarang. Namja yang sejak tadi terus mengomel-yang menurutku sangat berisiki-itupun menoleh dan sama seperti ekspresiku saat melihatnya, iapun juga memasang ekspresi wajah yang sama terkejutnya saat melihatku.

Neo… Iseul-ah…” katanya seraya menunjukku. Dia… Key Oppa, namja yang akhir-akhir ini mampu menyita perhatianku dan sukses membuatku menjadikannya targetku selanjutnya. Yah… setidaknya itu sebelum aku mengetahui kalau dia sudah memiliki yeoja chingu, Nicole unnie-seorang yeoja sempurna yang-menurutku-memiliki kecantika luar biasa.

“Kenapa Oppa bisa ada disini?” tanyaku seraya berjalan mendekatinya dan duduk di sampingnya.

“Aku sedang dalam perjalanan pulang. Kukira hujan sudah benar-benar berhenti, tapi ditengah perjalanan hujan turun lagi dan aku terpaksa berlari kesini.” jawab Key Oppa seraya mengusap-usap lengan bajunya yang tampak basah. “Kau sendiri, kenapa masih disini? Bukannya sekolah sudah usai dari tadi siang? Aa… Biar kutebak, kau pasti berkencan dulu dengan namja chingu-mu sehabis pulang sekolah tadi? Yaa, mana dia? Kenapa membiarkanmu sendirian ditengah hujan begini?” tanya Key Oppa seraya celingukan tidak jelas.

Anniyo, Oppa! Aku tidak berkencan, lagipula aku tidak punya namja chingu.” jawabku jujur. Mendengar itu tiba-tiba saja Key Oppa tersenyum nakal ke arahku.

“Heheheee… Arraseo. Kaukan menyukaiku jadi mana mungkin kau berkencan dengan namja lain. Lagipula kau juga sudah berjanji mau menungguku putus dari Nicole.” katanya dengan nada menggoda. Ucapan Key Oppa tadi sontak membuat wajahku panas.

Oppa, jangan menggodaku!” kataku seraya meninju pelan lengannya. Melihat tingkahku itu Key Oppa sontak tertawa.

Aigo… siapa yang menggodamu? Aku sama sekali tidak menggodamu, kau sediri yang mengatakan itu semalam.” kata Key Oppa lagi. “Yaa, Iseul-ah, ayo kita menjalin hubungan di belakang yeoja chingu-ku! Bukankah itu yang kau mau?” godanya lagi.

Oppa! Berhenti menggodaku!” kataku lagi lalu menggembungkan pipiku seolah-olah sedang merajuk. Key Oppa semakin tergelak dan aku benar-benar menikmati suara tawa dari namja ini. Suaranya berat, parau, dan sangat memperlihatkan kharakter seorang namja.

Arra, arra. Aku hanya bercanda.” katanya lagi setelah berhenti tertawa. Aku berniat sedikit menggodanya dengan berpura-pura marah dan sama sekali tidak mau bicara dengannya. “Yaa! Iseul-ah, mianhae… Akukan hanya bercanda, kenapa kau menganggapnya serius?”

“……”

“Iseul-ah… Jangan marah begini, jebal…” katanya memohon-mohon padaku sambil menarik-narik sebelah tanganku. Tapi aku tetap tidak menjawab dan tidak menatapnya. “Yaa! Jung Iseul, baiklah kalau kau tidak mau bicara denganku. Akan kubuat kau mau bicara dan menatapku!” kata Key Oppa. Hemm… kira-kira apa yang akan dilakukan namja ini ya?

Ditengah-tengah  rasa penasaranku, tiba-tiba saja Key Oppa menggelitiki pinggangku dengan kedua tangannya. Tingkahnya itu tentu saja membuatku spontan tertawa dan menggeliat karena geli. Aku berusaha melepaskan tangannya dari pinggangku, tapi Key Oppa terus saja menggelitiki tubuhku. Aku mati-matian menahan rasa geli sampai air mataku keluar.

Oppa… hentikan Oppa! Jebal! Kyaaa… hahahahaa… Op…pha… Ahahahaaa…”

“Akan kuhentikan kalau kau tidak marah lagi.”

Ne ne ne… Aku tidak marah lagi. Ahahahaaa… Oppa… geli…”

Akhirnya Key Oppa menghentikan aksinya. Aku menyapu air mataku yang keluar karena tertawa menahan geli di pinggangku dengan napas tersengal-sengal. Napas Key Oppa juga tampak turun naik.

“Jadi… kau sudah tidak marah lagi?” tanya Key Oppa.

Nhe…” jawabku dengan napas yang masih tersengal-sengal. “Aku tidak marah kog, aku hanya ingin menggoda Oppa.” kataku lagi seraya memeletkan lidahku padanya.

“Isshhh… bocah ini…”

“Kyaa…” teriakku seraya bangkit dan berlari menghindari Key Oppa yang tampaknya akan kembali menyerangku. Sesaat kami berdua tampak saling berkejaran seperti layaknya anak kecil di tengah hujan yang sedang menguyur Seoul dengan derasnya.

Oppa!” panggilku setelah kami sama-sama duduk karena kelelahan sehabis berlarian.

“Hmmm?” gumam Key Oppa menjawab panggilanku.

“Kenapa Oppa bisa kenal dengan Yuuri?” tanyaku. Jujur, aku sangat penasaran dengan hal itu dan merasa tidak puas dengan hanya mendengar ceritanya dari mulut Yuuri saja.

“Yuuri? Kang Yuuri si ‘yeoja biasa’?” Key Oppa balik bertanya seraya menoleh ke arahku dengan kedua alis terangkat.

Oppa kenapa menyebutnya si ‘yeoja biasa’?”

“Isshh… Pertanyaanmu itu banyak sekali, aku bingung menjawabnya.”

“Jawab saja semuanya, Oppa! Aku penasaran.”

“Aisshh… Memangnya yeoja itu tidak menceritakannya padamu?”

“Aku ini sahabatnya, Oppa, jadi mana mungkin Yuuri tidak menceritakannya padaku.”

“Lalu untuk apa kau bertanya lagi padaku kalau sudah tahu?” kata Key Oppa.

“Aku penasaran dengan cerita versi ‘Key Oppa’.” jawabku seraya terseyum.

Aigo… kau ini. Versiku ataupun versi Yuuri itu sama saja. Apa yang sudah diceritakan Yuuri, begitulah kejadiannya.” kata Key Oppa.

Mendengar itu aku sontak menggembungka kedua pipiku. “Akhh… Oppa tidak seru! Setiap kali Yuuri bercerita tentang Oppa, dia selalu emosi. Dimatanya kau itu benar-benar jahat, Oppa.” kataku. Mendengar itu Key Oppa sontak tergelak.

Jinjja?” tanyanya disela-sela tawanya. “Itu pasti karena aku selalu membuatnya kesal. Aigooo… dia benar-benar menarik!”

Oppa!”

Ne?”

“Kau bilang Yuuri yeoja yang menarik, tapi kenapa kau menyebutnya ‘Kang Yuuri si yeoja biasa’, Oppa? Kau tahu, Yuuri nyaris saja ingin memakanmu hidup-hidup karena kesal.” tanyaku lagi yang kali ini benar-benar penasaran. Kutatap lekat Key Oppa yang tampak kembali tertawa.

“Ahahahaaa… Aigo… Sudah kuduga, dia memang menarik.” kata Key Oppa yang membuatku semakin penasaran. “Iseul-ah, tidak baik membicarakan orang lain, eo.” kata Key Oppa lagi. Aku terus menatapnya berharap ia akan kembali melanjutkan ucapannya.

“O… busnya sudah datang! Kajja, kita pulang!” kata Key Oppa saat melihat sebuah benda berwarna merah mendekat dari kejauhan. Aku menatapnya dengan perasaan sedikit kecewa karena ternyata ia tidak menjawab pertanyaanku tadi.

Kajja, Iseul-ah!” katanya seraya bangkit. Buru-buru kutepis rasa kecewaku tadi dan kembali memasang wajah ceriaku.

Oppa, kau akan mengantarku pulangkan?” godaku manja. Ia menoleh menatapku yang sontak mengeluarkan senyuman termanisku.

“Hahhh… Baiklah, aku akan mengantarmu pulang. Il Woo Hyung pasti akan melumatku sampai habis kalau membiarkan dongsaeng kesayangannya pulang sendirian malam-malam.” kata Key Oppa.

“Yeee!!! Gumawo Oppa!” seruku girang yang langsung memeluk lengan tangannya dan mengikuti langkahnya memasuki bus yang sudah berhenti sempurna di halte. Aigo… beruntungnya aku saat ini!

***

Kang Yuuri POV

“Kuperintahkan kau untuk tidak memberitahukannya pada Key!”

“Arraseo, tidak masalah bagiku cincin itu mau hilang atau tidak. Tapi sekarang, yang harus kau lakukan adalah menuruti kata-kataku! Jangan pernah mengungkit kejadian tadi di hadapan Key, anggap kau tidak pernah melihatnya! Kau harus menuruti kata-kataku seperti kau menuruti perintah Key! Arrachi?!”

Hahhh… Kuhembuskan napasku untuk kesekian kalinya, berat dan panjang. Angin sepoi-sepoi malam ini yang kunikmati di balkon kamarku, tidak berefek sama sekali untuk menghilangkan pikiran-pikiran tidak jelas yang menghantuiku sejak siang tadi. Nicole… dan namja setan bernama Key. Yah… sejak kepulanganku dari universitas Seoul untuk mengantarkan minuman yang diperintahkan Key dan juga pemandangan menjijikan yang tidak sengaja kulihat sedang dilakoni oleh Nicole, terlebih lagi mengingat bagaimana hubungan yang sedang terjalin diantara kedua orang itu, membuatku tidak bisa menghilangkan dua orang itu dari pikiranku.

“Aisshh… jinjja!! Kang Yuuri pabbo, kenapa kau memikirkan masalah yang sama sekali bukan masalahmu?! Hal ini juga sama sekali tidak ada sangkut pautnya denganmu! Untuk apa kau memikirkannya sampai sejauh ini, hahhhh?!!!!”

Kuacak-acak rambutku dengan kasarnya sebagai luapan kekesalanku. Untung saat ini si monyet Minhyuk tidak ada di rumah. Kalau saja saat ini ia melihat tingkahku ini, bisa kupastikan kalau ia pasti akan menampakkan seringaian mengerikannya dan mengataiku gila. Sial, kenapa aku bisa sesial ini memiliki Oppa monyet sepertinya?!

My senorita!!

Lantunan lagu Senorita dari boyband favoritku-Shinee-menggema dari ponselku. Aku tersentak dan langsung berjalan masuk ke kamar untuk mengambil ponselku yang tergeletak manis di atas kasur. Satu pesan masuk dan aku langsung menghela napas saat membacanya.

From: Iseul

Yuuri-ya, aku senang sekali!!

Kau tahu kenapa??

To : Iseul

Memangnya ada apa? Apa terjadi sesuatu?

From : Iseul

Baru saja aku diantar pulang oleh Key Oppa.

Kami bertemu di halte. Kyaaa…. aku senang sekali!!!

Aku terdiam. Tidak tahu sekarang sedang merasakan apa. Antara senang, sedih, juga mungkin… kecewa. Cepat-cepat kutepis perasaan tidak jelas itu dan kembali membalas pesan Iseul.

To: Iseul

Jinjja? Chukkae…

Keundae, dia tidak berbuat macam-macam padamukan?

Patahkan saja tangannya kalau dia berani berbuat yang tidak-tidak padamu!

Hahhh… Lagi-lagi aku mendesah panjang. Sungguh, suasana hatiku saat ini benar-benar sangat buruk. Lagi-lagi juga aku bersyukur Minhyuk Oppa tidak ada di rumah. Bisa-bisa dia akan kucincang-cincang halus lalu kugoreng dan kujadikan makanan kucingku kalau dia berani menggangguku.

“Aku butuh udara segar!” kataku lalu meraih jaket tipisku dan langsung berjalan keluar.

***

Author POV.

Seorang namja tampak baru saja keluar dari sebuah kafe sambil menenteng sebuah tas yang berisi gitar besar. Ia tampak melambai dan tersenyum pada orang-orang yang masih berada di dalam kafe tersebut. Sesaat kemudian iapun langsung berjalan menjauh setelah menyampirkan tas yang ditentengnya ke bahu. Tapi baru beberapa langkah, ia berhenti lagi. Matanya menatap lurus ke depan dan tampak memperhatikan gerak-gerik obyek yang ditatapnya. Obyek itu terus berjalan lurus sambil menunduk tanpa memperhatikan keadaan di hadapannya.

“Yaa! Eodiggayo?!” tanya namja itu seraya menarik tangan si ‘obyek’ yang sejak tadi diperhatikannya. Si ‘obyek’ berhenti dan menoleh.

“O… Il Woo Oppa!” kata si ‘obyek’ dengan ekspresi terkejut.

“Yuuri-ya, kenapa berkeliaran malam-malam begini?” tanya Il Woo.

Eobseoyo Oppa, hanya ingin jalan-jalan saja.” jawab Yuuri. “Oppa, kau darimana?”

“Aku baru saja dari kafe temanku. Kau ingat, Choi Minho dan Choi Sooyoung, itu kafe mereka.” tunjuk Il Woo pada sebuah kafe yang tidak jauh dari mereka berdiri. Yuuri hanya membulatkan mulutnya dan mengangguk kecil. “Yaa! Kenapa kau bisa keluar malam-malam begini? Biasanya kau sangat jarang keluar kalau malam.”

“Aku hanya sendirian di rumah, Oppa, sepi sekali.”

“Kemana ahjumma dan ahjussi?”

Eomma dan appa keluar kota, ntah sampai berapa lama.”

Geurae, lalu Minhyuk?”

Oppa, kau tahukan Minhyuk Oppa itu jadwal kuliahnya sore dan baru berakhir malam hari. Lagipula Oppa, kenapa pertanyaanmu banyak sekali? Aku bosan menjawabnya.” celetuk Yuuri yang sontak membuat Il Woo tertawa.

“Hahahaa… Arraseo. Sekarang kau ingin kemana? Kulihat tadi kau suntuk sekali, berjalan sambil menunduk bahkan aku yang ada di hadapanmu-pun tidak kau lihat.”

Mwolla, aku juga tidak tahu ingin kemana. Hanya ingin keluar jalan-jalan saja. Oppa, apa kau sudah ingin pulang?”

Anniyo, aku ingin bermain basket dulu dengan teman-temanku. Kau mau ikut?”

“Memangnya boleh, Oppa?” tanya Yuuri yang tampak senang karena memiliki kegiatan yang bisa mengalihkannya dari pikiran-pikiran yang terus mengganggunya.

“Tentu saja. Kajja!!” kata Il Woo seraya merangkul bahu Yuuri dan membawanya berjalan mengikutinya.

***

Neo wae irae?” tanya Key seraya duduk di samping Minhyuk yang saat ini tampak sedang kebingungan. Dahinya berkerut, dan ia tampak sedari tadi terus memutar-mutar stik drumnya. Mendengar suara Key, Minhyuk sontak menoleh.

“Key-ah… Ottokhae?” kata Minhyuk lirih.

Waeyo? Apa ada masalah?” tanya Key.

“Emm, masalah besar!” kata Minhyuk seraya mengangguk lemah.

“Masalah besar apa?”

“Minggu depan kelasku akan ada penelitian selama 2 minggu ke pulau Nami dan semua mahasiswa harus ikut.”

“Yaa, penelitian apa ke pulau Nami? Kalian penelitian atau jalan-jalan, huh?” kata Key. Minhyuk hanya meliriknya lalu menghela napas panjang. Key tahu, ini bukan saatnya bercanda karena sahabatnya ini tampak sedang kebingungan saat ini. “Arraseo, lalu masalahnya apa? Kaukan tinggal pergi bersama rombongan mahasiswa yang lain. Aa… Apa kau tidak memiliki uang untuk biaya penelitian?”

Anniyo, ini bukan masalah uang, tapi dongsaeng-ku.” kata Minhyuk yang masih dengan ekspresi penuh beban.

Dongsaeng?” kata Key bingung. “Memangnya sejak kapan kau punya dongsaeng?”

“Tentu saja aku punya dongsaeng, pabbo!”

Jinjja? Kenapa aku baru tahu?”

“Hehe, Mianhae… aku juga lupa memberitahumu.” kata Minhyuk seraya menyengir lebar.

“Aisshh… kau ini. Lalu, ada masalah apa dengan dongsaeng-mu? Apa dia manja dan sangat bergantung padamu? Keundae, dongsaeng-mu itu namja atau yeoja?”

Yeoja. Dia sama sekali bukan tipe yeoja manja, dia sangat mandiri, agak sedikit keras kepala, dan galak sekali.”

Geuraeyo, lalu masalahnya apa?”

“Aku tidak bisa meninggalkannya dalam waktu sebulan ini.”

Waeyo? Bukankah dia sangat mandiri?” tanya Key heran.

Appa dan eomma tidak ada di rumah karena ada urusan di luar kota selama sebulan, jadi hanya tinggal kami berdua. Kalau aku juga pergi, dongsaeng-ku akan berada sendirian di rumah. Aku tidak mungkin meninggalkannya sendirian saja.” kata Minhyuk pelan. “Aku juga tidak boleh tidak ikut dalam penelitian kali ini. Ottokhaeyo?”

“Tenanglah, bukankah kau bilang dongsaeng-mu sangat mandiri. Dia pasti bisa mengurus dirinya sendiri selama kau tidak ada.” kata Key yang berusaha menenangkan Minhyuk.

Arraseo, tapi tetap saja aku sangat khawatir padanya. Dia seorang yeoja yang masih sangat kecil. Aku takut kalau terjadi sesuatu padanya saat aku tidak ada, siapa yang akan menjaganya? Aigo… Kasian Yuuri…”

Chakkamman, siapa nama dongsaeng-mu?” tanya Key tiba-tiba saat Minhyuk menyebut nama ‘Yuuri’.

“Yuuri… Kang Yuuri. Wae?” Minhyuk balik bertanya karena bingung dengan reaksi Key yang tiba-tiba. “Il Woo hyung bilang kalian sudah berkenalan waktu Yuuri ke rumahnya.”

“Jadi dia dongsaeng-mu?” tanya Key lagi yang langsung dianggukkan oleh Minhyuk. Untuk sesaat Key tampak menyeringai penuh  arti dan Minhyuk hanya menatapnya dengan ekspresi bingung.

Waeyo? Ada masalah?”

Anniyo. Yaa, Minhyuk-ah, kalau kau mau aku bersedia membantumu menjaga dongsaeng-mu selama kau tidak ada.” kata Key.

Jinjja?” kata Minhyuk yang tampak langsung bersemangat, tapi beberapa detik kemudian ia kembali lesu lagi. “Anniyo, aku tidak mau merepotkanmu. Kasian kalau kau harus menjaga Yuuri, kau pasti akan kerepotan.”

Gwaenchana, sama sekali tidak merepotkan. Adikmu sangat manis, pasti menyenangkan saat bersamanya di rumah. Tenanglah, kau bisa menyerahkan dongsaeng-mu padaku. Yuuri biar aku yang menjaganya dan kau pergilah penelitian dengan tenang.” kata Key serius dengan wajah bak malaikat penolong.

Jinjja? Kau benar-benar ingin menolongku?” tanya Minhyuk seraya menatap Key penuh harap dan Key-pun sontak menganggukkan kepalanya pasti. Mendadak dalam pandangan Minhyuk, Key berubah menjadi seorang malaikat yang bersinar terang benderang. “GumawoGumawoyo! Aku bisa tenang kalau Yuuri dijaga olehmu. Aku berhutang padamu, Key!!” kata Minhyuk yang tampak sangat senang. Ia sontak memeluk Key karena saking senangnya. Sementara itu, tanpa Minhyuk ketahui, di belakangnya Key menyunggingkan senyum setannya.

Ha! Ha! Tunggu aku Kang Yuuri si ‘yeoja biasa’! Kau dapat jackpot!

***

Kang Yuuri POV

Mwo? Oppa bilang, Oppa akan pergi penelitian selama 2 minggu ke pulau Nami dan menitipkanku pada teman Oppa?” kataku dengan nada sedikit tinggi. Mendengar itu Minhyuk Oppa hanya mengangguk santai sembari mengunyah sarapannya.

“Lalu teman Oppa itu akan tinggal disini selama seminggu itu juga untuk menjagaku?” tanyaku lagi dan juga lagi-lagi dijawab Minhyuk Oppa dengan anggukan santainya. “ANDWAE!!”

Waeyo? Dia itu teman terbaik Oppa, dia orang yang baik.” kata Minhyuk Oppa setelah mendengar penolakanku.

Arraseo, aku percaya Oppa pasti tidak akan menitipkanku pada sembarang orang. Keundae Oppa, aku ini seorang yeoja sedangkan teman Oppa itu namja, apa jadinya kalau kami tinggal bersama dalam satu rumah?” kataku lagi. Aisshh… aku benar-benar tidak habis pikir dengan Oppa-ku ini, bisa-bisanya dia menitipkanku pada temannya yang sama sekali tidak kukenal. Apa jadinya nanti?

“Tenanglah. Dia itu adalah namja yang baik dan bertanggung jawab. Oppa hanya bisa tenang pergi penelitian kalau kau bersama dia. Hanya dia yang bisa Oppa percaya untuk menjagamu.”

Keundae…”

“Atau kau mau Oppa menelepon Eomma supaya pulang dan menjagamu?” kata Minhyuk Oppa. Aku terdiam sejenak memikirkan segalanya. Aku tidak mau tinggal bersama namja yang sama sekali asing denganku, tapi aku juga tidak mungkin meminta Eomma pulang untuk menjagaku. Kasian Appa kalau tidak ada Eomma. Hahhh… Sepertinya memang tidak ada pilihan lain, aku memang harus tinggal bersama namja yang tidak kukenal selama 2 minggu. Baiklah, hanya untuk 2 minggu!!

“Tenanglah, dia namja yang baik, bertanggung jawab, pintar memasak, dan juga sangat tampan. Kau pasti akan menyukainya dan senang bersamanya. Dia pasti bisa menjagamu dengan baik, sebaik Oppa menjagamu selama ini.” kata Minhyuk Oppa. Sontak aku mendelik tajam ke arahnya. Mwo? Menjagaku? Andwae! Yang ada selama ini kau hanya terus menggangguku, Minhyuk si monyet!!!

***

Key POV

Wae?!” tanya seorang yeoja yang saat ini berdiri di hadapanku. Ia terus menatapiku dengan tajamnya sedangkan aku hanya membalas tatapannya itu dengan senyuman miringku.

“Kang Yuuri si ‘yeoja biasa’…” panggilku dan dapat kutangkap dengan sudut mataku saat yeoja ini mengepalkan kedua tangannya. “Bagaimana kabarmu hari ini?” tanyaku basa-basi.

“Berhenti bersikap konyol namja pabbo, cepat katakan apa maumu?!” katanya ketus. Astaga… Dia benar-benar bocah paling kurang ajar yang pernah kukenal. Bisa-bisanya dia bicara seketus itu pada orang yan g lebih tua darinya. Sungguh, aku sedikit tidak percaya kalau ini adalah dongsaeng-nya Minhyuk. Sifatnya benar-benar berbanding terbalik.

“Kau ini tidak sopan sekali! Orang lain bertanya kabarmu, seharusnya kau jawab dia dengan benar, bukannya malah menjawabnya dengan ketus begitu.”

Arraseo. Sudahlah, berhenti membuang-buang waktuku dan cepat katakan apa yang kau mau? Apa aku harus mengerjakan tugas kuliahmu lagi, atau menemanimu bermain basket, menemanimu nonton film horor yang bahkan tidak kau lihat bagaimana hantunya, atau mungkin membelikan minuman isotonik yang banyak di jual di sekitarmu?” katanya dengan nada setengah kesal. Aigo… aku tidak bisa menahan senyumku saat melihat ekspresi kesal di wajahnya.

Anniyo…” jawabku.

“Lalu?”

“Bersihkan apartemenku!”

Mworago?” tanyanya dengan dahi berkerut.

“Nanti malam teman-temanku akan datang ke apartemenku, sedangkan aku sangat sibuk dan tidak sempat membersihkannya. Berhubung kau adalah ‘pembantuku’, jadi… sekarang juga bersihkan tempat itu!” kataku. Kulihat Yuuri seketika menatapku aneh. Dahinya berkerut dan mulutnya terbuka sedikit. Haha, mungkin dia tidak percaya kalau aku akan menyuruhnya membersihkan apartemenku. Tunggulah Kang Yuuri si ‘yeoja biasa’, kau akan semakin tidak percaya lagi kalau melihat keadaan apartemenku saat ini.

“Kau serius?” tanyanya.

Ne, sangat serius! Cepatlah, tempat itu sudah harus bersih sebelum jam 6 malam.” kataku lagi seraya menyerahkan kunci apartemenku dan secarik kertas yang berisi alamatnya.

Mwo?” kata Yuuri. Ia sontak melirik jam tangannya dan seketika berdecak kesal saat melihat jarum pendeknya menunjukkan angka 3. “Apa kau gila, hah?!!” serunya lalu langsung berbalik dan berlari meninggalkanku yang tidak dapat menahan tawa melihat tingkah konyolnya. AigoMianhae Minhyuk-ah, dongsaeng-mu sangat menarik untukku.

***

Kang Yuuri POV

“AARRGGGGHHHH!!! KUNCI PABBO, DASAR NAMJA SETAN!!!!” teriakku saat membersihkan apartemen namja setan itu. Setengah jam lalu, setelah aku berputar-putar mencari apartemen namja itu, akhirnya aku menemukannya juga. Mataku seketika membulat lebar dan bahkan mungkin hampir keluar dari rongganya saat melihat betapa mengerikannya keadaan di dalam apartemen itu. Kotor, bau, sampah berserakan kemana-mana, iihh… yiak, terlalu mengerikan untuk kugambarkan! Aku tidak percaya kalau yang tinggal di dalamnya adalah manusia. Ah, tentu saja, bukankah namja itu memang bukan manusia, dia itu setan!

Aarggghhh… dia benar-benar membuatku hampir gila!! Aku yakin, saat ini pasti rambut di kepalaku sudah berdiri semua karena saking kesalnya. Oh Tuhan, jika saja membunuh itu diperbolehkan, pasti sudah kucincang dia sampai halus dan kuberikan daging untuk makanan kucingku (astaga, lagi-lagi aku mengatakan ini!).

Jam sudah menunjukkan pukul 04.15 sore, aku sudah membersihkan seluruh area apartemen terkecuali kamar namja setan itu. Akupun bergegas menuju kamarnya dan lagi-lagi aku menampakkan ekspresi yang sama saat pertama kali melihat keadaan apartemen, ketika melihat keadaan kamar namja itu. Kamarnya tidak jauh mengerikannya seperti apartemennya sebelum kubersihkan. Baiklah… aku harus cepat-cepat membersihkan area ini sebelum jam 6 sore.

***

Minho POV

Noona!”

Pletak!!

“Berhenti memanggilku Noona, pabbo! Kita ini kembar dan tidak ada yang lebih tua atau lebih muda!” kata Sooyoung seraya melotot ke arahku sedangkan aku hanya bisa mengusap-usap kepalaku yang tadi dipukul Sooyoung dengan gulungan kertas di tangannya.

“Kau jahat sekali!”gerutuku yang hanya direspon Sooyoung dengan lirikan acuhnya.

“Mana yang lain?” Tiba-tiba saja Gikwang datang bersama dengan Jinyoung.

Mwolla, mereka belum datang. Hei Jinyoung, apa-apaan pakaianmu itu? Kenapa feminin sekali?” jawab Sooyoung yang diakhiri dengan pertanyaan lagi untuk Jinyoung.

Waeyo? Baguskan?” kata Jinyoung seraya memperlihatkan jaket berwarna pink-nya yang membuat namja itu semakin terlihat manis. Melihat itu Sooyoung langsung memasang ekspresi aneh.

Ne, bagus sekali! Kau benar-benar terlihat s-a-n-g-a-t m-a-n-i-s Jinyoungie! Kenapa tidak sekalian saja kau meminjam peralatan make up Nicole dan wig Yoona lalu menari di depan kampus kita. Kau pasti akan sangat cocok kalau ber-cosplay.” kata Sooyoung yang dibarengi dengan tawa yang dipaksakan.

“Ada apa? Kenapa menyebut-nyebut namaku?” Kami semua menoleh dan dari arah depan pintu kafe tampak Il Woo yang datang bersama dengan Yoona dan Myungsoo. Ah tidak, Minhyuk juga datang bersama mereka.

“Yoona-ya, Nicole eodigga?” tanya Sooyoung.

Mwolla, mungkin akan datang bersama Key sebentar lagi.” jawab Yoona. “Annyeong Jinyoungie, jaketmu manis! Boleh kupinjam kapan-kapan?” sapa Yoona yang kuyakin itu adalah sebuah bentuk sindiran untuk Jinyoung.

Chingu-ku yang satu itu memang ‘sedikit’ berlebihan dalam berpakaian. Kalau Key adalah fashion holic dan sangat menyukai warna pink, Jinyoung lebih parah lagi. Ia sedikit ‘gila’ terhadap segala sesuatu yang berwarna pink. Wajahnya yang imut semakin menunjang penampilannya itu untuk menjadi feminin dan juga semakin membangkitkan sifat jahil Sooyoung untuk menjadikannya bahan lelucon. Tidak bisa dihitung sekali atau dua kali Sooyoung menindas Jinyoung dengan menyuruh namja itu untuk ber-cosplay menjadi yeoja dan hasilnya sangat mengejutkan! Jika saja tidak ada yang memberitahu bahwa itu Jinyoung, kemungkinan besar Gikwang dan Myungsoo akan saling berebut untuk mengajak Jinyoung berkencan. Hahahaaa… Chingu-ku memang parah. Tapi dibalik itu semua aku memegang satu rahasia besar! Rahasia yang mampu membuat Sooyoung si evil tunduk kepadaku. Rahasia bahwa…

Pletak!!

“Kau sedang memikirkan apa, pabbo?!”

“Aiissshhh…” aku berdecak kesal seraya mengusap kepalaku kasar yang lagi-lagi dipukul oleh Sooyoung. Saudara kembarku ini sungguh keterlaluan! “Bisa kau berhenti memukul kepalaku? Kau membuat kepandaianku semakin hilang, Noona!”

Pletak!!

“Yaa!!” teriakku.

“Berhenti memanggilku Noona!” katanya tegas. “Aku akan berhenti memukul kepalamu jika kau juga berhenti memasang wajah yang memang ingin dipukul!” lanjutnya dengan ekspresi polos tanpa dosa. Aisshhh… kenapa aku sama sekali tidak bisa marah padanya?!

“Eo, kalian sudah berkumpul?” Key langsung bersuara ketika ia memasuki kafeku, di belakangnya mengikuti yeoja chingu-nya, Nicole.

“Kau lama sekali, Key! Kami sudah menunggu sejak tadi dan selama menunggumu aku sudah 3 kali dipukul Sooyoung.” kataku yang lagi-lagi dilirik Sooyoung dengan cueknya seakan ia tidak peduli padaku.

Mianhae, aku hampir lupa kalau Nicole tidak mengingatkanku. Ayo ke apartemenku!” kata Key.

“O… kalau begitu aku pergi saja.” kata Minhyuk tiba-tiba.

“M… Minhyuk-ah…” kata Key yang tampak tergeragap. Ia tampak menatapi Minhyuk dengan tatapan kaget. Hei… ada apa dengan Key?

***

Key POV

“Kau lama sekali, Key! Kami sudah menunggu sejak tadi dan selama menunggumu aku sudah 3 kali dipukul Sooyoung.” kata Minho dengan wajah sedikit merajuk. Aigo… Sooyoung memang tidak segan-segan kalau memukul orang. Yeoja evil itu tidak peduli siapapun yang akan ditindasnya.

Mianhae, aku hampir lupa kalau Nicole tidak mengingatkanku. Ayo ke apartemenku!” kataku seraya mengeluarkan cengiranku.

“O… kalau begitu aku pergi saja.” kata Minhyuk tiba-tiba.

“M… Minhyuk-ah…” Aku sontak terkejut saat melihat namja itu ada disini juga.

“Kau mau pergi kemana? Ikutlah bersama kami!” kata Il Woo hyung. Andwae, kau tidak bisa ikut Minhyuk-ah! Dongsaeng-mu ada disana! Ottokhae?!

Anniyo, Hyung. Yuuri sendirian di rumah dan aku harus pulang untuk menemaninya.” tolak Minhyuk. Baguslah kalau dia tidak ikut. Bisa pusing tujuh keliling aku untuk mencari alasan kalau dia melihat dongsaeng-nya ada bersamaku.

“Menemani siapa? Iseul bilang mereka akan mengerjakan pr bersama malam ini, jadi kemungkinan besar Yuuri ada bersama Iseul saat ini. Sudahlah, kau ikut saja.” kata Il Woo setengah memaksa.

“Minhyuk-ah, ikut saja! Temani aku, ne?” kata Yoona manja seraya menggamit lengan Minhyuk. Arrgghh… Minhyuk paling tidak tahan dengan godaan seperti ini, dia akan langsung mengangguk. Nahh… benarkan, dia langsung mengangguk saat Yoona memasang puppy eyes-nya. Bagaimana ini?

“Ya sudah, kajja!” kata Sooyoung yang sepertinya sejak tadi sudah tidak sabar lagi. Tunggulah yeoja evil, aku tahu kau sudah sangat tidak sabar untuk mengobrak-abrik apartemenku!

Chakkamman!” tahanku saat ponselku tiba-tiba berbunyi. Aku langsung menjauh sedikit untuk mengangkatnya. Untunglah saat ini eomma meneleponku, ini bisa kujadikan alibi!

“Ah… Mianhae, sepertinya kita tidak bisa ke apartemenku.” kataku dengan wajah yang kubuat semenyesal mungkin.

Waeyo?” tanya Gikwang.

Eomma datang dan sekarang mereka sudah di apartemenku. Secepatnya aku harus kembali. Mianhae, jeongmal mianhae.”

Gwaenchana, kita masih ada tempat lain yang bisa dijadikan tempat untuk berkumpul.” kata Sooyoung.

“Dimana?” tanya Myungsoo. Tiba-tiba saja wajahnya berubah waspada saat melihat Sooyoung menyunggingkan senyum evil-nya yang sering kami lihat. “Jangan bilang kalau…”

Binggo, Myungsoo-ah!! Kita berkumpul disini saja, di kafe yang paling kita cintai ini! Kalian sendiri lihatkan, pengunjung sedang ramai-ramainya, jadi memerlukan pelayan yang banyak. Kebetulan kalian semua tidak ada kerjaankan, jadi… pergilah ke kamar ganti dan ganti pakaian kalian dengan seragam yang sudah kusiapkan. Palli! Palli!” kata Sooyoung seraya mengibas-ibaskan tangannya. Aku hanya tertawa mendengus saat melihat teman-temanku tidak berdaya melawan perintah Sooyoung. Yeoja itu memang sedikit menyeramkan. Untunglah aku memiliki alibi untuk kabur dan sebaiknya segera kulakukan sebelum yeoja iblis itu menemukan cara untuk menindasku juga.

***

Author POV

Key berlari dengan tergesa-gesa setelah memarkir mobilnya di parkiran apartemen. Ia langsung menekan angka 13 pada tombol yang ada di dalam lift dan beberapa detik kemudian benda itu bergerak membawanya ke lantai yang ditujunya. Selama di dalam lift tidak henti-hentinya Key melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 05.49 sore. Bahkan ketika pintu lift terbuka, Key langsung melesat cepat menuju apartemennya dan dengan terburu-buru juga untuk memasukinya. Namja itu tampak terdiam saat melihat apartemen yang sebelumnya tampak seperti tempat sampah sudah berubah menjadi rumah yang layak untuk ditinggali oleh manusia. Ia langsung celingukan mencari sosok yang sudah berhasil menyulap apartemennya menjadi tempat yang bersih seperti sedia kala sebelum ia benar-benar malas untuk membersihkannya selama seminggu karena Choi Sooyoung si yeoja evil selalu memiliki alasan untuk membuatnya kotor lagi.

“Aissh… apa bocah itu sudah pergi?” gumam Key saat matanya tidak menangkap sosok lain selain dirinya di tempat itu. Ia terus menyapu ruangan itu dengan pandangannya, berharap sosok yang dicari-carinya muncul dengan celemek dan sapu ditangannya. Akan tetapi pandangannya langsung berhenti saat mendapati pintu kamarnya sedikit terbuka. Namja itu langsung menyeringai dan berjalan menuju kamarnya.

“Yaa, Kang Yuuri! Apa kau sud…” katanya menggantung saat melihat seorang yeoja tampak tertidur pulas di atas kasurnya. Seorang yeoja yang masih menggenakan seragam SMA yang dilapisi celemek di depannya dan juga sapu yang masih digenggam erat oleh tangannya, terbaring dan tertidur dengan lelapnya. Perlahan Key berjalan mendekatinya sambil terus menatap yeoja itu.

“Yuuri-ssi, ireona!” seru Key seraya berdiri di hadapan Yuuri yang saat ini tidur sambil membelakanginya. “Yaa! Ireonayo!” serunya lagi, tapi yeoja itu hanya mengerang kecil lalu menggeliat dan membalikkan badannya menghadap Key.

Mwo?” kata Key yang tampak tercengang melihat tingkah Yuuri yang sama sekali tidak mau bangun. “Yaa, Kang Yuuri si ‘yeoja biasa’!! Ireonahandago!” serunya lagi seraya duduk di tepian kasurnya dan menggoyang-goyangkan bahu Yuuri, tapi anehnya yeoja itu tetap tidak terusik sedikitpun.

“Mati kau namja setan! Dasar kunci bodoh!” tiba-tiba saja Yuuri mengigau dan bergumam tidak jelas tapi masih bisa dimengerti oleh Key. Mendengar itu sontak Key membelalakkan matanya.

Mworago? Isshh… bahkan dalam mimpi-pun kau tetap kurang ajar, bocah!” gerutu Key. Ia menatapi Yuuri yang terus tertidur pulas. Satu detik… dua detik… semenit… 5 menit… 15 menit… Key terlena. Ia tampak sangat menikmati ekspresi tidur Yuuri. Memang, wajah yeoja itu terlihat sangat damai dan menenangkan ketika ia terlelap. Tanpa ia sadari, kedua sudut bibirnya sudah tertarik ke atas dan membentuk seulas senyuman teduh.

“Kau milikku, Key… Hanya aku yang berhak atas dirimu, bahkan kau sendiripun tidak berhak mengatur hidupmu!”

Mendadak senyuman di wajah Key menghilang. Rahangnya mengeras menampilkan ekspresi wajah dingin penuh emosi. Bayangan itu… juga memori itu… selalu muncul dalam ingatannya tanpa bisa dihapus. Kejadian yang membuatnya selalu merasa terbelenggu tanpa ia tahu apa yang membelenggunya. Key menggeleng-gelengkan kepalanya pelan sembari menutup mata. Tidak, bukankah ia sendiri yang menyerahkan dirinya untuk dibelenggu? Key sendiri yang menginginkan untuk dibelenggu dan mengikuti permainan yang dibuat oleh ‘orang’ itu.

“Eenggghhh… Kau sudah pulang?”

Key tersentak saat suara Yuuri menyadarkannya. Sontak ia menoleh dan mendapati yeoja itu sudah bangun. Yeoja itu duduk di sampingnya dan menatapnya dengan wajah mengantuknya.

“Kapan kau datang?” tanyanya lagi. Cepat-cepat Key menghilangkan perasaan yang sejak tadi mengganggunya lalu bersikap seperti biasa.

“Yaa, Kang Yuuri si ‘yeoja biasa’, ceroboh sekali kau ini! Bisa-bisanya kau sembarangan tidur di tempat seorang namja. Apa kau tidak tahu tingkah cerobohmu itu berbahaya sekali? Untung saja kau tertidur di apartemenku. Bagaimana kalau lain kali kau tertidur di tempat namja lain, apa kau tidak takut kehilangan sesuatu yang sangat berharga bagimu, hah?!” omel Key.

Mworago?” kata Yuuri bingung. Yeoja itu masih setengah sadar, bahkan matanyapun masih belum terbuka sempurna. Masih dengan wajah mengantuk ia menatapi Key yang juga menatapinya, yeoja itu berusaha mencerna maksud ucapan Key barusan. Akan tetapi matanya langsung terbuka sempurna, bahkan seketika membulat lebar saat baru menyadari perkataan namja di hadapannya ini.

“Yaa!! Apa yang kau lakukan namja mesum?!” jerit Yuuri yang sontak langsung bangkit dari tempat tidur dan seketika melindungi tubuhnya dengan menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Melihat tingkah Yuuri itu, Key-pun hanya bisa mengangkat sebelah alisnya dan menatap Yuuri dengan tatapan remeh.

“Apa maksudmu, hah, Kang Yuuri si ‘yeoja biasa’?” tanya Key dengan nada remeh. Ia sudah memperhitungkan bagaimana reaksi yeoja di hadapannya ini.

Neo… Apa yang sudah kau perbuat padaku selama aku tidur tadi?” tanya Yuuri yang masih dengan sikap waspadanya. Ia menatapi Key dengan tajamnya, sedangkan Key hanya memasang wajah santai tanpa bebannya.

“Memangnya kau pikir apa?” Key malah balik bertanya dengan ekspresi santainya. Melihat ekspresi Key, Yuuri mendadak kikuk. Ia langsung menatapi dirinya sendiri. Sapu yang masih digenggam tangannya, juga celemek pink yang masih melekat manis ditubuhnya. Namja pabbo ini tidak mungkin melakukan apa-apa padaku-kan? batin Yuuri seraya sesekali melirik ke arah Key yang menatapnya sambil melipat kedua tangannya di dada.

“Kau… tidak macam-macam padaku-kan?” tanya  Yuuri dengan nada ragu. Lagi-lagi Key mengangkat sebelah alisnya dan membuatnya memasang ekspresi meremehkan.

“Misalnya?”

“Mi… misalnya… ee… itu… se… seperti…” kata Yuuri yang terlihat sangat ragu. Key langsung tertawa remeh. Ia memasukkan tanganya ke dalam saku celananya dan berjalan mendekati Yuuri yang terlihat semakin kikuk saat Key mendekat.

“Dengar ya Kang Yuuri si ‘yeoja biasa’, aku-KEY-sama sekali tidak tertarik dengan ANAK-ANAK!” kata Key tegas dengan penekanan pada kata ‘anak-anak’-nya. Ia juga mencondongkan tubuh tingginya sedikit ke hadapan Yuuri membuat yeoja itu terpaksa menjauhkan wajahnya. Untuk sesaat Yuuri hanya bisa diam menyadari betapa konyol tingkahnya saat ini, bahkan ketika Key berlalu dari hadapannya, ia hanya bisa terdiam.

“Sudah malam, aku pulang saja!” kata Yuuri akhirnya setelah ia berhasil menguasai dirinya sendiri. Buru-buru disambarnya tasnya dan berlalu.

Chakkamman, biar kuantar!” seru Key.

“Tidak usah, bukankah teman-temanmu akan kesini.” tolak Yuuri.

Anniyo, mereka membatalkannya.” kata Key. Mendengar itu Yuuri sontak mendelik Key tajam. “Yaa, yaa, yaa… Apa-apaan tatapanmu itu?” tanya Key saat melihat tatapan tajam Yuuri.

Arra, araa… Mereka juga baru saja membatalkannya.” kata Key. “Sudahlah, ayo kuantar! Ini sudah malam.” kata Key lalu berjalan menuju pintu apartemennya dan Yuuri hanya berjalan mengekorinya dengan tatapan jengkelnya. Mereka berdua seketika mematung di depan pintu saat melihat seseorang berdiri disana dengan tatapan kaget.

“O… Key-ah…”

***

TBC

Hahhh… akhirnya selesai juga part 3 ini. Ada yang nungguin part selanjutnya ? Hahaaa… siapapun yang udah ‘mampir’ disini, tolong tinggalin jejak ya… satu kata dari readers adalah oksigen buat gue…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s