Heaven of Fanfic

Published March 26, 2011 by sarahelf

annyeong…welcome to Heaven of Fanfiction

author minta tolong banget yang sudah mampir jangan lupa ninggalin jejak ya..

segitu aja dulu hehe…annyeong~

Advertisements

LOVE YOU MORE PART 6

Published December 26, 2012 by kangyuuri

Love you more (publish)

Author : Kangyuuri
Cast : Key SHINee, Kang Yuuri (OC).
Other Cast : Jung Il Woo, Jung Iseul, Choi Minho, Choi Sooyoung, Kim Myungsoo, Lee Gikwang, Jung Jinyoung, Im Yoona, Jung Nicole, Kang Minhyuk, dan masih banyak lagi. Sengaja pake other cast banyak-banyak supaya readers pada bingung (lha….)
Genre : Romance, Sad, dan… ntahlah, gue gak banyak punya referensi!
Length : Chapter (malah hampir jadi sinetron)

Aigo… jeongmal mianhamnida… kali ini gak ngilang hampir 2 bulan lagi, hampir 3 bulan malah. Mianhae… mianhae… gue sibukkkkk banget (alasan). Akhirnya ditengah kesibukan gue yang menggunung, gue bisa ngepublish ff yang gak jelas banget ini alur ceritanya gimana. Sebenarnya udah dari kemarin-kemarin pengen gue publish, tapi… modem gue ngumpet ntah kemana. Hahahaa… sekali lagi, maafff… Gue harap ada aja readers yang nunggu-nunggu ff ini…

Author POV
“Kakimu kenapa?” tanya Iseul saat melihat Yuuri berjalan tertatih-tatih di kelas.
“Anniyo, hanya sedikit lecet dan mungkin juga sedikit terkilir.” jawab Yuuri sekenanya. Ia langsung duduk di kursinya tanpa menghiraukan tatapan khawatir Iseul.
“Memangnya apa yang kau lakukan sampai membuat kakimu begini?” tanya Iseul lagi ketika matanya menangkap luka-luka di kaki Yuuri bekas kejadian tadi malam.
“Aku hanya jatuh. Iseul-ah, kenapa kau secerewet ini?” kata Yuuri seraya menatapi Iseul jengah.
“Yaa! Akukan hanya khawatir.” kata Iseul.
“Arraseo, aku baik-baik saja. Ok?” kata Yuuri meyakinkan. Melihat itu Iseul langsung memicingkan matanya.
“Yuuri-ya, apa Key Oppa tahu kalau kakimu terluka?” tanya Iseul.
“Tentu saja. Mana mungkin dia tidak tahu kalau dia sendiri yang membuatku terluka.” jawab Yuuri sekenanya (lagi).
“Mwoya? Key Oppa yang membuatmu begini? Jinjja? Jinjjayo?!” kata Iseul antusias. Ia langsung menarik kursi dan duduk di hadapan Yuuri.
“Ne, ntah setan apa yang merasukinya. Tiba-tiba saja ia menarik tanganku lalu menyeretku tanpa melihat keadaanku. Isshhh… namja itu benar-benar sudah gila!” omel Yuuri. “Waeyo?” tanyanya lagi saat melihat Iseul tampak diam sambil memikirkan sesuatu.
“Anniyo… Aku hanya berpikir kenapa Key Oppa bisa bersikap seperti itu.”
“Mwolla, sepertinya dia memang gila, keundae… Oppa, Oppa… isshh, aku bosan mendengarmu memanggilnya ‘Oppa’. Dia itu tidak pantas dipanggil Oppa! Lihat, dia membuat kakiku jadi seperti ini, aku jadi kerepotan gara-garanya!” omel Yuuri lagi.
“Yaa! Dia lebih tua daripada kita, wajar kalau dipanggil Oppa.” kata Iseul.
“Shireo! Sampai kapanpun aku tidak akan pernah memanggilnya Oppa.” kata Yuuri juga, tapi setelahnya tiba-tiba ia diam.
“Kalau memang ingin berterima kasih, seharusnya kau memanggilku Oppa, bocah.”
“Arraseo… Gumawoyo Oppa… Key Oppa…”
“Waeyo?” tanya Iseul yang langsung membuyarkan lamunan Yuuri.
“Anniyo. Hanya memikirkan bagaimana nanti aku pulang ke rumah.” jawab Yuuri asal yang kemudian kembali diam.
Baiklah… untuk yang satu itu pengecualian, lagipula tidak ada yang tahu-pikir Yuuri dalam hati.
***
Yuuri POV
“Kau yakin baik-baik saja?” Langsung kuputar bola mataku dengan ekspresi jengah. Iseul memang benar-benar cerewet. Aku sampai bosan mendengarkan pertanyaan yang sama sejak tadi pagi.
“Yaa! Sudah berapa kali aku mengatakan, nan gwaencahana, jeongmal gwaencahanayo! Jadi kumohon berhentilah bertanya pertanyaan yang sama, ini sudah ke 20 kalinya kau bertanya.” kataku yang sebisa mungkin menahan kesal.
“Ne, Arraseo. Kajja kita pulang! Tapi sebelumnya, kau sungguh tidak apa-apa?” tanya Iseul lagi.
“Yaa!! Jung Iseul!” teriakku akhirnya, sementara Iseul hanya menyengir saat kuteriaki begitu.
“Heheheee… Arra-arra, Kajja!” katanya seraya menggamit lenganku lalu membawaku bersamanya. Kami berjalan berdua sambil terus bercanda sampai ke depan gerbang sekolah.
“Yuuri-ya, hari ini Il Woo Oppa akan menjemputku, kau pulang bersamaku saja.” kata Iseul.
“Anniyo, aku bisa pulang sendiri.” tolakku.
“Andwae, bukankah kakimu sedang sakit? Jangan membantah!” kata Iseul bersikeras.
“Iseul-ah, habis dari sini aku…” kataku menggantung karena tiba-tiba suasana di sekitarku mendadak berisik. Spontan akupun menoleh, begitupula Iseul. Tidak seberapa jauh dari tempatku berdiri, terparkir sebuah mobil yang ‘sedikit’ familiar. Dari mobil itu keluarlah seorang namja yang juga ‘sedikit’ familiar dimataku.
“Omo, bukankah dia…” kata Iseul yang spontan menutup mulutnya yang terbuka karena takjub.
“Aku sengaja menjemputmu, Kajja!” kata namja itu.
“Key Oppa…” kata Iseul yang tampak masih takjub, begitu pula orang-orang di sekitarku yang sama takjubnya saat melihat namja ini. Ok, baiklah… Aku mengakui kalau namja ini memang-benar-benar-sangat-tampan. Tapi kalian juga tidak perlu seberisik inikan??
“Ada apa ini?” tanyaku seraya bersikap waspada. Firasatku selalu tidak enak kalau namja bodoh ini bersikap baik padaku.
“Wae? Ada yang salah kalau aku menjemputmu?” tanyanya seraya melepas kacamatanya.
“Tentu saja! Aku merasakan firasat buruk setiap kali kau bertingkah aNeh seperti ini.” jawabku. Key sontak melotot mendengar penuturanku, kentara sekali kalau ia mulai kesal.
“Yaa, Kang Yuuri si ‘yeoja biasa’! Aku menjemputmu karena aku khawatir denganmu. Kakimu itu terluka karena aku dan aku sungguh merasa bersalah karena itu. Tadi pagi aku tidak bisa mengantarmu ke sekolah karena aku harus terburu-buru ke kampus dan gara-gara itu sepanjang hari ini aku terus merasa cemas. Sekarang kau malah berfirasat buruk atas perhatianku ini? Hah? Wae???” katanya panjang lebar. Ukhh… sungguh, namja ini benar-benar cerewet sekali.
“Oppa, jadi benar kau yang membuat kaki Yuuri terluka.” gumam Iseul.
“Aaa… jadi karena itu kau kemari. Baiklah, kuhargai penyesalanmu.” kataku dengan ‘sedikit’ angkuh. Kulihat Key tampak memicingkan matanya padaku pertanda kekesalannya mulai tersulut.
“Iseul-ah, aku tidak jadi pulang bersamamu karena ‘namja’ ini sudah menjemputku. Aku pergi dulu, annyeong!”kataku pada Iseul. Lalu tanpa menunggu jawaban Iseul, aku langsung melengos di hadapan Key dan berjalan menuju mobilnya.
***
“Kau itu benar-benar tidak sopan, bocah!” gerutu Key saat di dalam mobil. Aku spontan memutar kedua bola mataku, bosan dengan omelannya yang tidak berhenti sejak ia mendudukkan pantatnya di dalam mobil.
“Issh, Neo yeoja imnika? Kenapa cerewet sekali? Sejak tadi kau terus saja mengomel.” omelku juga.
“Yaa! Aku sedang mengomelimu, Yuuri-ya! Apa kau sadar betapa menjengkelkannya tingkahmu di sekolah tadi? Begitukah sikapmu pada orang yang lebih tua?”
“Apa kau lupa? Bukankah sudah kukatakan, aku selalu bersikap sopan pada orang yang lebih tua dariku, kecuali denganmu, namja pabbo!”
“Neo… Issshhh…” desis Key seraya melirikku kesal. “Tidak bisakah kau berhenti menyebutku ‘namja pabbo’ dan memanggilku ‘Oppa’ seper…” katanya menggantung. Aku terdiam sambil menatapnya yang juga menatapku. Tiba-tiba saja air mukanya berubah dan Key langsung mengalihkan pandangannya kembali ke depan.
“Lupakan.” katanya pendek. Setelah itu mendadak suasana di dalam mobil itu menjadi hening. Key tiba-tiba saja berhenti mengomel dan bahkan sekarang aku merasa kalau perlahan mobil ini melaju semakin cepat. Kutatap namja di sampingku ini yang sekarang memasang ekspresi yang sama yang pernah kulihat saat di jembatan itu. Ia terlihat marah, bahkan matanya-pun tampak berkilat.
Ada apa? Kenapa ia jadi semarah ini? Sebenarnya apa yang terjadi antara dia dan Nicole?
“Key…” kataku yang ntah mengapa tiba-tiba merasa takut. “Key!!” panggilku lebih keras seraya mengguncang bahunya. Masih dengan ekspresi marahnya tadi, ia menoleh.
“… Aku… lapar.”
Ckkiitttttttt…
Duk!!
“Aarrgghhh…” ringisku seraya memegangi kepalaku yang terbentur dashboard karena tiba-tiba saja Key mengerem mobilnya secara mendadak.
“YAAAA!! APA KAU GILA?!!” teriakku seraya menatapnya garang.
***
Author POV
“Apa Key masih belum mau menjawab teleponmu?” tanya Sooyoung. Mendengar itu Nicole langsung menoleh dan mengangguk.
“Ne. Aku sudah meNeleponnya ratusan kali dan tidak ada satu panggilanpun yang diresponnya.” jawab Nicole.
“Aisshhh… ada apa dengan namja itu? Kenapa tiba-tiba ia begini?” gerutu Sooyoung. “Apa kalian bertengkar?”
“Sepertinya Key salah paham padaku.” kata Nicole.
“Salah paham bagaimana?” tanya Sooyoung. Untuk beberapa saat Nicole tampak diam lalu yeoja itu menghela napas panjang.
“Beberapa hari yang lalu aku diantar ke kampus oleh sepupuku yang datang dari New York. Kami berdua sangat dekat dan sudah lama tidak bertemu. Key melihatku dan sejak saat itu ia menjauhiku. Aku harus bagaimana menjelaskan ini padanya?” kata Nicole.
“Cih… sepupu dari New York? Bukankah itu kekasihnya?” cibir Minho yang berdiri tidak jauh dari Sooyoung dan Nicole. Sooyoung yang mendengar cibiran Minho langsung mendelikkan matanya ganas ke arah Minho yang sontak meresponnya dengan mengendikkan kedua bahunya lalu melengos pergi.
“Tenanglah, aku akan membantu menjelaskan pada Key nanti.” kata Sooyoung.
“Anni, biar aku saja. Aku tidak ingin merepotkanmu dengan hubungan asmaraku. Hubungan asmaramu dengan Jinyoung saja masih belum jelas.” kata Nicole. Sooyoung langsung memicingkan kedua matanya ke arah Nicole.
“Mwo-ra-go??”
***
Dua orang tampak menikmati makanan di hadapannya dengan tenangnya. Tidak ada satupun diantara mereka yang bersuara atau memulai percakapan terlebih dahulu. Hanya terdengar suara dentingan sendok dan sumpit yang beradu dengan piring. Suasana kali ini berbeda sekali dengan suasana makan sebelum-sebelumnya yang selalu didominasi oleh perdebatan atau omelan dari keduanya.
“Yuuri-ya…” panggil Key lirih tanpa menatap yeoja di hadapannya itu, berbeda dengan Yuuri yang langsung menatap Key. “Apakah… tidak ada yang ingin kau tanyakan padaku?” kata Key lirih seraya mengangkat kepalanya menatap Yuuri.
“Tentang… apa?” tanya Yuuri.
“Tentangku, Nicole, hubunganku dengannya, kejadian tadi malam, atau mungkin… kejadian di depan kampusku.” kata Key.
Tuk!
Sendok yang ada ditangan Yuuri mendadak jatuh tanpa sengaja. Yeoja itu terdiam, ia benar-benar bingung harus bereaksi seperti apa saat ini. Akhirnya ia hanya bisa diam sambil terus menatapi Key yang juga menatapinya lurus.
“Kau… melihatnya?” tanya Yuuri setelah beberapa detik diam. Key sontak mengangguk. “Apa kejadian di restoran itu kau juga melihatnya?” tanya Yuuri lagi yang langsung dianggukkan oleh Key.
“Apa kau tahu kalau Nicole Unnie berselingkuh di belakangmu?” tanya Yuuri yang kali ini dengan nada yang sedikit meninggi.
“…Ne, arra.” jawab Key pelan. Mendadak Yuuri merasa tertohok. Ia menatap Key dengan ekspresi tidak percaya. “Tapi dia bukan berselingkuh di belakangku, melainkan justru akulah selingkuhannya.”
Yuuri menatap nanar namja di hadapannya itu. Mendadak ia tidak tahu harus berbuat atau mengatakan apa. Pikirannya kacau saat ini. Yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah menatap Key tanpa tahu harus berbuat apa. Sedangkan Key juga hanya diam dengan wajah dinginnya yang belum pernah ditunjukkannya pada Yuuri.
“Apa aku terlihat menyedihkan?” tanyanya dengan nada dingin.
“……”
“……”
“… Ne, kau sangat menyedihkan. Perlukah aku mengasianimu saat ini?” kata Yuuri.
“Anni, itu hanya akan semakin menjatuhkan harga diriku. Saat ini saja aku merasa tidak memiliki harga diri lagi di hadapanmu.” kata Key seraya tertawa miris.
“Kau… sungguh mencintai Nicole Unnie?” tanya Yuuri. Key kembali mengangkat kepalanya untuk menatap Yuuri.
“Cih… aku benar-benar merasa tidak berguna lagi, sekarang aku bahkan mengekspos kisah asmaraku pada siswi SMA.” kata Key.
“Kalau kau tidak bersedia memberitahunya, aku juga tidak keberatan!” kata Yuuri dengan nada setengah kesal.
“Anniyo, justru hanya denganmulah aku bisa bercerita lepas tanpa beban.” kata Key yang sedikit membuat hati Yuuri mencelos. “Yuuri-ya, tugasmu hari ini… mendengarkan curhatku dan… hiburlah aku! Kau bisa?” kata Key seraya menatap Yuuri dalam.
***
“Ukh, bosannya…” gerutu seorang yeoja yang saat ini masih saja memakai seragam sekolahnya padahal jam sekolah sudah usai sejak tadi. “Kenapa Oppa lama sekali?” gerutunya seraya menatap jalan dengan ekspresi kesal.
“Isshh… Il Woo Oppa benar-benar keterlaluan! Kalau memang tidak bisa menjemputku, tidak perlu berjanji untuk menjemput!” gerutu yeoja itu-Iseul. Ia tampak sangat kesal, terlihat jelas dari wajahnya yang terus ditekuk.
“Yaa, Kang Yuuri si ‘yeoja biasa’! Aku menjemputmu karena aku khawatir denganmu. Kakimu itu terluka karena aku dan aku sungguh merasa bersalah karena itu. Tadi pagi aku tidak bisa mengantarmu ke sekolah karena aku harus terburu-buru ke kampus dan gara-gara itu sepanjang hari ini aku terus merasa cemas. Sekarang kau malah berfirasat buruk atas perhatianku ini? Hah?”
“Isshhh… bisa-bisanya Key Oppa mengacuhkanku. Anniyo, dia bahkan tidak menyapaku. Kenapa Key Oppa hanya bisa melihat Yuuri?” gumam Iseul.
“Ottokhae? Saat ini aku merasa sangat iri dengan Yuuri yang bisa bersama dengan Key Oppa.” gumam Iseul. “Oppa, apa aku juga harus jadi pembantumu agar bisa bersamamu lebih lama?” gumamnya lagi. Perhatian Iseul langsung teralih pada bus yang berhenti tepat di hadapannya. Yeoja itu tampak menengok ke kanan dan ke kiri. Setelah memastikan kalau orang yang ditunggunya tidak ada, yeoja itu langsung bangkit dan berjalan memasuki bus.
“Gikwang Oppa…” kata Iseul saat melihat seorang namja duduk sambil menyandarkan kepalanya ke kaca bus. Mendengar namanya disebut oleh Iseul, namja itu langsung menoleh.
“Nuguya?” tanya namja itu bingung yang sukses membuat Iseul sedikit membulatkan mulutnya tidak percaya. Tidak biasanya ada namja yang lupa dengannya, biasanya justru namja-namjalah yang bersikap seakan kenal dengannya.
“Oppa lupa denganku?” kata Iseul seraya duduk di samping Gikwang.
“Yaa, bocah! Aku tidak mengenalmu, jadi jangan bersikap sok akrab denganku.” kata Gikwang seraya menatap Iseul dengan ekspresi terganggu.
“Isshh, Oppa benar-benar lupa denganku. Naega, Jung Iseul, dongsaeng-nya Jung Il Woo. Oppa kenal dengan Oppa-ku bukan? Kita pernah bertemu sekali waktu Oppa ke rumahku.” kata Iseul. Gikwang menatapi Iseul lekat, dari wajahnya ia tampak berpikir.
“Neo… dongsaeng-nya Il Woo hyung?” kata Gikwang ragu yang langsung dianggukkan oleh Iseul mantap.
“Oppa sudah ingat?” tanya Iseul dengan mata berbinar. Ditanyai seperti itu Gikwang langsung tertawa garing.
“Heheee… belum.”
Gubrak!!!
***
Minho POV
“Dia bilang namja itu sepupunya dari New York.” kataku. Mendengar itu spontan yeoja di sampingku ini langsung menoleh dengan cepatnya.
“Mwoya?! Sepupu dari New York?! Siapa yang akan percaya?!” serunya dengan nada tinggi.
“Yoona-ya… tenanglah.” kataku.
“Andwae, bagaimana bisa tenang?! Yeoja itu jelas-jelas membohongi Key! Dia terang-terangan mengkhianati Key, bagaimana caranya aku bisa tenang?!!” jeritnya dengan mata melotot, sementara aku hanya bisa menatapnya dengan tatapan kasian. Benar, aku sungguh sangat prihatin terhadap yeoja di hadapanku ini. Key, tidak bisakah kau melihat yeoja lain selain Nicole?
“Ottokhae? Ottokhachi?” gumam Yoona seraya meremas kedua tangannya dengan perasaan cemas. “Minho-ya, apa tidak ada yang bisa kita lakukan untuk Key?” tanyanya seraya menatapku lurus yang masih dengan ekspresi cemasnya tadi.
“Yoona-ya, bisakah kau berhenti memikirkan Key?” tanyaku. Yoona terdiam, ia tampak menatapiku dalam. “Maksudku… Key tahu apa yang terbaik untuknya. Percayalah, suatu saat nanti ia akan mengetahui kalau Nicole bukan yeoja yang tepat untuknya.”
“Tapi itu kapan, Minho-ya? Key itu sudah tahu kalau Nicole mengkhianatinya, hanya saja ia tidak bisa melepaskan diri dari yeoja itu.” kata Yoona. Aku sontak membelalakkan mata mendengar penuturan itu.
“Mworago?!!!”
***
Key POV
“Duduklah…” kataku seraya menepuk bangku panjang yang saat ini juga kududuki. Yuuri hanya menatapiku dengan diam. Sejak aku mengajaknya pergi, yeoja itu hanya diam. Ntah apa yang dipikirkannya. Tapi satu hal yang bisa kupastikan, saat ini… ia pasti memikirkanku.
“Key…”
“Bisakah kau memanggilku ‘Oppa’ lagi untuk hari ini saja?” kataku yang langsung memotong ucapannya. Yuuri menatapku lurus dan dapat kubaca dari ekspresinya kalau ia sedikit terkejut dengan permintaanku yang terkesan aneh itu.
“Baiklah… hanya untuk hari ini.” katanya. Aku langsung tersenyum mendengarnya, jarang-jarang yeoja ini mau menurutiku dengan mudah seperti ini. “Kau tidak perlu memaksakan untuk tersenyum kalau memang kau tidak mau.” sambungnya seraya terus menatapku lekat. Aku sedikit membulatkan mataku mendengar ucapannya. Kenapa ia bisa tahu kalau saat ini aku sedang memaksakan diri?
“Yaa, namja pabbo! Kau belum menjawab pertanyaanku.” katanya.
“Isshh… kenapa memanggilku namja pabbo lagi? Sudah kubilang kau harus memanggilku Oppa untuk hari ini!” kataku kesal. Isshh… yeoja ini mulai lagi!
“Oo… haha, aku lupa. Mianhae, Oppa…” katanya seraya menyengir lebar. Aku sedikit mengerjabkan kedua mataku beberapa kali saat melihat tingkahnya tadi yang menurutku… sedikit manja. “Oppa, kau belum menjawab pertanyaanku.”
“Pertanyaan apa?” tanyaku.
“Kau sungguh mencintai yeoja itu? Anni, apa kau sungguh mencintai Nicole Unnie?” tanyanya yang seketika membuatku terpaku. Baru saja aku merasa suasana hatiku mulai membaik dan melupakan masalahku. Tapi tiba-tiba yeoja ini langsung bertanya ke inti masalahnya dan membuat suasana hatiku buruk lagi.
“Wae?” tanyaku juga. “Apa begitu terlihat kalau aku begitu mencintainya?”
“Emm, sangat terlihat sekali. Saat kau bersamanya, kau bahkan tidak bisa melihat yeoja lain lagi. Terlihat jelas di matamu kalau hanya ada bayangan Nicole Unnie disana. Sesaat aku berpikir apa yang membuatmu sampai begitu menggilai Nicole Unnie. Tapi saat melihat Nicole Unnie, aku menyadari sesuatu. Nicole Unnie begitu cantik dan begitu sempurna, hanya namja bodoh yang tidak menggilainya.” kata Yuuri. Aku langsung tersenyum miris mendengar penuturannya.
“Geurae, itulah yang terjadi padaku saat pertama mengenal Nicole, aku begitu menggilainya. Bahkan sampai saat ini aku masih saja menggilainya, begitu mencintai seorang Jung Nicole. Setiap tingkahnya, senyumnya, pandangan matanya, bahkan sifat angkuhnya, mampu membuatku tergila-gila. Semakin hari aku semakin mencintainya, more… and more… Sebegitu inginnya aku memiliki yeoja itu, aku bahkan menutup mata dan telingaku dari kenyataan bahwa Nicole sudah memiliki namja lain. Dia sudah dijodohkan oleh orang tuanya dengan namja yang kaya, tampan, berpendidikan, dan juga sama sempurnanya dengan Nicole.” tuturku.
“Jadi… namja itu… namja dengan mobil mewah itu…” kata Yuuri. Aku tertawa mendengus mendengarnya, bahkan Yuuri juga menyebut namja itu dengan sebutan ‘namja dengan mobil mewah’ seperti yang orang-orang bilang. Apa status begitu penting dalam urusan cinta?
“Ne, ‘namja dengan mobil mewah’ itu adalah tunangan Nicole. Dia adalah namja yang dipilihkan oleh orang tuanya dan sepertinya Nicole sama sekali tidak keberatan dengan perjodohan itu. Geurae, hanya yeoja bodoh yang akan menolak namja sesempurna itu hanya demi namja sepertiku.” kataku seraya tersenyum miris.
“Yaa! Apa maksud dari perkataanmu itu, Oppa?! Aku justru merasa kau jauh lebih baik dari namja itu, eerrr… walaupun aku tidak mengenalnya.” kata Yuuri dengan nada ragu diakhir kalimatnya. Kali ini aku hanya tersenyum kecil mendengar ucapannya, aku tahu dia pasti hanya ingin menghiburku. Gumawo Yuuri-ya…
“Kau sudah tahu kalau Nicole Unnie sudah ditunangkan, tapi kau tetap mengejarnya, Oppa. Apa karena kau tahu kalau Nicole Unnie juga menyukaimu?” tanyanya. Kuangkat kepalaku untuk menatap Yuuri dalam. Butuh beberapa detik untukku mengumpulkan keberanian menjawab pertanyaan Yuuri, karena inilah hal yang paling menyakitkan. Kenyataan… yang terus kuhindari…
“Anniyo, sejak dulu… sekarang… bahkan mungkin nanti… Nicole tidak akan pernah menyukaiku. Aku yang terus mengejarnya tanpa peduli dengan statusnya yang sudah bertunangan. Aku mengikutinya kemana-mana. Hah, mungkin karena dia sudah lelah karena selalu diganggu olehku, makanya dia terpaksa menerimaku.” kataku seraya tertawa kecil. “Saat itu aku senang sekali bisa mendapatkan Nicole walaupun berstatus sebagai ‘selingkuhan’ dan aku sama sekali tidak mempermasalahkan itu. Bagiku, selama Nicole ada di sampingku, tidak peduli apapun status yang kusandang. Aku juga menutup mata dan telingaku dari orang-orang sekitarku yang berbicara macam-macam. Asal Nicole ada di dekatku, aku sudah bahagia.”
“……”
“Tapi akhir-akhir ini… ntah mengapa aku merasa kalau aku… sudah tidak lagi memiliki kepercayaan diri untuk yakin pada pemikiranku selama ini. Aku merasa benar-benar bodoh dan hatiku selalu sakit saat melihat Nicole bersama dengan namja-nya itu walaupun aku sudah berkali-kali meyakinkan diriku kalau apapun yang terjadi Nicole akan tetap ada di sampingku.”
“Oppa…” kata Yuuri seraya meraih tanganku dan menggenggamnya erat. Satu hal yang kurasa saat Yuuri menggenggam tanganku, seluruh tubuhku terasa hangat terutama hatiku. “Ini salah, Oppa. Selama ini kau meyakini hal yang salah. Tidak salah kalau kau sangat mencintai Nicole Unnie, juga tidak salah kalau kau sebegitu inginnya bersama dengan Nicole Unnie. Tapi Oppa, kau salah kalau kau menyerahkan dirimu begitu saja pada Nicole Unnie padahal jelas-jelas Nicole Unnie sudah memiliki tunangan. Ok, mungkin ini bisa membuatmu bahagia. Tapi Oppa, kebahagiaan yang kau rasakan itu hanya fiksi, bukan kenyataan. Kenyataannya, disini kaulah yang selalu tersakiti. Kau akan sakit saat melihat Nicole Unnie bersama dengan tunangannya, dan kau akan lebih tersakiti lagi kalau-kalau suatu hari nanti mereka akan menikah.” kata Yuuri seraya menatapku dalam dan membuatku merasa terenyuh.
“Hentikan ini semua, Oppa… Jangan menyiksa diri lebih jauh lagi… Banyak yeoja yang lebih baik dari Nicole Unnie yang tentunya bisa mencintai Oppa dengan setulus hati. Oppa hanya perlu membuka mata dan telinga Oppa, tentunya juga membuka hati Oppa. Dengan begitu Oppa bisa melihat yeoja-yeoja lain yang bisa memberikan cinta terbaik untuk Oppa.” katanya lembut dan dari matanya aku bisa melihat ketulusan seorang Kang Yuuri.
Aku terpaku. Pikiranku mendadak kosong. Yang ada dipikiranku hanyalah yeoja yang saat ini ada di hadapanku dan menggenggam tanganku dengan eratnya. Yeoja yang mampu membuat hati dan perasaanku hangat. Wae? Aku benar-benar merasa asing dengan perasaan ini… Aku harus bereaksi bagaimana?
***
Iseul POV
“Ck, pabbo! Pabbo! Apa dia pikir dia hebat?! Kenapa dia bisa sebegitu menyebalkannya?!!” omelku seraya meninju-ninju boneka beruangku dengan perasaan kesal. Ne, aku sangat kesal saat ini, bahkan sejak beberapa hari yang lalu! Kenapa? Ini karena namja sombong bernama Lee Gikwang! Isshh… aku bahkan ingat nama lengkapnya, sedangkan ia dengan gampangnya melupakanku! Ok, kami memang baru sekali bertemu dan mungkin wajar kalau ia tidak ingat denganku. Tapi ntah mengapa ini jadi terasa begitu menyebalkan?!!
“Gikwang Oppa…”
“Nuguya?”
“Oppa lupa denganku?”
“Yaa, bocah! Aku tidak mengenalmu, jadi jangan bersikap sok akrab denganku.”
“Isshh, Oppa benar-benar lupa denganku. Naega, Jung Iseul, dongsaeng-nya Jung Il Woo. Oppa kenal dengan Oppa-ku bukan? Kita pernah bertemu sekali waktu Oppa ke rumahku.”
“Neo… dongsaeng-nya Il Woo hyung?”
“Oppa sudah ingat?”
“Heheee… belum.”
“Oppa, kau sungguh tidak ingat denganku? Oppa kenal dengan Il Woo Oppa-kan?”
“Isshhh… kau ini cerewet sekali! Banyak yeoja yang ingin jadi dongsaeng Il Woo hyung, jadi kau jangan sok-sok kenal denganku. Minggir!”
“Yaa!!”
“Aarggghhh… kepalaku rasanya hampir pecah!!!” jeritku lalu melemparkan bonekaku dengan kasarnya. “Tunggulah namja sombong, akan kubuktikan kalau aku tidak berbohong!”
“Iseul-ah… Jung Iseul!!” seru seseorang dari lantai bawah, itu pasti Il Woo Oppa. Tumben dia sudah pulang. Bukankah ini masih sore?
“Iseul-ah!” seru Il Woo Oppa lagi.
“Ne, Oppa… Chamkkamanyo!” seruku juga lalu beranjak dari tempat tidurku.
“Oppa, tumben sekali kau…” kataku menggantung saat melihat Oppa-ku tidak datang sendiri melainkan bersama dengan temannya yang… Omo! Bukankah namja itu…
“Dimana meletakkan ini, hyung?” kata namja itu yang tampak asyik membongkar sesuatu yang tidak kuketahui.
“Disana saja. Gikwang-ah, sekalian saja kau pasang peralatannya.” kata Il Woo Oppa.
“Ne, hyung.” katanya lagi lalu berbalik dan saat ia melihatku, ia tampak sedikit membulatkan matanya. “O… Neo…” katanya menggantung.
“Waeyo? Apa kita pernah bertemu?” kataku angkuh seraya melipat tangan di dada.
“Aa… jadi kau benar-benar dongsaeng Il Woo hyung.” kata namja itu-Lee Gikwang-namja yang membuatku terus merasa kesal selama beberapa hari ini.
“Huh, tentu saja! Jadi kau sudah percaya kalau aku dongsaeng-nya Il Woo Oppa dan bukan yeoja yang ‘sok’ kenal seperti yang kau bilang beberapa hari yang lalu!” kataku dengan nada yang sengaja kubuat se-angkuh mungkin. Mati kau namja sombong! Setelah ini kau pasti akan salah tingkah dan meminta maaf padaku karena sikap sombongmu semalam.
“Oh.” katanya pendek lalu melengos pergi dari hadapanku. Aku terdiam dan sukses melongo. Apa dia bilang? Oh? Hanya ‘Oh’? Hanya itu saja?
“Yaa!!” seruku seraya berbalik.
“Iseul-ah, tolong bantu Oppa!” kata Il Woo Oppa yang tampaknya baru saja muncul dari kamarnya.
“Oppa, kenapa Oppa membawa teman Oppa yang menyebalkan itu kesini?!” teriakku pada Il Woo Oppa dengan nada tinggi. Oppa-ku yang waktu itu baru saja muncul dan sama sekali tidak tahu permasalahannya hanya bisa memandangiku dengan wajah bingungnya. Isshhh… kenapa namja sombong itu jadi semakin sombong saja?!!!!
***
Kang Yuuri POV
“Saat itu aku senang sekali bisa mendapatkan Nicole walaupun berstatus sebagai ‘selingkuhan’ dan aku sama sekali tidak mempermasalahkan itu. Bagiku, selama Nicole ada di sampingku, tidak peduli apapun status yang kusandang. Aku juga menutup mata dan telingaku dari orang-orang sekitarku yang berbicara macam-macam. Asal Nicole ada di dekatku, aku sudah bahagia.”
“Tapi akhir-akhir ini… ntah mengapa aku merasa kalau aku… sudah tidak lagi memiliki kepercayaan diri untuk yakin pada pemikiranku selama ini. Aku merasa benar-benar bodoh dan hatiku selalu sakit saat melihat Nicole bersama dengan namja-nya itu walaupun aku sudah berkali-kali meyakinkan diriku kalau apapun yang terjadi Nicole akan tetap ada di sampingku.”
“Haaahhh…” Lagi-lagi aku mendesah. Malam ini aku merasa sangat dilema, benar-benar dilema. Pikiranku tidak jelas sedang berada dimana, dan satu hal yang kutahu, aku… terus menerus memikirkan namja yang untuk saat ini tinggal satu atap denganku. Kulangkahkan kakiku keluar kamar hanya untuk mengecek apakah namja itu sudah pulang atau masih berada di luar rumah.
“Dia belum pulang.” gumamku saat melihat sepatu yang sering digunakan Key tidak ada di tempatnya. “Kemana dia?” gumamku lagi seraya menghela napas panjang. Perhatianku langsung tertuju pada telepon rumah yang berbunyi dan secepatnya kusambar benda itu dengan harapan kalau sipenelepon adalah orang yang kutunggu.
“Yoboseo…” sapaku yang terdengar sedikit bersemangat.
“Yuuri-ya!” Mendadak aku merasa sedikit kecewa karena sipenelepon ternyata bukan orang yang kupikirkan, tetapi chingu-ku.
“Iseul-ah, Waeyo?” tanyaku dengan nada lemah.
“Yuuri-ya, kau tahu, saat ini aku sungguh kesal!! Ntah kenapa saat ini aku sungguh ingin membunuh seseorang!!” maki Iseul di telepon. Langsung kutatap ganggang telepon itu dengan dahi berkerut. Ingin membunuh seseorang? Apa chingu-ku ini sudah gila?
“Waegeuraeyo?” tanyaku bingung. Ada apa dengan Iseul?
“Yuuri-ya, kau ingat dengan namja teman Key Oppa yang namanya Lee Gikwang?” kata Iseul. Lee Gikwang? Yang mana? Teman Key yang paling kuingat hanya Minho Oppa.
“Anniyo, aku lupa. Ada apa dengannya?”
“Namja itu yang saat ini sangat ingin kubunuh!”
“Yaa!! Apa kau bercanda? Kau membuatku takut, Iseul-ah.” kataku. Jujur, aku langsung merinding saat mendengar perkataan Iseul tadi.
“Pabbo, tentu saja aku bercanda! Mana mungkin aku benar-benar membunuhnya. Itu hanya perumpamaan kalau saat ini aku benar-benar kesal. Namja sombong bernama Lee Gikwang itu sungguh sangat menjengkelkan!”
“Memangnya kenapa dengannya? Kalian bertengkar?” tanyaku heran.
“Tentu saja! Dia yang mengibarkan bendera peperangan di hadapanku!” kata Iseul menggebu-gegu. Aku bisa membayangkan ekspresinya saat bercerita walaupun tidak berhadapan langsung dengan Iseul dan hal itu membuatku sedikit menahan senyum.
“Museul malhaeya?”
“Yaa, coba kau bayangkan! Bagaimana perasaanmu saat ada orang yang kau kenali tetapi dia sama sekali tidak mengingatmu dan bahkan orang itu mengatakan kalau kau itu sok kenal dengannya. Bagaimana reaksimu?”
“Aku… mungkin merasa kesal.” jawabku ragu.
“Begitulah aku! Aku bertemu dengan namja sombong itu di dalam bus sewaktu akan pulang. Aku menyapanya karena dia adalah teman Il Woo Oppa, tapi dia tidak ingat denganku. Aku berusaha mengingatkannya dengan memberitahunya kalau aku adalah adik Il Woo Oppa, tapi apa yang dia katakan? Dia malah mengatakan kalau banyak yang mengaku-ngaku sebagai dongsaeng Il Woo Oppa dan…” kata Iseul menggantung.
“Yaa, dan apa? Kenapa kau tiba-tiba diam? Cepat lanjutkan ceritamu!” kataku saat tiba-tiba Iseul diam.
“Omo! Key Oppa!” kata Iseul tiba-tiba. Aku diam mematung saat mendengar ucapan Iseul tadi. Ia menyebut… Key…
“Iseul-ah, wae irae?” tanyaku.
“Yuuri-ya… Ntah apa yang terjadi, tapi… Key Oppa datang kesini bersama dengan temannya. Dia… mabuk!”
Trakkk!!!
Ganggang telepon yang ada ditanganku langsung terlepas begitu saja. Pikiranku… kacau seketika. Ada apa? Ada apa dengan namja itu?
***
Beberapa jam sebelumnya…
Key POV
Aku mendesah berat seraya memandangi sesuatu yang berada dekat denganku tetapi juga jauh dariku (?). Aku-Key, saat ini sedang menatapi seseorang dari dalam mobilku. Orang itu adalah seseorang yang sampai saat ini masih berstatus sebagai yeoja-ku, Jung Nicole. Beberapa jam yang lalu dia memintaku (lagi) untuk bertemu, setelah selama beberapa hari ini aku terus-dengan sengaja-menghindarinya. Ntahlah, aku juga tidak mengerti mengapa aku merasa-sangat-tidak-ingin-melihat wajahnya yang selama ini selalu menjadi candu bagiku.
Untuk beberapa waktu lamanya aku terus berdiam diri di dalam mobil sambil terus menatapi Nicole. Jarak kami lumayan dekat sehingga aku bisa melihat dengan jelas ekspresi gelisah Nicole yang saat ini terus menungguku. Akupun masih enggan untuk beranjak dari tempatku. Saat ini kulihat Nicole tampak memenceti layar ponselnya dan tidak berapa lama kemudian aku merasa ponselku bergetar.
“Yoboseyo?” sapaku dengan nada enggan.
“Chagiya, eodiseoyo?” tanyanya. Darahku sedikit berdesir saat mendengarnya memanggilku ‘Chagiya’ yang selama ini sangat jarang dilakukannya.
“… Di apartemenku, wae?”
“Mwo? Key-ah, apa kau benar-benar tidak ingin datang? Aku sudah menunggumu selama 2 jam lebih disini.” kata Nicole dengan nada setengah putus asa. Geurae Nicole-ah, kau hanya menungguku 2 jam, sedangkan aku sudah menunggumu lebih dari 2 tahun. Apakah ini bisa dikatakan bahwa kita impas?
“……….”
“Key-ah, kau masih mendengarku?”
“Ne, aku selalu mendengarmu.” jawabku.
“Kumohon, datanglah… Aku ingin membicarakan masalah kita. Aku ingin mengatakan sesuatu yang selama ini belum bisa kukatakan. Jebal, Key…” katanya dengan nada yang melunak.
“Aku tidak bisa memastikan bahwa aku akan datang, jadi jangan menungguku lagi.” kataku dingin.
“Shireo, aku akan tetap menunggu disini sampai kau datang dan mendengarkan ucapakanku!”
Aku spontan memejamkan mataku. Ntah mengapa ini terasa berat sekali. Sampai saat ini aku masih belum berani menghadapi kenyataan di hadapanku. Kenyataan bahwa kebahagiaan yang kurasakan selama ini hanyalah… sebuah fiksi.
“Ok, mungkin ini bisa membuatmu bahagia. Tapi Oppa, kebahagiaan yang kau rasakan itu hanya fiksi, bukan kenyataan. Kenyataannya, disini kaulah yang selalu tersakiti. Kau akan sakit saat melihat Nicole Unnie bersama dengan tunangannya, dan kau akan lebih tersakiti lagi kalau-kalau suatu hari nanti mereka akan menikah. Hentikan ini semua, Oppa… Jangan menyiksa diri lebih jauh lagi… Banyak yeoja yang lebih baik dari Nicole Unnie yang tentunya bisa mencintai Oppa dengan setulus hati. Oppa hanya perlu membuka mata dan telinga Oppa, tentunya juga membuka hati Oppa. Dengan begitu Oppa bisa melihat yeoja-yeoja lain yang bisa memberikan cinta terbaik untuk Oppa.”
Kubuka mataku bersamaan dengan keberanian yang ntah datang dari mana, yang kutahu adalah sesaat tadi aku serasa mendengar suara lembut Yuuri. Suara yang memberiku sedikit kekuatan untuk meyakinkan hatiku. Ne, sekarang aku yakin pada keputusanku dan aku yakin kalau ini adalah keputusan yang tepat.
Langsung kubuka pintu mobil di sebelahku dan berjalan pasti menuju Nicole. Saat melihat sosokku, yeoja itu langsung bangkit dan tersenyum lalu spontan memelukku erat. Bahkan saat ini-pun, jantungku masih berdetak dengan tidak normal saat Nicole memelukku seperti ini. Aku… masih sangat-sangat-sangat mencintainya, walaupun dalam hatiku tercetus keyakinan untuk menyerah!
***
Author POV
“Aku tahu kau pasti akan datang, karena kau tidak akan membiarkanku menunggu begitu lama.” kata Nicole seraya memeluk Key erat. Key masih diam bergeming tanpa membalas pelukan Nicole padanya. Sesaat wajahnya terlihat gamang, lalu beberapa saat kemudian wajah gamang itu berubah menjadi datar dan dingin.
“Key…” kata Nicole seraya mendogak menatapi wajah Key. Ia heran karena namja itu diam saja tanpa membalas pelukannya. Begitu melihat wajah dingin Key, perlahan ia melepaskan pelukannya.
“Kau… masih saja marah padaku?” tanyanya seraya menatapi Key lekat. Key menatap Nicole di hadapannya, tatapannya dingin, sedingin ekspresi wajahnya.
“Kau ingin mengatakan apa?” tanya Key dingin. Nicole menatapnya lekat. Ekspresi wajah yeoja itu nampak jelas sebuah ketidak-percayaan. Benar, Nicole tidak percaya kalau Key bisa bersikap dingin seperti ini padanya. Selama ini, tidak pernah sekalipun Key memperlakukannya sedingin ini.
“Key… namja itu…” kata Nicole menggantung.
“Namja ‘dengan mobil mewah itu’ tunanganmu, bukan. Arraseo, aku sudah tahu sejak lama. Kau sendiri yang memberitahukannya dan aku tidak pernah mempermasalahkannya.” potong Key.
“Jinjja? Jeongmalyo?” kata Nicole yang tampak sedikit senang waktu mendengar ucapan Key tadi.
“Ne, aku mencintaimu. Sangat-amat mencintaimu. Saking cintanya, aku tidak pernah mempermasalahkan keberadaan tunanganmu dan bahkan rela menjadi selingkuhanmu. Namja itu… tidak mengetahui hubungan kitakan?” tanya Key. Nicole tersenyum, lalu meraih lengan Key dan memeluknya erat.
“Anni, kau tenang saja. Kyuhyun Oppa tidak tahu tentang hubungan kita, dia hanya tahu kalau kau adalah teman sekampusku seperti Minho dan lainnya.” kata Nicole santai karena ia merasa kalau Key sudah tidak marah lagi.
“Heh, baguslah. Artinya aku tidak perlu khawatir untuk meninggalkanmu kapan saja karena namja itu tidak mungkin meninggalkan tunangannya ini.” kata Key seraya tertawa hambar. Mendengar itu Nicole langsung menatapi Key dengan tatapan bingung.
“… Museun… malhaeya?” tanya Nicole. Ia semakin bingung saat Key kembali menatapnya dengan tatapan dingin dan juga perlahan-lahan namja itu melepaskan pelukan Nicole pada lengannya. “Key…”
“Hubungan sia-sia ini, kita akhiri saja sampai disini. Aku lelah… benar-benar lelah. Batinku serasa tidak sanggup lagi menjalaninya. Aku mencintaimu, Nicole… Sangat mencintaimu. Aku ingin memilikimu seutuhnya sebagai yeoja-ku, tapi itu semua tidak bisa kulakukan karena posisiku hanya sebagai ‘simpanan’. Walaupun semua orang tahu kalau kau adalah yeoja-ku, tapi kenyataannya mereka tidak mengetahui keberadaan ‘namja dengan mobil mewah’ itu yang sudah terlebih dahulu memilikimu.”
“……”
“Aku tidak bisa meneruskannya lagi. Aku tidak tahan melihatmu saat bersamanya walaupun aku terus meyakinkan diriku kalau kau juga milikku dan tidak akan terjadi apa-apa selama kau masih di sampingku. Tapi… semakin lama aku semakin kehilangan keyakinan itu. Aku tidak bisa puas hanya menjadi selingkuhanmu, aku ingin memilikimu seutuhnya. Setiap kali melihat kau bersama namja itu, emosiku melonjak dan bahkan aku ingin memotong kedua tangannya saat namja itu menyentuhmu. Aku bisa gila kalau terus-terusan seperti ini.” kata Key panjang lebar. Ia terlihat begitu tertekan saat mengatakan semua isi hatinya yang selalu disimpannya selama ini.
“Key… bukankah kau bilang kau tidak mempermasalahkan keberadaan Kyuhyun Oppa sebagai tunanganku. Kau juga tahu bukan kalau pertunangan itu terjadi atas dasar kehendak kedua orangtua kami.” kata Nicole.
“Arraseo, Arraseo… Oleh karenanya aku selalu meyakinkan diriku bahwa tidak akan terjadi apa-apa selama kau ada di sampingku. Tapi Nicole, sampai kapan keyakinan itu bisa bertahan? Suatu saat nanti kau pasti akan menikah dengan namja itu. Lalu aku? Apa kau bisa membayangkan apa yang akan terjadi padaku setelahnya?” kata Key seraya menatap Nicole dengan tatapan sedihnya. Nicole menatap Key dengan nanar dan untuk beberapa saat lamanya ia hanya bisa diam.
“… Aku akan semakin terpuruk dan menderita. Tinggal menunggu waktu saja sampai akhirnya aku benar-benar kehilanganmu. Sebelum itu semua terjadi, lebih baik kita akhiri saja hubungan sia-sia ini. Hal ini juga akan sedikit mengurangi perasaan berdosaku pada tunanganmu karena sudah diam-diam mengkhianatinya.” kata Key.
“Key… kau yakin dengan ini semua? Kau yakin ingin melepaskanku?” tanya Nicole.
“Tentu saja aku tidak ingin ini terjadi. Siapapun tidak mungkin rela melepaskan orang yang dicintainya. Tapi aku harus melakukannya karena sejak awal hubungan kita ini adalah salah. Tidak pernah ada pembenaran terhadap pengkhianatan, Cole-ah.” kata Key seraya menatap Nicole dalam, begitu juga dengan yeoja itu. Untuk beberapa saat mereka saling tatap dalam diam. Key langsung menelan ludahnya dengan susah payah saat melihat mata Nicole yang mulai berair. Yeoja itu menangis, yeoja yang sangat-amat dicintainya itu menangis di hadapannya. Key sedikit tidak percaya kalau Nicole yang selalu bersikap angkuh dan pandai menyembunyikan perasaannya itu, akan menangisinya.
“Mianhae… Mianhae, Key…” kata Nicole dengan suara seraknya.
“Gwaenchana. Putus bukan berarti kita tidak berhubungan lagi. Kita adalah teman, dan selamanya akan menjadi teman baik.” kata Key seraya memaksakan diri untuk tersenyum padahal ia juga mati-matian menahan air matanya agar tidak keluar.
“Key-ah… sebelum semuanya berakhir, aku ingin mengatakan satu hal yang sejak dulu tidak pernah bisa kukatakan padamu.” kata Nicole seraya menyeka air matanya. Ia menatapi Key dengan dalamnya, seperti Key menatapnya saat ini. “Hubunganku dengan Kyuhyun Oppa hanyalah sebatas ‘perjodohan’, bukan atas cinta. Mati-matian aku berusaha agar bisa mencintai Kyuhyun Oppa, tapi tetap aku tidak bisa merasakan cinta itu.”
“……”
“Tapi denganmu, Key… setiap hal yang kau lakukan selalu bisa membuatku berdebar-debar. Bahkan hal-hal kecil yang tidak sebanding dengan yang selalu dilakukan oleh Kyu Oppa, selalu bisa membuatku berbunga-bunga. Hanya dengan kau menggandeng tanganku, bisa membuat jantungku bekerja dengan tidak normal. Hanya dengan kau memanggilku ‘chagiya’, bisa membuatku sangat bahagia sampai rasanya aku ingin terus tersenyum sepanjang hari. Key, denganmu… aku benar-benar merasakan seperti apa rasanya jatuh cinta. Aku mencintaimu, Key… sama sepertimu, aku sangat-amat mencintaimu.” kata Nicole.
Mata Key sedikit membulat saat mendengar penuturan Nicole yang tidak pernah dibayangkannya sebelumnya. Ia benar-benar tidak menyangka kalau Nicole ternyata juga mencintainya. Selama ini Key hanya berpikir bahwa Nicole hanya menerimanya karena bosan terus-terusan diganggu olehnya. Apalagi selama ini Nicole tidak pernah sekalipun menunjukkan perasaannya pada Key dan selama perpacaran, Nicole baru pertama kali memanggilnya ‘chagiya’ saat di hadapan Yuuri.
“Cole-ah… Neo…” kata Key yang tidak bisa bicara apa-apa lagi.
“Mianhae, Key… aku baru sekarang berani untuk mengatakannya. Butuh banyak keberanian untuk mengakuinya, dan saat keberanian itu datang… keadaan sudah berubah. Kita… terpaksa harus mengakhiri ini semua dan akupun harus rela melepaskan orang yang benar-benar mencintaiku juga kucintai.” kata Nicole.
“Anniyo, kalau kau memang mencintaiku, kenapa kau tidak membatalkan pertunanganmu saja?” kata Key.
“Jeongmal mianhae, Key… aku memang benar-benar mencintaimu. Tapi rasa cintaku itu tidak bisa mengalahkan keinginan orangtuaku. Nasib keluargaku, perusahaan Appa, terlebih lagi nasib ratusan karyawan yang sangat bergantung pada pertunangan ini. Aku mencoba realistis, Key. Aku tidak boleh mengorbankan orang lain hanya karena ke-egoisanku.” kata Nicole. Key menatapinya dengan tatapan nanar.
“Lagipula Kyuhyun Oppa namja yang sangat baik, hanya saja cara kami bertemu dan berhubungan yang ‘sedikit’ salah. Setelah menjadi istrinya, aku akan mulai belajar untuk mencintainya.” kata Nicole lagi.
“……”
Air mata Nicole mengalir lagi tapi yeoja itu berusaha tersenyum. Tidak ada lagi wajah angkuh yang sering diperlihatkannya. “Gumawoyo Key, jeongmal gumawo. Kau namja pertama yang memberiku cinta terindah dan juga namja pertama yang kucintai. Saat-saat bersamamu adalah saat paling indah dalam hidupku. Terima kasih untuk semua cintamu yang mungkin tidak akan bisa kubalas.”
“……”
“… Saranghae…” kata Nicole lalu melayangkan kecupan singkat dibibir Key sebagai tanda perpisahan. Air mata yang sejak tadi ditahan Key jatuh dan membuat sebuah sungai kecil dikedua pipi Key. Ia menatapi Nicole dengan tatapan penuh cinta, begitupula Nicole. Yeoja itu tersenyum, lalu berbalik dan berjalan meninggalkan Key. Melihat punggung Nicole yang terus menjauh, Key mengangkat tangannya berusaha untuk menggapai yeoja itu lagi. Tapi tertahan, karena ia sadar, bahwa ini adalah yang terbaik untuk mereka.
***
Minho berjalan cepat setelah sebelumnya ia membanting pintu mobil. Myungsoo yang saat itu masih di dalam mobil dan baru selesai memarkir mobil tersebut, seketika terlonjak kaget gara-gara ulahnya. Ia langsung mengelus dadanya dan beberapa kali berdecak melihat kelakuan temannya itu. Setelah selesai dengan urusan mobil, iapun keluar dan berjalan dengan cepatnya juga memasuki sebuah bar. Ia celingukan kesana kemari mencari sosok Minho yang ntah berada dimana. Begitu ia menemukan sosok temannya itu, langsung ia berjalan mendekat.
“Key wae irae?” tanyanya saat melihat Minho sedang menggoncang-goncangkan bahu Key yang tampak tertidur di meja.
“Dia mabuk. Isshhh… bocah ini! Yaa, ireonayo!!” seru Minho seraya menggoncang-goncangkan tubuh Key. Mendengar itu Myungsoo langsung mendekatkan kepalanya pada Key.
“Isshhh… berapa banyak alkohol yang diminumnya?” gerutu Myungsoo saat bau alkohol yang sangat kuat menyerang penciumannya. “Apalagi yang terjadi dengannya?”
“Ini semua pasti gara-gara yeoja itu!” kata Minho geram.
“Yeoja?” kata Myungsoo bingung, tapi beberapa detik kemudian barulah ia mengerti. “Aaa… Jung Nicole memang luar biasa. Hanya dia yang bisa membuat Key lepas kontrol seperti ini.” kata Myungsoo lagi.
“Diamlah, aku selalu kesal kalau mendengar nama yeoja itu. Bisa-bisanya ia membuat Key seperti ini.” omel Minho. “Yaa, Key!! Bangun, bodoh!” seru Minho kesal.
“Sudahlah, dia tidak akan sadar. Lebih baik kita membawanya ke rumah Il Woo Hyung, biar Hyung saja yang mengomelinya. Dia tidak akan mendengarkan kalau kita yang mengomel.” kata Myungsoo.
“Heh, geuraeyo! Namja bodoh ini, persiapkan telingamu saat kau sadar nanti!” kata Minho seraya tersenyum remeh. “Kajja!” katanya lagi lalu meraih tubuh Key dan memapahnya bersama Myungsoo.
“Aigo… ternyata tubuh bocah ini berat juga padahal ia kurus sekali.” keluh Myungsoo yang susah payah memapah Key yang tidak sadarkan diri.
***
“Dia ada dimana?” tanya Yoona yang tiba-tiba saja datang lalu langsung duduk di hadapan Minho. Namja itu langsung saja menatapinya.
“Nugu? Key?” tanya Minho. “Dia ada di rumah Il Woo Hyung. Semalam dia mabuk, mungkin karena bertengkar dengan Nicole atau… ntahlah, hanya Nicole yang bisa membuatnya begitu.”
“Kenapa kau membawanya ke rumah Il Woo Oppa?” tanya Yoona.
“Yaa, Im Yoona, siapa lagi yang bisa menasehatinya kalau bukan Il Woo Hyung? Dia tidak akan mendengarkan siapapun selain Hyung.”
“Isshh… apalagi yang dilakukan yeoja itu pada Key? Jung Nicole…” gumam Yoona dengan geramnya.
“Sudahlah, berhenti memikirkan Key secara berlebihan. Tidak ada gunanya kau seperti ini. Kalau kau tidak mengatakannya langsung, selamanya Key tidak akan menyadari perasaanmu.” kata Minho.
“Mworago? Yaa, Choi Minho, apa maksud ucapanmu barusan?! Perasaan apa?” bantah Yoona yang seketika langsung terlihat salah tingkah.
“Aisshh… jinjja, yeoja ini… Apa kau pikir aku tidak mengetahuinya? Perasaanmu pada Key itu bukan hanya sebatas perasaan terhadap sahabat, tapi kau memandang Key sebagai seorang namja. Kau… terlihat jelas menyukainya.” kata Minho langsung pada titik sasaran. Yoona yang mendengar itu spontan membulatkan mulutnya. Speechless, juga bingung ingin mengatakan apa.
“Yoona menyukai siapa?” tanya seseorang yang tiba-tiba saja datang dan membuyarkan suasana hening yang tadi beberapa saat sempat terjadi. “Yaa, Im Yoona, memangnya kau menyukai siapa?” tanya orang itu, Sooyoung. Ia langsung mengambil kursi dan duduk di antara Yoona dan Minho. Mendengar itu sontak Yoona langsung memelototkan matanya pada Minho yang hanya direspon acuh oleh namja itu.
“Anniyo. Memangnya siapa yang mengatakan menyukai siapa?” kata Yoona.
“Tadi Minho bilang, kau terlihat jelas menyukainya. Menyukai siapa?” tanya Sooyoung lagi.
“Membicarakan apa? Kalian terlihat serius.” kata Gikwang juga yang langsung duduk di hadapan Sooyoung.
“Gikwang, mereka sedang membicarakan orang yang disukai Yoona.” kata Sooyoung.
“Anniyo, kau jangan sembarangan bicara.” bantah Yoona langsung. “Yaa, Choi Minho, cepat jelaskan pada mereka!” kata Yoona setengah membentak pada Minho. Namja itu seketika memutar kedua bola matanya dengan ekspresi malas.
“Kalian ini berisik sekali. Tadi itu kami sedang mengobrol tentang boyband yang baru-baru ini sedang naik daun dan Yoona terlihat sangat menyukainya padahal dulu ia yang paling anti dengan boyband.” kata Minho dengan nada malas. Ia lalu menatap Yoona dengan tatapan ‘puas kau, Im Yoona’.
“N…Ne… tadi… kami memang memperdebatkan itu.” kata Yoona.
“Aigo… kukira kalian membicarakan orang yang disukai Yoona.” kata Sooyoung.
“Tentu saja bukan, kan sudah kubilang tadi bukan itu.” kata Yoona lagi seraya tertawa garing dan melirik Minho yang juga menatapnya sambil menyunggingkan senyuman remehnya. Melihat ekspresi wajah Minho itu, Yoona langsung menatapnya dengan tatapan ‘Apa kodok? Ini semua gara-gara kau, pabbo!’
***
Yuuri POV
Hufttt… kemana Iseul? Kenapa hari ini dia tidak masuk sekolah? Aku penasaran sekali dengan kejadian tadi malam. Apa yang terjadi? Iseul bilang Key datang ke rumahnya dan namja itu mabuk?
“Isshhh… kemana bocah itu? Seharusnya saat ini kau ada disini, Jung-ah…” gerutuku. Semua pelajaran hari ini tidak ada yang dapat kucerna atau yang bisa masuk ke otakku. Pikiranku terus melayang pada namja cantik yang selalu merengek minta dipanggil ‘Oppa’ olehku. Aigo… kenapa hari ini rasanya jam berputar lambat sekali?? Issshhh…
“Kang Yuuri!!”
Aku tersentak dari lamunanku dan sontak mengalihkan pandangan mataku yang sejak jam pelajaran pertama terus terarah ke luar jendela. Kutatap wanita paruh baya yang berdiri di depan kelas yang menatapku garang. Seketika kuteguk ludahku dengan susah payah.
“Kalau memang tidak berminat mengikuti pelajaran, silakan meninggalkan kelas ini!”
“Keundae, Saem…”
“Palliya!!” seru wanita itu lagi. Dengan langkah gontai, akupun beranjak meninggalkan kelas. Baiklah, mungkin memang sebaiknya aku berada di luar kelas daripada keberadaanku mengganggu guru yang mengajar.
“Key…” gumamku tanpa sadar seraya terus berjalan gontai tanpa arah.
***
Author POV
Key menghela napasnya panjang, sesaat masih terasa pusing di kepalanya pasca acara mabuk tadi malam. Siang ini ia terbangun dan langsung disambut dengan omelan panjang dari hyung-nya. Dalam hati ia terus menggerutu panjang. Suasana hatinya sedang buruk, malah ditambah dengan omelan hyung-nya. Sambil menggerutu, Key juga masih sempat mengutuki Minho dan Myungsoo yang tega-teganya membawanya pada Il Woo karena mereka tahu hanya Il Woo-lah yang bisa membuat Key tidak berkutik.
Issshh… dua bocah itu… Lihat saja, habis kalian nanti! Bisa-bisanya membawaku pada Il Woo Hyung. Telingaku sampai sakit gara-gara omelannya.
Key memijit-mijit kepalanya yang masih pusing lalu memperhatikan seluruh keadaan kamar Il Woo. Merasa sesuatu yang dibutuhkannya tidak ada disana, iapun beranjak keluar kamar. Baru saja ia membuka mata, langsung mendapatkan ceramah Il Woo selama 3 jam. Key merasa tenggorokannya benar-benar kering dan ia membutuhkan segelas air dingin untuk membasahinya. Untuk itu, iapun berjalan keluar kamar mencari segelas air sambil terus memegangi kepalanya.
“Oo… Key Oppa, kau sudah bangun?” seru seseorang yang sontak membuat Key menoleh. “Oppa, gwaencahanayo?”
“Iseul-ah, kau tidak ke sekolah?” tanya Key saat melihat Iseul berjalan mendekatinya.
“Anniyo, Oppa. Hari ini aku meliburkan diri sendiri.” jawab Iseul.
“Mwo?” kata Key bingung, tapi beberapa detik kemudian barulah ia sadar. “Yaa, kau membolos, eo?” serunya yang hanya dibalas Iseul dengan cengirannya.
“Issshhh, kau ini! Kau gagal sebagai pelajar! Seharusnya kau tiru Yuuri yang…” kata Key menggantung. Tiba-tiba saja pikirannya melayang pada Yuuri.
“Waeyo, Oppa?” tanya Iseul heran saat tiba-tiba Key terdiam.
“Iseul-ah, sekarang sudah jam berapa?” tanya Key yang tiba-tiba terlihat panik.
“Jam… 2 siang, Oppa. Waegeuraeyo?”
“Iseul, sepertinya Oppa harus pergi.” kata Key lalu buru-buru beranjak, tapi secepat itu pula Iseul memegangi lengan Key.
“Oppa, kau akan kemana?” tanya Iseul.
“Aku harus pulang. Sebentar lagi jam sekolah kalian usai dan aku harus menjemput Yuuri.” jawab Key. Mendengar itu ntah mengapa rasanya Iseul langsung dibuat kesal.
“Oppa, memangnya untuk apa Oppa menjemput Yuuri? Diakan bisa pulang sendiri? Biasanya Minhyuk Oppa juga tidak pernah menjemputnya! Lalu kenapa Oppa bersikap berlebihan begini padanya?!” kata Iseul yang terdengar jelas kesalnya.
“Kakinya sedang terluka, Iseul-ah, dan Oppa yang menyebabkannya begitu. Hanya ini yang bisa Oppa lakukan untuk menebus rasa bersalah Oppa padanya juga pada Minhyuk karena tidak bisa menjaga dongsaeng-nya dengan baik. Mianhae, Oppa harus pergi sekarang.” kata Key lalu beranjak pergi. Pegangan Iseul pada Key seketika terlepas bersamaan dengan menjauhnya punggung namja itu. Iseul hanya bisa terdiam sambil menatapi Key dengan perasaan kecewanya.
“Dua kali… Sadarkah Oppa, sudah dua kali kau meninggalkanku hanya karena Yuuri. Apa dimata Oppa hanya ada Yuuri?” gumam Iseul yang matanya sudah mulai berkaca-kaca.
***
“Yuuri-ya!!” seru Key seraya membuka pintu dengan terburu-buru.
Ia terlihat panik soalnya sewaktu ia menjemput Yuuri ke sekolah, yeoja itu tidak muncul-muncul juga. Bahkan saat sekolah sudah hampir sepi, yeoja itu tidak juga muncul. Akibatnya Key jadi panik dan belingsatan tidak jelas. Ia mencari Yuuri kemana-mana bahkan ke kafe-kafe yang eerrr… tidak mungkin didatangi oleh siswa SMA. Putus asa tidak bisa menemukan Yuuri dimana-mana, akhirnya ia memutuskan untuk pulang dan berharap yeoja itu ada di rumah. Harapannya terwujud! Yeoja yang dicari-carinya ternyata saat ini ada di hadapannya, sedang duduk di sofa ruang tamu sambil menonton televisi dengan santainya.
“O… Key-ah…” kata Yuuri yang tampak bingung melihat Key yang terlihat panik.

End

LOVE YOU MORE (PART 5)

Published October 6, 2012 by kangyuuri

Love You More (Part 5)

Image

 

Author             : Kangyuuri

Cast                 : Key SHINee, Kang Yuuri (OC).

Other Cast       :Buanyaaakkkk bangetttt… Saking banyaknya, Author sampe lupa/ lhaaa????

Genre              : Romance, Sad, comedy (mungkin), heheheee… pokoknya campur aduk!

Length             : Sinetron…./gubrak!!!

UWAAAAA… JEONGMAL MIANHAE…. Maaf-maaf-maaffffff bangetttt…. Aku ngilang hampir 2 bulan dan gak nge-publish ff gak jelas ini… Ada yang nungguin gak???/heningggg…. Akhir-akhir ini banyak banget yang mesti aku kerjain, dari yang penting sampe yang gak mutu bangeetttt…. Karena publish-nya lama, jadi part ini aku buat agak panjangan, semoga ceritanya gak ngecewain… So, simakin aja Love You More part 5 ini… trus jangan lupa, tinggalin koment-nya….

***

Yuuri POV

Gumawo, Oppa.” kataku seraya sedikit membungkukkan badan ke arah namja yang saat ini duduk di sampingku. Namja itu mematikan mesin mobilnya lalu menoleh yang kemudian langsung tersenyum kepadaku.

Cheonma. Oh ya, Yuuri-ssi…” panggilnya.

Nde?”

“Apa Key ada di dalam?” tanyanya yang seketika membuatku terdiam. Hatiku mencelos. Kutatapi namja di sampingku ini yang lagi-lagi membalas tatapanku dengan senyuman kharismatisnya. “Aku tahu saat ini Key ada bersamamu karena Minhyuk memintanya menjagamu.”

“A… a… itu… Minhyuk Oppa memang selalu merepotkan, mianhae Oppa kalau dia pernah merepotkanmu.” kataku tidak nyaman. Ntah mengapa aku merasa kalau saat ini aku sangat merepotkan orang lain.

Anniyo, Oppa-mu orang yang baik. Aku sangat suka berteman dengannya. Kau tahu, baik aku, Key, ataupun Minhyuk, juga Il Woo Hyung itu sudah seperti saudara. Tentunya kau-pun juga sudah kuanggap sebagai dongsaeng-ku sendiri.” katanya seraya tersenyum lembut dan mengusap rambutku pelan.

Oppa, Minyuk Oppa itu terlalu menyebalkan. Kenapa bukan Oppa saja yang menjadi Oppa-ku? Gumawo Minho Oppa.” kataku.

Arraseo. Keundae, apa Key sudah pulang?” tanya Minho Oppa seraya menatap ke dalam rumah yang tampak gelap.

Mwolla, Oppa. Mungkin saja belum.” jawabku tidak yakin saat mengingat kalau tadi siang dia meneleponku.

“Aisshhh… Namja itu. Tadi saat pertandingan di kampus dia juga menghilang ntah kemana, ponselnya juga tidak bisa dihubungi. Kemana perginya bocah itu?” gerutu Minho Oppa yang seketika membuatku tertawa kecil. “Waeyo?”

Anniyo Oppa, lucu saja saat kau mengatainya bocah. Biasanya dia yang mengataiku bocah, menyebalkan sekali.” kataku yang juga membuat Minho Oppa tertawa. “Oppa mau masuk dulu? Udara dingin sekali, kalau Oppa mau, aku bisa membuatkan Oppa minuman hangat.” tawarku.

Geurae, aku tidak mungkin menolak ajakan dongsaeng-ku yang…” kata Minho Oppa menggantung. Matanya yang besar semakin membesar saat menatap sesuatu di hadapannya. Karena heran melihat perubahan ekspresinya itu, akupun langsung mengikuti arah tatapannya. Di depan mobil Minho Oppa sudah berdiri seorang yeoja yang sangat kukenali.

“Jung Nicole… apa-apaan dia?” desis Minho Oppa sebelum ia beranjak keluar dari mobilnya.

“Choi Minho…” panggilnya dan saat matanya menangkap bayanganku, yeoja itu langsung mencibir. “Cih… bahkan kaupun bisa bersama bocah ini.” sindirnya.

“Dia dongsaeng-ku dan bukan urusanmu aku bisa bersama siapapun.” kata Minho Oppa sinis. “Ada apa? Kenapa kau ada disini?”

“Aku mencari Key, apa kau tahu dimana dia?” tanya Nicole dengan nada angkuhnya.

Nan mwollaseo. Dia sudah menghilang sebelum pertandingan basket tadi. Seharusnya kau yang lebih tahu.” jawab Minho Oppa tak kalah angkuhnya.

“Key juga tidak ada di apartemennya.” kata Nicole lagi yang kali ini matanya menatapku. “Key pernah bercerita kalau dia diminta Minhyuk untuk menjaga dongsaeng-nya dan benar-benar tidak kusangka kalau itu kau.” katanya lagi seraya menatapku tajam sedangkan aku hanya bisa diam sambil membalas tatapannya.

“Apa Key sudah pulang?” tanyanya lagi yang masih dengan nada angkuhnya. Astaga, ingin sekali rasanya aku mengusir yeoja angkuh ini dari rumahku. Aku tidak tahu masalahnya apa, tapi tiap kali melihat Nicole rasanya emosiku selalu tersulut.

“Tidak ada. Aku dan Yuuri sejak tadi sudah ada disini dan Key sama sekali belum pulang. Pergilah ke apartemennya lagi, mungkin dia disana sekarang.” kata Minho Oppa yang lebih terdengar seperti mengusir daripada memberi saran.

Geurae, aku ke apartemennya sekali lagi. Beritahu aku kalau kau bertemu dengan Key.” kata Nicole setelah beberapa saat tampak bertatapan tajam dengan Minho. Dari sudut mata kedua orang itu terlihat jelas kalau hubungan keduanya tidak bisa dibilang baik.

“Isshh… yeoja itu…” gerutu Minho Oppa pelan setelah Nicole menghilang.

Oppa, kau terlihat tidak menyukainya, bukankah kalian teman?” kataku ragu.

“Aku memang tidak menyukainya, Yuuri, sangat-tidak-menyukainya!”kata Minho Oppa tegas yang tidak membuatku bertanya lagi tentang alasannya tidak menyukai Nicole. “Kajja!” katanya lagi seraya beranjak dan akupun mengikuti langkahnya menuju rumahku.

“Yuuri-ah, aku sering kemari, tapi kenapa kita tidak pernah bertemu?” kata Minho Oppa yang kuyakin sedang berusaha mencairkan suasana yang tadi sempat jadi kaku.

Jeongmalyo?” tanyaku juga yang berusaha bersikap biasa.

Ne, aku bahkan tidak tahu kalau Minhyuk punya dongsaeng.”

Oppa-ku memang bodoh, Oppa. Pasti dia lupa menceritakannya pada kalian.” kataku seraya membuka pintu dan saat masuk tatapanku langsung tertuju pada sebuah sepatu yang sudah bertengger manis di rak sepatuku.

“Ada apa?” tanya Minho Oppa.

Oppa… sepertinya… dia sudah pulang.” kataku ragu. Mendengar itu Minho Oppa sempat terdiam beberapa saat, dari wajahnya terlihat kalau ia sedang berpikir. Tapi beberapa detik kemudian ia langsung menerobos masuk lalu kembali lagi ke hadapanku.

“Dimana kamar Key?” tanyanya dengan tergesa-gesa.

“Di kamar Minhyuk Oppa.” jawabku yang kebingungan dengan reaksinya yang berubah tiba-tiba. Setelah itu Minho Oppa kembali berlari menuju kamar Minhyuk Oppa meninggalkanku yang masih kebingungan.

***

Author POV

Tok! Tok! Tok!

“Key, kau di dalam?! Ini aku Minho, buka pintunya, Key!!” seru Minho keras seraya menggedor-gedor pintu kamar di hadapannya. Dari belakang namja itu, tampak Yuuri yang berjalan dengan ekspresi campur aduk antara bingung, heran, dan cemas saat melihat Minho tiba-tiba saja menerobos masuk rumahnya. Yeoja itu langsung berdiri di dekat Minho yang terus sibuk menggedor pintu kamar Minhyuk dengan raut cemas di wajahnya.

Oppa, waegeuraeyo?” tanya Yuuri bingung.

Mwolla, tiba-tiba saja aku merasa sedikit cemas.” jawab Minho cepat. “Key, kau pasti belum tidur. Cepat buka pintunya sebelum aku mendobrak paksa!” seru Minho setengah berteriak.

Cekrek!! Pintu terbuka dan muncullah sesosok namja cantik dengan piyama pink bermotif hati yang sukses membuat Yuuri menggembungkan pipinya karena menahan tawa. Sumpah demi apapun, seumur hidup aku tidak akan pernah sudi memakai piyama dengan warna ataupun motif senorak itu! Sungguh, namja ini memang gila!-batinnya seraya terus menahan tawa.

Mwoya? Kenapa malam-malam kau berteriak di rumah orang, huh, Choi Minho? Apa kau tertular virus evil-nya Sooyoung?”

Gwaenchana?” tanya Minho langsung. Sepertinya namja ini benar-benar khawatir sampai-sampai ia tidak menyadari seberapa ‘uniknya’ kostum tidur yang dipakai Key sekarang.

“Yaa! Neo wae irae? Tentu aku baik-baik saja! Seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu? Gwaenchanayo? Apa otakmu sudah mulai tidak beres sampai kau berteriak malam-malam begini di rumah orang? Untung kau temanku, jika tidak, bisa kupastikan kau sudah diseret paksa oleh satpam komplek ini. Arrachi?” omel Key panjang lebar. Melihat Key yang mengomel panjang lebar seperti itu ntah mengapa Minho merasa jadi sedikit lebih lega. Setidaknya sahabatnya itu memang benar-terlihat-tidak apa-apa.

“Baguslah…” kata Minho seraya menghela napas.

Mworago?” kata Key heran. Tiba-tiba saja matanya menangkap siluet Yuuri yang memang sejak tadi ada disana. “Yaa! Kang Yuuri si ‘yeoja biasa’! Kemana saja kau tadi siang, hah?!” seru Key yang refleks membuat Yuuri langsung menoleh.

“Kau sengaja kabur dan menyuruh temanmu untuk menggantikanmu? Kau pikir itu boleh, eoh?” seru Key seraya berjalan keluar dari kamarnya.

“Oo… Sudah malam, sepertinya aku harus tidur. Minho Oppa, gumawo sudah mengantarku. Aku permisi dulu, annyeong!” kata Yuuri yang tampak buru-buru kabur menaiki tangga menuju kamarnya.

“Yaa! Yaa! Yaa! Kang Yuuri, kau pikir kau bisa kabur, hah? Tunggulah besok yeoja biasa!!” seru Key yang sama sekali tidak dipedulikan Yuuri karena yeoja itu sudah masuk ke kamarnya.

“Iss… bocah sialan itu!” runtuk Key yang tampak kesal. “Yaa, Choi Minho, kenapa kau bisa bersama dengan bocah itu, huh?” tanyanya tanpa menoleh pada Minho. Merasa tidak mendapat respon dari temannya itu, Key-pun sontak menoleh dan mendapati Minho sudah tidak ada di tempatnya.

Aigo… sudah lama sekali aku tidak mengunjungi kamar ini.” kata Minho yang ternyata sudah masuk ke dalam kamar. Namja itu langsung membaringkan tubuhnya ke atas kasur. “Key-ah, kita sering bermain disini, tapi kenapa tidak pernah tahu kalau Minhyuk memiliki dongsaeng?”

Mwolla, Minhyuk bilang dia juga lupa memberitahu.” jawab Key santai seraya duduk di sofa yang ada di kamar itu. Sofa itu menghadap langsung ke arah halaman belakang rumah dan hanya dibatasi dengan dinding kaca transparan. “Oh ya, kenapa Yuuri bisa bersamamu?”

“Sewaktu aku akan ke kafe tidak sengaja melihatnya berteduh di halte, kuajak saja dia bersamaku. Key-ah, dongsaeng-nya Minhyuk ternyata sangat manis, kau harus menjaganya dengan baik.”

“Yaa! Yaa! Yaa! Choi Minho, apa-apaan nada bicaramu itu? Seperti kau menyukai bocah itu saja.” kata Key.

Ne, aku menyukainya.” kata Minho seraya tersenyum simpul.

Mworago? Minho-ya…” kata Key menggantung dengan ekspresi setengah tidak percaya.

“Yaa! Aku menyukainya sebagai dongsaeng. Kau tahukan aku sangat ingin memiliki yeoja dongsaeng dan Sooyoung akan menghajarku kalau aku memanggilnya dongsaeng. Hahhh… aku sangat ingin memiliki adik perempuan seperti Yuuri.” kata Minho yang langsung direspon Key dengan dengusannya.

“Huh, kau belum tahu bagaimana sifat aslinya yang kasar, buas, dan keras kepala. Kalau kau tahu itu, kupastikan kau akan menarik kata-katamu tadi.” kata Key. Minho tidak menjawab lagi, namja itu tampak memperhatikan seluruh area kamar Minhyuk dan suasanapun sempat hening untuk beberapa saat.

“Key-ah,” panggilnya.

“Hmmm?”

“Saat pertandingan basket tadi kau kemana?” tanya Minho yang tampak menatapi langit-langit di atasnya.

“……”

“………”

Keugae… mendadak aku ada urusan yang sangat penting sekali.” jawab Key setelah beberapa saat diam.

Jinjja?” tanya Minho seraya bangkit dan menatapi Key lekat.

Ne. Aku tidak sempat memberitahu kalian karena aku buru-buru sekali. Mianhae, bagaimana hasil pertandingannya? Apa aku mengacaukannya?” kata Key yang langsung mengalihkan pembicaraan.

Anni, kami bisa mengatasinya.” jawab Minho yang terlihat tidak puas dengan jawaban Key. “Keundae Key…” kata Minho menggantung seraya menatapi Key yang juga menatapinya.

Waeyo? Apa terjadi sesuatu?” tanya Key.

Eobseoyo, tidak terjadi apa-apa. Hasil pertandingan tadi luar biasa, kami bisa meraih kemenangan dengan mudah. Kau lihatkan, kami bisa mencetak skor mutlak walaupun kau tidak ada.” kata Minho seraya berdiri dengan angkuhnya.

“Yaa, Choi Minho. Apa maksud dari kata ‘walaupun kau tidak ada’ tadi? Kau meragukan kemampuanku selama ini, huh?” kata Key yang tampak tidak terima. Namja itu langsung berjalan ke hadapan Minho dan berdiri di hadapan Minho dengan posisi menantang.

Aigo… Tentu saja. Kemampuan bermain basketmu tidak lebih baik dariku, Key. Lagipula mana ada pemain basket handal yang memakai piyama pink dengan motif hati seperti ini? Apa jadinya kalau semua fans-mu tahu kalau kau memakai baju tidur semanis ini?” ejek Minho.

Wae? Kau juga mau? Silakan, akan kupinjamkan padamu.” kata Key lalu melepas piyamanya dan memberikannya pada Minho.

Mwo? Kau pikir aku akan memakai piyama seperti ini? Key-ah, apa kau baru mengenalku? Nan, Choi Minho, namja tampan penuh kharisma yang melelehkan, memakai benda ini sama saja dengan menggadai semua reputasiku.” kata Minho yang malah membuat Key menyeringai lebar.

Aigo… Minho-ya… Kau tidak perlu malu seperti itu di depanku. Bukankah sebelumnya kita juga sering ber-cosplay menjadi yeoja bersama Minhyuk? Kau lupa? Aku masih menyimpan fotonya kalau kau tidak ingat.” kata Key dengan nada menggoda seraya berjalan mendekati Minho yang refleks berjalan mundur untuk menghindar.

“Diam Key, jangan mengungkit masalah itu lagi.” kata Minho.

Omo… wajahmu memerah! Kau terlihat manis sekali saat malu-malu seperti itu, Minho-ya…” goda Key.

“Sudah, Key. Cukup…” kata Minho seraya terus berjalan mundur.

“Ayolah, pakai piyama ini sebentar saja… Aku ingin sekali melihat kau terlihat manis seperti saat kita ber-cosplay dulu. Jebal Minho-ya…” paksa Key terus.

“Kau gila, Key… Hentikan! Ini membuatku mual… Yaa! Yaa! Yaa…” kata Minho yang tidak bisa kemana-mana lagi karena terhimpit pinggiran kasur. Saat itu tidak sengaja kaki Minho menginjak pinggiran seprai yang licin dan sukses membuatnya terpeleset. Namja itu langsung oleng ke belakang dan iapun refleks menarik lengan Key yang ada di dekatnya. Akan tetapi Key yang belum sempat mempersiapkan diri untuk menahan tubuh besar Minho juga sukses jatuh ke atas tubuh Minho.

Appoyo…” ringis Key karena kepala terbentur kepala Minho.

“Key-ah, cepat menyingkir… Kau itu berat sekali…” ringis Minho juga seraya mengusap-usap dahinya. Tiba-tiba…

Cekrek!

“Kunci pabbo, Minhyuk Oppa mene…”

Key dan Minho sontak menoleh ke arah suara. Pintu kamar itu terbuka dan disana muncul seorang yeoja yang langsung memasang ekspresi aneh di wajahnya. Mata dan mulutnya membulat lebar sehingga yeoja itu langsung menutupi mulutnya dengan kedua tangannya. Yeoja itu… Yuuri… menatapi mereka dengan ekspresi terkejut dan tidak percaya. Melihat ekspresi Yuuri itu jelas saja Key langsung mengerutkan keningnya dan sontak menatapi dirinya. Berada di atas tempat tidur dan  lebih parahnya di atas tubuh Minho tanpa pakaian. Keadaan seperti ini akan membuat siapa saja berpikiran kalau mereka…

“KYAAAA…. NAMJA MESUM!! APA YANG KALIAN LAKUKAN DI RUMAHKU?!!”

“ARRGGGHHHH!!!”

Well… inilah jeritan-jeritan yang terdengar di malam yang sepi itu. Apa yang terjadi? Haha, silakan berpikir keras…

***

Key POV

Mwoya?!” tanyaku setengah kesal saat melihat ekspresi yeoja yang berseragam SMA di hadapanku ini yang tampak terus-terusan menggembungkan kedua pipinya karena menahan tawa.

Anniyo, abaikan saja aku.” jawabnya yang masih terus menahan tawa. Isshhh… bagaimana mungkin aku bisa mengabaikannya sementara sikapnya begitu menyebalkan.

“Yaa!! Kang Yuuri si ‘yeoja biasa’! Berhenti tertawa! Apa kau masih belum puas menertawakanku sejak tadi malam?!” seruku setengah berteriak. Isshh… mengapa bocah ini begitu menyebalkan?!!

Arraseo, kunci pabbo… Aku sangat ingin berhenti tertawa… tapi… hhhmmmppttt…” Isshhh… lihatlah, ia bahkan kembali terpikal-pikal! Bocah ini sungguh-benar-benar-sangat-menyebalkan-sekali!

“Aisshhh…. Yaa, Kang Yuuri si ‘yeoja biasa’! Berhenti tertawa sekarang juga atau aku yang akan menghentikan tawamu dengan MULUTKU!!” ancamku tegas yang telak langsung membuatnya membungkam mulutnya dengan kedua tangannya. Ia menatapku dengan mata yang membulat lebar. Aigo… mengapa yeoja ini benar-benar aneh? Baru saja beberapa detik lalu ia menjelma menjadi sosok yang sangat menyebalkan, sekarang tiba-tiba saja ia menjadi sosok yang sangat polos. Percaya begitu saja dengan ucapanku.

 “Huh, dasar bocah. Kau itu terlalu polos untuk bocah seusiamu.” kataku dengan nada merendahkan sambil tertawa mendengus.

Neo…” katanya menggantung seraya melepaskan tangan dari mulutnya, kulihat ia tampak mendesis kesal.

“Sudahlah, cepat habiskan sarapanmu dan pergi sekolah. Kau bisa terlambat kalau tidak berangkat sekarang.” kataku santai. Tanpa berkata apa-apa, yeoja itu menghabiskan susunya lalu beranjak dari meja makan. Akan tetapi baru beberapa langkah ia berbalik menatapku.

Wae?” tanyaku.

“Tugas hari ini… apa?” tanyanya. Oo… dia benar sekali! Hampir saja aku lupa untuk memberinya perintah hari ini dan ditambah dengan perintah semalam yang tidak dikerjakannya. Tapi… apa? Apa yang harus dikerjakan oleh yeoja ini?

Mwolla.” jawabku santai seraya mengendikkan bahuku.

“Yaa, kau ini! Disaat aku sedang tidak ada kerjaan, kau malah tidak memberiku perintah. Ketika aku sedang sibuk, kau malah meneleponku dan memberiku perintah ini itu.” omelnya.

“Kang Yuuri si ‘yeoja biasa’, siapa aku?” tanyaku dengan nada santai. Kulihat ia tampak menghela napas panjang yang kutahu adalah usahanya untuk meredam kekesalannya.

“Kau… ma… majikanku.” katanya yang terdengar sangat terpaksa. Kusunggingkan senyum miring merendahkan khas-ku.

Binggo! Karena aku adalah majikanmu, jadi aku bisa memerintahmu sesuka hatiku. Ada masalah?” kataku yang hanya direspon Yuuri dengan delikan tajamnya. Hahaha, aku sangat menyukai ekspresinya yang seperti itu. Yeoja biasa ini terlihat sangat menggemaskan saat ia marah.

“Sudah, pergilah…” kataku lagi seraya mengibaskan tanganku menyuruhnya pergi. Masih dengan tatapan tajamnya, Yuuri berbalik dan berjalan menjauhiku. Aku tidak bisa menahan senyuman geliku saat melihatnya berjalan sambil menghentak-hentakkan kakinya ke lantai karena kesal.

***

“Berhenti disini!” Aku langsung menatap yeoja jangkung yang tadi sengaja mencegat langkahku dengan ekspresi terganggu. Benar, yeoja ini sangat mengganggu!

Waeyo?” tanyaku malas.

“Key-ah, kemana yang lain? Kenapa hanya ada kau sendiri disini?” tanya yeoja itu-Choi Sooyoung.

Mwolla. Kau cari saja sendiri.” jawabku seraya kembali berjalan, tapi ia kembali merentangkan sebelah tangannya untuk menahanku. “Apa lagi?” tanyaku jengah.

“Heemmm… Key-ah, tahukah kau kalau saat ini aku sangat bosan?” katanya dengan wajah polosnya.

Arraseo. Kalau kau bosan, kenapa tidak mencari mangsa seperti biasanya dan biarkan aku pergi.” kataku seraya beranjak tapi Sooyoung lagi-lagi merentangkan tangannya.

Geuraeyo, Key!” katanya dengan ekspresi senang. “Keundae… kenapa kau terlihat bosan juga, eoh? Aa… karena kau bosan, maka aku akan dengan senang hati untuk menemanimu. Kajja, kita pergi bersenang-senang!” kata Sooyoung yang tiba-tiba saja langsung menggamit lenganku lalu membawaku bersamanya (atau lebih tepatnya menyeretku).

“Yaa! Yaa! Yaa! Choi Sooyoung, kau mau membawaku kemana? Lepaskan aku!” seruku sambil berusaha melepaskan diri. Aigo… kenapa semua yeoja di sekitarku selalu bersikap seenaknya begini?

Aigo… bukankah kau sedang bosan, makanya kutemani kau bersenang-senang.” katanya sambil terus menyeretku. Senyuman nakal tersirat jelas di wajah evil-nya. Isshh… yeoja ini benar-benar…

“Key-ah!!” seru seseorang yang seketika membuat langkahku dan Sooyoung berhenti. Kami berduapun refleks menoleh. “Oo… Sooyoung juga ada disini ternyata.” kata orang itu. Aku menatapnya dan… O… o… tidak! Satu masalah lagi datang!

***

Iseul POV

Istirahat siang ini berlangsung sepi. Anniyo, sebenarnya sekolah tidak sepi, bahkan terkesan sangat ramai. Hanya saja aku merasa sangat sepi. Sejak tadi aku hanya berdiam diri saja di tempat ini sambil sesekali menatapi sahabatku yang sejak tadi juga tidak henti-hentinya menatapi ponsel di tangannya. Tiap semenit sekali ia menatapi layar ponselnya lalu berdecak kesal. Ntahlah, ntah apa yang ditunggunya.

“Yuuri-ya, neo wae irae?” tanyaku-untuk kesekian kalinya. Ia mendogak, menatapku dengan ekspresi bingung.

Wae?” katanya yang malah balik bertanya.

“Kenapa sejak tadi kau terus menatapi layar ponselmu? Apakah ada yang kau tunggu?” tanyaku. Mendengar itu refleks Yuuri kembali menatapi ponselnya yang masih sepi sedari tadi lalu menghela napas panjang.

“Hahhh… kenapa sampai saat ini dia tidak menghubungiku juga? Padahal saat ini aku sama sekali tidak ada kerjaan.” keluh Yuuri yang sama sekali tidak kupahami.

Museun malhaeya? Apa kau menunggu telepon dari Key Oppa?” kataku berusaha menebak-nebak, ntah mengapa hati kecilku sangat berharap Yuuri akan menggelengkan kepalanya.

Ne, aku sedang menunggu namja pabbo itu meneleponku untuk memberitahu perintah selanjutnya. Lihatlah namja gila itu, saat aku sedang senggang begini dia sama sekali tidak menghubungiku. Kemudian saat aku sedang sibuk dia akan memerintahku tanpa peduli dengan urusanku. Isshhh… benar-benar namja menyebalkan!” gerutu Yuuri.

Aku menatapnya lekat, tampak jelas bahwa ia sangat tidak menyukai Key Oppa. Tiba-tiba saja bayangan kejadian semalam di taman itu berulang kembali… Kejadian saat aku menemui Key Oppa.

Flashback…

“Perintah yang akan kau berikan pada Yuuri. Saat ini dia sedang ada kegiatan lain jadi tidak bisa menemuimu, makanya aku menawarkan diri untuk menggantikannya. Katakan perintahnya, Oppa. Aku janji akan melakukannya sebaik mungkin.”

 “Iseul-ah, mianhae… tapi yang seharusnya menerima perintah dariku adalah Yuuri, bukan kau. Aku bisa menundanya sampai Yuuri tidak sibuk lagi. Mianhae, sudah merepotkanmu.”

“Oppa…”

“Pulanglah, kau akan sakit kalau tidak segera mengeringkan tubuhmu.”

Flashback end

“Yaa! Jung-ah!” tiba-tiba saja aku terlonjak kaget dan spontan menatapi Yuuri yang tampak kesal. “Kenapa kau melamun, eoh? Apa yang kau pikirkan?”

“Isshhh, kau mengejutkanku, pabbo!” seruku kesal sementara Yuuri malah menyengir. “Yuuri-ya… keugae…” kataku menggantung seraya menatapi Yuuri yang juga menatapku dengan ekspresi bingung diwajahnya. Tuhan, haruskan kukatakan apa yang sedang mengganggu pikiranku saat ini?

Waeyo?” tanya Yuuri.

Anniyo… sudah saatnya kita pulang. Kajja!” kataku lalu segera bangkit tanpa peduli dengan Yuuri yang tampak mengerutkan dahinya heran melihat tingkahku.

***

Key POV.

“Haaahhh…”

Kubanting tubuhku ke atas kasur Minho. Gikwang dan Myungsoo yang saat itu sedang asyik dengan stik PSP Minho langsung mem-pause permainan mereka lalu menolah.

“Ada apa?” tanya Myungsoo.

Anniyo…” jawabku lemas tanpa melihat mereka berdua.

“Yaa! Nada bicaramu sama sekali tidak mengatakan kalau tidak ada apa-apa.” kata Myungsoo lagi.

Jeongmal eobseoyo, mungkin… hanya masalah kecil.” kataku yang jujur… juga kuragukan. Sesaat kutatapi langit-langit di kamar Minho sebelum muncul sosok Gikwang di hadapanku, atau… lebih tepatnya di atas tubuhku. “Wae? Jangan berdiri seperti itu! Aku sangat trauma dengan posisi begitu.” kataku yang buru-buru bangkit lalu menyingkirkan tubuh Gikwang. Isshhh… aku masih trauma dengan kejadian tadi malam saat Minho… Yaa!! Lagi-lagi aku mengingatnya! Isshhh…

“Masalah kecil apa?” tanya Gikwang yang sudah duduk di sampingku.

Anniyo… bukan masalah serius…” tolakku. Haruskan kuberitahu kejadian di kampus tadi? Sepertinya yeoja itu bisa menyelesaikan masalahnya sendiri dengan bantuan teman-teman yeoja-nya tanpa perlu kami ketahui.

“Yaa! Kau membuatku penasaran…” kata Gikwang juga.

“Sungguh…” kataku menggantung saat tiba-tiba Minho masuk dengan terburu-buru dan duduk di dekatku.

“Yaa! Yaa! Yaa! Choi Minho, jangan terlalu dekat seperti ini… Menjauh dariku!” kataku seraya mendorong tubuhnya. Tapi Minho bukannya menjauh, malah kembali mendekatkan tubuhnya.

“Sooyoung kenapa?” tanyanya langsung. Mendengar itu langsung saja aku berdecak seraya membuang mukaku. “Dia uring-uringan dan tidak bersemangat sama sekali. Dia bahkan tidak mempedulikan orang-orang yang mengajaknya bicara. Sooyoung tidak pernah seperti itu sebelumnya, kau tahu kenapa?”

Mwollaseo… Tanyakan langsung padanya, kenapa bertanya padaku?” kataku malas.

“Yaa… sudah kubilangkan dia tidak merespon orang-orang yang bicara dengannya. Kulihat tadi kau datang bersamanya, jadi kau pasti tahu kenapa. Wae?”

“Isshhh… Haruskah kita bergosip seperti ini?” kataku yang langsung dianggukkan mantap oleh Minho dan Gikwang. Ishh… dua namja penggosip ini…

“Di kampus tadi, saat pulang, Jinyoung menemuiku bersama dengan seorang yeoja yang sangat cantik. Mereka kelihatan sangat dekat dan sepertinya Sooyoung cemburu.” kataku akhirnya.

Mwo? Sooyoung cemburu? Cemburu dengan siapa?” tanya Myungsoo tiba-tiba. Ia yang sejak tadi lebih peduli dengan PSP-nya langsung melempar stik PSP tersebut dan beranjak duduk di hadapanku.

***

Yuuri POV…

Gumawo, Oppa. Iseul-ah, gumawo…” kataku. “Kalian mau masuk dulu?” tanyaku seraya akan membuka pintu mobil Il Woo Oppa.

“Apa Key Oppa ada di rumah?” tanya Iseul seraya memperhatikan rumahku.

Nan mwollaseo.” jawabku. Benar, aku memang tidak tahu apakah namja itu ada atau tidak ada di rumah.

“Apa maksud perkataanmu, Iseul?” tanya Il Woo Oppa seraya berbalik menatap kami berdua. “Key… ada di rumahmu?” tanyanya lagi yang kuyakin khusus ditujukan untukku saat mata sipitnya mengarah padaku.

Ne, Key Oppa tinggal di rumah Yuuri selama Minhyuk Oppa pergi untuk menjaganya.” jawab Iseul langsung sebelum aku membuka mulutku untuk menjawab pertanyaan yang seharusnya aku yang menjawabnya.

“Benarkah itu?” tanya Il Woo Oppa lagi yang kali ini sepertinya benar-benar harus aku yang memberikan jawaban.

Ne, Oppa. Teman Minhyuk Oppa yang bernama Key itu memang tinggal bersamaku selama Minhyuk Oppa pergi. Sepertinya Minhyuk Oppa memintanya untuk menjagaku.” jawabku.

“Jadi kalian benar-benar tinggal bersama selama ini?” kata Il Woo Oppa dengan nada setengah tinggi.

“N… ne…” jawabku gagap.

“Aisshhh… kenapa kau tidak memberitahuku?”

Mianhae… kukira Minhyuk Oppa sudah memberitahumu, Oppa.”

“Bocah itu…” desis Il Woo Oppa.

Oppa, memangnya untuk apa Yuuri memberitahumu hal itu? Apa setelah memberitahumu, kau bisa menggantikan Key Oppa untuk menjaganya? Haha, maldo andwae, Oppa… Kau saja sudah sangat disibukkan oleh pekerjaanmu, mana mungkin bisa mengurusi hal lain.” kata Iseul panjang lebar. Kulihat Il Woo Oppa langsung melotot ke arahnya dengan ekspresi kesal.

“Isshh… kau ini!” desisnya kesal, sementara Iseul hanya acuh. “Yuuri-ya, kalau terjadi apa-apa, kau harus memberitahuku, arrachi? Sekarang kau masuklah!”

“A… arraseoGumawo, Oppa…” kataku bingung dengan maksud ucapan Il Woo Oppa. Langsung kubuka pintu mobilnya dan keluar. Beberapa detik kemudian mobil itu pergi dari hadapanku. Dengan langkah lemas kulangkahkan kakiku menuju pintu dan memasukinya.

“Aku pul… OMO!!!” aku menjerit karena terkejut. “Aissshhh… mengejutkan sekali!!” kataku seraya mengelus-elus dadaku. Saat ini, di hadapanku, berdiri seorang namja yang sejak tadi siang terus-terusan mengganggu pikiranku. Padahal aku berharap dia belum pulang karena memang biasanya dia tidak ada di rumah saat aku pulang sekolah.

Annyeong, Yuuri-ssi! Baru pulang sekolah??” sapanya seraya tersenyum… lebar. Isshhh… ntah mengapa aku merasakan firasat buruk saat melihat senyumnya itu.

“Apa maumu, kunci pabbo?” tanyaku waspada seraya mundur beberapa langkah darinya.

“Aku punya tugas spesial untukmu, Yuuri-ssi. Karena kau sudah membuatku kesal kemarin, jadi kau tidak boleh kabur lagi hari ini dan laksanakan tugasmu sebaik mungkin!” katanya yang masih dengan senyum lebarnya.

“Tu… tugas spesial apa?” tanyaku. Sumpah, sebelum-sebelumnya aku belum pernah setakut ini melihat senyum seseorang. Namja itu meraih beberapa kantong yang terletak di samping kakinya lalu menyodorkannya padaku.

“Pakai ini!”

Keugae mwoya?”

“Kau akan tahu saat memakainya. Palli, atau kau mau aku yang memakaikannya untukmu?” katanya lagi. Langsung kurebut kantong-kantong itu lalu buru-buru berjalan menuju kamarku. Akan tetapi, sebuah seringaian yang belum pernah kulihat di wajahnya tertangkap oleh sudut mataku sesaat sebelum aku menutup pintu kamarku.

***

“Kita akan kemana?” tanyaku untuk kesekian kalinya.

“Diamlah, kau sudah bertanya itu 8 kali.”

“Akan kutanya untuk yang ke-9 kalinya, kita akan kemana?” tanyaku lagi.

“Isshhh… kau ini!” desisnya kesal seraya menatapku tajam.

“Makanya beritahu aku kemana kita akan pergi!” omelku.

“Temani aku bertanding basket, lalu latihan musik dengan teman-temanku, tapi sebelumnya temani aku makan dulu.” jawabnya santai seraya menyilangkan kedua tangannya di dada.

Mworago?! Apa kau gila?! Kalau hanya itu untuk apa menyuruhku memakai pakaian seperti ini? Yaa! Ini bukan pakaian untuk siswi SMA, pabbo!” seruku kesal. Benar, namja ini benar-benar menyebalkan! Aku penasaran dengan isi kepalanya. “Isshhh… Lihat, orang-orang menatapku dengan tatapan aneh begitu!” omelku yang hanya diresponnya dengan lirikan acuhnya.

“Mereka menatapmu dengan tatapan aneh karena kau begitu berisik.” ucapnya.

“Yaa! Kenapa kita naik bus seperti ini? Seharusnya kita menggunakan mobil! Yaa!! Kau menyebalkan sekali, kunci pabbo!!” makiku kesal. Aku bersumpah, suatu hari aku benar-benar harus menghajar namja ini!

***

Author POV

“Sudah selesai?” tanya Jinyoung saat seorang yeoja menyerahkan beberapa buku padanya.

Ne, gamsahamnida Sunbae…” kata yeoja itu seraya tersenyum manis. Jinyoung-pun membalas senyuman yeoja itu yang notabene adalah hoobae-nya di kampus seraya menyambut buku-bukunya.

Cheonmanhaeyo, kalau begitu aku pergi dulu…” kata Jinyoung lalu bangkit.

Sunbae…” tahan yeoja itu yang membuat Jinyoung tidak jadi pergi dan menatapnya dengan ekspresi bingung. “Keugae…”

Ne?” tanya Jinyoung heran saat melihat ekspresi ragu di wajah hoobae-nya itu. “Hara-ssi, apa ada lagi yang kau butuhkan?”

Anniyo, Sunbae… hanya saja… aku merasa sedikit tidak enak hati dengan Sooyoung Sunbae.” jawab yeoja itu-Hara.

“Sooyoung? Ada apa dengannya?”

“Saat melihat aku bersamamu, dia langsung menatapiku tajam. Sepertinya dia tidak suka aku dekat-dekat denganmu, Sunbae… Mianhae…” kata Hara.

“Yaa… kau ini bicara apa. Mana mungkin Sooyoung begitu, mungkin itu hanya perasaanmu saja.” kata Jinyoung lembut seraya tersenyum kecil. “Sooyoung memang ketus, jahil, dan suka mengerjai orang. Tapi sebenarnya dia yeoja yang sangat baik.”

Arraseo, Sunbae…” kata Hara yang sepertinya masih belum puas.

“Kalau begitu…”

Chakkamanyo!” tahan Hara sekali lagi. “Oppa… bolehkah aku memanggilmu Oppa?” tanya Hara. Jinyoung menatap yeoja cantik di hadapannya itu dengan tatapan teduh. Ia mengeluarkan sebelah tangannya yang sejak tadi ia simpan di saku celana lalu mengelus lembut puncak kepala Hara seraya tersenyum manis.

“Kau memang harus memanggilku Oppa karena aku lebih tua darimu. Annyeong Hara-ssi…” kata Jinyoung lalu beranjak pergi. Merasa cukup jauh dari Hara, Jinyoung berhenti berjalan dan mulai memikirkan perkataan Hara tadi.

“Isshhh… mana mungkin yeoja itu begitu?” gumam Jinyoung seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.

Oppa…” Jinyoung refleks menoleh ke arah suara yang tiba-tiba muncul di sekitarnya. Di kursi yang tidak jauh darinya berdiri tampak dua orang namja yang seingatnya adalah dua sahabatnya.

Oppa… bolehkah aku memanggilmu Oppa?” kata Myungsoo seraya menirukan gaya bicara Hara tadi.

“Kau memang harus memanggilku Oppa karena aku lebih tua darimu. Annyeong Hara-ssi…” jawab Gikwang yang juga menirukan gaya Jinyoung.

Gumawo, OppaSaranghaeyo...” kata Myungsoo dengan ekspresi berlebihan.

Nado… Hara-ssi…” kata Gikwang dengan ekspresi yang tidak jauh berlebihannya dari Myungsoo.

“Yaa! Barusan kalian mengintipku, huh?” seru Jinyoung. Gikwang dan Myungsoo kompak menoleh lalu…

Oppa, saranghaeyo!!” seru Gikwang dan Myungsoo bersamaan. Melihat tingkah dua sahabatnya itu, Jinyoung sontak memasang ekspresi jijik di wajahnya.

***

Key POV

Palliya…” seruku seraya menoleh ke belakang, tepatnya ke arah yeoja yang saat ini tampak kesulitan berjalan karena highheels-nya. “Apa itu menyulitkanmu?” tanyaku saat ia sudah sampai di hadapanku. Mendengar pertanyaanku tadi, ia langsung mendelikkan matanya setajam mungkin ke arahku.

“Perlukah kujawab pertanyaanmu barusan, kunci pabbo?!” katanya dengan nada sarkastik.

“Hahaaa… arraseo.” kataku seraya tertawa kecil melihatnya cemberut seperti itu. “Kajja!” kataku seraya mengulurkan tangan padanya dan itu membuatnya menatapku bingung.

“Kubantu berjalan sampai tribun.” kataku saat matanya menatapku dengan tatapan ‘untuk apa tanganmu itu, pabbo?’

“Tidak perlu!” katanya lalu melengos pergi meninggalkanku tanpa peduli dengan tanganku yang masih terulur. “Isshhh… bocah sialan ini!!” kataku geram.

“Duduklah disini sampai pertandinganku selesai.” kataku.

“Kau tidak bertanding bersama teman-temanmu? Minho Oppa?” tanyanya.

“Yaa! Bisa-bisanya kau memanggil Minho dengan sebutan Oppa sementara kau selalu memanggilku dengan sebutan ‘kunci pabbo’, ‘namja bodoh’, atau paling sopan ‘namja itu’. Kau harus memanggilku Key Oppa, arrachi?!” kataku tegas yang kuyakin pasti sia-sia.

Shireo! Kau tidak pantas dipanggil Oppa.” katanya. Nahhh… benarkan apa yang kubilang barusan. Yeoja tengil ini tidak akan menuruti kata-kataku dengan mudahnya.

Waeyo?” kataku yang mulai kesal.

“Karena kau lebih pantas dipanggil eonni… Key Eonni… Aaa… Kibum Eonni…” katanya dengan nada mengejek.

“Yaaa!!!” akhirnya kekesalanku meledak dan hanya bisa kuekspresikan dengan teriakanku yang malah membuatnya tergelak.

“Key, palli!!” seru seseorang yang merupakan anggota satu timku.

“Isshhh… Kang Yuuri si ‘yeoja biasa’, kau benar-benar menyebalkan! Diamlah disini sampai pertandingan selesai!” kataku yang masih dengan nada kesal. Kulihat ia hanya tersenyum-senyum mengejek melihat kekesalanku.

Arraseo Eonni…” katanya. Kukepalkan kedua kepalan tanganku menahan kesal yang hanya diresponnya dengan senyuman kemenangannya. “Key Eonni… bermainlah yang bagus… Semangat!!” serunya yang membuatku menghembuskan napas kuat karena kesal. Ishhhh… bocah ini, tunggulah pembalasanku.

***

Author POV

Seorang yeoja tampak berjalan tertatih-tatih di sebuah pusat perbelanjaan. Kaki jenjangnya yang tampak dibalut dengan sepasang heels kuning cantik terlihat sangat tidak bersahabat. Secantik apapun heels yang melekat sempurna dikakinya, tetap tidak akan mampu mengurangi atau bahkan menghilangkan sakit di kaki kanannya yang terkilir dan belum sembuh total. Bulir-bulir keringat sudah mulai membanjiri tubuhnya dan itu semakin membuatnya kewalahan. Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi dan dengan ekspresi kesal langsung dijawabnya panggilan itu.

Mwoya?!” serunya. “Arraseo, akan segera kucarikan dan langsung kukirim saat itu juga padamu, puas?!” katanya lalu mematikan ponsel itu dengan kasar.

“Gyuri Eonni benar-benar menyebalkan!!” gerutunya lalu kembali berjalan. Akan tetapi baru beberapa langkah, kakinya yang terkilir tidak mampu menahan beban tubuhnya dan membuat yeoja itu oleng. Beruntung, namja yang berada tidak jauh darinya refleks menangkap tubuhnya.

“Gu… gumawo…” kata yeoja itu dan saat ia menoleh… “Il Woo Oppa…” serunya.

“Yoona-ya, gwaenchana?” tanya Il Woo seraya membenarkan posisi Yoona.

Gwaenchana, Oppa. Gumawoyo, aku pasti sudah jatuh kalau Oppa tidak menolongku.”

“Kakimu kenapa?” tanya Il Woo yang terlihat cemas karena bagaimanapun, selain Iseul, Key, Minho, dan teman-temannya yang lain, Yoona juga sudah dianggapnya sebagai adiknya sendiri.

“Hanya terkilir, Oppa. Seharusnya aku belum boleh berjalan jauh, tapi ada sesuatu yang sangat penting yang memaksaku untuk kesini.” jawab Yoona seraya tersenyum. “Oppa, kau tidak bekerja? Kenapa ada disini? Atau jangan-jangan kau sedang berkencan?” tanya Yoona seraya celingukan mencari-cari sosok yeoja yang mungkin sedang bersama dengan Il Woo.

Anniyo, aku tidak sedang berkencan. Baru saja Iseul meneleponku dan menyuruhku untuk membelikan komik kesukaannya.”

“Yaa, seharusnya kau ke toko buku bukan ke mall kalau hanya mencari komik, Oppa.”

Aigo… Ya Tuhan, mengapa Engkau harus mentakdirkan semua yeoja itu harus secerewet ini? Apa Kau tahu seberapa bosannya aku mendengarkan perkataan mereka?” kata Il Woo yang membuat Yoona tertawa.

Oppa, jadi kau mengataiku cerewet?” kata Yoona yang berpura-pura merajuk.

“Hahaaa… Ne, kau memang cerewet Yoona-ya, sama seperti Iseul. Keundae, kenapa kau ada disini?”

“Sudah kubilang barusan bahwa ada sesuatu yang sangat penting yang memaksaku kesini walaupun dengan kondisi kaki begini.”

Jinjja? Apa itu?”

“Akan kuberitahu kalau Oppa bersedia membantuku.” kata Yoona seraya mengerling nakal.

Aigo… selain cerewet, ternyata kau juga pintar mencari kesempatan. Baiklah, kalau kau memaksa. Lagipula aku tidak mungkin membiarkan dongsaeng-ku berkeliaran sendirian dengan kondisi kaki begini. Kajja!”

“Kau mau membantuku, Oppa?” kata Yoona girang.

Ne…”

“Kyaaa… Gumawo, Oppa! Kau memang Oppa terbaik!” kata Yoona seraya meraih tangan Il Woo yang terulur padanya dengan senangnya.

“Tentu saja, aku memang Oppa paling baik sedunia.”

“Hahahahaaaa…”

***

Brak!

Sooyoung menatap malas namja imut yang saat ini duduk di hadapannya. Namja itu tampak tersenyum lebar hingga membuat mata sipitnya semakin sipit bahkan hampir tinggal segaris. Yeoja itu berdecak lalu membuang muka.

“Sooyoung-ah, apa kau tahu, hari ini kampus terasa sangat tenang.” kata namja itu.

“………”

“Tidak ada lagi yang mengusili anak-anak sepertimu, kampus terasa sangat sepi.” kata namja itu lagi.

“Benarkah? Bukankah itu yang mereka harapkan. Mereka pasti berharap aku menghilang dari kampus untuk selamanya supaya tidak ada lagi yang mengganggu kehidupan kampus mereka. Kau juga mengharapkan itukan, Jinyoung?” kata Sooyoung yang terdengar ketus. Jinyoung sontak terdiam. Saat Sooyoung mengalihkan wajahnya ke samping, Jinyoung langsung menoleh ke belakang, tepatnya ke arah 3 sahabatnya-Gikwang, Minho, dan Myungsoo-yang tampak mengibas-ibaskan tangannya sebagai isyarat untuk terus melanjutkan percakapan.

Anniyo, tentu saja tidak… Mana mungkin aku berharap sahabatku menghilang. Sooyoung-ah, ada apa denganmu? Kenapa kau terlihat sangat tidak bersemangat? Apa kau sakit?” tanya Jinyoung yang langsung menempelkan telapak tangannya di dahi Sooyoung. Yeoja itu kontan langsung membelalakkan mata dengan wajah yang bersemu merah.

“Yaa! Apa yang kau lakukan, bodoh?!” serunya seraya menepis tangan Jinyoung dan langsung bangkit dari tempatnya duduk. “Kau tidak perlu repot-repot mencemaskanku. Cemaskan saja Goo Hara, dia pasti sangat senang diperhatikan olehmu!!” seru Sooyoung kesal lalu berjalan meninggalkan Jinyoung yang tampak bingung. Setelah sosok Sooyoung menghilang, Jinyoung langsung berbalik dan mengendikkan bahunya ke arah 3 sahabatnya yang kompak menghela napas kecewa.

***

Key POV

“Kau lihat yeoja yang duduk seorang diri di tribun sebelah kanan?”

“Maksudmu yeoja yang datang bersama dengan Key tadi?”

Spontan kuhentikan langkahku saat mendengar obrolan beberapa yeoja yang tidak seberapa jauh jaraknya di depanku tapi suara mereka masih bisa terdengar jelas di telingaku. Dasar yeoja, dimana-mana sama saja. Saat mereka sedang asyik bergosip, mereka tidak peduli dimanapun tempatnya tidak terkecuali di depan ruang ganti pria.

Mwo? Dia datang bersama Key?!”

“Tentu saja, aku melihatnya langsung saat yeoja itu mengabaikan uluran tangan Key saat Key berniat membantunya berjalan. Sepertinya Key sedang berusaha mendekati yeoja yang mengabaikannya itu.”

Mwo? Ada yeoja yang berani mengabaikan seorang ‘Key’?? Wahhh, ini berita bagus…”

Langsung kukepalkan kedua kepalan tanganku untuk menahan kesal saat mendengar obrolan yeojayeoja itu. Isshhhh… harga diriku serasa jatuh terinjak-injak saat tahu ada yang menertawakanku di belakang. Ini semua gara-gara bocah sialan itu, awas kau Kang Yuuri si ‘yeoja biasa’.

Keundae, sepertinya aku pernah melihat yeoja itu.”

Geurae, sepertinya aku juga tidak asing.”

“Yaa! Yaa! Bukankah yeoja itu dulu juga pernah dibawa Key kesini?”

“Kapan? Yang mana?”

Yeoja yang kau bilang berseragam SMA Shinhwa. Aku yakin yeoja itu adalah siswi SMA yang dulu juga datang kesini bersama Key.”

Jinjjayo? Jadi gosip itu benar? Gosip bahwa Key sudah putus dengan Nicole dan berpacaran dengan siswi SMA Shinhwa?”

Ne, sepertinya itu benar. Beberapa hari yang lalu aku melihat Nicole diantar oleh seorang namja dengan mobil mewah.”

Aigo… Aku sudah beberapa kali melihat Nicole diantar oleh namja dengan mobil mewah itu bahkan Key dan yeoja SMA itu juga melihatnya.”

Jeongmal? Jadi selama berpacaran dengan Key, Nicole sudah selingkuh dengan namja lain dan parahnya Key mengetahui kalau Nicole selingkuh tapi tetap menjalin hubungan dengan yeoja busuk itu?!”

Kupejamkan mataku saat sesuatu yang seharusnya tidak kudengar, malah terdengar jelas oleh telingaku. Tidak, bukannya aku tidak mengetahui hal ini. Disini, akulah yang paling mengetahuinya. Saat menjalin hubungan dengan Nicole, aku bukannya tidak tahu kalau ia juga menjalin hubungan dengan namja lain yang disebut oleh yeojayeoja tadi dengan sebutan ‘namja dengan mobil mewah’. Aku bukannya tidak mengetahui kalau Nicole selingkuh dan aku diselingkuhinya. Bukan… bukan aku yang diselingkuhinya, akan tetapi akulah selingkuhannya. Nicole… menjadikanku namjachingu-nya yang kedua, ntahlah… mungkin yang ketiga, keempat, lima, enam… dan tidak menutup kemungkinan untuk yang ke-100. Haha, sungguh namja menyedihkan.

Aku juga tidak menutup mata dan telingaku dari sekelilingku hingga aku tidak mengetahui bahwa tidak sedikit yeoja yang juga menggilaiku. Buktinya lapangan basket ini selalu penuh sesak oleh yeoja saat aku bermain basket, lokerku selalu penuh oleh cokelat, bunga, surat cinta, bahkan hadiah-hadiah lainnya setiap pagi, dan setiap harinya aku selalu mendapatkan tidak kurang dari 2 kali pernyataan cinta dari yeojayeoja berbeda. Bahkan saat hari valentin, selama 24 jam aku pernah mendapatkan 50 pernyataan cinta dan tentunya dari 50 yeoja yang berbeda pula. Sombong? Tentu tidak, sebaliknya aku malah merasa sangat malu! Ditengah-tengah populeritas yang kudapat cuma-cuma ini, aku malah menggadai harga diriku untuk sekedar menjadi seorang selingkuhan!

“Huh, menyedihkan!” gumamku lirih. Kembali kudengarkan yeojayeoja yang sejak tadi asyik bergosip dan membuatku tertahan di tempat ini karena sangat tidak lucu kalau seseorang yang digosipkan tiba-tiba muncul di hadapan mata. Keundae… kenapa mereka tiba-tiba diam? Kuberanikan diri untuk keluar dari ruang ganti karena sudah terlalu lama aku disana dan Yuuri juga sudah terlalu lama menungguku. Khawatir kalau ia diganggu oleh yeojayeoja fans-ku jadi kusuruh saja ia menemuiku di ruang ganti. Sekarang ia pasti sudah berdiri di depan, akan tetapi…

Deg!!!

“Key…” panggilnya lirih. Nicole… tiba-tiba muncul di hadapanku dan membuatku terpaku tanpa tahu harus berbuat apa. “Key, maafkan aku… Kumohon, bicaralah denganku.” katanya dengan nada lirih.

“Aku tidak tahu apalagi yang mungkin bisa kita bicarakan.” kataku seraya melengos pergi, tapi Nicole langsung menggenggam tanganku seerat mungkin.

“Key, aku tahu kau sangat marah, tapi kumohon, dengarkan penjelasanku dulu.” pinta Nicole. Sungguh, walau bagaimanapun yeoja ini adalah yeoja yang sangat kucintai. Seberapa besarpun kemarahanku padanya, aku tetap tidak sanggup melihatnya memohon-mohon seperti ini padaku. Dia kelemahanku!

“Key, jebal… dengarkan aku dulu…” kata Nicole seraya menatapku dalam. Kutatapi yeoja di hadapanku ini dengan perasaan campur aduk. Sekelebat memori-memori indah berputar di otakku dan hampir meruntuhkan pertahananku. Akan tetapi, sebuah hentakan sepatu di lantai menyadarkanku dan membuatku menoleh. Yuuri menyaksikan adegan ‘memilukan’ antara aku dan Nicole dengan tatapan nanar. Melihat sosok Yuuri, ntah mengapa memori indah barusan seketika menghilang dan digantikan oleh bayangan-bayangan pahit yang bahkan mendominasi.

“Key…” kata Nicole yang seakan tidak percaya saat genggaman tangannya di lenganku, kutepis begitu saja. Tidak mau berlama-lama di tempat itu, langsung kuraih lengan Yuuri dan kubawa ia berjalan secepat mungkin.

***

Author POV

Key tampak berjalan cepat di tengah-tengah ramainya malam di Seoul. Ia sama sekali tidak memperdulikan Yuuri yang berjalan terpincang-pincang karena mengikutinya. Key bahkan lupa kalau saat ini dirinya sedang menarik paksa lengan seorang yeoja lalu menyeretnya bersamanya tanpa mempedulikan kaki yeoja itu yang sudah melepuh karena heels yang dipakainya. Yaahhh… benar, saat ini Key sedang didominasi oleh amarahnya, kekesalannya, dan bahkan mungkin kebenciannya.

“Aakkhh…” Yuuri menjerit tertahan. Pegangan tangan Key padanya seketika terlepas saat yeoja itu terjatuh ke tanah karena tidak kuat berjalan lagi. Saat mendengar suara jeritan Yuuri, barulah Key sadar. Namja itu spontan berbalik dan membelalak kaget saat melihat Yuuri yang terduduk di jalan.

“Kau kenapa?” tanyanya cemas saat melihat Yuuri menangis. Yuuri menatap Key dengan tatapan marah berharap namja itu menyadari perbuatannya. “Hei, kenapa kau menangis?” tanya Key lagi.

Yuuri tidak menjawab. Ia menghapus air matanya dengan cepat lalu melepas kedua heels-nya. Yeoja itu bangkit lalu beranjak meninggalkan Key yang tampak bingung.

“Yaa!! Kenapa pergi begitu saja?!” kata Key seraya menjejeri langkah pincang Yuuri.

“………”

“Yaa! Kang Yuuri, katakan padaku! Kenapa kau menangis?!”

“……..”

“Kalau kau tidak mengatakannya, mana mungkin aku bisa tahu!!” seru Key setengah berteriak. Mendengar itu spontan Yuuri berhenti. Masih dengan matanya yang basah, ia menatapi Key dengan tatapan marah.

“Kau ingin tahu aku kenapa? Karena aku benci padamu! Kau itu benar-benar keterlaluan! Hanya karena aku menghilangkan cincinmu, kau membuatku menderita selama berhari-hari! Kau menyuruhku mengerjakan setumpuk tugas kuliahmu setiap harinya, memerintahku mengerjakan hal-hal konyol, menyuruhku memakai pakaian yang bahkan tidak kusukai, dan sekarang kau bahkan menyeretku tanpa peduli denganku yang kesakitan karena heels yang kau paksa untuk kupakai. Apa kau tidak sadar kalau kakiku hampir saja patah gara-garanya? Ini sakit sekali dan kau bahkan masih bertanya kenapa aku menangis?! Kau itu benar-benar namja paling jahat yang pernah kukenal!!” maki Yuuri yang masih disertai dengan tangisnya. Mendengar penuturan panjang penuh kemarahan Yuuri, perlahan amarah Key berkurang. Ia memperhatikan kaki Yuuri yang lecet dan memerah, bahkan lutut yeoja itu luka dan berdarah. Mendadak ia merasa sangat bersalah apalagi saat melihat Yuuri terus menangis sambil menundukkan kepalanya.

Mianhae… jeongmal mianhae…” kata Key lirih yang sama sekali tidak dijawab oleh Yuuri karena yeoja itu terus menangis.

“Aku tahu kau sangat marah, tapi jangan melibatkanku sampai seperti ini…” kata Yuuri disela tangisnya.

Mianhae… jeongmal mianhae… Aku bersalah dan kau pantas menghukumku.” kata Key lirih. Ia menatap Yuuri yang terus sesegukan lalu beralih menatap kaki gadis itu. Angin malam yang dingin berhembus kencang dan seketika membuat Yuuri bersin karena kedinginan. Melihat itu rasa bersalah Key semakin berlipat-lipat karena memaksa yeoja itu memakai pakaian tipis yang tadi ia bilang sangat tidak ia sukai.

“Sepertinya aku benar-benar bersalah dan kau harus memberiku hukuman untuk menebusnya. Apapun itu akan kulakukan.”

“Apapun itu?” tanya Yuuri seraya mengusap air mata di wajahnya.

Ne, kau boleh menghukumku apa saja.” kata Key seraya mengangguk mantap.

Jinjja?” tanyanya lagi.

“N…ne…” mendadak Key merasa sangat menyesal sudah mengatakan kalimat yang baru beberapa detik lalu keluar dari mulutnya saat melihat yeoja di hadapannya yang baru beberapa saat tadi menangis tersedu-sedu, kini menyeringaikan senyuman iblis di wajahnya.

***

Yuuri POV

Palliya! Kau itu namja, tapi kenapa lemah sekali!!”

“Aisshh… bocah ini! Yaa! Apa kau tidak bisa diam?!” maki Key seraya berhenti berjalan.

“Yaa, kunci pabbo! Ini sudah malam dan aku sudah mengantuk karena kau berjalan terlalu pelan! Aku ingin cepat-cepat sampai rumah!” makiku juga.

“Kalau kau ingin cepat sampai rumah, kenapa tidak memanggil taksi saja? Kalau berjalan kaki begini, tentu saja tidak akan cepat sampai. Ditambah lagi aku harus menggendongmu. Tidak sadarkah kau kalau tubuhmu ini berat sekali? Punggungku nyaris patah gara-gara menahan beban tubuhmu!” omel Key.

“Issshhh… inikan hukuman untukmu! Kau sendiri tadi yang bilang kalau aku boleh menghukummu apa saja, kenapa sekarang kau protes, huh kunci pabbo?!!” balasku. Key mendesis menahan kesal.

Palliya! Kenapa malah melamun?!” teriakku lagi.

Arra, arra!” kata Key akhirnya lalu kembali berjalan.

“Lebih cepat!”

“Aisshhh!!”

“Hahahahaaa…” tawaku meledak melihatnya terpaksa menuruti perintahku walaupun sambil menggerutu.

“Jangan tertawa bocah!” umpatnya.

“Hahahahaaa…”

“Yaa! Berhenti tertawa kubilang atau kau kutinggal disini!” ancamnya yang sama sekali tidak berefek padaku.

“Haha, kau itu benar-benar namja bodoh, kunci pabbo!” kataku yang masih disertai dengan tawa. Key langsung berhenti berjalan, akan tetapi beberapa saat kemudian ia kembali melanjutkan langkahnya.

Geuraeyo, sepertinya aku memang benar-benar bodoh.” katanya lirih tapi masih bisa kudengar dengan jelas.

Museun malhaeya, eo?” tanyaku.

Anniyo, lupakan saja.” katanya. “Yaa! Eratkan peganganmu kalau tidak mau jatuh!” lanjutnya lagi.

“Isshhh… kau ini!” desisku seraya mempererat pelukanku pada punggungnya. Setelah itu kami berdua sama-sama diam.

“Key, maafkan aku… Kumohon, bicaralah denganku.”

“Aku tidak tahu apalagi yang mungkin bisa kita bicarakan.”

“Key, aku tahu kau sangat marah, tapi kumohon, dengarkan penjelasanku dulu.”

“……..”

“Key, jebal… dengarkan aku dulu…”

“………”

“Key…”

Suasana hening diantara kami berdua membuat pikiranku terus-terusan terfokus pada kejadian beberapa saat yang lalu. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada pasangan ini. Ntah mereka bertengkar atau apa, yang jelas… Key terlihat sangat marah pada Nicole. Apakah namja ini sudah mengetahui kalau Nicole berselingkuh di belakangnya dan tadi Nicole berusaha memberinya penjelasan?

Kutatapi pundak namja yang saat ini menggendongku. Tubuhnya kurus, bahkan terkesan sangat kurus untuk ukuran namja. Akan tetapi punggungnya yang lebar mampu membuatku merasakan kehangatan yang sangat nyaman. Ntah mengapa aku merasa sangat tenang.

“Key-ssi…” panggilku lirih. “… gumawo…”

“Kalau memang ingin berterima kasih, seharusnya kau memanggilku Oppa, bocah.” katanya. Isshh… namja ini! Mengapa dia selalu membuat segala hal itu menjadi sulit? Walaupun kesal, ntah mengapa hatiku tergerak untuk menuruti perkataannya tadi.

ArraseoGumawoyo Oppa… Key Oppa…” kataku lagi seraya mempererat pelukanku lagi pada punggungnya. Kusandarkan kepalaku pada punggungnya yang hangat. Nyaman… itulah yang kurasakan hingga membuat senyum lebar di wajahku tidak menghilang. Tanpa kuketahui, Key juga menyunggingkan sebuah senyuman di wajahnya.

***

Uwaaaa… part ini selesai juga… Aku bikinnya susah payah lho, pake main curi-curi waktu segala di tengah-tengah kesibukanku… Haha, sok sibuk banget/plakkk!! Tolong, kalo yang udah mampir tinggalin jejaknya yahhh… Gumawo… Part selanjutnya bakal aku publish secepatnya, yahhh… paling cepat bulan depan/gubrak!!!!

 

 

 

 

 

 

 

 

Love You More (Part 4)

Published August 5, 2012 by kangyuuri

Love You More (Part 4)

Author          : Kangyuuri

Cast                 : Key SHINee, Kang Yuuri (OC).

Other Cast       : Jung Il Woo, Jung Iseul, Choi Minho, Choi Sooyoung, Kim Myungsoo, Lee Gikwang, Jung Jinyoung, Im Yoona, Jung Nicole, Kang Minhyuk, de el el (banyak bener, emang mo bikin sinetron?/plakkk!

Genre              : Romance, Sad, comedy (mungkin) , heheheee… pokoknya campur aduk!

Length             : Chapter

 

Akhirnya gue bisa nge-publis kelanjutannya Love You More juga, ada yang nungguin gak (readers: gak adaaaaa….). Kali ini gue kasih poster amatiran deh, soalnya guekan gak bisa bikin poster… Harap maklum yahhh… Langsung aja deh, simakin cerita gajenya, tapi jangan lupa tinggalin jejak yah (wajib!!)
Read the rest of this entry →

LOVE YOU MORE (PART 3)

Published July 27, 2012 by kangyuuri

LOVE YOU MORE (PART 3)

Author             : Kangyuuri

Cast                 : Key SHINee, Kang Yuuri (OC).

Other Cast       : Jung Il Woo, Jung Iseul, Choi Minho, Choi Sooyoung, Kim Myungsoo, Lee Gikwang, Jung Jinyoung, Im Yoona, Jung Nicole, Kang Minhyuk, de el el (banyak bener, emang mo bikin sinetron?/plakkk!

Genre              : Romance, Sad, comedy (mungkin) , heheheee… pokoknya campur aduk!

Length             : Chapter

Uwaaaa… akhirnya, bisa juga gue nge-publis nih ff gaje! Walaupun readers-nya masih belum banyak, gue tetep senang kog bisa ngasih satu karya gue (walaupun abstrak bangettzzz). Oh iya, gue minta maaf banget di part sebelumnya banyak banget typo-nya, apalagi other cast-nya. Nahh… disini gue mau ngelurusin masalah ketidak-jelasan tersebut takut ada readers yang salah paham (readers: emang penting??).

Jinyoung itu ternyata marga-nya ‘Jung’ bukan ‘Kim’ seperti yang gue publis di part 2. Mianhae… gue baru tau (sambil bungkuk badan). Trus masalah Il Woo, setelah gue ngorek-ngorek informasi tentang dia akhirnya nemuin satu fakta yaitu selisih umur dia beda jauh dengan other cast lainnya. Jadi disini gue bikin dia itu namja yang udah bekerja tapi tetap temenan ama cast-cast yang lain walaupun umur mereka beda jauh. So… mohon maaf lagi kalau masih banyak terdapat typo-typo yang lain.

Uppss… kayaknya gue kebanyakan ngebacot deh. Daripada ntar gue ditimpuk ama readers pake Abang Konci (wahh… keenakan donk gue/plakk), mending langsung aja deh baca ceritanya… Ini dia… LOVE YOU MORE PART 3!! CEKIDOTTT!!

Read the rest of this entry →

Love You More (Part 2)

Published July 17, 2012 by kangyuuri

Love You More (Part 2)

Author           : Kangyuuri

Cast                 : Key SHINee, Kang Yuuri (OC).

Other Cast     : Banyak, temuin sendiri (Author males ngasih tau/plak)

Genre              : Romance, Sad, comedy (mungkin) , heheheee… pokoknya campur aduk!

Length             : Chapter

 
Read the rest of this entry →

LOVE YOU MORE (Part 1)

Published July 14, 2012 by kangyuuri

LOVE YOU MORE

Author : Kangyuuri
Cast : Key SHINee, Kang Yuuri (OC).
Other Cast : Nyusul, author lagi dalam masa gangguan server internal (?)
Genre : Romance, Sad, comedy (mungkin) , heheheee… pokoknya campur aduk!
Length : Chapter

Ff ini murni dari hasil kerja otak gue. Kalo ada kesamaan ide cerita, cast, ato hal lainnya, itu semua MURNI ketidak-sengajaan. FF ini dikit-dikit terinspirasi dari film City Hunter. Wuuu… Lee Minho keren banget di film itu (author ngeces). Kalo ada typo-typo di ff ini, mohon dimaklumin soalnya baru kali ini bikin ff. So, gue minta komentarnya yang membangun yahhh…
***
Read the rest of this entry →

Ai Kotoba?

Published July 11, 2012 by LaillaMP

Title : Ai Kotoba?
Genre : comedy romance *author ga punya referensi* OOC *dikitlahhhh* gaje
Length : oneshoot
Author : LaillaMP
Cast :
–    Cho Kyuhyun
–    Lee Soo Yeon
–    Kim Jong Woon a.k.a Yesung
A/N : Annyeonghaseyo, urineun, choshinsung imnidaaa!! #plak #salah
Ah ya gue mau perkenalin diri dulu pertama-tama. nama gue lailla. umur? 10 tahun dibawah Sungje. sekarang gue mau grade10 dan bias gue Kim Sungje ❤
tau ff S.E.C.R.E.T ? itu ff gue yang gue minta share-in sama admin sarah. hoho~
okay, nikmati ff ini ya. kalo ada kritik saran mohon ditulis 🙂 kalo mau kenalan tinggal follow @geooniil2
douzo!! ^^

***
Read the rest of this entry →