Love You More (Part 2)

Published July 17, 2012 by kangyuuri

Love You More (Part 2)

Author           : Kangyuuri

Cast                 : Key SHINee, Kang Yuuri (OC).

Other Cast     : Banyak, temuin sendiri (Author males ngasih tau/plak)

Genre              : Romance, Sad, comedy (mungkin) , heheheee… pokoknya campur aduk!

Length             : Chapter

 

Normal POV…

Wae?” tanya Key saat perjalanan pulang. Ia terus-terusan melirik yeoja di sampingnya yang sekarang ini berjalan pelan sambil terus menekuk wajahnya.

Mwoya?” tanya Yuuri pelan tanpa mau menatap Key.

“Kau itu kenapa? Sejak keluar dari gedung olahraga, wajahmu terus kau tekuk saja. Wae irae?”

Anniyo, hanya lelah saja.” jawab Yuuri yang lagi-lagi dengan nada pelan.

Jinjja?” tanya Key lagi yang langsung dijawab Yuuri dengan anggukan pelannya. “Benarkah kau hanya lelah?”

Yuuri sontak menghentikan langkahnya dan menatap Key tajam. “Arra, arra. Aku hanya mengkhawatirkanmu saja. Kalau begitu ayo pulang!”

“Pulang kemana?” tanya Yuuri.

“Kemana lagi, tentu saja ke rumahmu. Aku akan mengantarmu sampai rumahmu.”

Kogjeonghajima, nan gwaenchana. Aku terbiasa pulang sendiri, jadi kau tidak perlu repot-repot mengantarkanku.”

Keundae…” kata Key menggantung. “… baiklah, kalau begitu aku akan mengantarmu sampai halte. Kajja!”

***

Key POV…

Gumawo.” kata yeoja di hadapanku yang saat ini bersiap untuk menaiki bus.

Ne, hati-hati. Gumawo juga sudah menemaniku tadi.” kataku seraya tersenyum simpul, tapi yeoja di hadapanku ini hanya menatapku dengan ekspresi datar.

“Tugas selanjutnya… apa?” tanyanya.

“Eo… aku belum memikirkannya.” jawabku seraya menggaruk-garuk belakang kepalaku yang tidak gatal. “Nanti akan kuberitahu kalau sudah kupikirkan.” kataku lagi.

“Hufffhh… Kukira ini akan selesai sampai hari ini.” kata yeoja itu seraya menggembungkan pipinya.

“Yaa… Ini baru berjalan 2 hari, masih ada masa 98 hari lagi.” kataku gemas seraya menarik pipinya.

Appoyo!!” ringisnya seraya melepaskan tanganku. “Ck, apa kau tidak bisa berhenti menarik wajahku? Kalau terus kau lakukan, aku akan terlihat lebih tua karena wajahku tidak kencang lagi, pabbo!”

Aku terkekeh geli melihatnya cemberut dan mengomeliku. Dia benar-benar terlihat menggemaskan, mungkin karena faktor usia SMA. Siswi SMA memang kadang menampakkan sisi anak-anaknya. Aigo… aku jadi rindu masa-masa SMA.

“Sudahlah, ini sudah hampir malam. Kau harus segera pulang, atau paling tidak kau harus segera masuk ke dalam bus sebelum ahjussi itu menjalankan bus-nya.” kataku.

Mwo?” yeoja itu melirik ke belakang, tepatnya ke arah sebuah benda besar yang sekarang perlahan-lahan mulai bergerak. “Yaa! Kenapa kau tidak memberitahuku kalau busnya sudah akan berangkat?! Ahjusshi! Ahjusshi!! Chakkamanyo, ahjusshi!” teriak yeoja itu seraya mengejar busnya. Aku hanya tertawa terbahak-bahak melihat tingkah konyolnya.

“Hati-hati di jalan, Yuuri-ssi! Annyeong…” seruku yang masih tertawa seraya melambai ke arahnya. Kulihat Yuuri yang tampak mengepalkan tangannya ke arahku dan itu semakin membuatku tergelak.

Tapi… tiba-tiba saja sesuatu membuat tawaku terhenti seketika. Sesuatu yang tertangkap oleh mataku sedang berada di seberang jalan sana. Sesuatu yang membuat jantungku berdetak ribuan kali lebih cepat dan membuat kepalaku seakan memanas. Tidak! Bukan kepalaku yang panas, tapi emosiku yang memuncak dan membuat kepalaku panas! Sesuatu itu masih berada tepat di hadapanku dan akupun terus menatapinya tajam.

Tidak… Tidak begini keadaannya Key! Kau tidak perlu mempermasalahkannya! Kau harus ingat siapa dirimu!! Sudahlah, anggap kau tidak melihatnya lagi… Lagi? Oh, ini bukan yang pertama kalinya kau melihat pemandangan ini!!

Kupejamkan mataku kuat-kuat seraya menghembuskan napasku, panjang dan berat. Setelahnya langsung kubalikkan tubuhku dan pergi dari tempat itu. Tidak melanjutkan melihat pemandangan menyakitkan itu lebih baik untuk kesehatan jiwaku.

***

Yuuri POV…

“Yaa!!”

Omona!!” Aku tersentak kaget. Rasanya jantungku hampir lepas dari tempatnya. Butuh waktu beberapa lama untuk menormalkannya kembali dan setelah berhasil menormalkan jantungku lagi, langsung kutatap orang yang tadi mengejutkanku. Iseul, dan ia hanya tertawa geli.

“Yaa!! Kalau aku mati jantungan bagaimana?!” hardikku kesal.

Mianhae. Lagi pula salah kau sendiri, kenapa memasang tampang yang membuat orang ingin sekali mengejutkanmu.”

“Aisshhh…” cibirku.

Wae? Apa yang kau pikirkan? Apa Key Oppa?” tanya Iseul seraya mendekatkan wajahnya ke arahku.

“Issshhh… kau ini! Tentu saja bukan! Untuk apa aku memikirkan namja yang sudah beberapa hari ini sama sekali tidak menghubungiku.” omelku.

Jinjja?” kata Iseul setengah menggoda. “Tapi Yuuri-ah, benarkah Key Oppa tidak menghubungimu selama 3 hari ini?” tanya Iseul yang langsung kujawab dengan anggukanku. “Sama sekali tidak ada?”

Ne, eobseoyo!” jawabku tegas agar ia tidak bertanya lagi.

Aigo… Ada apa dengan namja itu? Apa jangan-jangan dia sakit?” kata Iseul tiba-tiba yang seketika membuatku tercengang. Seketika ada perasaan khawatir menyelimuti pikiranku, tapi perasaan itu sontak menghilang saat melihat Iseul menatap nakal ke arahku.

“Isshh… Terserahlah. Apapun yang terjadi pada namja itu, aku tidak peduli juga. Baguslah dia tidak ada menghubungiku, itu artinya selama 3 hari ini aku bisa bebas dari tugas-tugasnya. Aakkhh… rasanya aku ingin jalan-jalan…” kataku seraya menggeliatkan badanku. Kulihat Iseul yang sejak tadi menatap nakal ke arahku sekarang tampak sedang menjawab telepon.

“Yuuri-ah, tadi kau bilang ingin jalan-jalankan?” tanyanya tiba-tiba setelah menutup teleponnya. Ia tampak sangat bersemangat dan sama sekali tidak terganggu dengan ekspresi bingung di wajahku.

***

Oppa! Il Woo Oppa!! Aku pulang!” seru Iseul saat kami sampai di rumah Iseul.

Saat Iseul mendengar bahwa aku ingin jalan-jalan yeoja ini langsung menawarkanku untuk berkunjung ke rumahnya. Dia bilang oppa-nya sedang mengadakan pesta di rumahnya dan menyuruh untuk mengajakku. Hahh, sudahlah… Daripada aku suntuk sendiri karena memikirkan namja bernama kunci yang sudah 3 hari ini tidak ada kabarnya sama sekali, lebih baik aku ikut bersenang-senang di rumah Iseul.

“Iseul, kau sudah pulang?” seorang namja tinggi tampak mendekati kami dan langsung tersenyum saat melihatku. “Syukurlah kau juga ikut.” kata namja itu.

Annyeong Il Woo Oppa.” sapaku seraya sedikit membungkukkan badanku.

Ne, annyeong Yuuri-ah. Kajja, di dalam sudah ramai sekali.” kata Il Woo oppa. Ia menuntun kami untuk masuk ke ruang tengah yang dari luar saja sudah terdengar ramai sekali.

Chingudeul, kenalkan… ini dongsaeng-dongsaeng-ku.” kata Il Woo oppa seraya memperkenalkan kami pada teman-temannya. Seketika aku dibuat malu oleh perlakuan Il Woo oppa. “Ini Jung Iseul, dongsaeng-ku. Dia akan marah kalau kalian memanggilnya Jung-ah, panggil dia Iseul.”

Oppa…” rengek Iseul manja seraya memukul dada Il Woo oppa pelan.

Yeppoda… Il Woo, dongsaeng-mu cantik sekali.” puji salah seorang teman Il Woo oppa yang seketika membuat Iseul tersipu.

Gumawo, Oppa.” kata Iseul.

“Nah, kalau yang ini namanya Kang Yuuri, teman baik Iseul. Dia juga dongsaeng-ku.” kata Il Woo oppa memperkenalkanku.

Annyeonghaseyo Oppa, Unnie…” kataku seraya membungkuk sopan.

Aigo, Il Woo-ah, kenapa kau bisa memiliki dua dongsaeng yang manis-manis seperti ini? Membuat orang lain iri saja.”

“Diam kau Minho! Tidak akan kubiarkan kalian semua mengotori kepolosan adik-adikku.” kata Il Woo oppa. “Iseul, Yuuri, kenalkan mereka ini teman-teman kampus Oppa. Yang menggunakan jaket biru itu namanya Choi Minho, di sebelahnya Kim Myungsoo atau kalian bisa memanggilnya ‘L’, Lee Gikwang, Kim Jinyoung, Choi Sooyoung-dia kembarannya Minho, Im Yoona, Jung Nicole…”

Aku terdiam saat mendengar nama terakhir yang disebutkan Il Woo oppa. Jung Nicole. Yeoja yang saat ini duduk di samping namja yang tadi di sebutkan Il Woo oppa bernama Kim Jinyoung. Begitu aku menatapnya, ia juga langsung menatapku dengan mata elangnya dan tersenyum. Hal itu membuat darahku sedikit mendesir melihat senyumannya, cantik sekali. Yeoja itu terlihat sangat cantik walaupun dengan aksen arogannya. Diakah Jung Nicole yang di sebut-sebut oleh beberapa yeoja waktu di lapangan basket itu?

“… dan satu lagi, dia… Kim Kibum atau biasa kami memanggilnya Key.”

Deg!!

Aku menatap namja yang baru saja muncul dari arah dapur. Namja yang selama 3 hari ini tidak ada kabarnya sama sekali. Begitu aku menatapnya, ia juga menatapku dan sontak berhenti berjalan. Ekspresi wajahnya nampak kaget saat melihatku dan aku yakin, ekspresi wajahku juga tidak jauh berbeda darinya.

Omo, Key Oppa!” kata Iseul yang nampaknya juga terkejut melihat kehadiran Key, tapi ia bisa lebih dulu menguasai dirinya.

“Iseul-ah… dan kau… Kang Yuuri si ‘yeoja biasa’. Kalian… ada disini?” tanyanya. Well… panggilan Kang Yuuri si ‘yeoja biasa’ dari namja itu tadi sukses menyadarkanku dari keterpakuan dan juga sekaligus sukses menyulut emosiku.

Oppa, kau temannya Il Woo Oppa juga?” tanya Iseul seraya berjalan mendekati Key yang tampak masih bingung.

Ne. Kau… siapanya Il Woo?” tanya Key.

Aigo… Ternyata memang benar kalau dunia itu sangat sempit. Oppa, Il Woo Oppa itu oppa-ku.” jawab Iseul yang tampak senang.

Jinjja?” tanya Key seraya menatap Iseul yang langsung mengangguk semangat. Namja itu kemudian beralih menatap Il Woo oppa yang juga tampak mengangguk. “Aigo… aku benar-benar tidak menyadarinya. Kalian kakak beradik, tapi kenapa tidak mirip ya?” kata Key.

Oppa, apa kau bercanda? Semua orang yang melihat kami pasti berkata kalau kami sangat mirip. Kau orang pertama yang mengatakan kalau kami tidak mirip.” kata Iseul.

“Tentu saja tidak mirip. Iseul-ah, kau yeoja yang sangat manis, sementara ‘oppa’-mu itu wajahnya terlalu abstrak untuk dideskripsikan.” canda Key dengan penekanan pada kata ‘oppa’.

“Yaa, Kunci!! Sudah kubilangkan jangan mengotori kepolosan dongsaeng-ku!!” seru Il Woo oppa setengah kesal. Semua orang disana tertawa, kecuali aku yang hanya tertawa garing. Dalam hati aku mengutuki diriku sendiri yang alih-alih pergi mencari kesenangan agar tidak memikirkan namja yang sudah berhari-hari menghilang tanpa kabar, tetapi malah bertemu tanpa sengaja dengan namja itu. Sungguh ini keberuntungan yang tidak diharapkan sama sekali.

“Nicole-ah, kenapa sejak tadi kau diam saja?” tanya Yoona. “Key, ada apa dengan yeoja chingu-mu?”

Aku sontak menatap ke arah yeoja yang bernama Nicole itu.

Chagiya, kau kenapa? Apa kau sakit?” tanya Key yang juga menarik perhatianku.

Anniyo, Key. Nan gwaenchana.” jawab Nicole seraya tersenyum. Mendengar itu Key langsung mengelus lembut puncak kepala Nicole dan membuatku langsung mencibir saat mengingat bagaimana kasarnya namja itu waktu mengelus kepalaku. Anni, dia bukan mengelus, tapi mengacak-acak kepalaku. Isshh… dasar namja setan!

Unnie, apa kau berpacaran dengan Key Oppa?” tanya Iseul seraya terus menatap dua orang itu.

“Yaa, bicara apa kau? Apa tidak malu bertanya seperti itu dengan orang yang baru pertama kali dikenal?” kata Il Woo oppa.

Waeyo Oppa? Akukan penasaran.” kata Iseul. Dasar Iseul, dia benar-benar blak-blakan. Kulihat Nicole hanya tersenyum kecil.

Ne, Iseul-ah, kami memang berpacaran. Wae?” kata Key yang menjawab pertanyaan dari Iseul tadi. Kulihat sekarang Iseul malah menggembungkan kedua pipinya.

“Ukh, sayang sekali. Padahal baru saja aku berpikir untuk menjadikan Oppa namja chingu-ku, tapi ternyata Oppa sudah punya yeoja chingu.”

“Yaa!! Jung Iseul!” seru Il Woo oppa seraya melotot ke arah Iseul. Aku juga terkejut dengan ucapan yeoja itu yang terlalu tiba-tiba.

“Ahahahaaa… Iseul-ah, kau ini lucu sekali. Apa kau menyukaiku?” tanya Key yang langsung dianggukan oleh Iseul. “Kalau begitu mau kau menungguku? Atau kau ingin aku berselingkuh di belakang yeoja chingu-ku lalu menjalin hubungan denganmu?” canda Key dengan ekspresi jenaka. Gelak tawa seketika terdengar di ruangan itu saat Key melontarkan candaannya tadi. Hanya aku yang tidak tertawa dan menatap orang-orang itu dengan ekspresi bingung, nanar, dan… aneh.

***

“Yakin tidak ingin diantar?” tanya Il Woo oppa.

Anniyo, Oppa. Aku bisa pulang sendiri, lagipula kan rumahku tidak seberapa jauh dari sini.” jawabku. “Oppa masuk saja!”

“Ya sudah, hati-hati di jalan.”

Ne, Oppa.”

“Kalau ada apa-apa, kau harus segera meneleponku.”

Ne, arraseo. Annyeong…” kataku lalu beranjak pergi dari rumah Iseul. Saat ini sudah malam, suasana di sekitarku memang agak sedikit sepi. Aku berjalan pelan menuju rumahku yang hanya berjarak beberapa blok dari rumah Iseul. Selama berjalan pikiranku terus melayang pada namja setan itu. Saat di rumah Iseul dia bersikap biasa seakan tidak terjadi apa-apa diantara kami berdua. Dia juga sama sekali tidak mengajakku ngobrol dan malah terus asyik dengan yeoja chingu-nya, Jung Nicole. Memikirkan itu ntah mengapa hatiku rasanya kesal sekali.

Ketika aku asyik berkutat dengan pikiran-pikiran anehku itu, lamunanku buyar saat aku merasa ponsel di saku blazerku bergetar. Langsung kurogoh saku blazerku dan mengambil ponsel. Aku langsung mendengus kesal saat melihat nama si penelpon.

“Huh, mau apa dia meneleponku? Apakah disaat-saat begini ia akan memberikan perintah padaku?”

“Arrggghhh… Ck!” decakku kesal. “Wae?” tanyaku langsung dengan nada ketus, seketus wajahku saat ini padahal aku yakin sekali dia juga tidak akan bisa melihatnya.

Aigo… kau ini benar-benar, kubilang kau harus lebih sopan pada orang yang lebih tua darimu.” kata Key.

Arraseo! Dan kubilang juga aku selalu bersikap sopan kepada orang lain terkecuali padamu!”

Neo… Isshh… Terserah kau sajalah. Kang Yuuri, besok temui aku jam 10 di jembatan itu!”

Mwo? Yaa, tapi besok itu hari minggu. Apa… Yaa! Yaa! Kim Kibum! Kibum! Yaaa…” aku berteriak kesal ke arah ponselku. Namja gila itu seenaknya saja mematikan teleponnya tanpa mendengar ucapanku. Isshhh… dasar namja setan!!

“Ya, apa yang kau lakukan?” tegur seseorang yang kudengar dari suaranya adalah namja. Sontak aku menoleh dan di belakangku berdiri seseorang yang sangat kukenali. Dan begitu melihat orang itu, mendadak aku merasa akan mendapat kesialan dua kali lipat lebih parah saat melihat orang itu menyunggingkan senyum manisnya yang terlihat di mataku seperti seringaian setan. Dia adalah si monyet Minhyuk, dan dengan berat hati harus kuakui bahwa dia adalah oppa-ku.

***

“Kami pulang…!!” seru Minhyuk oppa lantang yang sontak langsung membuatku menutup kedua telingaku karena suara ‘merdu’-nya.

Aigo… darimana saja kalian berdua ini? Kenapa baru pulang malam-malam begini?” tanya eomma yang tampak baru saja muncul dari dalam dapur.

Eomma tahukan kalau hari ini aku ada jadwal kuliah sore dan baru selesai malam.” jawab Minhyuk oppa. “Seharusnya yang Eomma tanyai itu Yuuri, kenapa dongsaeng-ku yang manis ini bisa terlambat pulang?” kata Minhyuk oppa seraya merangkul bahuku dan mengerling nakal padaku. Mendengar itu eomma sontak menatapku tajam seakan meminta jawaban atas perkataan oppa-ku tadi.

“Itu…” jawabku ragu. “Aku berkunjung ke rumah Iseul, Eomma.”

“Yuuri-ya, Eomma tidak melarangmu untuk bermain dengan temanmu, tapi kau juga harus ingat waktu atau paling tidak kau harus mengabari Eomma dulu agar Eomma tidak khawatir.” kata eomma lembut tapi tetap menampakkan kesan tegas di dalamnya. Mendengar itu aku hanya bisa menundukkan kepalaku.

Ne, Eomma. Mianhae…” kataku pelan.

Arraseo, gwaenchana.” kata eomma lagi seraya menghela napas pelan. “Ya sudah, cepatlah naik ke atas dan mandi, setelah itu turun untuk makan malam. Appa sudah menunggu sejak tadi.”

Ne.” kataku lalu langsung beranjak menuju kamarku. Samar-samar kudengar derap langkah di belakangku dan saat itu juga langsung kupercepat langkah kakiku agar segera sampai kamarku.

“Apa yang eomma bilang tadi itu benar. Anak kecil tidak boleh berkeliaran malam-malam… bocah!” ejeknya tepat ditelingaku. Mendengar ejekannya itu emosiku langsung melonjak ke tingkat maksimal. Ingin kucakar wajah sok imutnya itu, tapi sayang dia sudah terlebih dahulu melarikan diri dengan cepat ke kamarnya dan meninggalkanku sendiri dengan kekesalan maksimal. Ya Tuhan, kenapa engkau memberikanku oppa yang benar-benar sangat menyebalkan seperti ini?!

***

  “Kau… terlambat!!” Aku mendelik tajam ke arah namja di hadapanku yang saat ini tampak sedang melipat tangannya di dada dan memandangku remeh seakan aku adalah budaknya. Anni, kenyataannya sekarang aku memang budaknya. Aku membenarkan posisi tubuhku yang tadi membungkuk karena kehabisan napas gara-gara berlari cepat, menjadi berdiri tegak. Napasku masih turun naik tidak beraturan.

“Yaa, sudah kubilang hari ini hari minggu, aku tidak terbiasa keluar.” jawabku masih dengan napas putus-putus. Kulirik namja itu yang masih saja menatapku remeh. “Isshhh… Sudahlah! Berhenti menatapku begitu, kau terlihat semakin menyebalkan!”

“Aisshh… Kau ini! Sudah terlambat malah mengomeliku, paling tidak ucapkan maaf karena aku sudah menunggumu hampir satu jam!” omel Key.

Arraseo, mianhae.” kataku setengah terpaksa.

“Nahh… begitu lebih baik. Kau harus lebih sering bersikap manis pada orang lain.” kata Key seraya tersenyum lebar. Aku hanya menanggapinya dengan cibiranku.

“Berhenti bicara omong kosong. Cepat katakan, apa yang harus kulakukan hari ini?”

“Hari ini kau harus menemaniku nonton!” jawabnya santai. Aku sontak membelalakkan mataku ke arahnya.

Mwo? Nonton? Kenapa harus aku? Bukankah ada Nicole eonni, diakan yeojachingu-mu. Kenapa tidak pergi dengannya saja?” tolakku langsung.

“Isshh… Aku memang akan pergi dengannya hari ini. Memangnya namja mana yang tidak ingin berkencan dengan yeoja chingu-nya dihari minggu?” katanya lagi yang masih dengan ekspresi santainya tadi yang sangat berbanding terbalik dengan ekspresiku sekarang.

“Lalu, kenapa kau malah mengajakku? Aa… aku tahu. Kau pasti ingin menyuruhku menjadi pembantumu yang mengikuti kalian kemana-mana sambil membawakan semua keperluan kalian selama berkencankan? Kutegaskan saat ini juga, aku-tidak-mau!!” kataku tegas seraya memelototkan mataku ke arah Key.

“Nicole bilang hari ini dia sibuk menemani eomma-nya jadi dia membatalkan kencan kami. Karena tiketnya sudah kubeli dan akan sangat sayang kalau tidak ditonton, jadi aku mengajakmu. Kajja, film-nya sudah hampir mulai!!” kata Key seraya menarik tanganku dan menyeretku ikut bersamanya.

“Yaa!! Chakkamanyo!!” seruku saat namja gila itu terus menyeretku tanpa peduli aku yang bersusah payah mengikuti langkah besarnya dengan kaki mungilku ini.

***

Omo! Yuuri-ssi, apa hantunya sudah muncul?”

Ck! Aku melirik malas ke sampingku, tepatnya ke arah namja yang sekarang sedang duduk bersebelahan denganku saat ini. Saat aku menatapnya, namja itu-yang mengaku bernama kunci- sedang sibuk menutupi wajahnya dari layar lebar bioskop di hadapan kami yang saat ini sedang memutar sebuah film horror bertema vampir. Wajahnya terlihat ketakutan dan sejak film ini mulai, ia tidak henti-hentinya menutupi wajahnya, berteriak, dan bahkan tidak jarang mencengkram lenganku atau sekedar menyembunyikan wajahnya yang ketakutan padaku.

“Yaa! Neo yeoja imnika? Kenapa sebegitu ketakutannya hanya karena film horror seperti ini?” tanyaku ketus.

“Yuuri-ssi, tidak ada perbedaan gender dalam urusan takut atau tidak. Asal kau tahu, rasa takut itu adalah salah satu emosi yang dimiliki manusia. Kalau aku takut, itu artinya aku memiliki emosi.” cerocos Key asal yang ntah dia sendiri paham atau tidak, yang pasti saat ini ia tampak sangat ketakutan.

“Kau ini bicara apa, pabbo?” tanyaku seraya menatapnya dengan tatapan aneh.

“Argghh, sudahlah. Cepat katakan, hantunya sudah muncul belum?” tanyanya.

“Sudah.” jawabku asal tanpa menatap ke layar. Key langsung menurunkan tangannya dan kembali menatap layar bioskop. Ntah ia sedang sial atau apa, saat ia menatap layar bioskop, hantu yang sejak tadi ia hindari karena membuatnya ketakutan setengah mati tiba-tiba saja muncul dengan cara yang sangat menyeramkan dan mengejutkan. Aku yang saat itu memang masih menatap Key, dapat melihat langsung bagaimana wajah namja itu tiba-tiba berubah pucat dengan mata membelalak lebar, lalu…

“AAARRRGGGGGHHHHHHH!!!”

“AAARRRGGGGGHHHHHHH!!!”

Aku berteriak histeris bersamaan dengan teriakan histeris Key. Bukan, aku berteriak bukan karena takut atau terkejut karena kemunculan vampir yang tiba-tiba itu. Aku berteriak karena kesakitan saat Key mencengkram sebelah lenganku dengan kuatnya dan menyembunyikan wajahnya padaku.

“Aarrgghh… Appoyo…” ringisku pelan seraya berusaha menarik lenganku yang masih dipeluk erat oleh namja penakut di sampingku ini. Tapi tidak bisa karena namja ini masih saja mencengkram kuat dan memeluknya untuk menyembunyikan wajahnya. Tubuhnya gemetaran hebat dan sepertinya ia shok sekali gara-gara kemunculan vampir yang terlalu tiba-tiba tadi. Melihat itu sontak aku memutar kedua bola mataku.

Pabbo… Kalau memang ketakutan setengah mati seperti ini, kenapa namja ini memilih menonton film horror?

“Key… Key-ssi…” panggilku seraya berusaha menarik tanganku yang masih saja dipeluki oleh Key, tapi namja itu sama sekali tidak bergeming.

“Key-ssi… Tolong lepaskan tanganku… Tolong lepaskan sekarang juga. Kau mencengkramnya terlalu kuat. Tanganku bisa lepas kalau seperti ini.” kataku lagi seraya mendorong tubuh Key sekaligus menarik tanganku.

“Yaa!! Namja pabbo, lepaskan tanganku!! Aku kesakitan!” seruku seraya mendorong-dorong tubuhnya karena namja itu terus diam.

“Yuuri-ssi…” katanya lirih yang seketika membuatku berhenti mendorong-dorong tubuhnya dan menarik tanganku.

Nde?”

Perlahan cengkraman dan pelukan Key melonggar bersamaan dengan terangkatnya kepala namja itu dari tubuhku yang sejak tadi ia jadikan tempat persembunyian wajahnya. Key mengangkat kepalanya hingga aku dapat melihat wajahnya. Mendadak aku merasa dilingkupi hawa horror yang luar biasa saat melihat namja itu menatapku tajam tanpa ekspresi, lalu tiba-tiba…

“APA KAU SENGAJA INGIN MENGERJAIKU, HUH, KANG YUURI SI YEOJA BIASA?!!!!”

Tuhan, tolong aku! Sekarang aku benar-benar merasa bahwa telingaku sudah tidak berfungsi lagi karena lengkingan suara 5 oktaf dari namja gila di sampingku ini. Omona… apa yang harus kulakukan sekarang? Kumohon selamatkan aku dari segala bentuk kegilaan dari namja setan ini, Tuhan!

***

Iseul POV

Tok tok tok…

Aku segera berlari menuju pintu depan begitu mendengar pintu rumah diketuk oleh orang dari luar. Sebelum membukanya, aku melihat dulu dari intercom rumahku. Kedua sudut bibirku seketika tertarik membentuk seulas senyuman lebar saat melihat siapa yang datang. Namja imut tapi keren yang setahuku adalah kakak dari sahabatku-Yuuri.

Annyeonghaseyo…” sapa Minhyuk oppa ramah dengan suara lembutnya. Melihatnya ada di hadapanku, langsung kupasang wajah termanisku untuknya.

“Minhyuk Oppa, annyeong!!” sapaku ceria seraya tersenyum semanis mungkin. “Masuk, Oppa!” kataku lalu melebarkan pintu rumah untuk mempersilakannya masuk.

Gumawo, Iseul-ah. Oh ya, Il Woo hyung ada?” tanyanya seraya berjalan masuk.

“Ada. Oppa ada janji dengan Il Woo oppa?”

Ne. Kami berencana untuk keluar bersama. Apakah kau tidak ada acara diluar?”

Anniyo, oppa. Hari ini aku ingin di rumah saja.”

Aigo… kau ini manis sekali, sangat berbeda dengan Yuuri. Pagi-pagi sekali dia sudah menghilang dan tidak tahu pergi kemana.”

“Mungkin dia pergi berkencan, Oppa.” kataku asal. Haha, mana mungkin. Aku sangat tahu kalau chingu-ku itu tidak memiliki namja chingu.

Jinjja? Aisshh… Bocah itu… Aku saja belum mempunyai yeoja chingu, masa dia sudah asyik-asyikan berkencan di hari libur.” gerutu Minhyuk oppa. Aigo… kenapa namja ini begitu cute dan manis? Pipi lembutnya itu benar-benar membuatku ingin sekali menciumnya. Aigo… Minhyuk oppa... nan joahae… jeongmal joahae

“Iseul-ah… Iseul-ah…” panggil Minhyuk oppa seraya melambai-lambaikan tangannya di depan wajahku dan seketika membuatku tergeragap kaget.

“O… Oppa…” kataku gelagapan.

Gwaenchana?” tanya Minhyuk oppa seraya menatapku cemas. Wajahnya dekat sekali dan itu membuatku membelalakan mataku juga menahan napas saat melihat wajahnya yang benar-benar mulus.

G… Gwaen…chana...” kataku terbata.

“Yaa… Kenapa tidak memberitahuku kalau Minhyuk sudah datang?” seru Il Woo oppa. Gumawo Oppa, kau telah menyelamatkanku dari serangan fheromon Minhyuk oppa.

Hyung!” panggil Minhyuk oppa saat melihat Il Woo oppa menuruni tangga. “Kau sudah siap?”

Ne, apa kita berangkat sekarang?” tanya Il Woo oppa yang langsung dijawab Minhyuk oppa dengan anggukan kepalanya. “Baiklah, kajja! Eemm… Iseul-ah, tolong kau jaga rumah.”

Ne, oppa.” kataku yang masih saja sedikit tegang karena ‘scene’ barusan.

“Iseul-ah, annyeong…” kata Minhyuk oppa.

Annyeong oppa, hati-hati…” kataku yang masih sedikit tegang tapi tetap memaksakan untuk tersenyum. Setelah Minhyuk oppa keluar bersama Il Woo oppa, barulah aku bisa bernapas lega seraya menjatuhkan tubuhku yang rasanya sudah tidak bertenaga lagi ke sofa ruang tamu.

“Minhyuk oppa terlalu berbahaya untuk jiwaku!”

***

Author POV…

Sepasang namjayeoja tampak baru saja keluar dari sebuah gedung bioskop. Si namja tampak keluar dengan wajah pucat pasi penuh ketakutan dan kengerian, sedangkan si yeoja tampak keluar dengan wajah datar tanpa ekspresi, bahkan tatapannya tampak kosong seakan nyawa dalam tubuhnya hanya tinggal setengah. Mereka adalah Key dan Yuuri yang baru saja selesai menonton film horror di bioskop tersebut.

“Yuuri-ssi, apa kau lapar?” tanya Key. Yuuri-yeoja yang tadi ditanya oleh Key-hanya diam saja dengan wajah datarnya.

“………”

“Yuuri-ssi!” panggil Key lagi. Ia berbalik dan mendapati Yuuri yang dengan ekspresi datar juga tatapan kosong matanya. “Yaa! Neo wae irae?” tanya Key seraya berjalan ke hadapan Yuuri. Yeoja itu sama sekali tidak bergeming dan malah terus diam dengan tatapan kosong. Iseng, Key mendekatkan wajahnya sedekat mungkin ke wajah Yuuri hingga mau tidak mau mereka harus bertatapan. Saat mata bertemu mata, hidung bertemu hidung (bahkan bersentuhan), dan bibir hampir bertemu bibir… Yuuri seketika membelalakkan matanya ketika sadar dengan posisinya itu.

“Yaaa!!!” teriaknya lalu sontak mendorong Key menjauh. “Apa yang kau lakukan huh, namja mesum?!” bentak Yuuri yang tanpa ia sadari wajahnya sudah merona merah. Key hanya tergelak melihat reaksi spontan Yuuri yang sudah diperkirakannya sejak awal.

“Ahahahaaa… Kau ini polos sekali, Yuuri-ssi. Benar-benar lucu… Aigo…” katanya seraya memegangi perutnya yang sakit karena tertawa, sementara Yuuri hanya menatapinya dengan ekspresi kesal.

“Dasar namja mesum! Sekali lagi kau menggodaku, kupastikan kau akan bernasib sama seperti cincinmu!” ancam Yuuri yang malah membuat Key semakin tergelak. “Isshhh… kau benar-benar menyebalkan!!” katanya kesal lalu meninggalkan Key pergi.

“Yaa, yaa… Kau mau pergi kemana? Chakkamanyo!” seru Key yang sama sekali tidak dipedulikan Yuuri dan samar-samar  ia dengar langkah Key yang mengikutinya.

“Kau ingin makan apa?” tanya Key seraya menatap Yuuri yang duduk di hadapannya. Yeoja di hadapannya itu tampak membolak balik daftar menu makanan tradisional Korea dengan ekspresi bingung.

“Aku bingung, semua tampak enak dimataku.” jawab Yuuri.

“Kau baru pertama kali kesini?” tanya Key lagi yang langsung dianggukkan oleh Yuuri, tapi walaupun begitu tatapannya masih terus sibuk menelusuri menu demi menu yang ada. “Kalau begitu kusarankan kau harus mencoba bulgogi dan jajangmyeon disini. Bulgogi dan jajangmyeon disini enak sekali!” kata Key.

Jinjja?” tanya Yuuri dengan ekspresi serius.

Ne, kau harus mencobanya!” jawab Key seraya mengangguk semangat.

Geurae, aku pesan itu saja.” kata Yuuri yang kemudian menyerahkan buku menu pada Key. Namja itu tampak tersenyum senang karena sarannya diterima. Beberapa menit kemudian pesanan kedua orang itu sudah tersaji di atas meja dan merekapun langsung menyantap dengan lahapnya.

“Setelah ini kita kemana lagi?” tanya Yuuri saat mereka berjalan keluar rumah makan.

Mwolla, aku juga bingung.” jawab Key. Mendengar itu sontak Yuuri menatap Key bingung dan berhenti berjalan. Key yang merasa sedang ditatapi oleh Yuuri juga sontak menoleh. “Sudahlah, pokoknya temani aku saja dulu!” kata Key seraya merangkul bahu yeoja itu dan kembali mengajaknya berjalan.

Arraseo.” kata Yuuri pelan seraya kembali berjalan di samping Key. Untuk beberapa saat mereka berdua terus berjalan tanpa bicara.

“Key-ssi…” panggil Yuuri membuka pembicaraan.

“Emmm?” jawab Key dengan gumaman.

“Beberapa hari ini kau menghilang tanpa kabar, apa kau sangat sibuk?” tanya Yuuri seraya menatap Key yang berjalan di sampingnya.

Keugaene, aku memang sedikit sibuk.” jawab Key seraya terus menatap ke depan, tapi beberapa detik kemudian ia berhenti berjalan dan menoleh pada Yuuri. “Wae? Kau merindukanku?” tanyanya dengan wajah nakalnya.

Yuuri sontak mendelikkan matanya tajam ke arah Key. “Maldo andwae! Pabbo!” katanya lalu berjalan mendahului Key.

“Yaa, kalau memang tidak merindukanku, kenapa kau menanyakannya?” kata Key yang langsung menjejeri langkah Yuuri lagi.

Eobseoyo, hanya senang saja selama beberapa hari ini tidak ada gangguan dari namja pabbo sepertimu!”

“Aisshh… jinjja… kau ini benar…” kata Key menggantung saat Yuuri tiba-tiba berhenti berjalan. “Waegeuraeyo?” tanyanya heran saat melihat Yuuri yang terdiam dengan mata menatap lurus ke depan. Melihat itu Key-pun juga ikut melihat apa yang sedang dilihat oleh Yuuri. Sepasang yeoja dan namja tampak baru saja keluar dari dalam mobil mewah yang kemudian tampak saling merangkul dengan mesranya. Salah satu dari mereka adalah orang yang sangat dikenali oleh Yuuri dan terutama oleh Key.

“Apa kau melihat apa yang sedang kulihat?” tanya Yuuri setelah beberapa detik mereka terdiam.

“Melihat apa?” Key balik bertanya. Mendengar itu Yuuri sontak menatap Key yang juga menatapnya dengan ekspresi bingung.

“Tadi… di hadapan kita…” kata Yuuri yang tampak kebingungan mendeskripsikan apa yang ingin diucapkannya.

Mwoya?” tanya Key yang juga tampak bingung.

“Key-ssi, kau bilang Nicole eonni sedang sibuk menemani eomma-nya kan?” tanya Yuuri yang langsung di-iyakan oleh Key dengan anggukan kepalanya. “Tapi tadi… di hadapan kita… aku melihat Nicole eonni sedang bersama dengan seorang namja masuk ke dalam restoran itu.” kata Yuuri akhirnya seraya menunjuk ke arah sebuah restoran. Ia cemas menunggu reaksi Key yang tampak tenang, takut-takut kalau namja itu akan mengamuk setelah mendengarnya.

Jinjja?” katanya santai yang sontak membuat Yuuri melongo. “Aku tidak melihat apa-apa. Lagipula lensa mataku hilang tadi pagi, jadi sekarang aku tidak bisa melihat dengan jelas.” terangnya yang diakhiri dengan cengiran lebar.

Mwo?” kata Yuuri bingung, ia tampak berusaha keras mencerna kata-kata yang baru saja diucapkan oleh Key. “Yaa!! Kau itu…” kata Yuuri menggantung setelah memahami maksud ucapan Key. Namja itupun semakin memperlebar cengirannya.

“KALAU MEMANG TIDAK MELIHAT DENGAN JELAS, UNTUK APA KAU MENCENGKRAM LENGANKU KUAT-KUAT WAKTU DI BIOSKOP TADI, HAH, NAMJA PABBO!!!!” teriak Yuuri keras seraya mengejar Key yang tampak tertawa puas sambil berlari menghindari.

“Ahahahahahaahahahahaaa…”

“Yaa!! Jangan lari kau, namja setan! Aku akan benar-benar membuatmu bernasib sama seperti cincinmu!!” teriak Yuuri yang saat ini sedang kesal setengah mati. Ia terus mengejar Key yang sudah berlari di depannya. Tanpa ia sadari, saat mereka melewati restoran yang dimaksudnya tadi, Key melirik ke dalam restoran itu dan mendapati Nicole yang tampak mesra dengan seorang namja. Mata mereka berdua bertemu dan saat itu juga Nicole langsung melayangkan senyuman sinis nan meremehkan pada Key…

***

TBC

Horeeee… akhirnya selesai juga gue bikin part 2-nya (kibar-kibar bendera)… Tapi… kog masih sepi aja ya? Gwaenchana… Buat readers yang udah baca ff ini,  author mohonnnn banget kesediaannya buat ninggalin jejak… Gumawo…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s