LOVE YOU MORE (Part 1)

Published July 14, 2012 by kangyuuri

LOVE YOU MORE

Author : Kangyuuri
Cast : Key SHINee, Kang Yuuri (OC).
Other Cast : Nyusul, author lagi dalam masa gangguan server internal (?)
Genre : Romance, Sad, comedy (mungkin) , heheheee… pokoknya campur aduk!
Length : Chapter

Ff ini murni dari hasil kerja otak gue. Kalo ada kesamaan ide cerita, cast, ato hal lainnya, itu semua MURNI ketidak-sengajaan. FF ini dikit-dikit terinspirasi dari film City Hunter. Wuuu… Lee Minho keren banget di film itu (author ngeces). Kalo ada typo-typo di ff ini, mohon dimaklumin soalnya baru kali ini bikin ff. So, gue minta komentarnya yang membangun yahhh…
***

– Yuuri POV
Ya! Namja itu lagi. Ini bukan pertama kalinya aku melihat namja itu disini. Sudah berkali-kali. Dan beberapa minggu ini… aku malah melihatnya setiap hari ada disini. Apa yang dilakukannya? Apakah menunggu seseorang? Apakah ia menunggu yeoja cingunya?
Kutatap lekat namja yang sekarang sedang berdiri di tepi sebuah jembatan. Tatapannya lurus menatap ke depan, tetapi kosong. Matanya memang memandang lurus semua hal di depannya, tapi pikirannya tampak kosong melayang kemana-mana. Ini pertama kalinya aku melihat namja itu memasang ekspresi seperti itu. Biasanya dia selalu memasang wajah yang ceria.
Namja itu… sejak pertama melihatnya sudah mampu menyita perhatianku. Wajahnya memang terlihat ketus, angkuh, dan sangat menyebalkan, yah… setidaknya begitu yang terlihat kalau dia sedang diam. Tapi aku cenderung lebih sering melihatnya bercanda dan tertawa. Aku lebih sering melihatnya tersenyum lebar dan juga melihatnya ceria.
Tapi sekarang… aku melihatnya diam dengan tatapan kosong. Bukan hanya itu, wajahnya juga nampak… sedih. Ya, wae irae?
Tiba-tiba saja ia menunduk dan menatapi aliran deras sungai yang berada tepat di bawah jembatan tempat ia berdiri. Ekspresinya tampak aneh. Kesedihan di wajahnya semakin menjadi-jadi, sekarang disana malah terlihat sebuah kekecewaan yang amat sangat. Tapi ntah kenapa ekspresinya tiba-tiba berubah. Wajahnya terlihat marah, dan bahkan matanya berkilat. Namja itu tampak meremas pegangan jembatan dengan eratnya. Untuk beberapa saat ia bahkan tampak menghela napas sambil mengambil ancang-ancang.
Ancang-ancang… Mwo?! Ya, chakkamanyo!!
“Yaa!! Jangan bunuh diri!” teriakku keras. Refleks aku berlari menghampirinya dan sontak memeluk tubuhnya, berusaha menahan namja itu agar tidak melompat ke bawah. Bunuh diri bukan satu-satunya jalan yang bisa menyelesaikan segala masalah, itu hanya hal yang sia-sia dan tidak berguna.
“Ya, yeoja pabbo! Apa yang kau lakukan?! Lepaskan aku!!” hardik namja itu seraya berusaha berontak untuk melepaskan dirinya, tapi aku tetap memeluknya seerat mungkin. Tidak akan aku lepaskan sampai namja ini benar-benar bisa berpikir jernih.
“Shireo! Aku tidak akan melepaskanmu sampai kau benar-benar bisa berpikir jernih dan menghilangkan pikiran pendekmu untuk bunuh diri! Apa kau tau, bunuh diri bukan jalan yang tepat untuk menyelesaikan masalah! Bunuh diri hanya akan menyebabkan masalah semakin banyak untuk orang lain. Lagipula, dengan mengakhiri hidupmu seperti ini, kau hanya akan dicap pecundang oleh orang lain. Arra?!” kataku panjang lebar tanpa peduli dengan namja itu yang semakin memberontak.
“Yaaa!! Museun malhaeya?! Aku sama sekali tidak mengerti! Cepat lepaskan aku, yeoja pabbo!!” bentaknya lagi.
“Andwae!! Kalau kulepaskan kau pasti akan melakukan tindakan bodoh itu lagi!! Jadi sebelum kau bilang tidak akan melakukannya, aku tidak akan melepaskanmu!!”
“Tindakan bodoh apa yang akan kulakukan, hah?!!”
“Mworago? Apa kau gila? Bukankah kau akan bunuh diri? Aku tidak akan membiarkannya!!”
“PABBOYA! JEONGMAL YEOJA PABBO! Aku bukannya ingin bunuh diri! Cincinku jatuh dan aku ingin mengambilnya!!” teriak namja itu keras.
Mwo… Mwo?? Namja ini bilang apa? Perlahan pelukanku padanya sedikit melonggar gara-gara mendengar teriakannya tadi. Ntah kenapa tiba-tiba saja tubuhku jadi kaku dan aku bahkan mendadak merasa seluruh kepandaianku lenyap ntah kemana hingga membuatku menjadi yeoja terbodoh di dunia.
“Lepaskan aku!!” bentaknya lagi seraya mendorong tubuhku dengan kasarnya dan gara-gara tingkahnya itu aku terhuyung ke belakang hingga hampir jatuh kalau aku tidak cepat-cepat berpegangan pada tepi jembatan.
Kutatap namja itu yang sekarang kembali menatapi sungai. Ia tampak berdecak kesal sambil mengacak rambutnya dengan kasar. Lalu dalam sekali gerakan, ia berbalik cepat dan langsung menatapku tajam. Ditatapi setajam itu olehnya, jelas membuatku gelagapan tidak jelas. Takut, malu, dan juga… tegang. Tatapannya terlalu mematikan bagiku.
“Neo! Gara-gara kau, aku kehilangan cincinku!” bentaknya keras.
“Mi… mianhae. Jeongmal mianhae… Aku pikir kau akan bunuh diri, makanya aku refleks menahanmu.” kataku penuh penyesalan. Ne, aku benar-benar menyesal atas tindakan terbodohku.
“Mworago? Apa hanya segampang ini? Apa hanya dengan minta maaf maka semua akan selesai dan cincinku bisa kembali?” katanya seraya berjalan mendekat dan berdiri di hadapanku, sedangkan aku hanya bisa menunduk karena takut.
“La… lalu apa yang bisa kulakukan?” tanyaku tanpa pikir panjang. Namja itu semakin berjalan mendekat. Ia tampak memperhatikanku lekat dari ujung kaki hingga ujung kepala. Tatapannya semakin tajam, benar-benar tajam hingga mampu membuat nyaliku semakin menciut. Sekarang aku benar-benar merasa seperti liliput kecil yang tidak berdaya di hadapannya.
Kuberanikan diri untuk menatapnya juga. Sekarang ia sedang menatapku sambil menyilangkan tangannya di dada. Saat mata kami bertemu, ia malah mengeluarkan senyuman evil-nya. Aku terpaku dan tiba-tiba saja muncul satu pikiran buruk yang datang bersamaan dengan firasat yang tidak jauh buruknya dengan pikiranku.
Semoga… perkataanku tadi tidak menyulitkanku…
“Kau… harus membayar harga cincin tadi. Bukan dengan uang, tapi… dengan tubuhmu!” kata namja itu tegas seraya terus memasang senyum iblisnya. “Selama seratus hari, kau harus jadi pembantuku!”
DEG!!
Aku meneguk ludahku yang ntah mengapa terasa pahit sekali. Kulihat namja di hadapanku ini menyunggingkan sebuah senyuman miring merendahkan. Mataku melotot ke arahnya, shok dengan kejadian yang tiba-tiba ini. Arrgghhh… aku benar-benar berharap ini mimpi dan saat aku terbangun, namja setan ini telah lenyap dari hadapanku.
***
“Yuuri!! Yuuri-ya!! Palli ireonayo! Turun dan bantu Eomma di dapur!”
Isshhh, teriakan itu lagi!
“Ennngggghhhh…” aku menggeliat kecil lalu membuka mataku sedikit. Kulirik jam dinding di kamarku yang masih menunjukkan pukul 5 pagi. Isshhh… Eomma memang keterlaluan. Membangunkanku dipagi buta seperti ini.
Kusingkap selimut tebal yang membungkus tubuhku semalaman dan dengan malasnya kubangunkan tubuhku. Masih dengan mata yang setengah terbuka, kulirik ponsel yang berada di atas lemari riasku. Memang, hal pertama yang kulakukan saat bangun tidur adalah mengecek ponselku. Dan tiba-tiba saja mataku membelalak kaget saat melihat sebuah pesan yang masuk ke dalamnya. Pesan yang mengingatkan lagi pada mimpi burukku semalam.

Ya, yeoja pabbo!
Hari ini temui aku jam 8 pagi di tempat semalam!
Kau harus bertanggung jawab dan jangan kabur!!

Glekkk!
Lagi-lagi terasa pahit, bahkan kali ini rasanya jauh lebih pahit. Air ludahku tentu saja. Ternyata kejadian mengerikan semalam itu bukan mimpi dan tentunya namja setan itupun nyata. Benar-benar nyata!
“Ottokhae? Ternyata namja iblis itu benar-benar nyata! Ottokhachi?” rengekku seraya mengacak-acak rambut panjangku secara brutal.
“Yuuri, palliya!!” teriak eomma lagi yang menyadarkanku.
“Ne, Eomma! Aku sudah bangun!!” balasku. Dengan cepat aku bangkit lalu bergegas menuju eomma sebelum teriakan eomma akan membangunkan orang di seluruh komplek.
***
Kriiiinnnnggggggggg………
“Yuppzzz!!!”
Senyumku mengembang lebar. Ini saat-saat yang paling kutunggu, yaitu waktu sekolah usai. Heheheheeee…
“Neo wae irae?” Aku menoleh ke samping, tepatnya ke arah yeoja berambut panjang di sebelahku. Dia Iseul, chingu terbaikku. Iseul menatapku bingung, tapi tatapannya hanya kubalas dengan cengiranku.
“Aigo Jung-ah, apa kau tidak melihat kalau aku sedang senang, eoh?”
“Ck, pabbo! Berhenti memanggilku dengan panggilan Jung-ah, namaku Iseul!” kata Iseul seraya berdecak kesal, sedangkan aku hanya terkekeh melihatnya.
“Namamu itu Jung-ah, Jung Iseul!!” kataku lagi seraya menegaskan nama lengkapnya dan lagi-lagi Iseul berdecak kesal. Ia nampak kesal, tapi malas meladeni ejekanku.
“Hahahaaaa… Arraseo, Iseul-ah. Aku hanya bercanda. Kajja, kita pulang! Aku sudah menunggu saat-saat ini sejak tadi.” kataku seraya menarik-narik tangannya agar bangkit dari tempat duduknya.
“Yaa… Aku belum selesai menutup tasku, pabbo!” serunya yang sama sekali tidak kupedulikan. Kami berjalan beriringan menuju gerbang sambil bercanda.
“Igeo mwoya?” tanya Iseul saat melihat gerbang penuh sesak oleh siswa yang berjejal di sekitarnya. Siswa-siswa itu berkerumun dan memblokir gerbang, sehingga sangat sulit dilewati.
“Waegeurae?” kataku juga seraya menatap bingung kerumunan siswa-siswa itu. “Nayoung-ah, ada apa di depan? Kenapa anak-anak ramai berkerumun di depan gerbang?” tanyaku saat melihat teman sekelasku juga ikut berjejal di antara kerumunan itu.
“Mwolla. Katanya ada namja tampan di depan sekolah kita, anak-anak bilang dia artis. Mereka penasaran siapa yang ditunggunya di sekolah ini. Semoga saja itu aku…” jawab Nayoung dengan semangatnya.
“Mwo? Namja tampan?” kataku yang malah semakin bingung mendengar jawaban Nayoung. “Iseul-ah, memangnya setampan apa namja itu sampai-sampai membuat anak-anak ramai berkerumun seperti ini untuk melihatnya?” gerutuku.
“Anniyo, aku juga penasaran. Kalau memang namja itu artis, itu artinya aku tidak boleh melewatkannya. Kajja!!” kata Iseul yang tiba-tiba menarik tanganku dan membawaku masuk menerobos kerumunan itu.
“Yaa!! Apa yang kau lakukan?! Kenapa membawaku berdesak-desakan begini?! Kau lihat, penampilanku jadi berantakan gara-gara terjepit!!” omelku pada Iseul seraya menarik tanganku dari pegangannya.
“OMONA!! Yeppoda… Jeongmal yeppoda…” kata Iseul terkagum-kagum tanpa memperdulikan omelanku padanya.
“Yaa! Jung Iseul, aku sedang marah padamu! Kau dengar aku tidak?!!” makiku lagi.
“Yuuri-ah, coba lihat! Dia benar-benar tampan, aigoo… Aku harus mendapatkannya!” kata Iseul yang masih terkagum-kagum.
“Nuguya?” tanyaku seraya terus merapikan penampilanku dan sama sekali tidak tertarik dengan ucapan Iseul.
“Keugae… namja itu… Dia sangat mempesona, lihatlah!” kata Iseul gemas seraya mengarahkan wajahku untuk melihat apa yang ditunjukkannya.
“Yaa!! Arra-arra! Tidak perlu menarik-narik wajahku begitu! Ck!” kataku kesal.
“Palli…” kata Iseul lagi tidak sabaran.
“YAA!!!”
Aku terdiam saat sebuah suara berteriak tidak jauh dariku. Suara itu terasa sangat familiar di telingaku walaupun aku tidak yakin itu milik siapa. Karena penasaran, akupun langsung menoleh dan… seseorang yang paling tidak ingin aku temui saat ini sekarang muncul di hadapanku. Seseorang yang mungkin menjadi mimpi burukku saat ini.
Glekkk
Pahit sekali rasanya saat meneguk ludahku sendiri, itupun kulakukan dengan susah payah. Orang yang berteriak tadi tidak lain dan tidak bukan adalah namja yang sejak tadi diperhatikan oleh siswa-siswa di sekolahku. Ia berdiri tidak jauh dariku dengan tatapan tajam dan senyum miring meremehkannya.
“I got you!” katanya yang langsung membuatku merinding. Langsung kubalikkan tubuhku berniat untuk kabur.
“Eoddigayo? Kau mau kabur, huh? Yeoja pabbo!”
“Kyaaa… Appoyo!!” rintihku seraya meronta-ronta. Namja setan ini bukannya menarik tanganku untuk menahanku pergi, tetapi malah menarik kerah blazer sekolahku sehingga aku terseret ke belakang.
“Kau pikir kau bisa kabur dariku, huh?” katanya lagi seraya terus menarik kerah blazerku. Aku masih meronta-ronta sambil berusaha meraih tangannya untuk menyingkirkannya dari bajuku. Aaarrrggghhhh… sial, dia tinggi sekali sampai-sampai aku tidak bisa menggapai tangannya.
“Kenapa tadi pagi kau tidak menemuiku? Kau tahu, berapa lama aku menunggumu, hah?! Kau sengaja ingin kabur dariku ya?!” makinya seraya terus memegangi kerah blazerku dengan kuatnya dan membuatku benar-benar tidak bisa melarikan diri.
“Yaa!! Lepaskan aku!!” seruku seraya terus meronta-ronta. Tapi percuma, jangankan melepaskan diri, menyentuh tangannya dari kerah blazerku saja tidak bisa.
“Neo pabbo imnika?” katanya lagi dengan nada remeh. Astagaa… namja iblis ini benar-benar membuat harga diriku jatuh dan tergilas-gilas di depan teman-teman sekolahku sendiri. Aigoo… ottokhae?
“Lepaskan aku! Aku susah bernapas, jebal…” pintaku padanya. Namja itu melongokkan kepalanya ke depanku.
“Kulepaskan asal kau berjanji tidak akan kabur?” tawarnya. Aku berhenti meronta. Kutatap tajam namja itu yang memasang wajah remeh yang paling menyebalkan.
“Arraseo! Palli, lepaskan aku!!” kataku akhirnya. Isshh… ternyata memang mustahil untuk kabur darinya. Namja ini benar-benar setan! Akhirnya namja-yang tidak kuketahui namanya itu-melepaskan ’sentuhan’ tangannya dari seragamku. Akupun bisa menghela napas lega setelah untuk beberapa saat hampir kehabisan napas. Tapi, belum sempat aku menormalkan kembali pernapasanku, namja iblis ini sudah menarik tanganku.
“Kajja, ikut aku!!” katanya. Reflex aku menarik kembali tanganku dari genggamannya.
“Yaa! Eodiggayo?” tanyaku.
“Kemanapun itu, kau tidak perlu tahu.” katanya.
“Mworago? Shireo!” tolakku langsung. Namja itu langsung melepaskan tangannya dariku lalu menatapku dengan kesal.
“Yaa! Kau sendiri yang mengatakan akan melakukan apa saja untukku dan sekarang aku ingin membuktikan kata-katamu itu. Sudah kubilang bukan, aku tidak ingin dibayar dengan uang, tapi dengan tubuhmu.” katanya. Mwo? Mworago?? Apa tadi dia bilang??!!
Aku membelalak kaget mendengar ucapannya barusan. Ucapannya itu benar-benar tabu. Yaa… kata-kata yang tidak seharusnya keluar dari mulut beracun namja iblis ini akan menamatkan riwayatku sekarang. Tubuhku menegang bersamaan dengan suasana yang tadinya berisik mendadak berubah sepi. Dengan perasaan takut-takut, kuberanikan diriku untuk menatap siswa-siswa di sekitarku. Dan seperti yang kubayangkan, saat ini mereka tampak menatapku dengan ekspresi yang sulit diartikan. Ada yang menatapku dengan tatapan tidak percaya, shok, nanar, bahkan… jijik. Bahkan Iseul sampai membulatkan mata dan mulutnya saking tidak percayanya. Aisshh… namja ini benar-benar menyulitkanku. Kutatap namja itu yang tampaknya juga menyadari kalau ucapannya itu salah dan akan berdampak buruk pada reputasiku. Ia terlihat merasa bersalah dan tampak kikuk.
“Aisshh… sudahlah! Ayo ikut aku!!” katanya lagi seraya kembali menarik tanganku. Kali ini aku tidak memberontak lagi, lebih tepatnya tidak memiliki tenaga untuk memberontak. Rasanya seluruh tenagaku habis saat melihat ekspresi teman-temanku. Aku tidak bisa membayangkan nasibku besok saat di sekolah.
***
“Yaa! Waegeuraeyo?” Kutatap namja yang sekarang berdiri di hadapanku dengan lesu. Ia tampak menatapku juga dengan tatapan heran. Sampai saat ini ia masih belum melepaskan genggaman tangannya dariku, mungkin masih takut kalau aku akan kabur lagi. Haha, tenanglah namja iblis. Sekarang aku benar-benar tidak memiliki tenaga untuk kabur darimu.
“Arra, arra! Mianhae! Bukan maksudku untuk membuatmu terlihat buruk di hadapan teman-teman sekolahmu. Aku hanya kesal dan tanpa sadar mengucapkan kata-kata yang mungkin… akan sedikit merepotkanmu nanti.” kata namja itu lagi. Kutatap ia lagi yang sekarang tampak menyesal. “Tapi itu semua gara-gara kau sendirikan, kenapa kau harus membuatku kesal!” omelnya kemudian.
Hahhh… dasar namja iblis! Tidak bisakah dia berpura-pura merasa bersalah untuk menghiburku?
Kuhela napasku panjang dan berat. Benar-benar tidak bisa mengerti dengan karakter orang di hadapanku saat ini. Kadang ia terlihat baik, kadang ia terlihat konyol, tapi juga kadang terlihat sangat menyebalkan. Kualihkan pandangan mataku darinya.
“Sudahlah, tidak usah membahas itu lagi.” katanya.
“Arraseo.” kataku pelan tanpa menatapnya.
“Yaa! Kenapa tadi pagi kau tidak menemuiku? Apa kau sengaja ingin kabur dariku, eoh?” tanyanya ketus.
“Anniyo! Siapa yang ingin kabur? Tadi pagi aku terlambat pergi ke sekolah gara-gara oppa-ku mengerjaiku, makanya aku tidak sempat menemuimu.” jawabku.
“Terserahlah, aku tidak peduli apapun yang terjadi padamu. Tapi, karena tadi pagi kau tidak datang dan membuatku menunggumu lama sekali, sekarang kau harus menerima hukumanmu!” kata namja itu, tegas! Sedangkan aku hanya bisa menundukkan kepalaku.
“Arraseo.” kataku lagi dengan nada lemas. Aku benar-benar tidak bertenaga untuk mendengar perintah apa yang akan diberikan namja iblis ini padaku. Semoga saja itu perintah yang masih bisa dicerna oleh akal sehatku (?). Akan tetapi… sedetik… dua detik… tiga detik… Namja iblis itu terus diam tanpa mengeluarkan satu perintahpun. Karena penasaran, akupun mengangkat kepalaku untuk melihatnya. Namja itu diam, akan tetapi mata kucingnya menelanjangiku tajam dari ujung kaki hingga ujung kepala.
“Wae… wae irae?” tanyaku gugup. Benar saja, siapa yang tidak gugup kalau ditatapi setajam itu olehnya.
“Neo… siapa namamu?” tanyanya dengan wajah bingung. Aku sukses melongo? Dia menatapiku dengan tajamnya seakan ingin melahapku hidup-hidup hanya untuk menanyakan namaku saja?
“Aiisshhh… kau ini! Kalau hanya untuk menanyakan namaku, kau tidak perlu menatapiku setajam itukan!” omelku. “Yuuri! Kang Yuuri imnida!!”
“Aigo… Yuuri-ssi, kau itu…” katanya lagi seraya kembali menatapiku dengan tatapan aneh seakan-akan aku ini adalah makhluk aneh yang baru pertama kali dilihatnya. “… benar-benar… biasa.”
“Mwo?” kataku yang juga (kembali) melongo.
“Ne, kau itu yeoja yang biasa sekali. Kau… tidak pendek, tapi juga tidak tinggi. Tidak gemuk, tapi tubuhmu juga tidak terlalu langsing. Wajahmu tidak cantik, tapi juga tidak jelek. Aiss… kau itu… biasa sekali, Yuuri-ssi.” katanya blak-blakan. Aku sukses melotot mendengar penuturannya yang benar-benar diluar dugaan. Sungguh tidak kuduga kalau namja setan yang mungkin akan menyengsarakan hidupku ini, mulutnya benar-benar tidak berperi-kemulutan (?). Sungguh, saat ini aku ingin sekali menelannya hidup-hidup.
“Yaaa!! Apa kau menyeretku kesini hanya untuk mengomentari fisikku saja?! Kalau begitu, apa kau sudah selesai?! Aku ingin segera kembali ke rumah!!” seruku kesal.
“Aigo aigo… yeoja ini. Sudah kubilang tadi kau harus menerima hukuman dariku bukan. Aku belum mengatakan apa hukumanmu, kau sudah ingin pergi.” gerutunya.
“Makanya cepat katakan supaya aku bisa melakukannya dan bisa cepat pulang juga!!” seruku lagi. Isshhh… namja iblis ini benar-benar menghabiskan stok kesabaranku!!
“Emmm…” gumamnya. Namja itu tampak memikirkan sesuatu. Dahinya berkerut, alisnya juga. Matanya menerawang tidak jelas dan ia tampak menggigiti bibir bawahnya. “Ah, geurae!” serunya. Namja itu lalu meraih tas yang sejak tadi menggantung manis di punggungnya. Aku menatapnya bingung. Ia tampak membuka tas itu lalu mengeluarkan beberapa buku dan langsung memberikannya padaku tanpa peduli denganku yang belum siap menyambut buku-buku itu hingga hampir menjatuhkannya.
“Igeo mwoya?” tanyaku bingung seraya menatapnya.
“Kerjakan tugas kuliahku!” perintahnya. Aku mengerutkan keningku saat ia menyunggingkan senyuman evilnya padaku. “… dan sudah harus selesai besok pagi.” katanya lagi.
“MWORAGO?!!”
***
“AARRRGGHHHH NAMJA SIALAN!! BRENGSEK!!” teriakku keras.
“YAA!! KANG YUURI? WAEGEURAEYO? KENAPA BERTERIAK MALAM-MALAM?!” seru eomma dari luar. Uppss… aku sontak menutup mulutku. Saking kesalnya, aku sampai tidak sadar melampiaskan emosiku dengan berteriak keras.
“Anniyo, eomma! Aku hanya terkejut, mianhae!!” seruku juga.
Hufftt… aku menghembuskan napasku panjang untuk menghilangkan kekesalanku, tapi tetap… aku masih saja kesal setengah mati! Kutatap buku-buku yang berserakan di hadapanku, buku milik namja iblis itu.
“Aiisshh!! Nappeun namja!!” umpatku lagi seraya mengobrak-abrik buku-buku itu dengan brutal sampai beberapa dari buku itu jatuh ke lantai. “Kau benar-benar setan, namja pabbo!” umpatku lagi lalu kembali memukul-mukul buku yang ada di hadapanku sebagai ekspresi kemarahanku.
“Neo… aku benar-benar menyesal karena sudah melihatmu! Bagiku, kau adalah sebuah mimpi buruk! Aiiss… benar-benar kesal! Yaa!! Aku bahkan tidak mengenalmu, tapi kenapa kau bisa membuatku sekesal ini, huh!!” omelku lagi.
Aku diam dengan napas turun naik tidak beraturan. Lelah juga memaki-maki namja iblis itu. Namja yang bahkan sampai saat ini tidak kuketahui namanya. Namja yang juga bahkan mengatakan diriku ‘yeoja biasa’. Aisshhh… Emosiku kembali membludak saat mengingat namja itu lagi yang dengan senyuman iblisnya. Kembali kuacak-acak buku di hadapanku sampai akhirnya sederet hurup-yang tertulis dibuku itu- tertangkap oleh mataku.
“Kim Kibum.” aku melafalkan hurup-hurup itu dan mengangguk kecil saat menyimpulkan bahwa itulah nama dari namja sialan itu. “Huh, namanya pasaran!” cibirku.
***
“Igeo!” kataku seraya menyodorkan beberapa buku ke hadapan seorang namja. Siapa lagi, kalau bukan namja iblis yang namanya pasaran sekali-Kim Kibum! Ia melirik buku yang kusodorkan lalu menatapku. Tanpa mengeluarkan sepatah katapun, namja itu langsung mengambilnya dan memeriksa tugasnya yang sudah kukerjakan mati-matian tadi malam.
“Wah, daebak… Cepat sekali kau mengerjakan tugas kuliahku, kerjamupun bagus. Uwahhh… kau sudah bisa menjadi mahasiswa kalau begitu.” pujinya yang ntah itu sungguh-sungguh atau hanya sekedar basa-basi.
“Tentu saja! Aku memiliki otak yang bekerja sempurna, tidak seperti kau yang hanya bisa memanfaatkan pelajar SMA hanya untuk mengerjakan tugas kuliahmu!” gerutuku. Dia hanya tertawa remeh seakan sama sekali tidak peduli dengan kata-kataku tadi yang lebih terdengar seperti hinaan daripada gerutuan. Dengan santainya ia memasukkan buku-buku yang kuserahkan tadi ke dalam ranselnya.
“Yaa! Setelah ini apalagi?” tanyaku.
“Mwo? Apanya?” tanyanya seraya terus berkutat dengan ranselnya.
“Kau ada permintaan apalagi? Katakan saja sekarang dan jangan datang ke sekolahku seperti kemaren. Kau hanya akan membuat kegaduhan seperti kemaren lagi yang ujungnya pasti akan menyusahkanku. Aigo… bagaimana hari ini aku akan ke sekolah? Anak-anak satu sekolah pasti akan memperhatikanku dan menjadikanku bahan gosip mereka hari ini.” keluhku.
“Kau bicara apa?” tanyanya santai. Aku langsung menoleh cepat dan menatap tajam.
“Neo! Ini semua gara-gara kau, pabbo! Gara-gara ucapanmu yag seenaknya kemaren, hari ini aku pasti akan kerepotan menghadapi teman-teman sekolahku! Neo… nappeun namja!” omelku padanya.
“Arra, arra. Bukankah semalam aku sudah minta maaf, kenapa kau masih mempersoalkan itu lagi sekarang?”
“Aku hanya kesal, arrayeo?!”
“Ne, mianhae.” katanya.
“Sudahlah. Sekarang cepat katakan, apa permintaan selanjutnya?!”
“Mwolla, aku masih belum memikirkannya. Nanti kalau aku sudah, aku akan memberi tahumu.” katanya.
“Issshh… apakah tidak bisa berakhir sampai disini saja?” keluhku.
“Yaa! Apa kau sudah lupa, kalau hukuman karena menghilang…”
“Arra, arra. Arraseo! Tanpa kau ulangipun aku sudah ingat, sudah sangat ingat!” kataku memotong ucapannya dan… pletak!
“Yaa, appoyo… Kenapa kau pukul dahiku?” ringisku seraya memegangi dahiku yang tadi dipukul oleh namja di hadapanku ini. Aiiisshhh… ini kekerasan namanya.
“Kau ini, tidak sopan sekali! Hormati orang yang lebih tua darimu, jangan memotong pembicaraan orang seenaknya!!”
“Arraseo! Aku menghormati semua orang terkecuali kau!”
“Aiisshhh…” katanya kesal.
“Key-ah!!” Tiba-tiba saja namja itu menoleh ke arah 2 orang namja yang berdiri di belakangnya tak jauh dari kami. “Palli…” seru salah satu dari dua namja itu.
“Ne, chakkammanyo!” serunya juga lalu kembali menatapku. “Sudah hampir jam masuk sekolah, pergilah.” katanya.
“Aku sudah ingin pergi dari tadi!” kataku ketus. Aku menatapnya dengan tatapan kesal. “Wae? Kenapa menatapku begitu?” tanyaku.
“Yuuri-ssi,” panggilnya. “Gumawo sudah membantuku mengerjakan tugas kuliahku.” katanya seraya mengacak-acak rambutku dan tentu saja refleks aku langsung menghindar.
“Aisshh, pabboya!! Kau menghancurkan tatanan rambut yang sudah susah payah kubuat! Kau jahat sekali!!” jeritku kesal seraya berusaha merapikan tatanan rambutku kembali, sedangkan namja itu hanya terkekeh puas sudah mengerjaiku.
“Ya sudah, aku pergi dulu. Yuuri-ssi, sekolah yang benar dan jadilah siswa yang pintar. Annyeong…” katanya yang lebih terdengar seperti ejekan ditelingaku. Aku mengeram menahan kesal sambil terus menatapi punggung namja iblis itu yang terus menjauhiku bersama 2 temannya.
“YAAAA!!!!” teriakku kesal seraya menghentak-hentakkan kakiku ke tanah sebagai bentuk pelampiasan amarah.
***
“Yaa! Wae irae?” tanya Iseul. Ia langsung menarik kursi lalu duduk di hadapanku. “Kenapa seharian ini wajahmu kau tekuk saja? Apa kau bertengkar dengan Minhyuk oppa lagi?”
Aku melirik Iseul lalu mendesah panjang pertanda suasana hatiku sedang sangat buruk. “Yaa! Katakan padaku! Ekspresi wajahmu itu sangat mengganggu suasana kelas. Lihat, teman-teman sekelas tidak ada yang berani mendekat karena kau memasang wajah seakan-akan ingin membunuh orang.” kata Iseul.
“Aku sedang kesal, Jung-ah.” kataku dengan nada malas.
“Aku tahu kau sedang kesal, tapi kenapa? Dan satu lagi, namaku Iseul bukan Jung-ah, Yuuri pabbo!” omel Iseul. Isshhh… yeoja ini, orang sedang kesal dia malah balik mengomeliku.
“Yaa, Yuuri-ah, namja yang semalam membawamu pergi itu, nuguya?” tanya Iseul lagi. Aku menatapnya yang juga menatapku serius, lalu kembali mendesah panjang dan membuang muka. “Yaaaa…” serunya.
“Isshhh… suasana hatiku buruk gara-gara namja itu dan sekarang kau mengungkit-ungkitnya. Kau memperburuk mood-ku, Jung Iseul!”
“Mwoya?” katanya bingung, tapi beberapa detik kemudian ia mencondongkan tubuhnya ke arahku. “Jadi benar kau kenal dengannya?” tanyanya kemudian dengan raut penasaran tingkat dewa. Aku meliriknya sesaat, kemudian membuang muka.
“Ceritakan padaku, Yuuri-ya… Jebal… Bagaimana caranya kau bisa mengenal namja sekeren itu? Kenapa kau tidak memberi-tahukannya padaku? Kau ini jahat sekali!!” rengek Iseul. Isshhh… apakah yeoja ini sama sekali tidak peduli dengan suasana hatiku yang semakin memburuk gara-garanya?
***
“Jadi dia mahasiswa universitas Seoul? Jinjja? Kyaaa…” Aku sontak menutup telingaku. Chingu-ku ini berisik sekali kalau membahas masalah namja, dia bisa berteriak histeris hanya karena hal-hal tidak penting. Saat ini kami berdua sedang santai di kedai eskrim dekat sekolah. Ini adalah kedai eskrim favoritku dan Iseul, hampir setiap hari setelah pulang sekolah kami berdua bersantai disini. Saking seringnya, ahjumma dan ahjussi pemilik kedai sampai hafal dengan kami.
“Yaa! Kau ini berisik sekali! Memangnya kenapa kalau namja itu kuliah disana?” omelku.
“Anniyo, hanya keren saja menurutku. Keundae Yuuri-ya, namja semalam ini benar-benar tampan. Apa benar kau dan namja itu… Ya, siapa namanya? Pasti namanya keren sekeren orangnya!” kata Iseul bersemangat. Mendengar ucapan Iseul tadi aku sontak tertawa.
“Kau ingin tahu namanya?” tanyaku yang langsung membuat Iseul mengangguk keras. “Namanya itu… Kim Kibum! Nama yang pasaran sekali dan sama sekali tidak ada keren-kerennya. Issshhh…” ejekku.
“Jadi namanya Kim Kibum? Kyaaa… Biarlah pasaran, yang penting orangnya keren. Kibum Oppa…” kata Iseul lagi sambil memasang wajah terpesona tanpa peduli denganku yang menatapnya jijik.
“Yuuri-ya, yakin kau tidak ada hubungan apa-apa dengan Kibum Oppa? Hanya sebatas hubungan ‘itu’?” tanya Iseul lagi. Sontak aku melotot kesal pada Iseul, gerah dengan sifat cerewet sahabatku ini.
“Yaa!! Kau in…” makiku menggantung saat merasa ponsel dalam saku blazer sekolahku bergetar. Langsung kurogoh saku-ku untuk mengambilnya. Mataku langsung melotot waktu melihat nama si pemanggil-namja setan.
“Wae?” sambarku langsung tanpa sapaan basa-basi.
“Yaa! Kau ini sopan sedikit pada orang yang lebih tua darimu!” omel namja setan itu.
“Sudah kubilang bukan, aku sopan kepada setiap orang terkecuali padamu!” kataku ketus dan seketika terdengar jeritan kesal dari namja itu. Sontak kujauhkan telepon itu dari telingaku karena lengkingan suara namja itu dapat terdengar jelas dari jarak jauh sekalipun. Bahkan Iseul yang duduk berhadapan denganku bisa mendengar jeritannya. Ia langsung bertanya kepadaku tanpa suara dan hanya menggerakkan mulutnya. Aku mengendikkan bahuku lalu kembali mendekatkan ponsel ke telingaku.
“Yaa, kalau kau menghubungiku hanya untuk meneriakiku dan membuatku tuli, lebih baik matikan saja! Aku sedang sibuk!” kataku ketus.
“Kang Yuuri si yeoja biasa, aku sudah menemukan tugas untukmu selanjutnya. Cepat temui aku di tempat biasa!” perintahnya. Aku langsung mengepalkan kedua tanganku saat mendengarnya menyebutku ‘si yeoja biasa’. Ingin rasanya aku menghancurkan apa saja yang ada di hadapanku saat ini.
“Shireo! Kau tidak dengar, aku sedang sibuk! Kau saja yang temui aku!”
“Ne, ne. Katakan kau ada dimana, biar aku menyusulmu kesana.” katanya.
“Aku berada di kedai eskrim sekitar sekolahku. Cepatlah, kalau tidak kutinggal pergi kau.”
“Yaa!! Apanya yang sibuk?!!”
Plippp…
Kuputus sambungan telepon itu secara sepihak lalu tersenyum puas, puas karena sudah berhasil membuatnya kesal. Rasakan, itu pembalasan karena dia sudah berani seenaknya menyebutku ‘si yeoja biasa’.
“Nuguya?” tanya Iseul yang sejak tadi sudah sangat penasaran.
“Namja setan bernama pasaran, Kim Kibum!” jawabku.
“Mwoya? Kibum Oppa? Apakah dia akan kesini?” tanya Iseul. Aku menatap nanar Iseul saat mendengarnya memanggil namja setan itu dengan sebutan ‘oppa’.
“Ne, dia akan kesini membawa setumpuk perintah darinya!”
“Kyaaa… Aku akan bertemu dengan namja tampan itu lagi!!” jerit Iseul histeris. Lagi-lagi aku menatapnya, nanar…
Tidak berapa lama kemudian pintu kedai terbuka. Seorang namja tinggi tampak celingukan di depan pintunya. Aku menoleh menatap namja itu. Anni, bukan hanya aku saja. Tapi seluruh pengunjung kedai seketika tersedot perhatian saat melihat sosok namja itu. Ne, tidak ada satupun manusia di dunia ini yang tidak akan mengakui ketampanannya dan kali ini sepertinya Tuhan menambah dosis ketampanannya lagi dengan kemeja pink yang dikenakannya saat ini. Namja itu berjalan tegap ke arahku tanpa memperdulikan tatapan terpesona tingkat dewa dari yeoja-yeoja di kedai itu. Akupun juga menatapnya tanpa berkedip karena di dalam pandanganku, sosok namja itu tampak sangat berkilauan.
“Yaa!! Beraninya kau mempermainkan orang yang lebih tua darimu, huh?! Dimana sopan santunmu sebagai seorang dongsaeng?! Kang Yuuri si yeoja biasa!!” katanya gemas yang begitu sampai langsung mencubit pipiku. Anni, ini bukan hanya sekedar mencubit, tapi dia menarik pipiku. Yaa!! Lama-lama wajahku bisa molor gara-gara tarikannya!
“A… a… aa…” jeritku seraya memegangi tangannya. Namja itu akhirnya melepaskan tangannya dari wajahku. Sekarang aku yakin, wajahku pasti merah. “Appoyo!” keluhku seraya mengusap-usap wajahku.
“Rasakan, itu hukuman untukmu karena sudah membohongiku! Kau bilang sibuk, tapi ternyata kau hanya bermain-main di kedai eskrim ini.”
“Aku memang sibuk, namja pabbo! Dan kuingatkan, aku bukan dongsaengmu!” seruku kesal.
“Mwo? Kau itu lebih muda dariku, secara otomatis kau adalah dongsaeng dan panggil aku oppa, bukan namja pabbo!”
“Shireo! Sampai kapanpun aku tidak akan memanggilmu oppa. Yiak!!” kataku jijik.
“Aiisshh…” cibir namja itu yang tampak kesal seraya menatapku tajam. Kubalas tatapan tajamnya itu dengan tatapan menantang. Jika saja ini seperti cerita di komik-komik, kalian bisa melihat halilintar yang saling menyambar dari kedua mata kami.
“Oppa… Yuuri…” sebuah panggilan menyadarkan kami dari kegiatan kami barusan. Mendengar itu aku sontak menoleh. Astaga… aku lupa kalau disini masih ada Iseul. Sekarang chingu-ku itu tampak menatap kami berdua bingung.
“Ah, mian Jung-ah, aku lupa kalau kau masih ada disini.” sesalku. Iseul hanya tersenyum kecil ke arahku, lalu beralih menatap namja di sampingku. Mwo? Tersenyum? Sejak kapan dia tersenyum saat aku memanggilnya Jung-ah?
“Oppa, apa Oppa teman Yuuri?” tanyanya… basa-basi. Aku sontak memutar mataku, jengah. Kulihat namja setan itu juga menatap Iseul.
“Teman? Anni, aku oppa-nya!” jawab namja itu santai.
“Yaa!! Sudah kubilang, sampai kapanpun aku tidak akan pernah memanggilmu dengan panggilan itu! Issh, menjijikan!” hardikku kesal. Namja disampingku ini sama sekali tidak peduli dengan kekesalanku.
“Kau temannya?” tanyanya.
“Ne, Oppa! Choneun, Jung Iseul imnida. Oppa bisa memanggilku Iseul.” kata Iseul semangat, sesemangat saat ia mengulurkan tangannya pada namja itu. Namja itu hanya tersenyum simpul lalu membalas uluran tangan Iseul.
“Kim Kibum imnida, kau bisa memanggilku Key.”
“Key? Wahhhh… nama Oppa keren sekali!!” kata Iseul yang tampak berdecak kagum secara berlebihan. Aku hanya mencibir kesal mendengar pembicaraan tidak berguna di hadapanku.
Key… huh, nama yang aneh! Dia pikir itu bagus, dasar namja setan!!
“Yaa!! Kang Yuuri si yeoja biasa!”
“Yaaa!!!” teriakku kesal. Saat ini aku benar-benar ingin membunuh namja-yang katanya-bernama kunci ini!!
“Wae? Kau melamunkan apa?” tanyanya.
“Eobseo!” jawabku lagi-lagi dengan nada ketus. “Ya, palli! Katakan padaku, apa yang harus kulakukan?! Apa mengerjakan tugas kuliahmu lagi, eo?”
“Anniyo, besok aku tidak kuliah.”
“Lalu?” tanyaku lagi. Kutatap namja setan itu tajam yang sekarang tampak menyunggingkan seringaian menyeramkan. Mendadak aku merasakan firasat buruk. “Wae? Aku tidak akan melakukan perintah yang tidak-tidak.” kataku waspada.
“Ikut aku!” katanya.
“Shireoyo! Sudah kubilang aku tidak akan melakukan perintah yang tidak-tidak!” seruku.
“Mwo? Yaa! Kau ini, apa yang kau pikirkan, huh? Aku hanya meminta kau menemaniku bermain basket. Palli, aku sudah terlambat!” kata Key lagi seraya tiba-tiba menarik tanganku dan menyeretku pergi.
“ Key Oppa, Yuuri… eodiggayo?!” seru Iseul yang tampak bingung melihat kami berdua. Isshh… kunci bodoh ini benar-benar gila! Dia bahkan tidak peduli dengan Iseul yang ditinggal sendirian di kedai ini.
***
“Yei!!!” seru beberapa namja yang tampak kegirangan karena salah satu diantara mereka berhasil memasukkan bola ke dalam ring.
“Daebak Key!” seru salah seorang namja itu seraya melakukan high five dengan seorang namja lainnya.
“Key Oppa…!! Kyaaa… Oppa, kau kerennnn!!” kali ini bukan seruan namja lagi yang terdengar, tetapi teriakan histeris yeoja-yeoja yang berbaris di sepanjang tribun lapangan basket.
“Key Oppa! Key Oppa! Key Oppa! Kyaaa….. Opppaaaa….!!”
Issshhh… Aku menutup telingaku karena suara bising yang terlalu hebat! Teriakan yeoja-yeoja itu benar-benar memekakkan telingaku. Teriakan itu terdengar semakin keras saat namja yang mereka teriaki itu menoleh dan memberikan senyuman manis kepada mereka. Bukan itu saja, omo… beberapa diantara puluhan yeoja itu bahkan ada yang sampai terduduk lemas saat melihat senyuman yang diberikan namja tadi. Aigo… ini sungguh berlebihan!
Kutatap tajam namja yang sejak ia menginjakkan kakinya di lapangan basket ini sudah mampu membuat yeoja-yeoja disini terganggu kejiwaannya (baca:gila). Ia tampak lihai dalam menguasai bola. Mendrible-nya kesana kemari kemudian meng-over kepada temannya yang lain dan ketika bola itu berhasil direbut lawan, ia dapat dengan mudahnya merebut kembali dan dengan teknik yang hebat ia menembakkan bola itu tepat ke arah ring lalu…
“Yeee…!!!”
Teriakan kembali terdengar saat bola itu berhasil dengan mulusnya masuk ke dalam ring, membuat suasana di lapangan basket itu kembali berubah bising karena teriakan dan jeritan heboh orang-orang disana yang sebagian besar adalah yeoja.
“Isshh… Dasar kunci pabbo! Apa hebatnya, semua orang juga bisa melakukannya? Kenapa dia bisa begitu dielu-elukan?” gerutuku. Well… akui saja kalau namja itu benar-benar lihai bermain basket, hanya aku saja yang tidak mau mengakuinya. Ia mempunyai teknik yang sangat bagus yang mampu membuat selisih skor berbeda jauh dengan lawannya.
Pletak!!
“Yaa! Appoyo!!” jeritku seraya memegangi dahiku yang tadi tiba-tiba dijitak oleh seseorang. Kutatap orang di hadapanku yang sekarang malah terkekeh geli. “Kau ini…” seruku kesal.
“Habis kau sendiri yang melamun sambil menatapiku, waktu dipanggil kau sama sekali tidak menjawab dan malah terus melamun. Wae? Terpesona melihat permainanku seperti yeoja-yeoja itu?” tanyanya nakal.
“Issh… siapa yang terpesona denganmu? Jangan samakan aku dengan yeoja-yeoja bodoh itu, kunci pabbo!”
“Yaa!! Namaku Key, kau ini tidak sopan sekali!” katanya setengah kesal.
“Ne, ne, ne. Terserah kau saja! Mau apa kau kesini?”
“Berikan air minum dan handukku, aku lelah sekali!”
“Aigo… itu semua ada di dalam tasmu, kau bisa ambil sendirikan.”
“Shireo! Akukan majikanmu, jadi kau harus melayaniku. Palli…!” katanya. Aku mengeram menahan kekesalanku. Dengan terpaksa kuraih tasnya dan membukanya dengan kasar lalu mengambilkan sebotol air dingin juga handuk yang kemudian langsung kusodorkan padanya.
“Igeo!” kataku dengan wajah kesal sementara Key malah cengengesan melihat ekspresiku.
“Hehehe, gumawo Yuuri-ssi.” katanya lalu mengalungkan handuk ke lehernya dan meminum air dinginnya dengan tergesa-gesa sampai air dingin itu ada sebagian yang tumpah mengaliri wajah sampai lehernya. Aku seketika meneguk air ludahku saat melihat pemandangan di hadapanku. Namja itu… namja yang saat ini berdiri di hadapanku dengan tubuh penuh keringat, ntah mengapa terlihat begitu berkilauan dengan keringatnya itu. Aku bahkan menatapinya tanpa berkedip. Tapi aku tidak akan membiarkan diriku berlama-lama terlena dalam pesonanya. Langsung kugeleng-gelengkan kepalaku untuk menyadarkanku dari serangan fheromon namja setan ini.
“Yaa!! Kau ini bau sekali!!” kataku seraya menutup hidung.
“Wajarkan. Aku baru saja berolahraga. Justru aneh kalau aku tidak berkeringat.” kata Key seraya mengelap keringatnya dengan handuk. “Tapi Yuuri-ssi, bagaimana permainanku tadi? Apakah bagus?” tanyanya.
“Emmm…” jawabku malas tanpa mau melihatnya.
“Isshh… kau ini. Itu tadi permainan terbaikku, kau malah menanggapinya tidak serius begitu.”
“Arra, arra, terserah kau saja. Apa kau sudah selesai? Aku ingin segera pulang.”
“Ne, sudah selesai. Tunggu sebentar disini, aku akan ganti baju dulu.” kata Key lalu meraih tasnya dan beranjak dari hadapanku. Aku menghela napas panjang, sedikit lega karena aku mengira kalau Key akan menyuruhku untuk mengikutinya ke ruang ganti. Hiiyyy… terlalu horror bagiku.
“Lihat, bukankah itu seragam SMA Sinhwa? Kenapa bisa ada siswi SMA disini?” Tiba-tiba saja perhatianku sedikit terusik karena bisik-bisik dari beberapa yeoja yang berdiri tidak jauh dariku. Aku melirik mereka yang tampak menatapku dengan tatapan tidak suka.
“Ne, kulihat tadi ia datang bersama Key.”
“Jinjja? Ada hubungan apa dia dengan Key?”
“Jangan-jangan dia dongsaeng-nya Key?”
“Anniyo, setahuku Key Oppa tidak memiliki dongsaeng perempuan.”
“Jangan-jangan dia yeoja chingu-nya Key Oppa?”
“Maldo andwae! Tidak mungkin Key melepaskan seorang Jung Nicole hanya demi seorang siswi SMA. Kalian lihatlah, dia bahkan tidak cantik sama sekali. Dia terlalu ‘biasa’ untuk seorang Key jadi tidak mungkin Key meliriknya.”
Kukepalkan kedua kepalan tanganku untuk menahan emosi yang tiba-tiba saja terasa memuncak sampai level teratas. Sejak bertemu dengan namja setan bernama kunci itu ntah berapa kali aku mendengar orang memberiku label ‘biasa’. Sebelum-sebelumnya aku tidak pernah memperdulikan komentar orang tentang penampilanku. Ingin rasanya saat ini juga kujambak rambut yeoja-yeoja kurang ajar itu. Atas dasar apa mereka berani-beraninya membanding-bandingkan aku dengan yeoja bernama Jung Nicole itu? Kenal saja tidak! Untung saja si namja kunci itu menyuruhku untuk segera menemuinya di depan ruang ganti.

TBC….

Heheheee… segini aja dulu yah part 1-nya. Penasaran? Pengen baca part 2-nya (Elah thorr… pede bener lu), makanya koment yah… Koment dari kalian adalah oksigen buat gue… Heheheee…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s